Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab102. Perlakuan Manis.


__ADS_3

Karina melotot tidak percaya dengan tingkat kepedean lelaki yang membuatnya ingin menjitak, bahkan mungkin ingin memutilasinya jika tidak terdapat hukum di negara ini.


"Narsis! Cemburu pada lelaki seperti anda." Karina mencebik. "Meskipun kaya sekalipun aku tidak tertarik." Wanita itu berucap seolah lelaki dihadapannya bukanlah type-nya.


"Aku memang kaya, kamu tahu siapa yang telah Tuan Krisna pukuli sampai nilai saham mereka merosot." Mata Indra mengerling genit, membuat Karina semakin menajamkan tatapannya.


"Terserah anda, sekalipun anda kaya saya tidak akan takut. Anda ini terlalu serakah ingin mempunyai dua wanita. Jangan harap Mbak Nita akan luluh dengan sikap sok perhatian anda itu, dia akan lebih menjauhi anda. Sikap anda tidak jauh berbeda dengan Tuan Krisna!" Karina langsung keluar dan membanting pintu mobil Indra dengan kasar. Dia tidak peduli dengan mobil mewah itu. Masa bdoo yang berada di pikirannya saat ini. Dia tidak ingin Indra merayu sana-sini.


Nita masih berdiri di depan pintu toko menunggu Karina untuk datang. Tangan wanita itu melipat di bawah dada, serta tatapan yang keheranan melihat wajah Karina yang kesal dan seperti mengumpat. Terlihat jelas mulutnya komat-kamit.


Alis Nita menaut ketika gadis itu langsung merasa kikuk setelah bertemu dengannya.


"Kenapa kamu? Kamu ada masalah dengan Tuan Indra?" tanya Nita penasaran. Gadis itu mendesah pelan lalu menggeleng pelan. Tangannya mengambil kunci yang berada di saku celana jeans-nya.


"Enggak ada apa-apa, kok Mbak. Aku hanya heran saja sama dia. Kenapa dia merayu di depan gebetan!"


Gadis itu langsung masuk meninggalkan Nita yang mematung.


"Hey, maksud kamu Indra merayuku? Mana ada begitu!" Oceh wanita itu tidak terima disebut dirayu lelaki muda itu.


"Jangan baper ya, Mbak!" Teriak Karina lantas langsung berlari ke gudang. Nita mengeleng pelan memasuki ruang kerjanya.


Wanita itu memegangi dadanya yang kian terasa berdebar saat ini. Ya, hanya menyebut atau mendengar namanya saja membuatnya menjadi candu.


Tidak mungkin 'kan dia mencintai lelaki itu. Sadarlah Nita, dia mencintai Kia. Bahkan dia mengejarnya mati-matian.


"Kenapa dengan hati ini. Dan jantungku bermasalah kah, tetapi mengapa ketika saat bersamanya saja. Atau menyebut namanya." Nita memukul pipinya sendiri merasa gila. Mencoba menyadarkan pikiran warasnya.


Virus apa ini?


Sedangkan di saat bersama Bian saja dia tidak bereaksi apapun. Meski lelaki itu sempat mengatakan cinta padanya, yang jelas-jelas mencintai Karina. Dan sekarang dia merasakan hal yang tidak biasa. Apakah ini karma untuknya. Mengabaikan Bian, dan balasannya dia terabaikan oleh Indra.

__ADS_1


"Enggak ini pasti ada yang salah, tidak mungkin!" Wanita itu kembali menggeleng. Lantas kekamar mandi yang berada di ruangannya. Membasuh wajahnya yang membuat dia merasa bo*oh.


Nita keluar ketika dia telah membasuh wajahnya. Di sana sudah ada Karina yang tengah menunggunya.


"Mbak ada masalah." Panik, wajah gadis itu tampak panik. Nita pun ikut panik meski dia belum mengetahui apa yang terjadi.


"Ada apa sih." Nita ikut gelisah.


"Tuan Indra datang," bisiknya sembari mencodongkan tubuhnya pada Nita.


Masalah yang sama sekali tidak terlalu besar. Tetapi gadis itu seolah mendapatkan tragedi yang sangat besar.


***


Karina keluar ruangan Nita dengan wajah yang tidak bersahabat. Tatapannya selalu garang ketika berpapasan dengan Indra.


"Apa lihat-lihat." Mata Karina melotot hampir loncat dari tempatnya. Indra hanya tertawa kecil melihat tingkah konyol gadis itu. Semua karena Bian yang telah memintanya membius wanita itu hanya untuk menatap wajahnya.


"Cemburu, bilang saja!" Seru Indra, ketika Karina beberapa langkah tidak jauh dari tempat Indra. Gadis itu tidak menyahut.


"Kenapa kamu datang kemari? Harusnya kamu datang kekantor Krisna agar bisa membuat jarak diantara Ari dan Kia. Saya rasa mereka tidak berpacaran, mereka dekat sedari dulu juga," ucap Nita ketika lelaki itu memasuki ruangannya.


"Aku lebih takut kalau Tuan Krisna datang kemari, dan membuat kamu tidak nyaman," ucap Indra dengan entengnya.


Nita mengernyit dengan ucapan lelaki itu, apa maksudnya. Padahal itu semua tidak ada kaitannya dengan Indra. Lantas mengapa harus takut.


Tap ... Tatapan mereka bertemu beberapa detik, debaran jantung kembali berdebar tidak karuan. Apalagi tentang ucapan Indra yang membuat Nita semakin salah tingkah.


Kepala itu memiring menoleh kearah Nita dengan tatapan menggoda. Nita mengibaskan tangannya ke udara. Dengan senyuman mengejek.


"Rapat di undur, makanya aku datang kemari," jelas lelaki itu memberikan alasan yang logis. Nita mengangguk. Malas untuk berdebat dia melihat live streaming karyawannya.

__ADS_1


Senyumnya mengembang, begitu profesional nya para pegawainya yang bekerja dengannya. Begitu dengan ceria hingga membuat para seller selalu jatuh hati dengan barang jualannya. Layanan mereka yang ramah membuat para seller betah.


"Sedang menonton apa, sampai tersenyum manis seperti itu." Indra bertanya, sembari melangkah untuk melihat.


"Sedang melihat mereka live streaming." Mata Nita tidak teralihkan. Dia tetap menatap layar ponselnya.


"Padahal jaraknya dekat. Lantas mengapa malah menontonnya di ponsel. Kenapa tidak langsung datang saja," saran Indra. Nita pun mengalihkan pandangan kearah Indra.


"Konsentrasi mereka akan buyar, dan pastinya mereka akan merasa canggung kalau saya datang. Menonton di ponsel lebih baik."


Indra tersenyum hangat sembari mengulurkan tangannya menyentuh pipi Nita. Entah apa yang ada di dalam otaknya melakukan hal konyol seperti itu. Dia hanya melakukan apa kata hatinya saja.


Nita terpaku, menatap tangan itu dengan ekor matanya yang tengah membelai pipinya itu.


"Silakan lanjutkan." Indra berucap. Lalu pergi begitu saja keluar dari ruangan kerja Nita.


Nita menangkup kedua pipinya itu dengan kaki yang ia hentakkan kelantai. Mimpi apa semalam dia, mendapat perlakukan manis seperti anak remaja yang tengah dimabuk asmara.


"Sadar, Ta." Pekiknya menyadarkan dirinya.


Pintu ruangan itu berdecit kembali, terpangpang indah lelaki yang manis yang telah membuat suasana hati Nita tidak menentu.


Lelaki itu menenteng keresek dan menyimpannya di meja Nita. Wanita itu memandang keresek itu dengan heran. Apa yang telah lelaki itu beli?


"Makan, hanya camilan. Aku pulang Nona. Rapat akan segera dimulai," pamitnya pada Nita. Lantas Nita hanya mengangguk.


Indra memasuki mobilnya untuk menuju kantornya. Namun, focusnya teralihkan ketika Karina berada diparkiran hanya untuk membuat ancaman. Telunjuk dan jari tengahnya ia arahkan di depan mata lalu ia layangkan kearah Indra.


"Kenapa gadis itu," ucap Indra mengernyit. Meski rapat akan segera dimulai dia memaksakan diri untuk keluar dan mengejar gadis itu.


Tangan gadis itu berhasil dicekal. Indra tersenyum genit menatap Karina yang berhasil dia tangkap.

__ADS_1


"Kenapa? beraninya dari jauh, hayo kalau dekat begini mau apa?"


***


__ADS_2