Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Bab19. Apakah Itu Layak?


__ADS_3

Bab19. Apakah Itu Layak?


**


Kasih bergeliat ketika dia merasa tubuhnya telah merasa baikan. Baru saja bola matanya terbuka sempurna dia merasa kaget. Pasalnya dia sudah melihat suaminya pergi bekerja. Namun, dia tidak berpamitan padanya.


"Halah, kenapa ini mata gak bersabar sih, niatnya mau ngadu malah kebablasan ketiduran. Mana kesiangan bangun!" gerutu Kasih. Dia terlebih dulu ke kamar mandi untuk menyikat giginya.


Baru saja tangannya membuka pintu kamar. Dia melihat Nita yang tengah membenarkan dasi suaminya. Ingin memarahi wanita itu tapi Kasih tahan. Ia tidak mau citranya buruk dan dibandingkan dengan wanita itu.


Dengan perasaan dongkol dan kesal, dia memamerkan senyumnya meskipun terpaksa.


"Lanjutkan saja, Mbak. Aku gak pa-pa, kok," titah Kasih ketika dia melihat Nita yang langsung menurunkan tangannya.


"Sudah aku bilang, Kasih tidak akan apa-apa. Toh, biasanya juga keperluanku kamu yang urus, Ta," ucap Krisna menatap wajah Nita. Kasih sudah dibuat panas disuguhkan dengan pemandangan yang tidak mengenakan itu.


Dia berbalik kekamarnya. Sebelum masuk dia berpesan pada Krisna agar lelaki itu sebelum pergi kekamarnya lebih dulu.


"Sudah selesai, masuk dulu gih," titah Nita. Leleki itu menatap kearah Nita seolah meminta maaf. Namun, Nita hanya tersenyum seperti biasanya.


"Kris," panggil Nita, lelaki itu baru saja akan menggapai knop pintu. Namun, ia memilih berbalik menatap Nita.


"Aku ... Mau izin keluar. Seperti biasa aku ada janji dengan Bian," kata Nita yang hanya diberikan anggukkan kepala oleh Krisna.


Krisna pun masuk kedalam kamarnya meskipun Ari sudah menungguinya. Ari yang mendengar Nita berpamitan pada Krisna pun berseru.


"Nona, diantara lelaki dan perempuan sering bertemu akan menumbuhkan rasa cinta. Jangan sampai menjadi boomerang untuk masa yang akan datang," tandas Ari.


"Apakah anda tidak melihat dan mendengarnya? Dia tidak keberatan aku dekat dengan siapapun. Bukankah itu akan lebih baik jika aku tidak lagi mencintainya. Dia akan bahagia dengan istri mudanya," jawab Nita dengan tegas.

__ADS_1


"Tetapi Tuan tidak akan semudah itu melepaskan anda. Mungkin jika dapat memilih, dia akan memilih istri pertamanya meskipun tidak dia cintai. Dan bagi saya prinsip Tuan sama dengan saya. Jika saya mempunyai dua istri. Istri pertama tidak akan saya tinggalkan," ungkap Ari panjang lebar.


"Jangan berkhayal. Anda bukan tokoh di serial novel atau pun drama-drama Korea yang dikejar-kejar wanita. Sampai saat ini saya masih melihat anda masih sendiri, betah sekali menyendiri, dan jomblo," jawab Nita dengan sindiran yang pada kenyataannya.


"Tidak mengapa Nona. Jomblo dan sudah menikah tetapi kondisinya seperti Nona. Bukankah diantara kita sama. Sama-sama tetap hampa," ucap Ari memberikan ucapan telak. Seketika bibir Nita mengerucut, dia tidak bisa lagi menjawab lontaran sekretaris suaminya itu.


Tangannya ia lipat di depan dada. Dengan tatapan tajam. Yang di tatap hanya memandang dengan datar tanpa ekspresi. Nita langsung ke kamarnya untuk bersiap.


***


Kasih mendengarkan ucapan Nita yang meminta izin untuk pergi dengan Bian. Dia sudah mempunyai rencana untuk memberikan pertanyaan bahwa dia tidak setuju jika Nita hanya berdua dengan lelaki itu. Yang sebenarnya dia pun ingin ikut dengan Nita. Kasih pun ingin juga dekat dengan Bian yang ia kagumi.


"Aku dengar barusan Mbak Nita meminta izin keluar, untuk bertemu dengan teman lelakinya itu?" tanya Kasih yang tengah memoles wajahnya. Krisna memandangi pantulan Kasih di kaca.


Dia tidak menjawab hanya memandangi istrinya dengan tatapan menyeringai. Yang di tatap langsung membalikkan tubuhnya menghadap sang suami.


"Begini saja dandananmu. Jangan terlalu tebal, kamu masih muda tapi kayak tante-tante." Kasih mendelik dia menepis tangan suaminya dengan kasar.


"Lanjutkan saja di mobil. Nanti, Mas kesiangan, apalagi ada rapat penting," ungkap Krisan. Kasih mengangguk dia langsung berlari dulu kekamarnya membawa alat tempurnya.


***


Ketika di dalam mobil Kasih terus memoles wajahnya yang belum selesai ia make-up. Setelah selesai ia menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Kasih juga memainkan dasi Krisna dengan memelintirnya.


"Sayang ...." Krisna menunduk memandangi wajah istri keduanya ketika Kasih memanggilnya. Dia hanya menjawab dengan deheman. Menatap mata istrinya dengan dalam. Menanti sebuah ucapan yang akan dilontarkan Kasih.


Kasih menyandarkan punggungnya di kursi yang tengah ia duduki. Ia juga menatap kearah suaminya dengan serius. Krisna terheran-heran dibuatnya. Tidak biasanya, Kasih seolah ragu mengatakannya.


"Ada apa? Ingin jalan-jalan lagi?" tanya Krisna mencoba menebak apa yang ada di otak istrinya. Kasih menggeleng pelan.

__ADS_1


"Kita bahas yang tadi di kamar,"


"Yang mana?" Krisna berfikir ulang apa yang mereka katakan tadi di kamar.


"Tentang Mbak Nita," jawab Kasih.


"Kenapa dengan dia?" tanya Krisna.


"Kamu kan suaminya, kok bisa sih kamu izinkan dia jalan-jalan dengan lelaki lain. Itu sih gak baik kata aku ya, Mas. Walaupun dia bilang hanya sebatas kakak, dan adik tetap saja mereka bukan satu darah. Apa itu layak?" ujar Kasih. Namun, Krisna mengembuskan napas berat lalu menghiraukan ucapan istrinya.


Bagi Krisna tidak masalah. Yang terpenting dia bisa menjaga martabat suaminya di depan umum. Apalagi dia belum mencintai Nita mungkin jika dia mempunyai teman hidupnya tidak merasa hampa. Apalagi Krisna selalu sibuk dengan wanita yang dia cintai.


"Dia perginya juga ketempat ramai. Bukan hotel dan hanya berduaan. Apa yang harus di rundingkan sayang, biarkan dia mencari kebahagiaannya sendiri. Dia sudah terluka melihat kemesraan kita. Jika kamu merasa tersaingi kita pindah rumah saja. Aku tidak pernah mengajari kamu untuk kepo masalah orang lain. Meskipun itu pada Nita," terang Krisna membuat Kasih berdecak.


"Iya memang seharusnya kamu membiarkan dia mencari kebahagiaannya. Tapi kamu juga harus menceraikannya agar tidak menjadi penghalang baginya. Untuk apa kamu tetap mengikatnya dalam pernikahan tanpa cinta begini? Bukankah kamu hanya mencintaiku? Lalu apa lagi yang kamu cemaskan?" Timpal Kasih. Sepanjang jalan Ari mendengarkan perdebatan mereka.


Ingin tidak berpura-pura tidak mendengarnya. Tetapi sahutan keduanya begitu terdengar jelas.


"Aku tidak akan bisa menceraikannya. Sudah aku bahas sebelum kita menikah Kasih. Kamu bahkan menyetujui pernyataan itu. Lalu kenapa kamu sekarang mempermasalahkannya?" tanya Krisna yang merasa Kasih sudah keterlaluan menginginkannya berpisah dengan Nita. Wanita itu menunduk merasa sakit. Ketika keinginannya tidak dibenarkan oleh Krisna.


Dia mengingat semua ucapan Krisna sebelum mereka menikah. Kasih tahu jika Krisna tidak mencintainya. Namun, melihat perilaku Krisna yang tidak membedakan sikap membuatnya sakit. Dia terlalu cemburu. Dia tidak bisa menerima pula saat Nita membawa teman yang tampan kerumahnya. Mengapa orang yang kenal dengannya selalu begitu mencintainya. Berbeda dengan yang mendekat padanya.


Kasih lebih memilih mangalihkan tatapannya kearah lain. Dan membelakangi Krisna yang terus meminta maaf. Lelaki itu merasa bersalah karena telah melukai hatinya.


Dia semakin membenci Nita. Dia akan berusaha mencuci otak Krisna agar dia tidak bisa dekat lagi dengan Bian. Bahkan dia akan berusaha agar Nita pergi dari rumah itu. Bahkan sampai memilih berpisah lebih dulu. Kasih bersumpah di dalam hatinya.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2