
Nita menjulurkan lidahnya untuk masuk kedalam lagi. Sedangkan Indra tengah berjongkok untuk mengusap betisnya.
Nita akan menghampiri Ana, dan juga Andri yang tengah berada di ruang tamu. Tetapi tanpa sengaja Nita mendengarkan ucapan mereka hingga membuatnya menghentikan langkahnya.
"Kamu ini, kenapa sih Pak, tidak membiarkan aku memberitahukan pada Nona Nita," cecar Ana merasa tidak suka akan keputusan Andi.
Lelaki itu memegang bahu Ana dengan lembut menenangkan istrinya.
"Biarkan saja mereka menyelesaikan urusannya. Kita tidak berhak ikut campur, Bu. Ayok kita kebelakang saja," titah Andi pada istrinya.
Hati Nita merasa menghangat saat melihat keharmonisan rumahtangga Ana. Rumah kecil ini sungguh damai meski tidak terlalu mewah. Nita menghirup oksigen sebanyak-banyaknya merasa apa yang ada di sana sungguhlah langka.
Dia mulai mendudukan kembali bokongnya untuk melanjutkan makan siangnya yang terlewat. Indra pun ikut duduk di seberang Nita.
"Tumben tidak menghadang?"
"Makan saja dulu, saya juga butuh tenaga untuk menyadarkan otak anda yang menggeser."
Indra mengambil centong untuk membawa nasi. Sebelum dia letakkan di piring, dia mengendusnya berulang-ulang.
"Kenapa bisa wanginya begini?" tanya Indra penasaran. Dia merasa nasi ini berbeda dari apa yang selama ini pernah dia makan.
Nita tidak menanggapi untuk saat ini, mengingat dia masih mengunyah makanannya. Setelah kunyahannya tandas masuk ke kerongkongan dia langsung menjawab.
"Ini namanya nasi liwet. Nasi yang kalau di masak pakai minyak sedikit, garam, royko, salam, dan juga sirih."
"Kalau ini namanya apa?" Indra kembali membawa sesuatu yang dia tidak ketahui. Nita menoleh sekilas lalu masih mengunyah makanannya.
"Ini namanya asin japuh, enak kok." Nita menjeda ucapannya. Dia pun menjelaskan apa saja yang berada di sana.
__ADS_1
"Ini namanya, lalab daun singkong. Kamu tahu singkong tidak? Kalau kata saya sih enak, ya, tapi katanya bagi yang punya penyakit darting jangan dimakan."
"Ini namanya sambal terasi." Sembari mencolek sambal itu dan memasukkan kedalam mulut Indra.
"Sudah cukup penjelasannya. Saya bukan pelayan, jika anda masih banyak bertanya saya akan meminta Mbak Ana, untuk mengusir kamu. Sungguh merepotkan sekali," gumam Nita dengan mengerucutkan bibirnya.
Indra pun membawa satu persatu makanan yang terhidang. Dia ragu-ragu untuk memasukkannya kedalam mulut. Tetapi setelah masuk di mulut dia merasa ketagihan hingga nasi yang dia bawa tandas tidak terisa.
Nita tersenyum samar melihat lelaki itu memakannya lahap.
"Aku baru memakan, makanan aneh ini," gumam Indra, alis Nita menaut. Makanan aneh? dia memang benar-benar kalangan orang kaya, bukan seperti dirinya.
Nita sering memakannya dulu saat masa kuliah, saat merayakan sesuatu teman-temannya memilih dengan nasi liwet. Karena tidak semua teman-temannya dari kalangan yang berpunya.
***
Nita mulai berjalan-jalan di sekitar rumah Ana, rumah Ana di kelilingi dengan sawah dengan tanaman padi yang melambai-lambai. Apalagi cuaca cerah dan juga pemandangan yang sedap di pandang mata membuatnya merasa tenang.
"Pergi, atau aku akan mendorongmu kelumpur." Bola mata Nita mengarah kebawah yang terdapat tanaman padi. Indra pun mengikuti arah mata Nita lalu menatap kembali kearah Nita.
"Tidak masalah," jawabnya dengan datar. Nita memutar bola mata malas. Kesal sekali dia dengan Indra.
Nita pun lebih memilih melangkahkan kakinya kembali, membiarkan Indra mengikutinya. Dia berusaha mengabaikan Indra, tidak ingin ambil pusing dengan keberadaannya. Dia ingin menikmati masa-masa ini.
"Kamu cantik, terkena sinar jingga yang mulai terbenam," oceh Indra. Nita masih bungkam enggan untuk membalas lontaran Indra.
Indra yang semula berjalan disampingnya, kini mulai beralih di hadapan Nita. Nita yang semula menatap kedepan memilih mengalihkan tatapannya kearah samping.
"Kata, Pak Andi di sini banyak wisata Nona Nita." Nita masih menuup rapat-rapat mulutnya.
__ADS_1
"Tapi cuma kafe-kafe yang berada di alam bebas seperti itu katanya, kita bisa datang jika kamu ingin mengunjunginya Nona. Jangan merusak masa liburanku, besok malam aku sudah harus pulang. Aku rela datang dan mengabaikan setumpuk pekerjaanku," ucap Indra panjang lebar. Nita menghentikkan langkahnya menatap Indra dengan tatapan tajam, tangan dia lipat di bawah dada.
"Siapa yang menyruhku kesini! Anda sendiri yang datang, saya tidak mengundang anda! jadi harusnya saya yang mengatakan itu, sudah amnesia kah anda!" seru Nita dengan ketus. Dia menghentakkan kakinya merasa kesal dengan ucapan Indra.
Tangan Indra yang semula dia masukkan kedalam saku celana mulai ia angkat dan menangkupkan tangannya, meminta maaf karena telah membuat suasa wanita itu menjadi buruk.
"Bukankah pernikahn anda akan dimulai beberapa minggu lagi, harusnya kamu sibuk mempersiapkannya bukan malah datang kemari," Nita memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Bagaimana dengan pemikiran Kia?
Ah, sungguh NIta tidak bisa merangkai kata untuk memberikan penjelasan pada Kia nanti saat lelaki itu ketahuan datang mengejarnya sejauh ini.
"Percayalah, semua kan baik-baik saja. Meski aku kemari Kia tidak akan memarahimu," ucap Indra, dia bisa membca kekhawatiran Nita saat ini. Sebenarnya Indra tidak ingin membuatnya menjadi banyak pikiran.
Dia bisa saja membiarkan Nita untuk liburan, selama beberapa hari tanpa dirinya. Tetapi Indra tidak bisa melewatkan sedetik saja tanpa merasakan kehadirannya.
"Baik-baik saja katamu!" Nita mendorong tubuh Indra, meski lelaki itu sama sekali tidak bergeser. "Apa kata orang nanti, Ya Tuhan, apa salahku sebenarnya. Statusku tidak salah. Tetapi lelaki tidak tahu malu ini yang salah." Nita masih memberikan tatapan tidak sukanya pada Indra.
"Lalu kalau aku tidak akan menikah ... apakah kamu tidak akan masalah jika aku melakukan hal ini?" pertanyaan Indra sanggup membuat Nita salah tingkah.
"Wah, benar sudah-sudah gesrek ini orang. Minggir!" seru Nita memilih pergi daripada menjawab pertanyan Indra. Dia sendiri bingung dengan perasaannya.
Dia salah melabuhkan rasa ini, dia terlalu naif jika mengatakan lelaki itu akan serius padanya. Namun, dia teringat akan masa depan Kia, bagaimana jika perilaku Indra ini berlanjut saat telah menikah? bukankah Kia akan tersakiti?
Nita menghentikkan langkahnya dan mulai berlari untuk mengejar Indra, setelah dekat dia langsung mencekal jemari Indra agar lelaki itu berhenti.
Indra terkesiap, lalu mengerjapkan matanya tidak percaya. Ternyata Nita mempunyai inisiatif untuk memegang tangannya. Rasanya dia ingin menciumi punggung tangan wanita itu.
Dengan senyuman sumringah, otaknya mulai bekerja untuk menggoda Nita.
"Baru beberapa langkah Nona, kita berpisah. Mengapa anda menjadi agresif seperti ini. Baru menyadari jika kamu tidak bisa jauh dariku,"
__ADS_1
Nita mendengkus lalu berusaha melepaskan tautan jemari tangan mereka. Namun, Indra malah semakin erat memeganginya.
***