Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Bab52. Jangan Pergi!


__ADS_3

Bab52. Jangan Pergi!


***


Krisna sudah tidak bisa menunggu lagi. Ketika dia hanya mendapatkan kabar jika Nita belum juga di temukan. Selama ini dia tidak ikut serta mencari Nita, sebab karena Kasih. Wanita hamil itu akan berulah dan berakhir dengan Krisna tidak bisa pergi.


Hatinya sudah tidak sabar ingin menemui istrinya. Dimana dia berada? Kelaparan kah dia? Apakah setiap malam wanita itu tidur nyenyak seperti dirinya yang tidak pernah tertidur?


Tidak bisa lagi berkata-kata tentang isi hatinya saat ini. Hancur, bahkan tidak akan ada yang bisa mengobati selain Nita. Mungkin memang raganya bersama Kasih, tetapi hati dan pikirannya melayang.


Kasih hanya bisa memandang tidak suka melihat suaminya yang selalu melamun ketika dia dan Krisna sedang berdua. Lelaki itu hanya akan berkata iya, atau hanya berdehem. Bahkan Kasih merasa jika Krisna bagai patung hidup sekarang.


"Bisakah kamu sedikit saja memperhatikan aku yang sedang mengandung anakmu. Kamu tidak bisa seperti ini, jika dia tidak ditemukan juga anggap saja bahwa bayi ini pengganti dirinya," ucap Kasih. Krisna memandang Kasih yang seolah dia tidak mengaharapkan Nita kembali.


Krisna lantas berdiri, "tidak adakah simpati di hatimu itu Kasih? Dia belum juga ditemukan aku khawatir, bagaimana keadaannya di luar sana. Dia tidur nyenyak kah, dia punya tempat tinggal kah. Harusnya kamu juga merasakan apa yang aku rasakan." Kasih berdiri berkacak pinggang. Sudah dipastikan dia tidak menerima ucapan Krisna.


"Kamu selalu saja memikirkan dia, dia dan dia! Apa aku sampah yang sudah kamu pakai lalu dibuang! Apa aku tidak berhak mendapatkan perhatian kecil kamu itu. Sudah 2 Minggu kamu begini Mas, anakmu bahkan sudah 8 bulan berada dalam perutku. Kamu tidak menghargai aku yang lelah mengandungnya? Kamu tidak menghargai aku yang masih berada di sampingmu begitu, Mas!" Cerca Kasih. Dia pun akan berjalan untuk pergi. Namun, karena kehamilannya dia kesulitan untuk pergi.


Krisna lantas memeluk Kasih. Dia memohon pada Kasih agar wanita hamil itu tidak stress. Krisna tidak ingin jika anak yang ada dalam kandungan Kasih terjadi sesuatu.


"Iya baiklah, aku tidak akan pergi jika kamu tidak mengizinkan aku pergi. Tapi sampai kapan kamu akan menahan ku seperti ini?" Tanya Krisna, membuat darah Nita seolah mendidih. Namun, dia menghela napas lalu mengeluarkannya secara perlahan. Dia harus sabar agar Krisna mendengarkan semua ucapannya.


Kasih berbalik menatap suaminya, dia juga mengalungkan tangannya di leher Krisna. Wanita itu tersenyum nakal dan menggoda suaminya. Namun, Krisna seolah tidak berselera. Dia perlahan melepaskan tangan Kasih yang sempat membelit lehernya.

__ADS_1


Baru saja Kasih akan membuat protesan atas apa yang Krisna lakukan. Namun, lelaki itu bersimpuh, mengelus perut Kasih dan memeluknya sesaat.


"Nak, jangan membuat Mama-mu kelelahan ya. Dia Papa titipkan sekarang padamu. Papa mau keluar dulu membawa minum," pamit Krisna pada calon anaknya. Kasih tersipu ketika suaminya berbuat manis seperti itu. Dia teramat bahagia sekarang.


***


"Bagaimana Ari sudah ada perkembangan tentang keberadaan Nita?" tanya Krisna di ruang kerjanya. Ari menggeleng pelan. Sebenarnya dia sudah tahu, tetapi karena keinginan Tazkia yang tidak bisa dia tolak. Bahkan dia saja tidak memberitahukan pada Riska.


"Sepertinya aku juga harus turun tangan. Agar Nita secepatnya bisa di temukan," ucap Krisna. Kasih mencuri dengar tentang apa yang mereka perbincangkan.


Wanita itu mengepalkan tangan begitu kuat. Dia teringat tentang orang yang dia suruh. Akhirnya Kasih memilih pergi dan mencoba menghubungi orang itu.


Setelah mengumpati orang suruhannya. Kasih berdecak. Ingin marah, dia ingin membanting semua barang yang tengah berada di sampingnya. Mengapa bisa Nita pergi tanpa jejak. Siapa yang sudah menolongnya. Siapa yang sudah membuat rencananya hancur berantakan seperti ini.


"Mungkin aku bisa mendekati ibunya dulu, setelah itu anaknya," ucap Kasih tersenyum licik. Sambil memegangi perutnya yang semakin membuncit.


"Ma," panggil Kasih, wanita itu mendudukan bokongnya di kursi. Dia memegangi tangan Riska seolah menguatkan. Wanita itu sudah tidak mempunyai semangat hidup ketika Nita pergi.


"Aku mengerti mengapa Mama seperti ini karena Mbak Nita, tapi, tidakkah Mama memikirkan cucu pertama Mama yang juga butuh kasih sayang?" Lirih Kasih. Riska yang semula melamun sambil memegangi gelas pun menatap perut wanita itu.


Dia mengelusnya dan menitikkan air mata. Riska Hanya akan bersuara ketika memarahi Tazkia atau Krisna. Hanya itu saja yang dia lakukan. Selebihnya dia akan melamun dengan tatapan kosongnya. Namun, kali ini tidak lagi, Kasih sudah berhasil membuat dinding pertanahan Riska roboh dengan mengandalkan bayi yang dia kandung.


Hatinya bersorak, dalam hati ingin secepatnya dia melahirkan. Tetapi belum waktunya. Namun, sisi baiknya pun ada karena dia sudah bisa meluluhkan hati mertuanya.

__ADS_1


"Berapa bulan sekarang?"


"8 bulan Ma. Tolong bantu Kasih, supaya Kasih bisa melahirkan anak ini dengan selamat." Riska tersenyum begitu tulus ketika mendengar cucunya yang akan segera lahir. Setelah itu dia pergi kekamarnya.


Ketika Kasih melihat Riska pergi, dia dapat melihat Krisna yang tengah menguping perbincangan mereka. Usahanya tidak si-sia, sekali jerat umpan begitu mudah terperangkap.


'Kena juga kamu Mas,' batin Kasih.


"Kamu kenapa lagi, Mas? Jangan bilang kamu akan mencari Mbak Nita? Kamu tidak bisa melihat perutku ini, bisa saja besok atau lusa aku melahirkan. Dan kamu tidak berada di sampingku, jahat kamu, Mas! Bagaimana jika umurku pendek kamu akan menyesal!" Ucap Kasih, setelah mengatakan itu dia pergi meninggalkan Krisna.


Krisna mendudukan bokongnya di kursi, dia bawa ponselnya dan melihati ponselnya begitu lama. Kasih tidak benar-benar pergi, dia terus mengamati suaminya, perlahan-lahan dia menuju kearah suaminya. Dia melihat Krisna yang tengah memandang potret Nita. Hatinya bergemuruh. Dia membawa ponsel Krisna dengan kasar.


"Tidak bisakah kamu sedikit memikirkan kami, Mas, Satu detik saja, aku juga harus kamu pikirkan!"


"Cukup Kasih! Hentikan kecemburuan kamu yang tidak beralasan itu. Istriku hilang dan belum ditemukan. Kamu egois sekali, tidak bersimpati sekali padaku. Setidaknya kamu mengerti kalau aku begitu merindukannya!" Teriak Krisna. Kasih menjatuhkan ponsel Krisna. Betapa hancurnya dia mendengar kata itu.


"Merindukan dia, tetapi kamu mengabaikan kami, iya Mas!" Lirih Kasih, wanita hamil itu mengelus perutnya dan mulai menjatuhkan air mata.


"Kamu yang tidak berperasaan mengabaikan kami!" Teriak Kasih. Dia tidak terima jika Krisna terus memikirkan Nita. Padahal wanita itu sudah pergi, tetapi mengapa semua orang masih mencari dan simpati padanya. Mereka harusnya menoleh Kasih yang juga membutuhkan mereka.


Krisna meninggalkan Kasih tanpa menenangkannya.


***

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2