
Bab23. Jangan Temui Dia Lagi!
***
"Kamu tidak mendengarkan saya Nita? Mentang-mentang saya selalu bersikap baik padamu jadi kamu bisa seenaknya saja keluar rumah tanpa meminta izin padaku?"
Nita memandang dengan tatapan datarnya, dia tidak menjawab atau menundukkan kepala seperti biasanya. Tangannya masih terlentang untuk melindungi Bian. Sedangkan lelaki muda itu masih bergeming di tempatnya. Dia terkejut dengan apa yang terjadi saat ini.
'Rumah tangga mereka sepertinya tidak baik-baik saja, apakah karena kehadiran saya,' batin Bian.
Sekretaris Ari masih menyimak tanpa berniat untuk menimpali. Namun, Krisna langsung menarik paksa tangan Nita yang terlentang, menaruh Nita dibelakang punggungnya hingga tidak terlihat boleh Bian.
"Saya peringatkan kali ini pada anda, jangan pernah bertemu lagi dengannya. Anda tahu dia sudah mempunyai suami!" Tegas Krisna. Nita memberontak agar dia bisa menjadi penghalang diantara mereka. Nita takut jika Krisna memukul Bian yang tidak tahu apapun.
"Awas, Kris, izinkan aku berbicara padanya," pinta Nita. Namun, Krisna tidak membiarkan Nita untuk berbicara dengan Bian. Setelah mengatakan itu Krisna langsung membawa Nita secara paksa.
"Bian maafkan aku, atas insiden ini!" Teriak Nita ketika Krisna menyeretnya hingga keluar dari ruangan.
Tertinggalah Ari dan juga Bian yang berada di ruangan. Suasana tampak hening beberapa detik. Lalu Ari pun berbicara.
"Saya hanya mewakili Tuan Krisna. Jika anda masih sayang dengan wajah mulus anda. Usahakan tidak usah lagi membuat janji temu dengan Nona Nita!"
"Jika ini terulang lagi, saya bisa apa selain membuat anda babak belur!" Seru Ari, nadanya terdengar serius dan juga penuh ancaman. Bian tidak menjawab lontaran lelaki itu. Dia hanya bisa menyimak dan mengerti akan ucapan lelaki itu.
"Aku kira pertemanan kita akan berlangsung lama Mbak Nita. Namun, ternyata takdir berkata bahwa kita tidak bisa terus bersama," gumam Bian.
***
__ADS_1
Dibelakang jok mobil Ari melihat Krisna dan Nita sama-sama sedang larut dalam emosi masing-masing. Krisna menaruh sikutnya dijendela dengan tangan ia tempelkan di dagu. Sedangkan Nita membelakangi Krisna memandangi jalan yang tengah mereka lewati. Perjalanan cukup lama mengingat kemacetan di sepanjang mereka melewati lampu merah.
Nita embuskan napas secara kasar. Akan sikap Krisna yang keterlaluan dari semalam. Rasa bersalah menghantui dirinya ketika Bian ikut terjerat dalam kemarahan Krisna. Apa penyebab lelaki itu bisa sejahat itu padanya.
"Kenapa kamu? Aku tidak mengerti dengan sikap kamu dari semalam!"
"Apakah salah seorang suami melarang apa yang dilakukan istrinya jika salah!"
"Apa maksud kamu!" Kelakar Nita.
Tanpa berbasa-basi dan mengatakan apa yang tengah di otak Krisna. Lelaki itu memberikan ponsel, dengan potret Nita dan Bian yang tadi sempat hampir terjatuh. Nita terperanjat, lalu menatap Krisna yang sama sekali tidak melihat kearahnya.
"Ka-kamu dapat photo ini dari siapa?" pertanyaan itu yang terbersit dalam memori Nita. Lelaki itu memandang remeh kearah Nita lalu memegangi dagu Nita.
"Berpelukan di tempat umum apakah wajar! Kamu selingkuh Nita!" Teriak Krisna menyapu wajah Nita dengan embusan napasnya.
"Lepas Kris," ucap Nita menghiba.
"Kamu ini seorang istri. Bagaimana bisa harg@ dirimu bisa semurah itu hanya untuk makan-makan!" Sentak Krisna. Nita tidak terima dengan ucapan yang terlontar dari mulut suaminya.
Ketika telah sampai di rumah Krisna langsung masuk kedalam. Sedangkan sekretaris Ari pulang setelah mengantarkan mereka.
Krisna menarik tubuh Nita untuk masuk kedalam. Lelaki itu bahkan membuat Nita jatuh kelantai. Karena dia membanting tubuh istrinya. Nita yang tidak terima dengan perlakuan Krisna langsung bangun.
Dia melayangkan tangannya lalu menampar Krisna dengan keras. Baginya itu sebuah protesan karena lelaki itu sudah melukai harg@ dirinya yang selama ini ia telah jaga.
"Yang harusnya menjaga itu kamu! Bukannya mencintai istrimu, malah menikah lagi, kamu yang tidak punya harg@ diri!" Erang Nita. Krisna memegangi pipinya yang terasa panas karena bekas tamparan istri pertamanya.
__ADS_1
Dan semua itu di saksikan oleh Kasih. Wanita muda itu langsung menghambur kepelukan suaminya. Dia juga melihat area pipi bekas tangan Nita.
"Hey, Mbak. Apakah salah seorang suami menegurmu ketika kamu salah. Harusnya kamu mengerti mungkin dia begitu karena dia tidak mau kamu di sakiti lelaki itu," cerca Kasih yang tidak terima. Dia terus mengusap pipi Krisna.
"Tidak mau orang lain menyakitiku. Tapi kalian sumber sakit hatiku!" Teriak Nita. Menatap nyalang keduanya. Krisna tidak pernah melihat kemarahan Nita yang memuncak seperti itu.
Wanita yang selalu sabar dan ramah itu kini menjelma menjadi wanita garang. Bahkan dia berani menampar Krisna begitu kerasnya.
"Mau ku tampar kamu juga! Aku tidak berurusan dengan kamu. Jadi berhentilah untuk ikut campur. Sebelum aku bakar rumah ini, agar kalian pergi dari kehidupanku!" Nita pun melangkahkan kakinya untuk pergi kekamar. Namun, tangan Nita dicekal Krisna. Entah apalagi yang akan lelaki itu ucapkan. Tetapi Nita enggan untuk memutar tubuhnya menghadap mereka.
Kasih yang tidak ingin suaminya di tampar lagi oleh Nita menghempaskan tangan keduanya yang tengah bertaut.
"Pergi saja, Mbak. Saya tidak mau jika suami saya kamu tampar lagi!" Ketus Kasih. Nita memandang kosong kearah depan. Dia tidak perduli dengan apa yang diucapkan oleh Kasih.
Ketika tautan tangan mereka terlepas. Nita langsung berlari kekamarnya. Dia menutup pintu lalu menguncinya dari dalam. Krisna yang merasa salah berucap pun menuju kamar Nita. Dia menggedor pintu itu berulang kali. Meski tidak mendapat sahutan dari dalam.
"Nita ... Keluarlah, aku tidak bermaksud demikian. Aku hanya ingin kamu mempunyai batasan dengan orang lain di luar sana. Bukan maksudku menganggap kamu tidak berharga! Keluarlah, Ta. Aku sedang emosi barusan!" Teriak Krisna. Dia terus berusaha meyakinkan Nita.
Kasih tidak suka mendengar ucapan suaminya yang terus meminta maaf. Baginya semua itu sudah seharusnya mengingat Nita terlalu intim bersahabat dengan lawan jenis.
"Sudahlah, Mas. Biarkan dia merenung mengapa kamu melakukan hal ini. Dia sudah dewasa. Dia tahu mana yang benar dan salah. Dan mana yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Ayok masuk ke kamar kita. Dari pada kamu terus merendahkan harg@ dirimu!" Kelakar Kasih. Akhirnya Krisna mengalah dan memilih mengikuti saran Kasih.
"Aku merasa benar. Karena itu semua hanya salah paham. Mengapa kamu mengambil kesimpulan begitu, Kris. Harusnya kamu bertanya baik-baik padaku agar tidak terjadi hal begini. Mengapa kita malah semakin menjauh. Aku sudah berusaha untuk menjaga rumah tangga kita dari kata perdebatan. Tetapi kamu sendiri yang membawa api kedalam rumahtangga ini," lirih Nita. Ketika dia mendengar semua ucapan mereka.
***
Bersambung...
__ADS_1