Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Bab68. Perpisahan Termanis.


__ADS_3

Bab68. Perpisahan Termanis.


***


Sudah satu bulan perpisahan mereka berlalu. Semua keluarga memutuskan pergi di saat Krisna pergi dari rumah Nita. Riska mengerti akan keadaan hati Nita. Sesama wanita dia dapat merasakan bagaimana sakitnya di madu dan tanpa adil di dalamnya.


Selama itu pula Nita tidak lagi menggunakan anak itu untuk membalas rasa sakitnya. Dia mengasuh anak itu hanya untuk menjadi alat. Nita ingin membawa semua orang yang menyayangi Krisna dan membiarkan lelaki itu sendiri tanpa orang yang dia cintai. Tetapi setelah di telaah secara mendalam nyatanya dia tetap tidak merasa puas.


Akhirnya dia memilih berpisah dan meninggalkan anak itu. Meski dia sudah mulai mencintainya. Tetapi dia akan mencoba membuang rasa benci itu, karena semua tidak ada sangkut pautnya dengan anak itu. Sebagaimana buruknya perilaku Kasih padanya.


Nyatanya membalas dendam sama sekali tidak membuat hatinya nyaman. Dia malah membuat suasana semakin runyam, dan kesalah pahaman tidak berujung. Krisna masih saja mencercanya dengan pertanyaan, jika dia dan Bian memiliki hubungan yang spesial. Namun, nyatanya dia hanya menganggap adik, dan Bian bersedia membantunya atas rasa balas Budi karena Nita bersedia merawat Karina.


Mbak Ana datang mencoba menasihati wanita itu. Sudah terlalu lama Nita hanya berdiam, dan mengunci diri. Bukankah lebih baik dia berlibur jika dia mau? Lantas mengapa masih menutup diri jika jalan perpisahan yang membuatnya nyaman.


"Nona," panggil Ana, Nita berbalik menatap kearah Ana. Dia melihat Riska dan Tazkia datang kesana. Setelah satu bulan lamanya Nita tidak mau bertemu dengan siapapun.


"Iya," jawab Nita, wanita itu berjalan untuk menyambut kedatangan mereka. Ana kali ini tidak mendengarkan ucapan Nita. Dia takut jika Nita defresi.


"Sudah merasa baikan, setelah satu bulan tidak mau bertemu dengan kami?" tanya Riska dengan wajah sedihnya. Sedangkan Tazkia, sepeti biasa gadis itu tidak memiliki rasa empati dia hanya tersenyum kikuk di hadapan Nita.


"Mbak Nita, kamu sudah seperti Rapunzel yang menyendiri tanpa pasangan, tanpa teman hidup. Ngomong-ngomong kenapa rambutmu tidak cat berwarna kuning saja," ocehnya yang berjalan kearah Nita dan melihati rambut mantan kakak iparnya itu.


Riska langsung menarik tangan anaknya itu yang sudah membuat suasana malah hancur. Nita mencoba menahan. Dia hanya memeluk penuh sayang mantan adik iparnya.


"Tidak pa-pa Ma. Aku sudah lama mengenalnya, aku sudah hafal betul mulut racunnya!" Seru Nita. Di saat mereka tengah berbincang Ari datang Nita tampak terkejut dengan kedatangannya.


"Mas Ari! Kamu bawa mas Krisna ya kemari. Sudah ku bilang jangan dibawa! Kok gak nurut sih, karena kamu sudah melanggar--"


"Nona Nita, saya di sini hanya membawa pesanan Nyonya Riska. Saya harap anda bisa lebih baik sekarang. Dan semoga hari anda Bahagia," ucap Ari memotong lontaran Tazkia. Gadis itu mendelik tidak mengatakan apapun lagi.


Ari lantas berpamitan untuk pergi. Namun, Nita menahannya dan mengatakan jika dirinya sudah siap untuk menemui Krisna.


"Anda yakin Nona Nita?" tanya Ari meyakinkan. Wanita itu mengangguk mantap. Ari masih berusaha menarik ulur waktu agar Nita bisa mempertimbangkan semuanya.


"Saya tanya satu kali Nona, anda yakin sudah ingin bertemu dengan Tuan Krisna? Jangan dipaksakan jika belum siap,"


"Apa anda tidak akan merasa cemburu jika kedekatan Nona Karina dan--"


"Berhentilah untuk mengatakan omong kosong Ari. Aku sudah memutuskan ini setelah aku diculik ke hotel!"

__ADS_1


"Nona Nita, saya hanya ... Menjalankan tugas saya,"


"Yasudah cepat katakan padanya."


***


Ari melesat pergi untuk mendatangi kediaman Krisna. Di sana ada Karina yang tengah menimang si jago. Sedangkan Krisna sendiri dia sedang sibuk dengan laptopnya. Meski hari libur dia tetap bekerja.


Sekretaris itu memandang bosnya dengan senyuman miringnya. Krisna dapat merasakan jika Ari ingin mengatakan sesuatu. Tapi Krisna tahu, jika sekretarisnya itu pasti ingin membuat Krisna penasaran.


"Ada apa, cepat katakan! Wajahmu seperti itu sudah sangat memuakkan. Andai aku bisa bertemu dengan Nita," ucap Krisna.


"Apa yang akan anda lakukan saat bertemu dengannya. Dia bukan istrimu lagi Tuan, lebih tepatnya mantan istri," ledek Ari.


"Kau!" Rutuk Krisna dia melempar Bolpoin yang sedang di pegangngnya, lalu melemparkannya kearah Ari.


Karina yang melihati interaksi keduanya hanya tersenyum, dia pun memilih keluar dari sana.


"Ada kabar baik!" Seru Ari, membuat Krisna langsung berdiri dari duduknya.


"Cepat katakan Ari, kamu suka sekali bertele-tele,"


***


Karina dibawa serta kerumah itu, meski sebelumnya dia sempat bingung harus bertanya pada siapa. Namun, Nita sudah bisa berbicara padanya. Dia juga mengatakan jika Krisna membawa anak itu tidak masalah baginya.


Diperjalanan wajah Krisna tampak gelisah, dia sudah bingung sebelum sampai. Tanpa terasa pun perjalanan sudah sampai di pelataran rumah Nita. Krisna keluar dan memutari mobil untuk membukakan pintu Karina. Alasannya memperlakukannya seperti ini karena permintaan dari Riska.


Sekarang si jago sudah mulai bisa dekat dengan Karina. Setelah dia pergi rumah itu, Nita pun tidak ingin melihat keluarga Krisna. Dan si jago pun kini sudah terbiasa tanpa Nita.


Ketika di ruang tamu, semua orang yang berada di sana. Seolah mengerti memberikan ruang agar mereka berbincang.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Krisna mulai membuka suara. Dia sudah rindu mendengar suara Nita..


"Seperti yang kamu lihat. Aku sudah mulai lebih baik, dari sebelumnya," jawab Nita.


"Oh, syukurlah. Hmm, kali ini aku tidak akan memintamu untuk kembali padaku. Namun, jika suatu saat kamu merasa membutuhkan aku, aku akan datang dengan senang hati. Jangan sungkan, pintu hatiku selalu terbuka untukmu jika kamu ingin pulang," terang Krisna.


"Kris, sesuatu yang telah pergi dari hatiku tidak akan pernah hadir lagi. Kamu bukankah cukup dekat mengenalku? Perjalanan kita sewaktu kecil belum cukup membuatmu mengerti akan sikapku?" Cerca Nita, membuat lelaki itu semakin merasa sakit. Dia terlalu bodoh karena telah menyia-nyiakan Nita saat wanita itu mencintainya.

__ADS_1


"Sudah tidak ada ruangkah untukku di hatimu?" tanya Krisna.


"Kris, aku ingin menemui kamu hanya ingin memperjelas bahwa hubungan kita sudah berakhir, sudah tidak akan ada kesempatan apapun lagi. Aku harap kamu jangan lagi mengungkit masa lalu kita. Kita harus mulai menata hidup kita kedepannya untuk jauh lebih baik. Semoga kamu mendapatkan wanita yang lebih baik dariku, dan tentunya jangan salah memilih lagi. Apalagi kamu sudah memiliki anak," ucap Nita panjang lebar. Krisna menatap wajah wanita itu dengan tatapan serius.


"Kita tidak akan bersa--"


"Kris, sudah dijelaskan tadi. Aku trauma saat kamu meminta hakmu secara paksa. Tidakkah kamu mempertimbangkan mentalku bagaimana saat kamu memaksa? Tapi, yasudah lah semua sudah berlalu biarlah menjadi kenangan pahit yang harus kukubur dalam-dalam." Nita memotong ucapan lelaki itu, sedangkan Krisna mengembuskan napas kasar.


"Baiklah aku hargai keputusanmu. Maafkan aku karena telah membuat mental dan hatimu terluka."


Krisna memilih mengalah, karena dia telah menyadari sebagai seorang suami dia tidak bisa memberikan kebahagiaan lahir dan batinnya. Jika pun kesempatan itu hadir dia tidak akan menyia-nyiakannya. Tetapi takdir berkata lain, karena apa yang mereka harapkan tidak selamanya sejalan dengan takdir yang dijalani.


Mereka berdua sudah berdamai dan menerima status masing-masing sebagai duda dan janda.


***


Maaf ya jika ceritanya gak bagus, apalagi dibilang gak jelas. Aku baru belajar, mohon dimaklumi. Dari segi alur memang masih berantakan, tapi Aku akan berusaha belajar lagi😍 Terima kasih untuk dukungan kalian selama ini, jika bukan kalian ceritaku tidak ada apa-apa nya.


***


Segala sesuatu yang kumiliki dan kugenggam memang tidak selamanya berada dalam jangkauan.


Ada masa saat harus melepas ketika rasa luka yang mulai dirasakan.


Seperti rasa cintaku, akan hilang, terkikis oleh luka yang telah kamu berikan.


Tidaklah mudah memberikan kesempatan kedua saat hati sudah merasa lelah


Cinta itu ibarat tumbuhan yang kamu pupuk, jika kamu baik merawatnya tentu saja akan tumbuh dan berkembang baik


Jika sebaliknya maka akan mati, sama halnya rasa cintaku..



Nita Andira-



***

__ADS_1


TAMAT...


__ADS_2