
Bab57. Kemarahan.
***
Satu Minggu kepergian Kasih.
Krisna mengepalkan tangan kuat-kuat ketika dia tanpa sengaja mendengarkan pembicaraan Tazkia dan Ari. Ternyata selama ini dia dibohongi tentang keberadaan Nita. Sedari lama mereka telah mengetahui keberadaannya, tetapi tidak ada satupun yang bersuara agar membuat hatinya tenang.
"Ini balasanmu Ari! Kau mengkhianati saya! Lalu masih pantaskah kamu berada disampingku sampai saat ini," gumam Krisna. Dia tidak menyangka jika Ari dapat melakukan hal segila ini padanya.
Dia sudah terlalu percaya pada Ari. Namun, lelaki itu ternyata bersekongkol dengan adiknya untuk menyembunyikan Nita cukup lama darinya.
Krisna pun memerintahkan Ari untuk datang keruang kerjanya. Lelaki itu dengan santai masuk tanpa memikirkan jika dia akan di beri pelajaran sebuah tamparan yang keras.
Ari menahan rasa sakit itu, meski pipinya memanas ia tetap berdiri dengan sigap di hadapan Krisna.
"Kamu tahu kesalahan apa yang telah kamu lakukan hingga saya menamparmu?" tanya Krisna, dia menatap tajam kearah lelaki itu.
Tazkia pun tidak biasanya tidak tenang karena memikirkan Ari. Dia berusaha menghubungi, tetapi Ari tidak kunjung menjawabnya. Gadis itu akan pergi untuk menemuinya di rumahnya. Tetapi dia melihat mobil Ari berada di depan rumahnya.
Dia pun yakin jika Ari sedang bersama dengan kakaknya. Dia berlari untuk menguping apa yang tengah mereka perbincangkan. Tazkia mendengar seperti barang yang terjatuh, Ari tengah di hadiahi bogeman mentah oleh Krisna. Sebagai penebus rasa kecewanya. Meski dia tidak akan pernah memberhentikan Ari.
"Di mana dia berada Ari! Katakan pada saya secepatnya!"
__ADS_1
Tazkia sudah tidak bisa menahannya, mendengar Krisna yang terus memukul Ari. Wajah lelaki itu bahkan sudah babak belur, tetapi Krisna tidak juga menghentikan nya.
"Berhenti Mas, jika kamu ingin marah, marah padaku! Aku yang memintanya untuk tutup mulut. Aku yang memintanya untuk tidak memberitahukan kamu! Kenapa? Kamu tahu apa alasannya. Karena istri mudamu ingin mencelakai kakak iparku! Apa aku salah? Apa aku salah ingin melindungi Mbak Nita. Selama ini kamu bersikap tidak adil pada mereka. Mbak Nita sampai mencoba melakukan bunuh diri, karena dia tidak sanggup menghadapi kamu lagi. Dan sekarang setelah istri mudamu pergi kamu ingin dia kembali padamu!"
"Lakukan ayok pukul aku!" Tazkia memegangi tangan Krisna agar dia juga memberikan tamparan seperti dia melakukannya pada Ari.
"Aku tidak habis pikir dengan lelaki seperti kamu. Tidak berperasaan, kamu tahu bagaimana Papa memberikan seluruh kesetiaan dan kehidupannya untuk Mama. Lalu kenapa sikap kamu tidak menurun darinya? Kenapa? Kamu tidak layak menjadi panutanku. Kamu tidak bisa menggantikan Papa di hatiku!" Tazkia pergi membawa Ari yang sudah babak-belur.
Sedangkan Krisna dia menyesali apa yang sudah terjadi. Dia sudah lama tidak mencintai Kasih, tetapi dia tidak bisa meninggalkannya karena wanita itu tengah mengandung.
Seharusnya dia berusaha tetap setia, ketika rasa yang dia anggap sebagai teman ternyata sebuah perasaan sayang yang lebih dari itu. Tetapi dia menyangkal dan tidak bisa menerima jika mereka ternyata saling mencintai. Ketika rasa itu telah hadir kembali Krisna telah kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupnya. Tetapi apakah kesempatan kedua akan Nita berikan padanya? Dia ingat betul dan tahu bagaimana dia kejamnya pada Nita karena telah membuatnya terluka.
***
Ari yang sedang melamun pun memegangi tangan Kia yang menekannya begitu kuat. Untuk beberapa saat tatapan mereka bertemu.
"Jika tidak ikhlas, tidak usah dilanjutkan Nona Kia," ucap Ari, Kia merasa bersalah, karena ini semua ulahnya. Dia yang merencanakan ini semua. Tetapi Ari yang mendapatkan getahnya.
"Hoy, so cool begitu. Aku tahu kamu kesakitan kan? Jangan jadi jagoan tidak menghindar, kalau kamu punya ilmu kekebalan mungkin gak masalah, bahkan kamu tidak akan merasa kesakitan jika di pukuli Mas Kris," cerocos Kia, wanita itu masih saja mengomel.
"Tapi maafkan aku juga ini karena aku." Kia menurunkan tangannya dan beralih memegangi tangan Ari. Wanita itu tampak di mode serius sekarang.
"Tapi bisakah aku diberikan hadiah makan malam," rengeknya, membuat Ari menyentil dahi wanita itu. Ari berfikir jika Kia akan menangis dan memohon maaf padanya karena telah membuat dirinya menyedihkan. Tetapi kenyataannya jauh dari perkiraan Ari. Wanita itu memang tidak bisa mempunyai nurani.
__ADS_1
"Balas dendam, ya?" Kia mendelik dan melipat tangan di dada.
"Hey, bisakah anda mengobati saya Nona. Saya sudah babak-belur karena membantu rencana anda!" Kelakar Ari, di saat Kia malah merajuk. Bukannya membantu mengobati.
"Kia," panggil Riska pada anak gadisnya. Dia mendengarkan mereka yang tengah berdebat.
Sekretaris Ari berdiri dan membiarkan Riska untuk duduk di samping anaknya. Riska melihat wajah kesal Kia. Wanita itu mengerti, jika Kia melakukannya untuk menjaga hati Nita.
"Sayang, seberapapun kamu membenci Kakakmu. Kamu harus tetap menghormatinya. Jika kelak kamu menikah yang menjadi walinya adalah dia. Beritahukan dimana Mbak Nita berada ya, sayang," ucap Riska. Kia menatap tidak percaya dengan apa yang dilontarkannya. Wanita itu menyangka jika ibunya berpihak pada Krisna bukan pada dirinya.
"Kenapa Mama berpihak pada Mas Krisna? Sampai kapanpun aku tidak akan mengatakan dimana Mbak Nita berada. Dia sudah bahagia dengan kehidupannya tanpa Mas Krisna!" Jawab Kia. Wanita baya itu memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang. Dia memberikan usapan lembut dipunggung anaknya yang sudah mulai beranjak dewasa itu.
"Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka, Nak. Kita hanya perantara saja. Lagipula tidak baik jika Kris, dan Nita masih seperti ini. Mereka masih berstatus suami istri yang sah di mata hukum. Nita mau menerima atau tidak Mas-mu itu tergantung dia. Kita tidak akan memaksanya untuk bertahan dalam pernikahan itu. Karena pondasi pernikahan yang kuat adalah kesetiaan. Dan Mama juga tidak membenarkan tentang kesalahan Mas-mu," terang Riska panjang lebar. Kia menatap kearah Ari seolah meminta pendapatnya.
Lelaki itu hanya tersenyum. Kia mengerti arti senyuman itu. Akhirnya dia akan berdiri untuk memberitahu dimana Nita berada pada Krisna. Dan ternyata Krisna sudah berada di tengah-tengah mereka.
"Maafkan aku Mas Kris," ucap Kia. Krisna merentangkan tangannya untuk memberikan pelukan pada adik satu-satunya itu.
"Mas memaafkannya. Tolong beritahu mas dimana keberadaan kakak iparmu itu?" tanya Krisna. Namun, Kia mendongak seolah dia tidak rela jika Krisna dan Nita bertemu. Dia takut jika hati kakak iparnya itu akan terluka lagi.
"Aku tidak perlu memberitahu kan secara detail dimana lokasinya. Mas Ari yang akan mengantarkanmu, dia tahu dimana Mbak Nita berada."
***
__ADS_1
Bersambung ...