
Satu Minggu berlalu setelah kedatangan Krisna kerumah Nita. Indra langsung melangsungkan pernikahannya. Acara di gelar dengan sederhana. Mengingat Nita tidak ingin menggelar pesta yang mewah.
Kini tiba pada acara pokok, yakni ijab qobul, suara sah dari para tamu undangan menggema di dalam rumah Nita dengan serentak. Nita menitikkan air mata saat kata-kata saklar itu keluar dari mulut Indra. Tidak menyangka jika dia akan menikah dengannya.
Para tamu berdatangan satu-persatu menyalami kedua mempelai. Senyuman mengembang tidak henti-hentinya Nita lengkungkan di bibirnya. Sebahagia ini, mendapatkan lelaki yang begitu memerhatikan kebahagian dirinya.
Setelah beberapa jam terlewati akhirnya acara selesai. Nita dan Indra segera ke kamar pengantin untuk merebahkan tubuhnya yang terasa lelah.
Indra langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Hampir tiga puluh menit dia berada di dalam sana. Namun, belum juga menunjukkan tanda-tanda dia akan keluar. Membuat Nita gugup saat beberapa kali dia menengok kearah pintu kamar mandi.
"Huft aku harus bagaimana saat dia keluar," gumam Nita. Decitan pintu membuyarkan konsentrasi Nita, hingga dia tanpa sadar menoleh kearah Indra tanpa berkedip. Saat dia melihat dada bidang sang suami terpangpang nyata dan jelas di hadapannya.
Indra perlahan mendekat dengan tersenyum menyeringai. "Air liurmu sayang," bisik Indra di telinga Nita.
Nita mengerjapkan matanya, saat kehadiran Indra begitu cepat berada dekat dengan dirinya. Rasanya ingin sekali dia pingsan saat Nita bisa mencium aroma tubuh Indra dengan kuat.
Nita menengguk ludahnya kepayahan, jakun lelaki itu yang naik turun saat berbicara begitu terlihat seksi di matanya. Ahh, mengapa Nita menjadi semes*m ini. Dia menepuk kepalanya berulang kali untuk menghilangkan pikiran kotornya.
Indra menahan tangan Nita, saat wanita itu terus memukul-mukul kepalanya. Indra perlahan membungkukkan badannya di hadapan Nita hingga begitu dekat jarak di antara mereka. Nita bisa merasakan embusan napas Indra yang menyapu wajahnya.
"Kamu mandi dulu, tapi maaf malam pertama kita harus di tunda sayang, ada pekerjaan malam ini yang harus aku kerjakan. Maafkan aku yang membuat kamu kecewa,"
"Ohya, tidak masalah." Nita langsung mendrorong pelan tubuh Indra untuk menjauh darinya.
Nita berlari dengan dada yang bergemuruh hebat. "Rasanya seperti tengah lari maraton," gumam Nita, dia pun membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya Nita mencari kado yang diberikan Karina padanya. Dia masih ingat jelas saat MUA tengah meriasnya. Karina berkata 'pakaian ini akan membuat suami Mbak, bertekuk lutut' Nita perlahan membuka bungkusannya lalu mengangkat pakaian itu agar di bisa dilihatnya.
"Lingeria." Nita terkekeh, dia sampai melupakan pakaian paling penting dalam malam pertamanya. Namun, Nita teringat jika Indra tengah sibuk dengan pekerjaannya.
***
__ADS_1
"Bagaimana Bian kamu sudah menemukannya?" tanya Indra saat dia meminta Bian untuk datang kerumah Nita. Bian hanya menggeleng lemah.
"Jangan beritahu Nita, aku tidak ingin dia sampai banyak pikiran. Selama ini dia telah terlalu menderita," tandas Indra, Bian hanya mengangguk lagi tanpa menyela. Dia tahu betul bagaimana kehidupan Nita dulu.
"Apakah kamu belum menjelaskan apapun padanya? Apakah mungkin Nona Karina menganggap jika Nita menikah dengan kamu, bukan aku?"
"Ahhh, shittt. Sepertinya dia benar-benar bodoh. Aku mengingat saat terakhir aku bertemu dengannya. Dia mengatakan selamat padaku,"
"Lalu kamu menjelaskan padanya tentang hubungan aku dan kamu." Bian menggeleng membuat Indra meradang. Dia tidak habis pikir dengan Bian yang telah menyia-nyiakan kesempatan.
Satu pukulan di pipinya, mampu membuat Bian mengeluarkan darah segar. "Bodoh sekali, kau Bian!" teriak Indra, membuat Nita terhenyak. Dia
mencoba mencari sumber suara yang membuatnya bising.
Kini Nita tahu di mana suara gaduh itu terdengar. Kamar tamu, mengingat ruang kerja belum Nita bersihkan. Apalagi kepulangan Ana yang mendadak karena Nita memberitahunya satu hari sebelum pernikahan, membuat wanita baya itu belum bisa membersihkan ruangan itu.
Ana melihat Nita yang tengah menguping di depan kamar tamu, perlahan dia mulai mendekat dan menempatkan tangannya di pundak Nita. Nita terlonjat hingga dia menutup mulutnya dengan cepat agar tidak berteriak. Dia pun memutar badan, berdoa agar orang itu bukanlah Indra atau siapapun yang akan tahu Jiak dirinya tengah menguping.
"Diam Mbak," bisik Nita. Ana mengangguk.
"Yang di dalam siapa saja Mbak,"
"Tuan Bian, dan Tuan Indra," jawab Ana dengan pelan. Ana yang tengah membawa nampan berisi camilan mereka pun, Nita ambil. Dia akan mengalihkan tugas itu untuk dirinya.
"Baiklah kalau Nona ingin yang mengantarnya, saya akan membersihkan ruang kerja Tuan." Namun, Nita menahan tangan Ana.
"Istirahatlah Mbak, Mbak tidak diizinkan untuk lelah malam ini. Biarkan orang-orang Indra yang membersihkan, Mbak istirahatlah,"
"Nona Nita pun harusnya istirahat agar malam ini--" Nita menempelkan jari telunjuknya agar Ana tidak melanjutkan ucapannya.
"Apakah saya harus membeli obat ku--" Lagi-lagi Nita menempelkan jari telunjuknya di mulut, dengan pipi yang merona.
__ADS_1
"Ok, ok, Mbak akan istirahat, tidak akan mengganggu malam pengantin kalian."
Ana pun memutuskan untuk pergi dari sana. Sementara Nita tengah menguping pembicaraan Indra dan juga Bian.
"kamu bodoh Bian. Hal sepele seperti ini akan menjadi besar saat kamu tidak memberikannya penjelasan. Pengecut kau!" Nita mengernyit saat Indra begitu murka pada Bian.
"Apa yang telah terjadi sebenarnya," gumam Nita.
"Aku akan menanyakan di mana alamat karyawan istriku." Indra memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Harusnya malam pengantinnya menjadi sangat indah saat pernikahan telah di gelar. Namun, masalah Bian membuatnya tidak bisa melaksanakan malam indah itu.
"Pura-pura tidak memerhatikannya padahal kamu mencintainya? kamu sudah dewasa Bian, sampai kapan kamu akan tidak peka terhadap wanita. Memberikan perhatian lebih tidak akan membuat harga dirimu jatuh Bian, jika kamu melakukannya hanya pada satu wanita!"
"Aku tidak ingin tahu jika kamu tidak menemukan adik iparku malam ini, kamu akan kuberi pelajaran,!" seru Indra dengan murka. Melihat Bian membuatnya ingin menghajarnya lagi, Indra pun memutuskan keluar dari kamar tamu.
Saat dia membuka pintu dia terkejut saat Nita sudah berada di sana dengan membawa nampan berisi camilan yang mungkin untuk di suguhkan padanya.
"Kenapa kamu menyembunyiakn ini dariku?" tanya Nita dengan raut wajah kecewa. Indra menghela napas berat lalu mengalihkan nampannya untuk dibawa Indra. Lelaki itu memapah Nita untuk menuju kamarnya kembali.
Indra membuka pintu kamar pengantin, dan menyimpan nampan di atas nakas. Memapah Nita untuk dia dudukkan di tepi ranjang, sedangkan dirinya berjongkok dengan memegangi kedua tangan Nita.
"Aku hanya tidak ingin kamu banyak pikiran, setelah seharian kamu lelah dan sekarang ditambah dengan hilangnya Karina,"
"Kamu bisa memberitahukan di mana alamat karyawanmu agar Bian kesana? adik iparmu itu sungguh membuatku pusing." NIta menjentikkan tangannya menyentil dahi Indra.
"Hey," protes Indra tidak terima, saat Bian dibela Nita.
"Aku tahu sejarah mereka, aku kira Bian telah mengatakan tentang dia dan kamu. Makanya saat aku bercerita tentang lamaran itu aku tidak mengatakan kamu yang melamarku. Mungkin itu salah satu penyebab mengapa Karina berspekulasi jika aku menikah dengan Bian, bukankah aku dan Bian begitu dekat hingga orang mengira kami memiliki hubungan." Indra menempelkan jari telunjuknya di bibir Nita.
"Aku tidak suka kamu mengatakan hal itu. Berhenti membuatku cemburu!" Nita membelalak tidak percaya dengan pernyataan Indra.
"Hey, dia saudaramu!"
__ADS_1
***