Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Bab14. Lelaki Aneh.


__ADS_3

Bab14. Lelaki Aneh.


***


Kasih tengah sibuk memilih sesuatu yang dia mau. Dia terlalu asyik dalam dunianya sendiri hingga melupakan Nita. Sedangkan Nita mengikuti Kasih kemanapun kakinya melangkah. Nita pun sesekali memilih baju. Namun, dia tidak mencobanya.


Nita melihati sepasang pasangan yang tengah bergandengan. Tertawa, bercanda ria begitu lepas sungguh sangat menyejukkan hati. Ya, meskipun bukan Nita yang berada di posisi itu. Bibirnya terangkat dengan mengembang meskipun deretan giginya tertutup rapat. Ternyata benar kata Kasih, ketika dia berjalan-jalan seperti ini dia sedang mencuci mata.


Mencuci mata dari keromantisan dua insan yang menjadi duri dalam hatinya. Di mall yang megah di tengah kota metropolitan itu menjulang dengan tinggi. Seperti tingginya harapan agar Krisna dapat mencintai dirinya.


Dia juga melihati beberapa anak yang berlarian tertawa lepas di kejar oleh lelaki yang ia yakini adalah seorang ayah. Betapa bahagianya jika dia pun bisa mengandung benih dari Krisna. Tetapi hatinya Kembali dirundung pilu. Dia tidak akan mendapatnya.


Tangan yang terulur memegangi perut, serta kepalanya yang sedikit menunduk hingga Nita di tabrak seseorang dia tidak sempat menghindar. Keduanya hampir jatuh jika tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya.


Lelaki itu panik hingga meminta maaf berulang kali. Meski Nita sama sekali tidak terluka dengan kejadian barusan.


"Apa anda tidak apa-apa, Nona? Apalagi anda sedang hamil ya? Maafkan saya, Nona. Saya akan membawa anda kerumah sakit. Saya takut terjadi sesuatu dengan anak yang dikandung anda," cerca lelaki itu. Nita yang di berondong pertanyaan yang sama sekali tidak ia mengerti menyipitkan matanya.


"Siapa yang mengandung?" Nita berputar menyapu sekeliling orang yang berlalu lalang. Namun, dia tidak mendapati seseorang selain dirinya yang tengah berbincang dengan lelaki itu.


"Maksud kamu saya sedang mengandung? Darimana anda tahu?" Seloroh Nita dengan tawa kecilnya. Ternyata cukup menghibur hatinya yang luka jika dia keluar rumah. Dia sejenak bisa melupakan rasa sakit yang mendera.


Lelaki itu mengangguk mantap. Namun, dia sedikit merasa heran di saat wanita di hadapannya malah tertawa ketika dia mengatakan itu.


"Jangan berlebihan, saya tidak mengandung!" Seru Nita. Lelaki itu menatap penuh selidik. Lalu saat Nita tengah menundukkan kepalanya mengusap perutnya kenapa?


"Lalu kenapa anda--"


"Mmm, memangnya orang yang menunduk itu identik dengan orang yang mengandung ya? Saya jadi merasa ngeri juga, dianggap seperti itu. Bagaimana jika saya masih gadis? Orang lain pasti berpikiran seperti itu ya?"


"Eh, saya tidak berspekulasi seperti itu. Ya saya kira anda sedang hamil Nona," jawab lelaki itu merasa bersalah.

__ADS_1


Tanpa terasa kaki lelaki itu melangkah mengikuti Nita kemanapun dia pergi. Dia jadi teringat seseorang yang telah lama tidak ia temui ketika bertemu dengan Nita.


Nita yang merasa diikuti pun berbalik menatap lelaki itu. Nita bertolak pinggang merasa risih ketika lelaki itu masih mengikuti tanpa diminta.


"Hey, mengapa anda mengikuti saya?" Tanya Nita dengan wajah sedikit heran. Lelaki itu menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. Merasa kikuk ketika aksi menguntitnya ketahuan. Dia mengira Nita tidak akan berbalik.


Lelaki itu malah tersenyum memperlihatkan deretan giginya tanpa dosa. Nita sampai geleng-geleng kepala tidak mengerti. Mengapa lelaki itu aneh sekali.


"Mmm, saya hanya ingin dekat saja dengan anda. Apakah salah?" Tanya lelaki itu masih merasa tidak bersalah meskipun dia menguntitnya.


"Iya, apa alasan anda? Bisa jelaskan alasan yang masuk akal!" Seru Nita, kini wanita itu mengubah posisi dengan tangan di lipat di dada.


"Kalau sambil makan bagaimana Nona?" ucap lelaki itu memberi saran.


"Tetapi anda tidak akan macam-macam pada saya kan?" Tegas Nita dengan wajah datarnya.


"Tentu tidak. Bagaimana saya melakukannya yang menghidangkan makanannya bukan saya, tapi pelayan restoran," ungkap lelaki itu.


Mereka berdua memasuki restoran di sana. Lelaki itu mempersilahkan Nita duduk bahkan menyeret kursi itu untuk dirinya agar Nita bisa langsung duduk. Persis seperti apa yang sering dilakukan Krisna terhadap Kasih.


"Pilih apa saja yang anda mau, Nona. Sebagai ganti karena saya telah menabrak anda tanpa disengaja. Dan hampir membuat anda keguguran, uppss," goda lelaki itu dengan menutup mulut serta tawa kecilnya. Nita langsung memelototi lelaki itu dengan mata yang hampir keluar semua.


Baginya sebuah kehamilan itu tidak bisa dijadikan candaan. Apalagi tidak mudah bagi seorang wanita untuk mengandung jika tidak terjadi pembuahan. Dan tidak mudah juga bagi wanita untuk cepat mengandung jika sang Pencipta belum memberikan buah cinta dari pasangan yang ingin mempunyai buah hati.


Mereka pun memesan makanan yang sama. Ternyata mereka mempunyai selera yang sama. Setelah makan selesai lelaki itu pun meminta Nita untuk tetap tinggal dan berbincang sebentar. Namun, Nita menolak dan merasa itu tidak penting. Akhirnya lelaki itu beregosiasi untuk meminta waktu Nita.


"Ok, cuma 5 menit. Ah, terlalu lama, ya. Kalau begitu satu menit saja." Lelaki itu mengangkat tangannya dengan telunjuk yang ia acungkan. Seperti anak SD yang akan menjawab pertanyaan dari gurunya. Nita pun mendudukan kembali bokongnya di kursi dan meminta lelaki itu untuk mengutarakan apa yang dia ingin ucapkan.


"Ok, ada apa?"


"Apakah anda mempunyai saudara kembar?" Tanya lelaki itu dengan polosnya. Nita tertawa dengan pertanyaan itu.

__ADS_1


"Maksud anda apa? Heran saya," ungkap Nita dengan gelengan kepala.


"Kamu mirip seseorang," tandas lelaki itu dengan sendu.


"Saya boleh bertemu dengannya? Saya jadi ingin tahu 7 kembaran saya yang berada di belahan dunia. Dan salah satunya orang yang kamu kenal. Bukankah kata orang kita mempunyai tujuh kembaran di dunia ini," jawab Nita. Lelaki itu menatap sayu kearah Nita dengan wajah sedihnya.


"Lain kali saya akan pertemukan anda dan dia. Tapi apakah saya bisa meminta nomor yang bisa saya hubungi?" tanya lelaki itu sembari mengeluarkan ponselnya.


"Trik anda bagus juga. Langsung keinti saja tidak perlu banyak berbelit-belit jika ingin nomor saya," ucap Nita membawa ponsel lelaki itu.


"Nanti anda tidak akan memberikan jika saya memintanya langsung. Tetapi saya belum tahu nama anda, bolehkan kita berkenalan?" tanya Lelaki itu sambil mengulurkan tangannya.


Nita dengan senang hati menjabat tangan lelaki itu. Dia juga tersenyum sembari mengucapkan namanya.


"Nita," jawabnya.


"Oh, nama saya Bian. Tidak ada nama belakang Bian saja," ucap Bian. Nita tertawa kecil mendengar lelaki itu.


"Kenapa tertawa? Ada yang lucu?"


"Ya, cukup saja Bian juga. Tidak perlu anda mengatakan tidak ada nama belakangnya. Saya tidak sedang menginterview anda," kata Nita dengan mengangkat bahu.


Percakapan mereka pun terhenti tatkala ponsel Nita berdering. Ya, Kasih meneleponnya. Darimana wanita muda itu mengetahui nomor ponselnya. Ya, dia tahu dari siapa wanita itu mengetahuinya.


"Saya pamit dulu ya, teman saya sudah mencari!" Tanpa mendengar jawaban Nita langsung pergi.


"Eh, Nona!" Teriak Bian, tetapi Nita tidak memperdulikan teriakan Bian. "Ramah juga. Baru kenal saja sudah ketawa-ketawa tadi,"


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2