
Bab17. Terjawab
***
Sudah beberapa bulan kedekatan Bian dan juga Nita. Mereka sudah saling terbuka satu sama lain. Alasan dibalik Bian terus menguntitnya waktu itu. Dia merasa menemukan sosok kakaknya yang telah lama meninggal.
Dari situlah Nita merasa nyaman dengan lelaki itu. Usianya memang baru 26 tahun tetapi tidak terlalu jauh juga dengan usia Nita. Hanya terpaut 4 tahun saja. Dengan senang hati Nita memberikan apa yang diinginkan Bian. Seperti keluar malam hanya untuk makan malam. Atau hanya sekadar saling bertegur sapa lewat telepon.
Orang lain akan menganggap mereka memiliki hubungan khusus. Tetapi bagi Krisna mereka hanya berteman. Karena dia tahu biodata tentang lelaki itu. Krisna sudah mengetahui segala seluk beluk tentang lelaki itu. Tentunya berkat bantuan Ari yang cukup menguras tenaga dan waktu. Mengingat sulitnya mencari akses untuk mencari tahu tentang lelaki itu.
"Saya rasa lelaki itu orang yang cukup pintar. Karena tidak sembarang orang yang bisa menggali informasi tentang dirinya," ungkap Ari memberitahukan apa yang harusnya dia berikan pada Krisna.
Krisna mengangguk dan mengerti. Dia juga tetap meminta sekretarisnya untuk tetap memata-matai mereka.
"Mereka juga sering bertukar kabar lewat telepon. Bian menganggap Nita kakaknya, karena wajah mereka cukup mirip," terang Ari.
"Hmmm, iya." Krisna membaca berkas-berkas tentang Bian.
Di saat mereka tengah serius membahas Bian, Kasih datang dengan wajah murungnya. Ari yang tidak ingin mengganggu pun berpamitan keluar. Daripada dia harus menjadi nyamuk diantara mereka.
"Memang rumit jika memikirkan bagaimana perjuangan nona Nita. Tapi ... Dia tetap bertahan dalam kesakitan," gumam Ari.
***
Kasih duduk dipangkuan suaminya dengan merengek. Entah meminta apalagi dia. Krisna kadang lelah dengan tingkah kekanak-kanakan istri keduanya itu.
"Kenapa? Jangan kode-kode. Langsung saja," ucap Krisna. Kasih mencebik karena tidak biasanya Krisna menjawab seperti itu.
"Kamu kok berubah sih!" Gerutu Kasih. Dia lantas berdiri dan mengehentakkan kakinya ke lantai berulang kali.
__ADS_1
"Dewasalah Kasih, kamu sudah bersuami. Dan usiamu sudah 25 tahun. Buang sifat kekanak-kanakan kamu secara perlahan. Aku lelah dengan pekerjaan juga. Jangan membuat aku semakin lelah dengan sikapmu," terang Krisna. Membuat Kasih diam membisu. Lelaki di hadapannya sudah melarang seperti itu. Dan Kasih paham jika suaminya sedang begitu lelah.
Kasih memilih menunggui Krisna di sofa. Dia lebih memilih menonton drama Thailand yang dia suka. Sesakali Krisna mendengar dia sesenggukan karena menangis. Membuat sudut bibir lelaki itu terangkat membentuk senyuman.
Itulah yang membuatnya jatuh cinta. Dia yang kekanak-kanakan akan mengerti dengan situasi jika keadaan Krisna sedang tidak baik-baik saja. Nita pun sebenarnya jauh lebih dewasa dibanding Kasih. Tetapi entah mengapa saat ini pun dia belum bisa membuka hatinya.
Kasih yang sudah bosan menunggu Krisna pun berpamitan untuk pulang. Krisna mengizinkannya dia pun diantarkan oleh Ari.
"Siapa yang waktu kemarin bertemu dengan mbak Nita sekretaris Ari? Apakah perempuan atau lelaki?" tanya Nita di saat mereka sedang dalam perjalanan.
Ari terdiam tanpa kata bahkan untuk menjawab pun enggan, sepertinya istri kedua tuannya ini sangat ingin mengetahui kehidupan Nita. Padahal wanita itu sudah berbaik hati memberikan izin dia menikah lagi tanpa sembunyi-sembunyi. Bahkan sabarnya Nita dia mengiyakan saat madunya ingin tinggal satu rumah bersamanya.
"Anda bisa menanyakannya pada Tuan Krisna, Nona!" Seru Ari yang masih menatap kedepan untuk focus menyetir. Entah mengapa dia merasa sedikit berbeda ketika berada disekitaran Kasih.
Aura wanita ini terlalu berambisi. Dan Ari merasa dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan Krisna. Tapi dari segi apapun dialah yang paling unggul di hati tuannya. Entah guna-guna apa yang dia berikan hingga membuat Krisna tergila-gila.
Marah, kesal bercampur menjadi satu. Tak ayal mata wanita itu mendelik ketika tanpa sengaja tatapan mereka bertemu di kaca spion.
Tidak terasa mobil itu sudah sampai di tempat tujuan. Dengan ramah Ari membukakan pintu untuk Kasih. Karena sudah terlanjur kesal pertanyaannya tidak di jawab. Kasih hanya mengangguk.
Kasih membuka pintu dan melihat Nita yang tengah berbincang dengan seorang lelaki. Akhirnya dia tahu siapa yang telah pergi malam itu dengan Nita. Lelaki itu pasti orangnya. Cukup akrab, bahkan mereka terlihat seperti Kakak beradik. Namun, berbeda orangtua. Bian yang melihat Kasih baru pulang pun, mengangguk dengan senyum ramah.
"Kok kayak seumuran aku ya?" Gumam Kasih, ia berjalan menuju kamarnya. Setelah dia membuka pintu dan menutupnya. Dia kembali bergumam.
"Sukanya brondong, cukup tinggi juga seleranya. Cowoknya Maco, manis, ganteng lagi, kok kayak Tor Thanapod. Mana aku fans banget sama aktris itu," puji Kasih yang merasa terpesona dengan Bian.
Merasa penasaran dengan lelaki itu, Kasih pun berganti pakaian, dia juga berdandan kembali untuk memoles wajahnya dengan make-up. Kini dia berdandan dengan polesan yang tipis-tipis. Tidak seperti biasa dia berdandan. Layaknya tante-tante.
Dress putih selutut dan juga membiarkan rambut pirangnya tergerai. Wajahnya terlihat masih muda jika di poles tipis seperti itu. Membuat Nita merasa tercengang dengan kedatangan Kasih diantara mereka.
__ADS_1
"Aku boleh ikut gabung?" Pinta Kasih, dia masih berdiri belum berani mendudukkan bokongnya. Sebelum mereka mengiyakan. Nita mengangguk dan mempersilahkan Kasih untuk duduk.
Suasana menjadi canggung di saat Kasih ikut bergabung. Pasalnya pembahasan mereka menjadi terjeda. Padahal sewaktu Kasih masuk mereka tertawa, dan bercanda ria. Terlihat begitu bahagia dan antusias. Meskipun Kasih tidak mengetahui apa yang mereka perbincangkan.
"Kok jadi pada diam? Saya ganggu ya?" Kata Kasih. Wajahnya sedikit murung karena merasa tidak di harapkan.
"Gak, kok. Gak gitu juga, ya sudah kamu tunggu dulu biar aku bawa cemilan. Biar ngobrolnya makin enak," tandas Nita. Dia pun berdiri akan membawakan camilan.
Dibelakang Nita bertemu dengan Mbak Ana. Art itu sedikit kepo, dia sedari tadi celingak-celinguk mencuri-curi dengar tentang perbincangan mereka.
"Hayok, kepo ni Mbak Ana," celetuk Nita dengan jari telunjuk menunjuk kearah Art itu. Mbak Ana yang ketangkap basah, menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Sedikit Nona." Mbak Ana mengangkat tangannya. Nita terkekeh, "dia sahabatku Mbak. Aku menganggapnya adik, dan dia pun menganggap ku Kakaknya. Kakaknya sudah meninggal Mbak," kata Nita memberitahu Art-nya.
"Kasihan ya, pantas saja Tuan ganteng itu terlihat menyayangi Nona," ungkap Mbak Ana. Nita mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Aku kedepan lagi, Mbak,"
Nita pun datang menghampiri mereka dengan nampan yang berisi camilan. Teman yang akan menemani mereka ketika berbincang saat ini.
Kasih hanya menjadi pendengar ketika Nita dan Bian terlihat sudah begitu sangat dekat. Dan tentu saja mengundang iri, ketika dia tidak begitu akrab dengannya.
***
Meski sebelum publish aku selalu membacanya, 1/2 kali. Maaf jika masih ada typo ya🙏 Semoga tetap menunggu kisah mereka
***
BERSAMBUNG...
__ADS_1