
Nita memberengut dengan ekspresi yang tidak suka akan lontaran Indra, dia menilai kata-kata Indra terlalu jahat, dan membuatnya tersinggung.
Wanita muda ... meski hanya dua kata, kata-kata itu sungguh membuatnya merasa menjadi wanita tua yang menyukai lelaki muda. Jika dia penyuka daun muda, bukankah dengan Bian pun dia harus merasakan hal yang sama?
Nita menganggap sebuah rasa tidaklah mudah tumbuh, rasa nyaman dan aman yang mulai dia rasakan datang begitu saja dalam hatinya. Dia pernah melihat Indra saat lelaki itu di goda wanita lain, dan Indra sama sekali tidak menggubris. Dia bersikap dingin pada dia, dan perubahan sikap yang jauh dari dunianya hanyalah pada Karina dan juga Kia.
Jika dengan Kia, dia tahu akan kedekatan mereka. Meski awalnya Nita merasa canggung mengingat Indra dan Kia adalah matan kekasih di masa lalu. Tetapi Kia selalu mendukung hubungan Indra, meski Tazkia adik dari Krisna dia tetap mendukung Nita bersama lelaki lain. Dia telah tumbuh dewasa dan tahu mana yang baik, dan buruk.
"Ya, aku sadar diri, aku wanita yang berusia tiga puluh tiga tahun, dan kamu masih muda, belum mendekati kepala tiga. Lalu mengapa memilihku?" Nita memprotes. Indra tergelak dengan lontaran Nita.
"Jika hatiku memilihmu untuk menjadi ibu dari anakku, kamu bisa apa." Indra mengeluarkan sebuah kotak dari saku celananya.
Lelaki itu mulai berjongkok dan membuka kotak itu, Nita menatap kotak itu dan Indra secara bergantian. Dia masih merasa bermimpi jika lamaran itu benar-benar terjadi.
"Maukah kamu menjadi istriku?" tanya Indra dengan tegas dan serius. Nita membelakangi Indra dengan jantung yang berdebar tidak menentu.
Indra menatap nanar cincin itu, mungkin keinginannya untuk bersanding dengan Nita hanyalah sebuah khayalan semata. Indra perlahan menarik tangannya lalu mulai berdiri. Nita berbalik lagi dan melihatnya dengan bingung.
Dia pun mengulurkan tangannya, menjentik-jentikkan jari manisnya sedangkan matanya memutar-mutar karena malu.
"Apa kamu ...."
"Ya, aku belum menjawab, mengapa wajahmu murung seperti itu. Ayok cepat pakaikan sebelum aku menarik tanganku dan mulai berubah pikiran," terang Nita, Indra buru-buru melingkarkan cincinnya cepat di jari Nita.
Setelah cincin itu melingkar di jari manis Nita, Indra perlahan menyentuhnya lalu mengecup punggung tangan Nita dengan sayang.
"Terima kasih telah menerima cintaku. Aku harap kamu sudah siap untuk menikah denganku minggu depan." Nita terjingkat dengan penuturan Indra, secepat itu? berulang kali Nita mengerjapkan matanya tidak percaya.
"Kamu tidak akan menyesal?" tanya Nita dengan serius. Dia meraup kedua pipi Indra agar mereka saling bersitatap. Indra mengangguk mantap tanpa keraguan.
__ADS_1
"Aku akan menyesal, jika aku tidak secepatnya menikahimu," terang Indra, membuat Nita tersenyum bahagia.
"Kenapa?"
"Aku sudah nyaman bersamamu, aku sudah melabuhkan rasaku ini hanya untukmu. Untuk apa terus mengulur waktu, jika pernikahan adalah jalan satu-satunya penguat cinta kita. Aku tegaskan satu kali lagi Nyonya Wiguna, apakah kamu ingin menjadi ibu dari anak-anakku." Indra kembali mengulang kata-katanya. Nita tentu saja mengangguk mantap, tidak ada sedikit pun keraguan di wajahnya.
"Kamu kenapa tidak berangkat bekerja?" tanya Nita saat dia mulai merasa heran karena Indra masih berada di rumahnya saat ini.
"Tidak usah mengkhawatirkan aku, ada sekretarisku, mari kita rayakan hari jadi kita, dan terakhir kalinya merayakan hari ini." Indra menarik tangan Nita menuju dapur.
"Apa maksudnya hari pertama dan terakhir?"
"Kedepannya kita hanya akan merayakan hari jadi pernikahan."
***
Bian memarkirkan mobilnya tidak jauh dari toko Nita, dia menunggu Karina untuk menjemputnya pulang. Baru saja dia pulang sudah di suguhi dengan banyak pekerjaan oleh Indra. Jika dia tidak mengingat Indra saudaranya dia tidak akan membantu lelaki itu.
Sebenarnya Karina pun telah keluar, akan tetapi dia memilih menunggu Bian untuk pergi. Dia belum siap melihat lelaki itu lagi.
Dari kejauhan Karina melihat Bian tengah menerima telepon. Dia pun perlahan mendekati Bian dengan mengendap-endap agar dia bisa mendengarkan dengan siapa lelaki itu berbincang.
["Sudah diterima? Lamarannya bagaimana?"]
[ .... ]
["Menikah, ya aku sudah tidak sabar menunggu hari bahagia itu."]
Dada Karina naik turun, menahan rasa sesak yang mendera. Dugaannya jika kepulangan Bian memanglah untuk melamar Nita. Lelaki itu memang benar-benar mencintai Nita. Pantas saja saat Karina menanyakan tentang perasaan Nita terhadap Indra dia tidak menanggapinya. Ternyata Nita akan menikah dengan Bian, lelaki yang telah dia cintai telah lama.
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore, dan Bian pun memilih pergi. Dengan langkah gontai Karina mulai keluar dari persembunyian.
"Setelah bertahun-tahun aku menunggu, ternyata kamu memang pulang bukan untukku. Mungkin aku terlalu berharap, dan berkhayal tinggi," gumam Karina, kakinya terus melangkah meski dia tidak tahu kemana lagi dia harus pergi saat rumah tempatnya pulang menjadi sarang penyakit untuknya.
Karina mulai memberhentikan taksi, dan muali menaikinya. Tujuannya tentu saja menuju rumah Nita, Namun, bukannya turun Karina malah melihati rumah Nita dari kejauhan, setetes demi setets air mata mulai terjatuh tanpa di minta.
"Haruskah aku masuk," gumamnya dengan dada yang kian sesak.
"Nona," panggil supir taksi.
"Sebentar Pak, saya sedang menunggu teman saya," jawab Karina. Sang supir mengangguk tanpa menyahut lagi.
Karina melihat mobil seseorang lagi yang ia yakini adalah mobil Krisna. Tidak ada yang harus dia tunggu lagi. Bian lelaki yang membuatnya menunggu ternyata akan menikah dengan bos-nya. Apakah dia sanggup untuk menghadapi kenyataan itu.
"Jalan saja, Pak," pinta Karina. Sang supir pun melajukan kendaraannya.
***
Nita dan Indra tengah makan malam bersama dengan bercanda ria. Krisna berada di depan pintu, dia menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Dia pun dengan nekad menekan bel. Nita yang berada di dalam pun berpamitan pada Indra untuk membuka pintu.
Nita yakin jika dia adalah Karina, dengan wajah yang sumringah dia menyambutnya dengan ramah.
"Selamat malam, silakan masuk." Nita langsung membungkukkan badannya tanpa menoleh siapa yang datang. Ketika matanya menatap kebawah, dia melihat sepatu mengkilap lelaki. Bukan sepatu yang biasa Karina kenakan.
Perlahan Nita mulai menegakkan tubuhnya dan menengadah. "Oh, kamu ... mmm." Tiba-tiba saja suara Nita tercekat, kerongkongannya seolah kering, menelan ludah saja rasanya begitu sulit.
"Aku boleh masuk?" tanya Krisna, Nita mengangguk dan mempersilakan Krisna untuk masuk.
Mengapa Krisna datang tidak di waktu yang tepat? akan canggung rasanya, saat suasana tadi begitu penuh canda tawa menjadi mencekam.
__ADS_1
***