Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Bab38. Lelah Berjuang.


__ADS_3

Bab38. Lelah Berjuang.


***


Setelah pulang jalan-jalan bersama Bian. Nita tidak mendapati Krisna di rumah. Menurut Riska mereka berdua pergi entah kemana. Nita hanya mengangguk sembari otak kecilnya memikirkan kemana mereka pergi.


Merasa lelah dengan perjalanannya tadi membuat dia memilih untuk pergi ke kamarnya dibanding menemani mama mertuanya itu. Riska mengiyakan, toh, dia sudah lelah berjalan-jalan untuk mengusir rasa lelah hatinya.


'Kemana mereka pergi?' batin Nita.


Dia yakin jika Kasih sengaja melakukan itu semua. Agar dia tidak lagi berinteraksi dengan Krisna. Perjuangannya begitu gigih untuk menjauhkan Nita. Dia memandang dirinya dipantulkan cermin kamar mandi.


Ada semburat wajah sendu yang terpancar. Di satu sisi dia ingin pergi. Namun, di satu sisi dia juga tidak bisa pergi. Mengingat keras kapalanya Krisna yang tidak mengizinkannya untuk pergi.


Sedalam apapun rasa itu, memang sakit rasanya berbagi cinta. Dia juga merasa sudah lelah berjuang. Semua nya semakin menjauh, tidak ada harapan lagi. Apa yang harus bisa Nita lakukan selain pergi.


Pukul 10 malam Krisna mengiriminya pesan singkat pada Nita. Lelaki itu meminta Nita untuk kebelakang. Nita pun ragu-ragu untuk datang. Tetapi dia berusaha meyakinkan diri, agar dia bisa terbiasa.


Nita keluar kamar dan pergi ketempat yang telah Krisna pinta. Di sana ada kejutan kecil yang Krisna berikan padanya.


"Semoga kamu suka. Aku sibuk sekarang, karena kehamilan Kasih. Membuatnya manja aku jadi tidak punya waktu untuk bersamamu," ungkap Krisna. Nita tersenyum simpul. Lelaki itu bahkan menyeret kursi untuk Nita duduki.


"Apakah kamu suka?" tanya Krisna. Nita hanya mengangguk dan mulai memakan apa yang telah Krisna hidangkan.


Di saat keduanya tengah menikmati makan malam romantis, Krisna harus segera, sebab Kasih terbangun dan merengek ingin tidur dalam pelukannya.


"Kenapa? Dia memintamu datang? Datanglah padanya, kamu akan segera menjadi ayah. Sudah seharusnya kamu selalu berada disampingnya. Aku tidak apa-apa, aku sudah terbiasa sendiri. Bahkan aku pun seorang diri berjuang," sindir Nita dengan kekehen kecil. Meski hatinya terluka.


"Tata, aku ...," ucapan Krisna menggantung.


"Aku juga akan masuk, kembalilah kekamarnya," titah Nita. Namun, lelaki itu malah mengembuskan napas kasar. Seolah dia merasa berat meninggalkan Nita. Baru saja hubungannya akan lebih baik. Tetapi penghalang bagi mereka datang lagi.


"Ayok, pergi. Jangan membuat moodnya buruk. Ingat dia sedang mengandung anakmu," cerca Nita.


"Aku kira salah langkah, harusnya kamu yang lebih dulu mengandung anakku," jawab Krisna. Setelah mengatakan itu dia pergi meninggalkan Nita.

__ADS_1


"Aku memang masih mencintaimu, aku tidak bisa menyangkal itu. Masih ada secercah rasa. Namun, rasa sakit ini, rasanya aku tidak ingin bercita-cita lagi mengandung anakmu," gumam Nita.


***


Waktu begitu cepat berlalu. Hari-hari telah terlewati dengan mudahnya oleh Nita. Wanita itu sudah jarang berinteraksi lagi dengan Krisna. Bahkan lelaki itu akan sarapan di mobil menuju perjalanan kantornya. Tidak ada waktu luang yang bisa membuat mereka dekat.


Krisna menganggap bahwa Nita mengerti dengan keadaannya. Namun, di hati kecil Nita dia berusaha untuk pergi meninggalkan keluarga itu. Tetapi dia bingung harus begaimana.


"Nona, Nita," panggil Mbak Ana. Nita menoleh kearah Ana dengan senyuman yang mengembang.


"Tuan dan Nyonya berpesan. Jika saya harus menemani anda. Mereka saat ini sedang perjalanan entah kemana. Soalnya saya tidak mendengar begitu jelas," ungkap Ana. Nita menghela napas berat.


"Aku kira rasa ini telah mati Mbak, ternyata sesak itu masih ada, aku ingin pergi tetapi dia tetap saja mempertahankan aku," lriih Nita, dia berkeluh kesah pada Ana.


Ana mengusap bahu Nita dengan lembut. "Sabar Non, suatu saat nanti, non pasti akan merasakan kebahagiaan dengan orang yang tepat. Meski ...."


"Ah, sudah Mbak tidak usah dibahas. Aku pasti bahagia meski sekarang masih di sia-siakan. Semoga saja aku tidak pernah mencintai orang yang salah lagi untuk kedepannya," tandas Nita.


***


"Bian, sepertinya dia yang akan menemani aku yang sedang boring ini," gumam Nita. Dia pun mencoba menelepon Bian. Satu, dua panggilan belum juga terjawab.


"Kemana sih," gerutunya yang mulai kesal. Baru saja dia akan mematikan ponselnya dan bergegas tidur. Bian sudah meneleponnya balik.


["Maaf tidak menjawab. Aku baru pulang. Dan aku baru bertemu seseorang,"]


["Siapa? Apakah gadis yang membuatmu tempo hari galau. Apakah ada titik terang untuk hubungan kalian?"] tanya Nita terlihat antusias. Lelaki itu terdengar mengehela napas berat.


["Kami memilih berteman, kayak teman tapi mesra begitu. Jika kamu menjalani hubungan akan sulit dijalani,"] jawab Bian.


["Apapun itu, semoga kalian bisa bersatu ya, tapi ingat Bian, kamu tidak boleh melukainya. Aku tidak mau kalau kamu memperlakukan perempuan seperti apa yang aku alami, kamu harus mencintainya."] Nasihat Nita.


["Baik komandan, jika itu kamu yang meminta aku akan melakukannya, karena aku sayang kamu."] suara Bian tampak berat terdengar oleh Nita.


Nita merasa ada sesuatu yang tengah Bian sembunyikan. Ingin bertanya tetapi gengsi, akhirnya dia pendam pertanyaan itu. Dia tidak mau tahu.

__ADS_1


["Bisakah kita bertemu lagi besok?"] tanya Bian.


["Bisa. Aku banyak waktu luang, kamu kan tahu aku bukan wanita karir,"] ucap Nita.


["Sampai ketemu besok,"]


["Iya,]


["Tapi tunggu, ada sesuatu yang harus kamu tahu, aku menyayangimu ...,"] Nita terdiam dengan waktu yang cukup lama. Apakah lelaki ini sedang merayunya, atau sedang bercanda seperti dulu.


["Kebiasaan kamu Yan, kalau bercanda serius."] Nita salah tingkah. Dan takut jika perasaan Bian terlalu jauh padanya.


[Ya, aku memang menyayangi kamu, sama seperti, aku mencintai kakakku yang telah tiada,"] ungkap Bian, membuat Nita merasa lega.


"Iya, iya, tidurlah, sudah larut. Aku juga sudah mengantuk,"] titah Nita. Mereka pun mengakhiri teleponnya.


Nita mengembuskan napas kasar. Lalu memandang photo Bian di profil WA-nya. Lelaki itu ideal, tampan. Dia jadi memikirkan selera wanita itu, seperti apa. Apa seperti Kasih, yang cantik, elegan. Nita menepis pikiran yang tidak seharusnya dia pikirkan.


"Nona Nita!" Teriak Mbak Ana. Nita pun turun dari ranjang, untuk menghampiri Ana.


"Kenapa Mbak?" tanya Nita, padahal sudah larut mengapa Ana mengetuk pintunya.


"Kata Tuan, dan Nyonya, mereka tidak pulang malam ini Non, mmmm." Ana menunduk seolah enggan mengatakannya.


"Apakah karena Kasih?" Tanya Nita, Mbak Ana mengangguk.


"Memangnya kemana mereka pergi, Mbak?" tanya Nita.


"Mereka, mereka, tengah liburan Non. Maafkan saya harus mengatakannya," sesal Ana. Ingin menyembunyikan tetapi dia tidak bisa memendamnya. Rasa bersalah selalu ada ketika melihat Nita murung di dalam kamarnya sepanjang hari.


"Tidak apa, Mbak, aku ... Biasa saja,"


***


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2