Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
BonChap. Bab72. Pertemuan Tidak Terduga


__ADS_3

Bab72. Pertemuan Tidak Terduga


***


setelah malam kemarin Krisna keluar Tazkia merasa heran pasalnya sang kakak sudah seperti orang ynag sudah mati. Tidak memiliki semangat hidup, bahkan untuk mengajak anaknya bermain saja sudah tidak pernah dia lakukan.


Prihatin yang dia rasakan saat ini. Bahkan Karina yang sangat sibuk untuk mengurus anak itu. Meski mereka kini sudah mulai memperkerjakan Babby sitter. Mama Riska datang dan dapat merasakan begitu sedihnya kali ini Krisna. Meski tidak bisa berbuat apa-apa dia tetap berusaha untuk membangun lagi semangat hidup anaknya.


"Semalam Masmu bertemu dengan Mbak Tata, Kia?" tanya Riska pada anak gadisnya. Gadis itu tidak menyahut hanya memandangi kakaknya dengan serius.


"Kia!" seru Riska di saat pertanyaannya tidak ditanggapi.


"Kenapa Mama masih bertanya padaku, bukankah Mama tahu jika Mas Kris begitu sudah bertemu dengan Mbak Nita? dari penilainku sih, Mas Kris harus merelakan Mbak Nita bersama yang lain, hati wanita akan membeku ketika di sakiti seperti Mbak Nita,"


"Hey sejak kapan anak kecil Mama ini berubah menjadi dewasa. Sepertinya Karina cukup membuat kamu berubah," ucap Riska.


"Terkadang kepercayaan itu sulit dibangun kembali ketika sudah dikecewakan. Sepertinya Mama harus membuka lowongan mencari menantu ideal seperti Mbak Nita," celetuk Kia yang hanya dihadiahi cubitan di lengannya.


"Ide bagus itu Nyonya," timpal Ari yang tiba-tiba datang membenarkan saran dari Tazkia.


Riska berbalik dan menatap tajam keduanya bergantian. Bisa-bisanya mereka berfikiran seperti itu. bahkan jika ada orang baru pun mungkin tidak akan berarti apa-apa untuk Krisna.


"Konyol!" seru Riska dengan menggelengkan kepalanya. Namun, Tazkia dan Ari hanya saling memandang seolah mereka bingung harus berbuat apalagi untuk menyadarkan Krisna bahwa masa depannya masih harus dijalani.


"Mas Ari saja setuju loh, Ma. Kami hanya perlu surat izin dari Mama untuk menjalankan misi ini. Jika kami behasil Mama harus membayar jasa Kia. Iya gak Mas Ari." Kia menyenggol lengan Ari dengan sikutnya, dia juga tersenyum dengan bangga.


Riska tersentak dengan penuturan anak gadisnya, kenapa otak gadis itu selalu saja tidak berjalan dengan baik. Memberikan solusi yang tidak efisien, bahkan membuat kesedihan kakaknya sebagai bisnis.


"KIA!!!" teriak Riska sudah jengkel dengan ucapan anaknya.

__ADS_1


"Nyonya anda perlu saya bawa kerumah sakit?" tanya Ari menyela.


"Apalagi ini kerumah sakit? dasar kalian memang cocok menjadi pasangan yang gesrek!' Riska pun meninggalkan mereka.


"Kalian cocok, saling melengkapi," timpal Karina melewati mereka. Ari dan Tazkia hanya termenung dan canggung ketika mendengarkan ucapan Karina.


***


Sudah satu bulan berlalu setelah Krisna memohon pada Nita untuk diberikan kesempatan, tetapi tidak digubris dia hanya bisa memata-matai pergerakan mereka dari kejauhan. Mereka sering keluar bahkan terlihat seperti pasangan. Krisna mengumpati Bian yang telah bisa meluluhkan hati mantan istrinya itu. Sedangkan dia semakin menjauh bahkan merasa asing.


Krisna mengikuti Bian hingga lelaki itu mengantarkan Nita pulang. Entah apa yang akan dia lakukan ketika bisa berhadapan lagi dengan lelaki itu. Ketika Bian telah mengantarkan Nita pulang Krisna mengikuti kemana lagi arah lelaki itu pergi. Namun tidak disangka jika Bian pergi mengarah kearah rumahnya.


Karena dia penasaran akan apa yang dilakukan Bian dia masih bersabar untuk menemuinya. Krisna menatap sinis ketika Bian melihati Karina yang baru saja pulang.


"Tidak menyangka jika dia sungguh lelaki yang serakah ingin memiliki dua wanita!" seru Krisna.


Ketika Karina sudah memasuki rumah Bian bergegas pergi. Namun, Krisna mencegahnya.


Namun, Bian sama sekali tidak terpancing, dia masih tersenyum tanpa berniat membalas lontaran Krisna.


"Jauhi Nita, saya tidak mau anda terus mendekati dia. Berpura-pura mencintainya tetapi apa yang kamu lakukan dibelakangnya? mengamati wanita lain di tengah malam!"


Lagi-lagi Bian hanya tersenyum sambil mngemati wajah Krisna yang tengah menahan emosi. Dia membungkukkan badannya lalu membuka mobilnya untuk pergi. Krisna mencekal tangan Bian bahkan menghempaskan tubuhnya hingga tersungkur.


Bian menatap dingin kearah Krisna lalu berkata.


"Tuan jika dulu saya mengalah karena menghargai anda suaminya. Lalu sekarang, anda hanya mantan suaminya, saya tidak akan mengalah lagi. Saya akan memperjuangkan cinta ini. Jadi mari berjuang untuk mendapatkan hati Mbak Nita," ucap Bian membuat Krisna naik vitam, tangannya sudah gatal ingin memukul orang dihadapannnya.


Tangannya mengepal kuat, giginya bergemurutuk. Di dalam mobil lain Tazkia dan Ari sedang mengamati pergerakan mereka. Beberapa detik Krisna tampak terdiam, Tazkia yakin jika kakaknya akan memukul Bian dengan cepat gadis itu keluar.

__ADS_1


"Berhenti, Mas!" teriak Tazkia histeris, hingga mengundang Karina keluar dari rumah.


Karina melihat Bian yang sudah tersungkur dengan sudut bibir yang berdarah. Sedangkan Kia dia terus-menerus mengumpati kakaknya yang sudah berperilaku seperti preman.


"Kamu sudah besar loh, Mas. Bahkan sudah berstatus duda. Lalu mengapa kelakuanmu seperti anak SMP yang labrak orang karena mendekati pacarmu! Mas sadar loh, kamu sudah tua, sudah punya anak bahkan mungkin sudah bau tanah,"


"Kia bukan waktunya untuk bergurau, lihatlah situasi sebelum mengucapkannya." Ari menatap dengan wajah yang heran, status adik kandung yang melekat pada Tazkia tidak membuatnya merasa simpati terhadap Krisna.


Tidak mendengar kata maaf yang terucap dari mulut Kia membuat Ari rasanya ingin menyentil kening gadis itu. Namun, karena di hadapan kakaknya Ari tidak bisa berbuat banyak. Ari pun membawa Tazkia untuk masuk lebih dulu kedalam rumah.


"Lepas Mas Ari, gimana kalau Mas Kris memukul Bian lagi?" Tazkia memberontak. Namun ari tidak sedikitpun membiarkan wanita itu untuk kedepan lagi.


"Bibirmu itu tidak bisa dikontrol Kia!"


Sedangkan Krisna menatap Bian kembali dengan tatapan membunuh, lalu menatap tajam kearah Karina. Dan memilih meninggalkan mereka. Karina yang sempat ditatap menundukkan kepalanya. Wanita begitu takut akan tatapan lelaki itu. Sepertinya Krisna membenci dirinya.


Setelah Krisna pergi dari sana, Karina melihat luka lelaki itu, dia mengangkat tangannya untuk mengusap luka itu. Namun Bian mencekalnya seolah mencegah. Dengan perasaan kecewa Karina menurunkan kembali tangannya. Hatinya seolah teriris ketika mendapatkan perilaku seperti itu dari Bian.


"A-aku masuk dulu akan membawa obat untuk mengobati lukamu," ucap Karina, baru satu langkah dia berjalan Bian pun berkata.


"Tidak perlu! Saya tidak ingin anda obati, lebih baik obati saja luka hati anda!"


"Yan! apa maksudmu? tidak bisakah kamu bersikap seperti biasa. Kita berteman cukup lama bukan baru beberapa hari, sebagai temanmu aku harap kamu bisa mendengarkan nasihatku ini. Jauhi Nona Nita Yan, agar hidupmu aman, kamu lihat kan wajahmu sudah berapa kali tangan Tuan Krisna memukulmu." Tunjuk Karina kearah wajah Bian. lelaki itu tertawa mengejek pada Karina, lalu menatap tajam kearahnya.


"Saya mencintainya, tidak usah repot-repot mengurus hidup orang lain. Urus saja kehidupan anda," ketus Bian dia pun masuk kedalam mobilnya. Sedangkan Karina menatap kepergian Bian dengan wajah sedihnya. Seperti biasa dia menghubungi nomor Bian yang sudah tidak aktif lagi.


"Aku merindukan kamu yang dulu, Yan,"


Bian melihat gadis itu dari kaca spion mobilnya.

__ADS_1


"Siapa yang dia hubungi?" ucapnya bertanya pada diri sendiri, dengan tingkat penasaran yang kian tinggi.


***


__ADS_2