
Bab29. Dia Mengandung?
***
Nita memandang Krisna dengan tatapan memelas. Dia menggelengkan kepalanya dengan lemah. Begitu teriris ketika mendengarkan lontaran Kasih supaya dia mengusir dirinya dari rumah yang sudah Krisna berikan untuknya. Bahkan sertifikat rumah itu sudah atas nama dirinya.
Belum juga Krisna menjawab Kasih berlari kekamarnya untuk kekamar mandi. Dia muntah-muntah dan hingga tubuhnya merasa lemas. Nita pun ikut khawatir bahkan dia juga mengikuti mereka untuk masuk kedalam. Nita melihat bagaimana Krisna menepuk punggung Kasih, dengan wajah yang cemas.
'Jika aku berada di posisi itu, apakah kamu pun akan melakukan hal yang sama, Kris,' batin Nita.
Nita kembali mengingat masa dulu di saat mereka tengah di bangku SMP, begitu perhatiannya Krisna seolah dia mencintai dirinya. Lelaki itu tidak akan membiarkan Nita di _usilin oleh teman sekelasnya. Bahkan tak ayal Krisna sering mendapat teguran dari guru karena dia selalu menghajar orang yang telah mengerjai Nita.
Namun, sekarang lelaki itu melupakan janjinya yang telah terucap. Apakah Nita harus merelakan mereka bahagia dan mencari kebahagiaannya sendiri. Lalu apakah Krisna bisa melepaskannya begitu saja.
"Jangan lakukan itu lagi Kris, kamu bisa di DO kalau berkelahi terus gara-gara aku,"
"Tidak masalah asal kamu tidak terluka,"
Kata-kata itu selalu tersimpan indah di memori ingatannya. Bahkan di hatinya sampai saat ini. Namun, ucapan itu hanya berlaku saat mereka masih remaja. Ketika dewasa lelaki itu mengabaikan hatinya. Mencuri hatinya tanpa berniat untuk menyembuhkan lukanya.
Nita perlahan mundur dan keluar kamar mereka. Dia menutup pintu perlahan, memegangi dadanya yang terasa sesak. Air matanya berlalu jatuh tanpa diminta. Padahal dia sudah berusaha mencoba mendekatkan diri dengan lelaki lain. Tetapi nyatanya rasa itu masih tersemat nama Krisna.
"Kamu harus mengusirnya dari sini, Mas. Aku kan sedang mengandung," rengek Kasih pada Krisna.
"Jangan berlebihan. Itu semua tidak mungkin. Aku sudah memberikan rumah ini padanya, bagaimana bisa aku mengusir pemilik rumah, sedangkan aku saja menumpang di sini," jawab Krisna.
Kasih memandang kosong kearah suaminya lalu mengusap perut datarnya.
"Ayah gak sayang kita, Nak." Kasih tidak gencar selalu mengompori suaminya. Keinginannya tetap seperti dulu. Ingin menjadi satu-satunya untuk suaminya.
__ADS_1
Nita yang sudah tidak sanggup berada di sana. Langsung berjalan dengan gontai, kearah kamarnya. Airmatanya kembali terjatuh tanpa diminta. Harus sampai kapan rasa ini tetap hadir sedangkan rasa itu tidak pernah hadir di hati Krisna.
Nita masuk kedalam kamarnya menempelkan punggungnya di pintu dengan memejamkan mata. Merasai pahitnya jalan rumah tangga yang tidak terikat akan perasaaan. Dia yang berjuang dia pun yang akan kalah.
"Bisakah Tuhan bersikap adil, untuk membuang rasa ini sejauh mungkin. Aku ingin berhenti bertahan. Aku sudah tidak sanggup." Nita memegangi perutnya yang sama datarnya dengan Kasih.
Untuk saat ini memang sama. Tetapi 9 bulan kemudian. Seorang bayi akan mengisi hari-hari mereka. Apalagi yang harus Nita lakukan jika dia pergi menjauh dari suaminya.
Tidak ada harapan lagi untuk tetap bersabar dalam pernikahan tanpa cinta itu.
***
"Mas! Kamu sayang gak sama kami berdua?" Tanya Kasih. Tangan kirinya mengelus perut yang masih rata. Mungkin calon bayi itu masih segumpal darah di rahim istri kedua Krisna.
Lelaki itu memandang dengan haru, tidak percaya jika dia sebentar lagi akan menjadi ayah. Namun, dia teringat Nita, harus bagaimana lagi untuk menjaga dirinya sedangkan dia sudah merasa menjadi orang yang paling jahat.
Namun, nyatanya rasa itu tidak pernah Krisna punya ketika dia telah menikahi Nita. Yang ada rasa sebagai adik yang dia rasakan. Sedangkan Nita, dia sudah sangat mencintai suaminya melebihi apapun meski hatinya tidak tergapai.
Krisna memandang perut Kasih yang tengah dielus tangannya sendiri. Lelaki itu pun perlahan menggapai perut istrinya.
"Tentu saja, bagaimana seorang suami dan akan menjadi ayah tidak menyayangi kalian," jawab Krisna. Kasih menengadah memandang wajah suaminya dengan serius.
"Aku ngidam, Mas. Dan kamu juga tahu kan jika istrimu sedang mengandung harus dituruti keinginannya," timpal Kasih bergelayut manja di lengan suaminya. Krisna mengelus punggung istrinya dengan lembut.
Kasih tersenyum licik, mungkin dengan kehamilannya dia bisa membujuk Krisna agar dia mengusir istri pertamanya itu. Dia sudah lelah dan muak melihat Nita yang menurutnya pura-pura baik.
"Aku ... Mmm ...."
"Kenapa? Lanjutkan, kamu ingin apa?" Krisna membalikkan badan Kasih untuk saling berhadapan .
__ADS_1
Wanita itu hanya menunduk, mendongak, ragu-ragu untuk mengatakan apa yang menjadi keinginannya.
"Aku mau Mbak Nita pindah dari rumah ini, Mas. Aku cuma ngidam itu," ucap Kasih.
Senyum Krisna yang semula merekah kini sirna. Dia tidak mungkin melakukan hal konyol itu.
"Ngidam bukankah tentang makanan? Lalu mengapa bisa kamu meminta suamimu ini untuk mengusir istri pertamaku dari rumah ini. Sedangkan rumah ini sudah atas nama dirinya," jawab Krisna.
"Mmmm, ya setidaknya aku tidak melihat wajahnya selama mengandung. Kalau kamu tidak bisa melakukannya jangan salahkan aku karena anak kamu nanti ileran." Kasih bergidik mengingat jika anaknya kelak mengalami ileran. Kata orang dulu itu terjadi karena semasa ngidam belum terlaksana.
Krisna mengembuskan napas kasar. Lalu dia pun keluar dengan wajah yang ditekuk. Dia pun berjalan mendekati kamar Nita dengan gontai. Tangannya terangkat untuk mengetuk kamar istri pertamanya.
Tetapi dia urungkan, Krisna mengacak rambutnya frustrasi. Haruskah dia melakukan hal itu? Bagaimana tanggapan Nita terhadap dia. Wanita itu pasti akan menyangka jika Krisna tidak menghargai dirinya.
Pintu kamar terbuka, Nita sedikit terkejut melihat Krisna yang tengah mondar-mandir di depan pintu kamarnya. Dia sudah tahu kenapa lelaki itu terlihat cemas. Lelaki itu pasti tidak bisa mengatakan apa yang diinginkan istrinya yang tengah mengandung. Sedangkan dia juga tidak bisa mengusir dirinya dari rumah ini.
"Ada apa? Kenapa tumben cuma mondar-mandir gak masuk saja?" Tanya Nita. Dia mencoba untuk tetap tenang meski hatinya merasa sakit.
Krisna memeluk Nita dengan erat. Hatinya pun merasai kesedihan yang telah dia berikan pada wanita masa kecilnya. Terlalu banyak luka yang telah dia torehkan hingga dia tidak bisa melihat wajah ceria di wajah wanita cantik itu.
Lelaki itu mengecup kening Nita dengan penuh penghayatan. Nita memejamkan mata menikmati setiap apa yang dilakukan Krisna padanya. Nita melepaskan pelukan itu dengan kasar. Lalu bertanya.
"Kenapa?"
"Mmm, aku, aku hanya ingin mengajak kamu makan malam berdua besok,"
***
Bersambung...
__ADS_1