
Bab73. Rencana Tazkia.
***
Waktu demi waktu sudah berlalu, sang pemilik hati tetap saja tidak membuka hatinya kembali. Krisna menatap pilu kearah photo yang terpajang di kamarnya, jika dulu ia mengabaikan kini berbanding terbalik dengan keadaan. Kini dia yang berusha mati-matian untuk mengejarnya.
Sedangkan Nita seperti biasanya tetap tidak memedulikan apa yang dilakukan Krisna. Riska pun memilih mengiyakan saran dari anak gadisnya. Memberikan Krisna pengganti agar dia bisa sedikit melupakan Nita.
"Siapa yang kamu pilih Kia? sebenarnya tidak sulit mencari gadis yang mau dengan kakakmu. Namun jika mencari yang sama seperti Nita akan sangat sulit. Bukankah, setiap manusia diciptakan berbeda-beda," ucap Riska mengungkapkan kegundahan yang berada di hatinya.
Kia masih mendengarkan, untuk apa sulit-sulit mencari yang tidak pasti bukankah di rumahnya ada yang sama percis sikapnya dengan NIta.
"Kak Krin saja yang menjadi calonnya, hanya dia yang menjadi satu-satunya peserta yang berhak mengikuti kompetisi ini."
"Ini bukan ide bagus Kia, percaya pada Mama ." Riska tidak menyetujui dengan gadis pilihan anak gadisnya. Tetapi apapun yang terjadi Kia akan tetap memberikan jadwal kencan untuk mereka.
***
Malam menjadi perdebatan panjang antara Krisna dan Tazkia, gadis itu memaksa kakaknya untuk pergi, sedangkan Krisna enggan untuk keluar rumah. Akan tetapi akhirnya dia luluh juga setelah Kia memberikan bujuk rayuan terhadap kakaknya.
"Ayolah Mas, dicoba. Sampai kapan kamu akan seperti ini? Mbak Nita tidak akan memberikan kesemptan padamu." Untuk kali ini Krisna tidak bisa menolak. Meski dia merasa ini sungguh tidak penting.
Krisna telah datang ketempat yang telah diberitahukan Tazkia. Namun saat menunggunya dia merasa ada yang aneh. Pasalnya orang yang datang bukanlah orang lain. Melainkan Karina yang datang, bahkan dia membawa anak Krisna untuk datang.
Karina terkejut bahkan dia langsung membalikkan tubuhnya untuk pergi. Namun, Krisna bukannya membiarkan, dia malah mencekal tangan gadis itu dengan kuat. Dia bahkan tidak menyadari jika Karina tengah membawa anaknya.
"Kata-kata apa yang telah kamu ucapkan pada adikku, hingga dia mencoba membuat acara kita berkencan!" seru Krisna dengan tataapan tajam.
"Dan kamu tidak meminta izin membawa anakku." Krisna langsung membawa anaknya. Dia juga membentak Karina di tengah keramaian. Setelah puas memarahi dia langsung menarik tangan Karina untuk masuk kedalam mobilnya.
__ADS_1
Diperjalanan mereka saling terdiam. Krisna masih focus menyetir, sedangkan Karina terus menoleh kearah depan karena khawatir dengan keponakannya. Emosi Krisna sudah tidak terkontrol, apakah dia akan memukulnya seperti apa yang telah dia lakukan pada Bian?
Deru mesin sudah berhenti, Karina menyapu sekeliling halaman yang ternyata bukan rumah Krisna. Ingin bertanya, tetapi dia takut kembali membuat Krisna marah.
"Sekarang kamu tinggal di sini, saya sudah tidak ingin melihat anda berada dalam rumah saya lagi." Bak disambar petir bagi Karina, kini dirinya sudah diusir dengan tidak terhormat oleh Krisna.
Karina ingin mencoba membela diri, tetapi tidak sedikitpun Krisna memberinya waktu untuk menjelaskan. Gadis untuk menunduk memainkan jemarinya dengan penuh ketakutan. Lambat laun mungkin dia memang akan diusir oleh Krisna. Dia berusaha menghibur dirinya sendiri bahwa tidak saat ini pun, suatu saat nanti dia akan diusir dari keluarga Krisna.
"Jangan bermimpi untuk menjadi nyonya menggantikan Nita!"
"Ta-tapi anda telah salah paham pada saya. Sa-saya sama sekali tidak berpikiran bisa men--" tangisan anak itu membuat keduanya langsung berlari menuju arah suara. Anak Krisna menangis, sedangkan dia tidak bisa menenangkannya.
Karina sudah berusha meminta keponaknnya agar dia bisa tenang. Tetapi Krisna menolak, karena keras kepalanya Krisna membuat Karina berani membentak lelaki itu.
"Anda tidak akan paham bagaimana menenangkannya, kenapa anda egois memikirkan diri sendiri karena membenci saya. Sedangkan dia pun keponakan saya, saya juga berhak untuk mnegurusnya." Karina membawa paksa anak itu, dia pun membuka pintu mobil belakang dan memberinya sufor.
Krisna menghela napas kasar, ingin membawa anak itu kembali tetapi dia juga tidak menenangkannya. Dia gengsi untuk meminta tolong pada gadis itu, agar malam ini bisa ikut pulang lagi bersamanya.
Tanpa di suruh untuk masuk Karina memasuki mobil dengan menggendong anak itu.
***
Mereka berdua sudah berada di pelataran rumah, wajah Krisna sudah tidak bersahabat di hadapan adik serta Mamanya. Bahkan dia tidak menyapa dua wanita yang selalu merepotkannya.
"Apakah gagal?" tanya Tazkia, Karina menunduk dan mnenghela napas kasar. Setelah merasa dia kuat mengatakannya, dia mendongak dan berkata.
"Be-besok saya akan mencari tempat tinggal. Terima kasih banyak karena selama ini kalian sudah baik pada saya." Karina membungkukkan badannya, dan meninggalkan mereka.
Riska dan Tazkia tampak terkejut dengan keputusan Karina. Mereka saling bertatapan karena tahu itu semua pasti karena tekanan Krisna. Mereka juga tahu bagaimana sikap Krisna pada Karina. Namun, mereka tetap mencoba mencomblangkan mereka.
__ADS_1
"Kia harus menemui Mas Krisna Ma. Pasti dia lepas kendali, bisa-bisanya pada perempuan seperti itu," gerutu Kia, sedangkan Riska dia mengejar Karina.
Kia sudah berjalan dengan tergesa-gesa agar dia cepat sampai. Namun ketika dia sudah sampai di depan kamar Krisna dia ragu-ragu untuk mengetuknya. Bahkan dia menghirup napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan.
"Harus masuk meski takut, Mas Kris sudah kelewatan!" serunya menyemangati diri sendiri.
Di dalam kamar ...
Krisna sedang bersandar di punggung ranjang. Dia menatap kearah pintu, yang otomatis ketika Kia membukanya dia langsung mendapat tatapan dingin kakaknya.
"Mas apa yang kamu katakan padanya hingga dia ingin pindah dari rumah kita?" tanya Kia, diapun memasang wajah garang dengan tangan dia lipat di dada. Mirip seorang emak yang akan memarahi anaknya.
Krisna mnghela napas kasar lalu beranjak dari ranjang untuk mendekati adiknya. Namun emosi Kia sudah meledak-meledak.
"Mas cepat bicara!"
"Salahkah adikmu ini membantu kamu untuk bahagia, kamu harusnya menyadari jika luka yang kamu torehkan tidak akan mudah untuk sembuh. Terlalu dalam kamu menyakitinya membuat kesempatan itu hanya 5% yang kamu miliki. Jika pun dia memaafkanmu belum tentu hatinya bisa mencintaimu kembali. Sebagai adikmu apa aku salah mencoba mendekatkanmu dengan wanita lain, biarlah Mbak Tata bahagia dengan lelaki yang mencintainya dengan tulus,"
"Kamu tidak tahu bagaimana khawatirnya kami melihat keadannmu sekarang. Mengurung diri, begitu terobsesi dengan pekerjaan. Saat kamu menemui Mbak Nita kamu akan kembali membuat kami bersalah karena tidak bisa membahagiakan kamu meski kami ini keluargamu! Katakan padaku dan Mama, Mas. Kami harus begaimana?" Teriak Tazkia, dia meluapkan semua uneg-unegnya yang telah lama dia simpan.
Meski dia selalu melontarkan kata-kata pedas pada kakaknya, tetapi tidak bisa dipungkiri sebagai adik kandungnya dia bersedih melihat Krisna seperti ini.
Krisna mendekat dan memeluk adiknya, "kalian tidak usah khawatir meski keadaan hati Mas sedang tidak baik-baik saja."
"Kita ini keluarga Mas, bisakah kamu menuruti saran dari kami? kami hanya ingin kamu bahagia itu saja,"
"Perasaan Mas tiidak akan pernah berubah, Mas mencintai Nita. Bagaimanapun Mas akan tetap memperjuangkannya!"
"Cobalah membangun hubungan baru Mas," titah Kia, tetap berusaha membujuk kakaknya.
__ADS_1
***