Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Bab16. Izinkan Aku Menyimpan Photomu.


__ADS_3

Bab16. Izinkan Aku Menyimpan Photomu.


***


"Mas, mbak Nita pergi sama siapa sih? Kok aku gak dikasih tahu," ucap Kasih dengan bibir yang ia manyunkan.


"Memangnya perlu? Mmm, dan apakah itu semua penting untukmu. Atau dia lebih penting dariku," timpal Krisna masih santai menanggapi. Namun, focusnya tidak teralihkan tetap menatap kedepan.


"Isshhh, bukan begitu. Tapi kan aku juga ingin tahu sama siapa. Setahuku dia tidak punya teman. Lalu mengapa bisa dia jadi pergi sama seseorang." Raut wajah Kasih tampak berpikir mengingat-ingat siapa yang pergi bersama Nita.


Krisna tidak menghiraukan pertanyaan istrinya itu. Baginya cukuplah dia yang tahu. Dan Kasih tidak perlu mengetahui itu semua. Mereka masuk beriringan diselingi dengan canda dan tawa. Mbak Ana yang melihati kedua insan itu hanya mengelus dada. Apakah tuannya itu mencintai kedua istrinya. Ya, jelas itu semua benar. Mengingat perlakuan Krisna tidak jauh berbeda pada Nita.


Hanya saja dengan Nita lelaki itu tidak pernah tertawa seperti itu. Lebih santai dengan sifat Nita yang tidak kekanak-kanakan.


***


Nita dan Ari kini tengah di perjalanan untuk pulang. Setelah makan malam yang penuh tawa akhirnya dia memilih pulang. Sudah sakit perutnya karena terus tertawa dengan celotehan Bian. Jangan di tanya bagaimana sikap Ari di saat di sana. Dia hanya mengamati dia dan Bian yang sedang berbincang. Dia tidak ikut menimpali. Hanya sesekali mengangguk atau jika salah dia hanya menggeleng.


Nita membuka kaca mobil, dia sembulkan kepalanya agar angin malam menerpa wajahnya. Lampu di jalan yang temaram membuat dia merasa nyaman. Dan bebas berekspresi. Hanya alam dan Tuhan yang tahu jika dia sedang menangis karena sesak yang menghimpit hatinya.


Ari yang melihati Nita melakukan itu langsung menegurnya. Dia akan bertanggungjawab jika Nita sakit setelah pulang bersamanya. Krisna pasti akan memarahinya. Karena tidak bec*s mengurus satu wanita.


"Nona, tutuplah. Anda akan sakit, jika itu terjadi saya akan mendapat teguran dari Tuan," ungkap Ari. Namun, Nita tidak menggubrisnya. Dia masih menikmatinya. Setelah 5 menit lamanya akhirnya dia menutup jendela mobil itu lalu menyandarkan punggungnya di punggung kursi. Nita tertawa mendengar lontaran Ari yang mengatakan itu.


"Hmmm, benarkah? Bukankah Tuanmu itu tidak mencintai saya, lalu mengapa dia bisa melakukan itu semua," cerca Nita. Ari memandang Nita dari spion di dalam mobil. Bibir yang tertawa. Namun, ekspresi dengan sendu. Apakah tidak bahagia hidup Nona-nya itu.

__ADS_1


"Dia selalu memperlakukan Anda sangat baik. Mungkin hanya itu yang saya ketahui, hingga membuat Anda tetap bertahan dalam pernikahan ini. Jika Tuanku memperlakukan Anda tidak baik mungkin anda sudah pergi sedari dulu," ucapan Ari memang benar adanya. Nita tersenyum ironis menanggapi.


Dia lebih memilih diam daripada harus menjawab lontaran Ari. Nita memejamkan matanya yang terasa lelah. Berpura-pura bahagia di depan orang sungguh menguras tenaga dan juga hati. Walau kadang-kadang rasa ingin pergi hadir. Tetapi dia harus pergi kamana.


Nita menutup kelopak matanya, meresapi setiap hirupan oksigen yang masuk kedalam hidungnya. Bersyukur, dia tetap mensyukuri nikmat Tuhan ini yang tetap hidup berkecukupan. Walaupun hatinya terluka.


Dia sadar setiap cobaan orang itu berbeda-beda. Ada yang diuji masalah ekonomi. Atau diuji dengan pasangan hidup yang belum mencintainya.


"Nona!" Panggil Ari. Seketika mata yang sempat akan terlelap pun terbuka. Dia menunggu ucapan apa yang akan dilontarkan Ari.


"Semoga hari anda bahagia." Nita yang mendengar ucapan Ari mendengus. Tidak bosankah dia mengatakan hal itu berulang kali.


Nita kembali memejamkan mata. Sampai di depan rumah Ari pun mematikan mesin mobilnya. Dia membukakan pintu untuk Nona-nya. Tetapi lima menit lamanya Nona-nya tidak kunjung keluar membuat Ari menyembulkan kepalanya melihat Nita.


Terdengar dengkuran halus yang ia dengar ketika menyembulkan kepalanya. Ari langsung mengirimi Krisna pesan.


Krisna datang dengan memakai handuk kimononya.


"Dia tertidur? Apa begitu melelahkan sampai terlelap? Apa yang dia lakukan di sana?" tanya Krisna. Ari langsung memberikan rekaman videonya.


Ya, setelah Ari berpamitan kekamar mandi dia meminta pelayan di sana untuk merekam mereka. Tampak Krinsa melihati rekaman video itu dengan seksama. Tidak ada kata yang terlontar dari mulutnya mengenai lelaki itu yang telah mengajak istrinya keluar.


"Ok, masih dibatas wajar. Aku tidak akan mengganggu dia, selagi dia tidak membuat Tata, terluka," tandas Krisna. Dia pun memasuki mobil dan menggendong tubuh Nita.


"Cari tahu tentang lelaki itu!" Perintah Krisna. Ari menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Dia juga mengikuti Krisna untuk membukakannya pintu. Mengikuti arah tuannya menuju kamar Nita. Dia hanya berdiri di samping tuannya tanpa beranjak pergi. Krisna menyuruhnya pergi mengingat ini bukan jam kerja.


"Pulanglah, waktunya Anda istirahat," titah Krisna. Tangannya terangkat serta mengibas diatas. Ari pun menurut lalu undur diri meninggalkan Krisna dan juga Nita yang tengah di dalam.


Secara perlahan Ari menutup pintu, dia mendesah berat ketika dia keluar. Heran dengan sikap tuannya yang sama sekali tidak pernah berbuat kejam. Namun, dia malah memberi harapan palsu pada Nita.


"Hanya satu doa saya untuk anda Nona Nita, semoga hari-hari anda selalu bahagia. Kenapa saya selalu mengatakan berulang kali? Karena ucapan adalah doa," gumam Ari berlalu pergi meninggalkan rumah tuannya.


***


"Kris," panggil Nita. Ketika dia terbangun di saat lelaki itu sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Saat itu juga langkah Krisna terhenti tatkala suara merdu itu terlontar dari bibirnya.


Krisna masih berdiri di tempatnya semula. Dia hanya membalikkan tubuhnya tanpa berjalan mendekati Nita yang berada di sana.


"Kenapa bangun?" tanya Krisna, wanita itu sudah beringsut dan duduk di ranjang.


"Hmm, kamu sudah dua kali memasuki kamarku ini." Ada jeda saat dia melontarkannya. "Apakah kamu tidak keberatan jika Photomu terpajang di kamarku?" Ya, Nita merasa bersalah ketika dia tidak meminta izin pada Krisna untuk memajang photonya.


"Tidak, Ta. Selagi itu bisa membuat kamu bahagia, aku tidak malarangnya. Hanya sa--"


"Ah, sudah. Aku tahu apa yang akan kamu ucapkan. Sekali lagi aku tegaskan Kris, aku tidak apa-apa jika kamu tidak bisa mencintaiku. Aku begitu bersyukur ketika kamu tidak menendang ku di saat kamu sudah mempunyai istri tetapi tidak membuang ku," terang Nita dengan lirih.


"Aku tidak bisa banyak berkomentar. Apapun tentangmu adalah tanggungjawabku. Sebisaku aku akan tetap memperlakukanmu dengan baik. Tapi maaf jika--"


"Pergilah Kris, takut istrimu terbangun. Lagi pula aku sudah mengantuk lagi ingin tidur," potong Nita.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2