
"Aku tidak mau mendengarnya Mbak, aku masih polos." Nita mengerutkan keningnya merasa heran dengan ucapan Karina. Padahal dia ingin menanyakan perihal dirinya dan Bian. Tidak mungkin dia menceritakan malam panjangnya semalam.
Nita memukul manja lengan Karina, dia kesal karena Karina berpikiran negatif tentangnya.
"Kamu ini, masih gadis pikirannya kemana-mana. Mbak mau tanya bagaimana dengan kamu dan Bian, sudah berbaikankah?" tanya Nita, Karina menggaruk kepalanya yang tidak gatal merasa malu sendiri karena pikirannya yang kotor.
Wajahnya bersemu merah, sedangkan Nita tengah mengolok-oloknya.
"Jawab dong," ucap Nita lagi mendesak Karina. Selain ingin cepat mendapat jawaban dia juga tidak bisa menahan rasa gelinya terhadap Karina.
"Aku ... Masih belum bisa memaafkannya Mbak, tidak mudah bagiku, dia sudah membuat hatiku patah," jawab Karina dengan sendu. Pundaknya merosot lemah seolah dia begitu lelah.
Nita lebih mendekat memepet Karina agar mereka tidak berjarak, dia juga mengelus pundak gadis itu dengan sayang. Seolah memberikan kekuatan jika dirinya akan ada kapanpun saat Karina membutuhkan bantuannya.
"Jika kamu ingin bercerita, ceritakan saja. Mbak siap mendengarkannya. Jangan dipendam sendirian,"
__ADS_1
"Mbak, aku mencintai Bian tetapi ...."
Karina langsung memeluk Nita dengan bahu yang bergetar, gadis itu menangis sesenggukan di pundak Nita. Sedangkan Nita mengusap punggung Karina menenangkannya.
"Lalu kalau cinta mengapa belum bisa memaafkannya?"
"Dia kemarin terlalu dingin padaku, Mbak. Bahkan saat acara pernikahan Mbak saja dia mengabaikanku. Yang aku tahu Mbak akan menikah dengannya bukan dengan Tuan Indra, jika dia memang mencintaiku lantas mengapa dia membuat aku salahpaham begini. Aku tidak yakin jika dia masih memiliki rasa yang sama terhadapku," terang Karina panjang lebar.
"Coba kalian pendekatan lagi, dia juga mencintaimu Karin. Dia bahkan sampai menitipkan kamu pada Tuan Indra, jika dia tidak mencintaimu, dia tidak akan melakukan hal seperti itu bukan?"
"Sudah, jika kamu ingin berbincang dengannya Mbak, akan menasihahti lelaki tidak peka itu," gerutu Nita merasa kesal dengan tingkah Bian. Sudah jelas-jelas jika dia mencintai Karina, mengapa selalu menjunjung tinggi ego.
"Apakah tidak apa, Mbak? Aku takut jika mengganggu waktu honeymoon kalian," ucap Karina menundukkan kepalanya merasa tidak enak hati.
"Sudah jangan pikirkan itu, yang terpenting sekarang kamu masih ingin bertemu dengannya, nanti Mbak akan mempertemukan kalian," jawab Nita bersemangat.
__ADS_1
Karina pun memeluk Nita dengan sayang, merasa bahagia karena Nita mau membantunya saat dirinya tengah dilanda kegalauan dengan hubungannya yang tanpa status.
Karina pun keluar kamar berpamitan pada Nita jika dirinya akan ke toko. Saat dia tengah menutup pintu kamar Nita, dia mengembuskan napas lega. Dia lega karena keraguannya dapat terjawab dengan ucapan Nita. Semoga saja semuanya benar, jika Bian masih mencintainya.
Sedangkan Nita di dalam kamar mulai berjalan kearah bathtub untuk membersihkan tubuhnya. Dia memejamkna matanya dan memikirkan cara agar Karina dan Bian bisa pergi bersama saling berbincang dengan hubungannya.
Bukankah keduanya saling mencintai? sama seperti dirinya yang salah mencintai dengan Indra, memikirkan suaminya membuat Nita menyunggingkan senyumnya.
Pikirannya kembali pada saat dia dan Indra tengah mencumbu. Nita yang sudah dibuat tergila-gila oleh Indra langsung membuka matanya dan memukul kepalanya sendiri.
"Yaampun, kenapa harus selalu muncul dia saat memejamkan mata. Haruskah aku tetap membuka mata terus-menerus," ucap Nita tergelak.
Sebahagia ini saat dirinya menemukan pendamping hidup yang tepat.
***
__ADS_1