Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Bab9. Pura-Pura Bahagia.


__ADS_3

Bab9. Pura-pura Bahagia.


***


Nita dan Kasih tengah di taman belakang menunggu suaminya pulang. Ya, satu lelaki tetapi memiliki dua istri. Sembari menikmati teh hangat menemani mereka. Tidak ada yang memulai pembicaraan meskipun mereka 30 menit berada di sana.


Mbak Ana yang melihati kedekatan mereka tidak percaya. Mereka bisa akur dalam satu atap. Meskipun kenyataannya bertolak belakang.


"Rumah ini memang hambar ketika baru masuk saja. Jantung dari rumah ini ternyata terpuruk karena hatinya membeku," gumam Mbak Ana. Wanita baya itu memilih memasak untuk makan malam nanti.


"Mbak Nita," panggil Kasih.


Nita hanya berdehem untuk menjawab panggilan Kasih.


"Apakah Mbak ikhlas kami menikah?" tanya Kasih, ia mulai membalikkam badannya untuk menoleh kearah Nita.


"Jika tidak ikhlas aku tidak akan mengizinkan kalian, bukan!" Seru Nita.


Kasih kembali terdiam, dia memang tidak menyangkal jika istri pertama suaminya berlapang dada. Tetapi dia yang tidak bisa menerima jika dia menjadi madu. Dia ingin menjadi satu-satunya istri untuk suaminya. Meski dia tahu suaminya itu tidak akan pernah meninggalkan Nita.


"Kenapa Mbak mengizinkan suami Mbak menikah lagi?" tanya Kasih lagi.


Nita tertawa kecil menanggapi pertanyaan Kasih. Membuat wanita muda itu sedikit tersinggung. Wajahnya yang tadi damai kini berubah menjadi penuh dendam.


"Aku mencintainya, mungkin dia tidak bahagia bersamaku. Jika dia bahagia dengan kamu apa salahnya aku mengizinkan dia menikah lagi," jawab Nita. Dia tersenyum manis pada Kasih. Namun, Kasih memasang wajah datar tanpa ekspresi.


Nita yang merasa perubahan istri muda suaminya drastis, mengerutkan kening tidak mengerti.


"Jika aku ingin menjadi istri satu-satunya bagaimana Mbak?" tanya Kasih memandang Nita dengan tajam.


"Kamu tidak serakah bukan? Aku sudah merelakan dia berbagi cinta. Dan kamu ingin memiliki dia seutuhnya?" cerca Nita tidak terima dengan lontaran Kasih.


"Tapi dia tidak mencintai Mbak sama sekali," lontar Kasih membuat Nita membeku. Dia tidak bisa lagi menjawab karena memang itu benar adanya.


Kasih menertawakan kekalahan Nita yang mati kutu dibuatnya. Dia menatap tajam pada Nita sembari mengejeknya.

__ADS_1


Di saat perbincangan keduanya sudah mulai sensitif, Krisna datang menghampiri keduanya. Namun, dia lebih dulu mendekati Kasih. Memeluk dan juga mengecup kening Kasih dengan tulus. Krisna berbalik menatap Nita.


Dia juga akan memperlakukan wanita itu sama halnya seperti dia memperlakukan Kasih. Namun, Nita memilih menjauh, agar Krisna tidak mencium serta memeluknya.


Krisna tersenyum menanggapi tingkah istri pertamanya itu. Wanita itu memang susah di tebak. Bukankah dia mencintainya tetapi dia enggan diberikan perlakuan romantis.


"Ayok, masuk. Kita makan malam." Krisna merengkuh pinggang Kasih dengan mesra. Dia tidak memikirkan perasaan Nita yang sakit kala melihat keromantisan mereka.


Sedangkan pada Nita, Krisna mengulurkan tangannya untuk membawa wanita itu masuk. Namun, Nita lagi-lagi menolak. Krisna pun menanggapinya lagi dengan senyuman.


Nita tidak mengikuti mereka masuk kedalam. Dia memilih tetap berada di luar. Menikmati secangkir teh hangat itu. Hatinya butuh udara segar. Ketika dia melihat asupan yang menyesakkan. Nita meneteskan air mata di keheningan malam itu. Tanpa penghangatan yang merengkuhnya.


Mbak Ana yang khawatir membawakan makan malam itu ke taman.


"Nona," panggil Mbak Ana. Dia memberikan makan malamnya.


"Terima kasih, Mbak," jawab Nita.


"Kenapa Nona tidak menolak jika Nona tidak merasa nyaman. Saya yakin Tuan akan mengerti," saran Mbak Ana. Tetapi Nita memilih menyantap dahulu makanan itu. Pura-pura bahagia sungguh harus mengkonsumsi asupan yang bergizi.


"Kenapa belum masuk? Angin malam gak baik untuk tubuh," seloroh Krisna membuat wanita itu menengadah.


"Aku hanya butuh ketenangan," sahut Nita, dia kembali memandang ke depan.


"Apakah kamu tidak suka jika aku dan Kasih tinggal di sini?" tanya Krisna. Nita tidak langsung menjawab dia memilih menyesap dahulu teh itu.


'Jika aku bilang iya, aku pasti tidak akan bisa setiap hari melihatmu. Tetapi jika kalian tetap tinggal di sini rasanya aku sudah kenyang setiap hari sarapan keromantisan kalian,' batin Nita.


"Mengapa bertanya seperti itu?" tanya Nita.


"Aku hanya merasa kamu sedikit berbeda hari ini setelah Kasih tinggal di rumah ini. Apakah ada sesuatu yang membuat kamu tidak nyaman. Atau apakah kamu cemburu melihatku?" cerca Krisna. Membuat Nita menoleh kearah Krisna.


Dia memukul manja pundak suaminya dengan terkekeh. Sedikit dia merasa terhibur dengan ocehan suaminya. Pertanyaan yang tepat untuk menggambarkan perasaan Nita pada Krisna saat ini. Namun, dia tidak bisa mengungkapkan, rasanya bagai langit dan bumi seperti lagu Via Vallent.


"Aku senang kok, kalian di sini!" Seru Nita.

__ADS_1


"Coba lihat bintang itu, Tata. Dia seperti kamu menerangi hidupku," seloroh Krisna membuat Nita tertawa. Gombalan lelaki itu cukup receh jika diberikan pada Nita. Pasalnya gombalan itu sudah banyak yang memakainya.


"Mikir sendiri kenapa? Gak kreatif cuma ngikutin ABG. Kamu tuh udah tua!" Ledek Nita.


"Jangan salah, meskipun aku sudah tua, tapi jiwaku, jiwa muda. Kamu tidak tahu kalau aku semalaman bisa membuat--" Krisna tidak bisa melanjutkan ucapannya. Dia menyadari jika ucapannya akan melukai Nita.


Nita memandangi Krisna dengan senyuman. Tetapi hatinya merasa teriris. Suaminya sendiri memperlakukannya dengan tidak adil. Nafkah batin tidak pernah ia berikan, lalu dengan istri barunya dia dengan bangganya membicarakannya pada Nita tidak tahu malunya.


"Kenapa tidak dilanjutkan?" ucap Nita. Dia memandangi Krisna dengan penuh harap. Meskipun dia tahu ucapan Krisna mengarah kemana.


"Jangan dibahas." Nita mengangguk dia tidak mempermasalahkan ucapan Krisna. Baginya itu semua sudah menjadi lalaban dalam kehidupan sehari-harinya.


Mereka memandangi langit yang gelap dengan bibir yang sama-sama terkatup rapat. Mereka larut dalam pikiran masing-masing. Nita merasa terobati mengingat Krisna yang datang kesana dengan sukarela.


Sedangkan Krisna dia merasa tidak enak hati. Mengingat mulutnya yang tidak bisa di kontrol mengatakan yang seharusnya tidak ia katakan pada Nita. Hujan mengguyur bumi membuat mereka lari pantang-panting.


Semesta seolah tidak membiarkan kedekatan mereka bertahan lama. Padahal ini kali pertama Nita ditemani oleh Krisna. Nita memandangi Krisna yang tubuhnya tersiram air hujan. Ujung rambut yang meneteskan air hujan membuat lelaki itu semakin sek$i di mata Nita.


"Aku masuk duluan, Kris, kamu juga cepat masuk hangatkan tubuhmu untuk mendekap istrimu,"


"Hey, kamu nakal, Ta. Ku kira kamu masih polos,"


Ketika Nita masuk kedalam rumah, di sana di ambang pintu sudah ada Kasih yang melihati mereka. Tangannya dia lipatkan di dada tatapan tajam ia arahkan pada Nita. Namun, dia tak acuh dan mengabaikan tatapannya. Dia sudah kedinginan jika harus beradu argumentasi dengan madunya itu.


"Jadi begini kelakuan kamu tiap malam, Mas!" Kasih menghentakkan kakinya kelantai.


"Apa kamu bilang? Kita baru dua malam tinggal di sini. Dan semalam kan aku begadang denganmu. Dan baru kali ini aku menemani Nita."


***


Teman-teman kalian mau tidak Nita dan Krisna pisah? aku juga mau, tapi kenapa Nita-nya begitu keras kepala kalau di kasih tahu, -_-


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2