Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab98. Masalah Selesai.


__ADS_3

Dalam sekejap perusahan yang telah keluarga Krisna dan keluarga Nita bangun hancur. Para pemegang saham meminta Krisna untuk di pecat dari jabatannya. Ari yang hanya sekretaris bisa apa selain menganggukkan kepala dan menyetujui. Apalagi hilangnya Krisna yang tidak datang dalam rapat kali ini.


Nilai sahamnya sungguh merosot ketika berita penganiayaan Krisna mencuat di berbagai media masa. Meskipun mereka tidak meragukan semua tentang kemampuan Krisna membangun perusahaan menjadi lebih besar.


Tetapi orang yang telah Krisna aniaya datang meminta para saham untuk memberikan Krisna kesempatan kedua. Lelaki itu akan memberikan konsferensi pers. Agar media masa mengetahui kebenarannya. Dan itu pun juga karena kesalahannya. Mendekati orang yang telah Krisna cintai.


Setelah konferensi pers digelar, dan masalah pun telah menjadi kondusif kembali. Meski perusahan tetap bermasalah karena mengalami kerugian yang cukup besar. Namun, Presdir dari WG group bersedia memberikan suntikan dana untuk perusahaan itu.


Presdir WG Group terus mencari kemana Krisna pergi. Dia juga meminta Ari untuk membantunya, mengingat perusahaan telah kembali kondusif. Dan Krisna memiliki tanggungjawab yang besar atas karyawan yang telah bekerja di perusahaannya.


Tidak butuh waktu lama Ari bisa menemukannya. Tempat peristirahatan orangtua Krisna menjadi tempat terakhirnya untuk ia datangi. Dan benar saja lelaki itu sedang berada di sana. Duduk bersila dengan tatapan kosong menatap gundukan tanah yang telah banyak di taburi bunga.


Ari mendekat pelan, lalu ikut duduk di samping majikannya tanpa alas.


"Tuan kembalilah," sahut Ari dengan nada serendah hampir tidak terdengar dan tertiup oleh hembusan angin. Namun, Krisna masih bisa mendengarnya, dia masih mencerna. Namun, ia menulikan telinganya seolah apa yang dia dengar tidaklah benar.


Sekretaris itu masih menunggu jawaban. Menunggu majikannya untuk membuka mulut. Namun, nihil dia masih menatap kosong gundukan tanah dihadapannya.


"Tuan, anda sangat dibutuhkan. Kembalilah sebelum anda digantikan karena anda tidak lagi bekerja." Kini ucapan Ari membuat Krisna menoleh. Alisnya mengkerut tidak percaya. Bukankah perusahaan diibaratkan kapal yang hampir karam. Nyaris tenggelam karena kecerobohannya telah menganiaya orang yang salah. Dia tidak mengetahui jika lelaki itu adalah orang yang masuk dalam deretan berpengaruh di kota itu.


Krisna menatap lelaki itu dengan dalam, "mari kita bekerja kembali Tuan, saya sudah rindu anda bentak-bentak," sahut Ari yang mengungkapkan kerinduannya atas banyak mengaturnya lelaki itu. Namun, dia menjadi orang yang tertib dan cekatan.


"Ya, lelaki itu. Ternyata lelaki muda yang telah sukses dalam bidang properti. Bahkan saking tertutupnya dunianya dia tidak pernah tercium media. Dia mengadakan konferensi pers saja memakai topeng Tuan," kata Ari menjelaskan. Meski bibir Krisna masih terkatup rapat. Tetapi lelaki itu pasti ingin mengetahui.

__ADS_1


"Mari pulang Tuan." Ari mengulurkan tangannya agar Krisna berdiri dengan bantuannya. Namun, lelaki itu menepis tangan Ari.


"Saya bisa berdiri sendiri," sahutnya dengan dingin. Lantas lelaki itu berdiri dan mulai berjalan menuju mobilnya untuk pulang. Dia sebenarnya tidak ingin pulang, tetapi mendengar karyawan yang membutuhkannya dia pun memaksakan untuk pulang.


Di dalam perjalanan lelaki itu tampak menatap jendela mobil, melihati pengendara yang tidak terlalu berlalu lalang. Hati Krisna merasa nyeri saat penghinaan itu. Cincin yang dia berikan untuk melamar di sebut telah menyemat di jari orang. Dia bahkan merasa tidak berarti, seperti inikah rasanya perjuangan tidak dihargai.


Lalu lamunannya buyar saat Ari membukakan pintu mobilnya. Di sana ada Tazkia, Karina, dan bahkan wanita yang telah ia rindukan--Nita mengapa wanita itu ada di sana?


Tazkia lantas berlari untuk memeluk tubuh kakaknya. Dia bahkan memukul dahi Krisna dengan keras karena lari dari masalah.


"B*doh, biasanya kamu tidak ingin berutang Budi pada orang. Dan sekarang kamu memiliki hutang budi karena orang yang telah kamu lukai membantu kamu," gerutu gadis itu meski dia tidak tahu siapa lelaki itu. Tazkia datang dengan isakan tangis dan juga pukulan. Hatinya teramat bahagia.


Krisna merengkuh gadis itu dengan perlahan. Mengeratkan pelukan seolah dia juga merasakan apa yang Tazkia rasakan. Dia mengecup puncak kepala adiknya dengan tulus. Hingga ia bisa melupakan Nita orang yang telah membuatnya gelap mata.


"Dasar orang perusak suasana. Tidak lihatlah kamu aku sedang menikmati kerinduan yang baru ditinggalkan. Kenapa kamu tidak menyusul mama saja Mas Kris." Gadis itu memukul gemas lengan kakaknya.


Ari menjentikan jarinya akan menyentil dahi gadis itu. Namun, Kia dapat menghindar. Dan berlari kearah belakang Krisna meminta perlindungan. Tetapi Krisna malah menggeser tubuhnya dan membawa Kia kehadapan lelaki itu.


"Beri pelajaran saja dia, Ari. Tidak tahu waktu kalau bercanda!" Krisna berjalan menuju pintu utama yang berdiri, Nita, dan juga Karina. Lelaki itu tampak memejamkan mata lalu menghela napas panjang. Melewati Nita dengan datar seolah dia tidak mengalami apapun.


Krisna mungkin telah mundur dari perang itu. Medan perang dalam mendapatkan hati wanita yang telah sempat ia Campakan. Krisna kini mengerti hati wanita itu tidak lagi untuknya, ternyata kesempatan kedua tidak akan pernah ada. Dan mungkin saatnya untuk dirinya merelakan Nita bersanding dengan lelaki lain. Dia akan merelakan jika lelaki itu lebih baik darinya.


***

__ADS_1


Nita berjalan mendekati Kia setelah Krisna pulang dan masuk kedalam. Wanita itu bertolak pinggang dengan tatapan tajam kearah Kia. Kini Karina ikut mendekat dengan sorotan mata memberikan pelajaran.


Satu lawan tiga sungguh tidak akan membuatnya menang, meski dia memiliki julukan si mulut pedas.


"Hoy, aku ini sedang diintrogasi apa sedang di bully?" Kia meracau melihat nasibnya bak menjadi maling yang tengah dikeroyok. Gadis itu menatap satu-satu dari ketiga orang dihadapannya dengan wajah memelas.


"Maaf deh, tapi emang dia pantasnya diku--"


"Kia!" Nita semakin menajamkan tatapannya seolah meminta Kia berhenti untuk berbicara. Gadis itu langsung terkatup.


"Kita apakan gadis itu Karin, Ari?" Tanya Nita pada kedua orang itu. Karina menyikut lengan Ari. Namun, lelaki itu hanya menatap datar kearah Kia dengan tangan dia lipat di bawah dada.


"Apa?" Tantang Kia beralih menatap Ari dengan bertolak pinggang seolah tidak takut. Bibirnya mengerucut tidak kalah dari Ari. Lelaki itu sudah tidak sabar untuk mendekati gadis itu.


Perlahan tapi pasti Ari berjalan mendekati gadis nakal itu. Merengkuh pinggang itu, hingga hembusan napas Ari menyapu wajahnya. Kia seolah melupakan dua orang yang tengah menontonnya.


Ari tersenyum miring lalu.


Peletek.


Tangan lentiknya berhasil menyentil dahi gadis itu dengan keras. Sontak saja Karina dan Nita tergelak. Melihat gadis itu merengut sudah berpikir kotor kalau Ari akan menciumnya.


***

__ADS_1


__ADS_2