Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab103. Masa Menyakitkan.


__ADS_3

Tazkia duduk termenung mengingat kejadian tadi siang yang telah dilihatnya. Indra, lelaki itu terang-terangan menggoda Karina. Lalu di saat perjalanan menuju toko lelaki itu pun merayu Nita saat ada dirinya.


Sebenarnya dia tidak memedulikan itu semua. Yang dia pedulikan jika Indra bisa berhenti untuk mengganggunya.


Seseorang menyeret kursi lalu mendudukinya dengan gerakan pelan. Tazkia mendengkus ketika Indra telah datang.


"Maaf telah membuat kamu menunggu terlalu lama," ucap Indra, matanya melirik leher jenjang gadis itu. Ya, kalung itu tidak lagi menghiasai leher jenjang Tazkia.


"Tumben sekali tidak memakai kalung," kata Indra berbasa-basi. Gadis itu memutar bola matanya malas. Lantas memegangi lehernya sendiri.


"Ya, seharusnya memang tidak pernah menghiasi leher mulusku," jawab Kia dengan ketus.


"Kenapa?" Indra sudah tidak sabar ingin mengetahui alasan Tazkia.


Tazkia memiringkan kepalanya dengan tersenyum sinis kearah Indra. Namun, lelaki itu hanya membalas dengan senyuman. Lama saling terdiam hingga pesanan makan mereka telah datang.


Keduanya menatap makanan tanpa berna*su.


"Begitu berartikah kalung itu untukmu?" Tazkia mendesah berat. Bukannya membahas tentang kedekatan mereka, Indra malah menanyakan kalung yang sama sekali tidak berguna.


Tangannya yang semula memegang garpu dan sendok, Indra letakkan kembali lalu menatap intens kearah gadis itu. Kedua sikut tangannya ia tekuk di atas meja.


"Hanya bertanya saja," jawabnya mendekatkan diri kearah Tazkia. Sampai gadis itu menubrukan punggungnya di punggung kursi. Indra selalu tersenyum seolah tidak melakukan kesalahan. Dan itu semua begitu memuakkan untuk Kia.


"Aku beritahu kamu kali ini, dengarkan aku baik-baik dan pahami. Kalung itu ... Tanyakan saja pada mbak Nita." Tazkia mulai melahap makanan yang terhidang di hadapannya.


Indra hanya melihati Tazkia yang tengah menikmati makan malam itu. Seleranya hilang, yang ada di dalam pikirannya hanya bertemu dengan Nita. Wanita itu, mampu membuatnya gelisah.

__ADS_1


Dia harus secepatnya mencari tahu, jika iya bagaimana dengan hatinya? Bukankah dia mencintai orang yang tengah di hadapannya. Lantas mengapa pikirannya terfokus pada Nita. Apalagi setelah dia mengetahui jika Nita pemilik kalung itu.


Tazkia sesekali menoleh kearah Indra yang hanya menatapnya tanpa berkedip. Entah apa yang berada dalam pikirannya? Dia bukan Tuhan, yang mengetahui isi pikiran orang. Membuatnya kesal selalu menjadi siasatnya.


Dia tidak akan pernah memberikan lelaki itu kesempatan. Meski dahulu terbilang cinta monyet.


Lima tahun kebelakang saat Tazkia berusia delapan belas tahun.


Perayaan ulang tahunnya saat itu dia menolak untuk mama dan kakaknya memberikan pesta. Dia lebih memilih mencari pacarnya yang berjanji akan memberikan kado saat usianya sudah genap delapan belas tahun.


Dengan tersenyum sumringah dia berjalan, sesekali juga melompat. Usianya sudah bertambah, hal yang begitu membahagiakan untuknya. Dia yakin jika pacarnya akan memberikan surprise yang akan membuatnya terkesan.


Bayangan saat lelaki itu memberikan kejutan menari-nari di dalam pikirannya. Itu pun berarti hubungannya telah naik satu level tingkatan. Menjadi orang terpenting dalam kehidupan pacarnya. Lelaki itu pun tidak akan meledeknya dengan gadis kecil. Hal yang begitu membuatnya tidak terima. Dia bahkan sudah bisa merasakan cinta, dan mengerti apa itu artinya mencintai.


Kaki itu berhenti tepat di sebuah jalan yang sudah di tetapkan oleh Indra, ya, lelaki itu meminta Tazkia untuk menunggunya di halte.


"Tunggu aku di sini, bertambahnya usiamu akan membuat hubungan kita menjadi sepasang kekasih yang sesungguhnya." Indra memegangi puncak kepala Tazkia dengan sayang. Senyuman yang manis dan tulus membuatnya merona. Hubungan mereka telah satu tahun berlalu, tetapi rona wajah selalu terukir saat lelaki itu membicarakan hubungan mereka.


Tazkia menghapus air mata yang terjatuh. Menunggu ... hal yang begitu membuatnya lelah. Hingga tiba seseorang memberikan selembar surat yang telah Indra tulis. Dia mengatakan jika dirinya tidak bisa datang, dia juga mengatakan jika dia tidak bisa datang. Namun, lelaki itu berjanji akan datang saat usianya menginjak dua puluh tiga tahun.


"Aku membencimu, bagaimana bisa aku akan datang lagi!" Kia merobek kertas itu. Hujan menjadi saksi dirinya jika dia bersumpah sungguh membencinya.


Tazkia menekan sendok dan garpu yang tengah ia pegang hingga terdengar decitan ngilu bagi yang mendengar. Indra mengernyit, sebegitu dalamnya kebencian yang Indra lihat dari sorot matanya.


Indra yakin jika gadis itu tengah teringat masa lalu itu. Indra memegangi lengan Tazkia, gadis itu terkesiap menatap tangan nakal yang tidak diminta memegangnya.


"Singkirkan!" Ucapnya begitu tegas. Indra langsung melepaskan ketika dia sadar.

__ADS_1


"Maafkan aku," kata itu terlontar lagi.


Indra menampilkan wajah lesu dan merasa bersalahnya atas apa yang telah mereka lalui dulu.


"Di bawah guyuran air hujan, lima tahun yang lalu. Aku sudah berjanji tidak akan memberikan kesempatan kedua untukmu. Ya, waktu itu aku masih polos, mau saja kamu bohongi! Kamu tahu hanya ingin bertemu denganmu aku rela menolak pesta dari mama dan kakakku, itukah balasan atas apa yang aku korbankan, Tuan Indra yang terhormat!" Terang Tazkia. Kini dia mengatakan sumpah serapahnya dahulu.


"Aku memintamu datang untuk membahas tentang hubungan kita. Aku tidak pernah akan membuka hatiku lagi untuk kamu! Camkan itu! Aku memaafkanmu, aku tidak pendendam. Karena aku sadar hidupku lebih berarti daripada harus menangisi orang yang tidak berguna!"


Indra menatap nanar kearah Tazkia yang tengah memandangnya dengan tatapan kebencian. Ya, kebencian tidak ada lagi senyum merona atau pancaran kebahagiaan saat mereka bertemu seperti dulu.


Lima tahun berlalu sudah mengubah gadis kecilnya menjadi gadis dewasa. Indra mengira jika Tazkia akan bangga dengan kesusksesannya saat ini. Namun, dia salah. Gadis kecil itu tidak pernah memandangnya lagi.


Indra mendesah berat, memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Dengan usianya yang sudah menginjak dua puluh sembilan tahun. Dia sungguh tidak ingin membuang waktunya lagi untuk mengejar.


"Lalu--"


"Aku hanya akan menganggap kamu sebagai teman, atau kakakku," ptotong Tazkia, embusan napas gadis itu sudah mulai teratur.


Lelaki itu hanya bisa tersenyum, ya hanya itu yang bisa dia lakukan. Hati tidak bisa dipaksakan.


"Aku melihat kamu menggoda Karina, dan aku pun mendengar kamu merayu Mbak Nita. Aku sama sekali tidak merasa terluka," terang Tazkia lagi. Gadis itu menatap kearah lain. Lelahnya telah memaki dia menengguk minuman yang tersedia di meja.


"Aku pun melihat kalau kamu tidak serius. Aku tahu kamu bimbang menentukan pilihanmu, aku tahu kamu datang lagi hanya merasa bersalah karena masa lalu itu 'kan?"


"Mari buat kesepakatan. Karena kita telah sama-sama dewasa. Menyadari tentang perasaan sendiri itu lebih penting. Daripada kamu selalu mengkhawatirkan aku yang sama sekali tidak tersentuh!"


***

__ADS_1


__ADS_2