
"Apa salah saya Tuan Krisna!" Seru Indra dengan tatapan tajamnya. Dia ingin membalas tetapi dia masih menghormati lelaki di hadapannya. Dia tidak ingin membuat Kia merasa khawatir karena keadaan Krisna.
Krisna menatap nyalang Indra, marah, itulah yang dia rasakan saat ini. Mengapa Indra berpura-pura tidak tahu padahal sudah jelas. Masalah itu hadir karena kehadirannya.
"Masih bertanya, kau!" Krisna melayangkan kembali tangannya untuk memukul Indra. Tapi Indra menahannya, hingga terjadilah saling menatap penuh kebencian.
"Apa yang membuat anda begitu membenci saya?"
"Banyak hal, yang membuat kehidupan saya berantakan karena adanya kamu, salah satunya adalah Nita sudah tidak ingin menemui saya lagi!" Tandas Krisna dengan memegang kerah pakaian Indra dengan kuat.
Tenaga Indra yang cukup kuat, membuatnya berhasil menghempaskan tangan Krisna dari kerah pakaiannya. Dia pun sama halnya dengan Krisna. Marah.
"Kamu pasti telah mencuci otak Nona Nita, agar menjauhi saya bukan. Kemarin saja anda telah menjebak saya," tuduh Indra tidak terima.
Krisna mengangkat sudut bibirnya sebelah, "berhentilah memutar balikan fakta, Tuan Indra. Anda akan menikah seharusnya anda lebih menjaga tata krama. Agar keluarga dan calon istrimu tidak dirugikan dengan kabar yang mungkin sangat memalukan. CEO NW group terjerat skandal dengan seorang janda, hingga membuat pernikahannya hancur!"
Indra tidak terima, dia pun akhirnya melayangkan bogeman mentahnya di pipi kiri Krisna. Sudah tidak tahan dengan ucapannya yang sama sekali tidak masuk akal.
"Berhenti membual!" Kelakar Indra. Lelaki itu perlahan mendekat kembali kearah Krisna dengan tatapan tajamnya.
"Saya sudah cukup bersabar menghadapi anda Tuan Krisna. Jika anda tidak ingin Nona Nita semakin membenci anda lakukan apapun yang ingin anda lakukan dan lihat saja konsekuensinya, nanti!" Tandas Indra dengan menyeringai.
Krisna bisa mencerna semua kata-kata Indra dengan cepat. "Apa yang kamu ketahui? Jangan berani-beraninya kamu membuat keadaan semakin buruk!"
"Saya tidak akan mengatakan apapun Tuan Krisna, jika pernikahan tiba berlapang dadalah saat menerima kejutan dariku," lontar Indra dengan masih memamerkan senyuman liciknya.
"Kurang ajar kamu!" Krisna mulai melayangkan kembali tangannya untuk memukul Indra.
"Lakukan!"
Namun, Krisna menurunkan tangannya dan melihat mobil seseorang datang. Dari mobil turun seseorang yang langsung berlari menghampiri mereka.
Ari membungkukkan badannya kepada mereka, lalu berbisik pada Indra.
"Apakah kita harus memberitahukan sekarang padanya Tuan Indra?"
Indra tidak menjawab, dia mengangkat tangannya agar Ari berhenti membisikkan kata-kata padanya. Lalu dia menatap Krisna dengan sudut bibir terangkat sebelah.
"Tunggu kejutan dariku Tuan Krisna. Ari kamu obati luka bos-mu!" titah Indra. Dia lantas bergegas pergi untuk meninggalkan Krisna dan juga Ari.
__ADS_1
Krisna menatap Ari dengan tatapan yang heran, "apa maksudnya Ari, bukankah kamu telah bekerja dengannya?"
Ari hanya tersenyum pada Krisna, "kita obati dulu luka anda Tuan Krisna, setelah itu mari kita tunggu sampai pernikahan Nona Kia,"
"Sudah mulai berani bermain rahasia dengan saya kau Ari." Krisna memukul bahu Ari dengan tersenyum samar.
***
Indra melajukan kuda besinya menuju rumah Nita, hanya memandang rumahnya saja membuat suasana hatinya membaik. Apalagi dia bisa bersama-sama dengan wanita itu.
Di saat ingatannya tengah memutar kebersamaan dengan Nita, Bian menghubungi Indra. Alis Indra te terangkat saat mengeja namanya.
Apakah Nita telah mengadu pada Bian tentang penculikkan itu?
Sh*tttt, sungguh dia ingin menyembunyikan semua fakta itu, tetapi mengapa malah Bian mengetahuinya.
["Benarkah itu semua?"] Bian bertanya dengan setenang mungkin. Dia sudah menganggap Indra sebagai saudara kandungnya meski mereka hanya saudara tiri. Dia bahkan mempercayakan Karina saat dirinya tengah di Luar Negeri sekarang.
["Menurutmu aku akan melakukan hal gila itu?"] Indra balik bertanya, terdengar helaan napas panjang yang tengah Bian lakukan.
["Apakah Karina baik-baik saja sekarang?"]
["Kamu kira dia makanan yang masih utuh!"] kelakar Bian di seberang sana. Indra tergelak mendengar racauan lelaki yang seumuran dengannya.
["Kau tahu, aku mencintai Mbak Nita-mu,"] ucap Indra mulai berkata jujur.
["Tidak masalah, jika kamu bisa membahagiakan dia. Aku pun dulu pernah mengungkapkan perasaanku padanya. Tetapi dia menolak, sebab yang dia rasakan aku hanya mencari pelarian. Dan benar saja, aku memang hanya mencintai Karina."] ungkap Bian panjang lebar.
["Bukankah kamu pernah bilang, kamu bertemu lagi dnegan gadis kalung itu?"]
["Aku menemukannya, tetapi gadis itu mengatakan jika kalung itu pemilik sesungguhnya Nona Nita, bukan miliknya."]
["Rumit sekali, kisah hidupmu."]
["Aku tutup, Yan. Kamu sudah mulai berani meledek saya!"]
***
Tok ... Tok ...
__ADS_1
Suara pintu mobil itu diketuk oleh seorang gadis. Indra mendongak dan mendapati Karina yang tengah berada di sana.
Indra membuka kaca pintu mobil, lalu menatapnya. Karina mulai berdiri tegak saat kaca itu perlahan turun.
"Anda sedang mengintai kami?" ketus Karina. Indra mengedipkan satu matanya pada Karina.
"Anda terluka, sepertinya telah baku hantam dengan orang. Ternyata anda preman, ya. Hati-hati paparazi mengintai, nanti reputasimu hancur lebur." Karina melipat tangan di dada.
"Jangan macam-macam, Mbak Nita tengah melihat kita di kamarnya. Saya pun di suruh kemari oleh Mbak Nita. Katanya ...." Karina menjeda ucapannya. "Pulang, sebelum kami mema--"
Indra langsung keluar mobil, dan menyeret Karina untuk masuk kedalam rumah. Nita yang melihatnya langsung berlari keluar rumah dan melihatnya.
Satpam yang berjaga pun ikut menghampiri, "Tuan lepaskan Nona Karina," pinta Satpam. Indra pun melepaskannya, senyum tipis tersungging saat Nita berlari keluar rumah.
"Akhinrya kita bertemu Nona Nita," ucap Indra kearah Nita. Nita mengamati wajah lelaki itu dengan seksama.
"Kenapa dengan wajahnya," batin Nita bertanya-tanya.
Ingin sekali dia bertanya dan pergi untuk membawa kotak P3K agar lelaki itu bisa Nita obati. Tetapi Nita berusaha keras untuk menahan rasa penasarannya.
Namun, hati dan tubuhnya selalu berbeda pendapat, mulutnya pun bertanya.
"Kenapa dengan wajahmu itu? kamu berantem dengan seseorang? atau kamu diusir dari Kelab karena mungkin membuat onar?" cerca Nita, Karina perlahan mundur dan menyikut Nita dengan cepat.
"Mbak sadar apa yang kamu tanyakan?" bisik Karina.
Nita merutuki kebodohannya karena terlihat perhatian padanya.
"Saya tarik kata-kata saya. Maksud saya kenapa anda mengintai rumah saya? rumah saya ini mungkin tidak sebanding dengan rumah anda jika anda ingin merampok di tempat saya!" ketus Nita. Indra tertawa kecil saat Nita meralat ucapnnya.
"Saya sedang menjaga yang lebih penting dari berlian, Nona," jawab Indra dengan serius. Kening Nita, Karina dan Satpam mengkerut heran.
"Ya, itulah kamu, Nona Nita." Mata Nita membola sempurna dengan ucapan Indra yang sungguh membuatnya ingin menyiram lelaki itu dengan air panas. Sudah jengkel dengan sikap Indra, Nita pun meminta Satpam untuk mengusirnya.
Sedangkan Nita langsung menyeret Karina untuk masuk kedalam rumah.
"Mbak kamu benar-benar mulai mencintainya?"
***
__ADS_1