
Wajah cemas begitu kentara di wajah Nita, saat sudah larut malam Karina belum juga pulang. Yang terlintas dalam otaknya hanya meminta bantuan pada Indra. Lelaki itu tanpa pikir panjang langsung melesat pergi untuk menjemput Nita. Dia pun meminta Ari untuk mencari tahu kemana gadis itu pergi.
Mondar-mandir di depan gerbang rumah yang Nita lakukan saat ini. Meski tidak tahu apa manfaatnya, setidaknya cemas itu tidak terlalu bercokol dalam benaknya. Satpam yang bertugas pun hanya ikut pusing melihat sang majikan yang tengah gelisah di depan matanya. Tetapi dia tidak bisa melakukan apapun. Selain menunggu kabar.
Decitan mobil yang di rem tepat di depan pintu gerbang terdengar begitu ngilu. Sang pengemudi melajukan mobilnya begitu kencang, agar cepat sampai menjemput Nita.
Tanpa banyak basa-basi Nita langsung memasuki mobil Indra dengan cepat.
"Kemana dia," resah Nita. Wajahnya terlihat cemas. Matanya tidak berhenti melirik kesana-kemari, dia berharap Karina tengah berjalan di trotoar atau sedang makan di pinggiran.
Meski sudah memutari kota metropolitan dengan waktu yang cukup lama tetapi sampai saat ini pun mereka belum juga menemukan Karina. Indra pun tidak tinggal diam, dia tetap berusaha mencari dengan meminta bantuan Ari dan juga orang-orangnya.
Setelah lama berkeliling Indra pun mendapatkan kabar, jika Karina sedang berada di Kelab. Tidak lama setelah kabar itu sampai pada Indra, dia pun mendapat kabar kembali jika Karina telah pulang dengan selamat.
"Mari kita makan malam dulu, dia sudah ditemukan, dan juga dalam keadaan yang sehat." Indra berucap sembari menepikan mobilnya. Nita memiringkan tubuhnya untuk melihat kearah Indra.
Tatapan lelaki itu tidak biasa, dada Nita kembali bergemuruh. Mengapa perasaannya begitu murahan sekali hanya dalam waktu yang singkat dia mulai salah tingkah di hadapan Indra.
Nita berdehem untuk mengusir rasa canggung yang hanya dia sendiri yang merasakan. Dia pun memutar tubuhnya untuk duduk dengan tegak tanpa berani menoleh kesamping.
"Tidak bisa aku khawatir dengannya. Mana bisa aku malah makan-makan di luar sedangkan dia tengah menderita," tolak Nita dengan cepat. Namun, Indra mengarahkan layar ponselnya kearah Nita agar wanita itu bisa melihatnya.
Nita bernapas lega, tubuhnya yang menegang kini mulai berangsur rileks. Dia menyandrakan pugungnya di sandaran kursi. Tanpa dia sadari ada tangan kekar yang tengah menyelipkan anakan rambut di telinganya.
Rasa nyaman yang membuatnya enggan membuka mata. Nita tetap menutup matanya tidak mengingat jika dia sedang bersama Indra. Wanita itu tampak menikmati saat tangan itu terulur mengusap-usap kepalanya dengan manja. Bagai seekor anak kucing kecil yang tengah di sayang oleh majikannya.
"Nyamankah berada di dekatku?" tanya Indra, membuyarkan semua kenyamanan yang sempat tercipta. Nita buru-buru membuka mata dan terbelalak saat dia baru mengingat jika Indra sedang berada dengannya.
Nita menutup mulutnya yang menganga. Dia bahkan berulang kali menutup mata lalu membukanya perlahan. Mengatur napasnya dengannya perlahan. Malu ... Hal yang terlintas dan yang tengah dia rasakan saat ini ingin pergi dari sana menghilang begitu saja dan tidak pernah ditemukan oleh Indra.
__ADS_1
"Menggemaskan," ucap Indra membuat Nita tersipu malu. Wanita itu menelungkapkan tangannya kewajah dengan pipi yang merona.
Sihir apa yang telah lelaki itu keluarkan hingga membuat Nita mabuk kepayang. Apakah seperti ini rasanya jatuh cinta? ah, dia merasa menjadi gadis seumuran dengan Tazkia. Padahal dia telah menjanda, apakah pantas dia bersanding dengan lelaki sukses dan juga tampan yang usianya terpaut jauh lebih muda darinya?
Nita pun membenarkan duduknya, dia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Ok, anggap semua tidak pernah terjadi. Agar dia tidak merasa malu sendiri.
"Pulang saja," pinta Nita, Indra menatap wajah Nita dengan seksama seolah tidak ingin membuang kesempatan ini. Nita menyadari jika Indra menatapnya.
"Berhentilah menatapku seperti itu." Nita memalingkan pandangannya kearah lain. Indra tersenyum samar lantas memutar setirnya untuk pulang. Keinginannya untuk dinner dengan Nita ia urungkan. Perutnya yang semula keroncongan seolah telah kenyang hanya karena melihat tingkah wanita itu yang membuatnya gemas sendiri.
Apalagi saat Indra mengusap kepalanya, lelaki muda itu tersenyum sepanjang perjalanan. Nita melihat kearah Indra dengan ekor matanya. Alis wanita itu mengkerut saat melihat tingkah Indra.
"Apa yang membuatnya gila seperti itu," batin Nita.
"Aku gila karena kamu Nona," ucap Indra seolah dia tahu apa yang ada dalam pikiran Nita.
"Jangan membual, mana ada lelaki yang masih muda, tampan, dan juga sukses bisa mencintai wanita tua sepertiku. Usiaku yang sudah lebih dari kepala tiga hanya pantas menjadi kakakmu."
Nita tidak lagi menanggapi ucapan Indra, dia sudah terlalu dibuat melayang-layang dengan ucapannya itu. Bisa benar-benar gila jika dia terus-memerus digombalin Indra.
"Sadar Nita kamu sudah tua!" batinnya menggerutu.
Mobil berhenti lagi, tetapi mereka belum sampai di tempat tujuan. "Tunggu sebentar Nona, saya mengangkat telepon dulu," pamit Indra, lelaki itu keluar mengangkat teleponnya.
Wajahnya tampak serius, Nita mengamati wajah Indra dengan seksama.
Tampan!
Ya, hanya kata itu yang bisa dia utarakan saat ini. Mata indahnya mampu membuat dirinya tenang. Hidungnya yang mancung sungguh ingin dia merabanya. Badannya yang atletis sungguh indah dipandang. Jadi seperti inikah rasanya tante-tante menyukai berondong?
__ADS_1
Nita terkikik sendiri memikirkan hal itu. Cahaya lampu yang temaram membuat Nita tidak bisa melihat dengan jelas raut wajah Indra. Dari bahasa tubuhnya Nita hanya bisa menyimpulkan jika dia tengah cemas, oh bukan sepertinya tengah marah.
Telepon pun dimatikan, Nita langsung berpura-pura mengotak-atik ponselnya.
"Apakah lama?" tanya Indra, Nita menengadah dan menggeleng.
Mereka melanjutkan perjalanan. Rasanya begitu lama, Nita sudah salah tingkah berada di sana. Dia pun tengah menghawatirkan Karina juga.
"Bisa lebih cepat Tuan Indra, kasian Karina kalau di rumah sendiri,"
"Tidak usah mengkhawatirkan dia, dia sudah tertidur. Ada Ari yang menjaganya," ucap Indra dengan datar. Mengapa sikap lelaki itu berubah dingin setelah mengangakt telepon.
"Apakah ada masalah?"
"Peka sekali, ah, benar-benar calon istri idaman." Nita semakin merona kala lelaki muda itu memberikan gombalan kembali.
Jika Indra tidak berada disampingnya, rasanya Nita ingin berjingkrak-jingkrak, sebagai rasa bahagianya saat ini. Dia hanya mengigit bibir bawahnya dengan hati yang kian tidak karuan.
Dunia Nita telah dijungkir balikan oleh lelaki itu.
"Apakah Nona ingin mencoba?"
"Mencoba apa?" Tanya Nita dengan wajah bingungnya. Pergantian topik pembicaraan yang mendadak membuatnya tidak bisa berpikir, kemana arah lelaki itu.
"Hmm, jika ada seorang lelaki yang menyukai Nona Nita, bagaimana?" Tanah Indra dengan hati-hati.
"Ini hanya seumpama ya, sepertinya aku akan menolaknya. Dia belum tahu bagaimana kehidupanku di masa lalu yang menyedihkan. Aku ingin mempunyai pendamping yang usianya jauh matang dariku. Aku ingin mempunyai rumah yang nyaman, ada aku, suamiku, dan anak, sebagai pelengkap pernikahannya. Ah, memikirkannya sungguh membuat iri, aku juga ingin mempunyai rumah seperti itu. Rumah impianku,"
"Jika orang itu sudah tahu, dan mengerti degan masa lalu kamu bagaimana?"
__ADS_1
"Aku butuh waktu!"
***