
Hari ini Nita datang pukul 9 menuju tokonya. Ketika dia masuk dia hanya melihat ketiga karyawannya, sedangkan Karina belum datang. Nita mulai memikirkan keluarga Krisna. Namun, Nita menepis pikiran itu. Bukankah ini yang selalu dia harapkan, Krisna berhenti mengganggunya.
Dia membuka knop pintu untuk masuk keruangannya, sebelum dia masuk dia mendengar pembicaraan karyawannya tentang Karina.
"Guys, Karina telat datang hari ini katanya, dia akan datang pukul 11 siang." Rindi memberitahu Imam, dan juga Risma.
"Tumben amat itu anak, kenapa dia? ngurus keluarganya yang sakit? tapi 'kan dia yatim piatu, bukannya sanak saudara pun dia tidak punya?" Risma memberondong pertanyaan pada Rindi, sedangkan Imam hanya menganggukkan kepalanya.
"Sudahlah, Ma, mungkin dia ingin libur saja. Bukankah dia jarang libur jika bukan keponakannya yang sakit," timpal Imam agar Risma berhenti kepo urusan orang.
Gadis itu mengerucutkan bibirnya dan menepuk kasar bahu lelaki itu, "apa sih, Mam. Aku hanya ingin tahu aja, bukan berniat bergosip pagi-pagi," oceh Risma yang tidak terima ucapannya disela Imam.
"Sudah-sudah, waktunya kerja. Nanti kamu bisa tanyakan pada orangnya." Mereka pun mulai bekerja.
Nita menutup pintu dan mulai masuk kedalam ruangannya, dia juga melihat ponselnya. Mungkin Karina membagikan momennya di status WA. Namun, gadis itu sama sekali tidak membagikan apapun.
"Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa aku merasa ada sesuatu," tebak Nita, meski otak kecilnya bepikir keras dia sama sekali tidak mendapat jawabannya.
Nita mendengar suara gaduh dari arah depan. Ya, ada suara anak kecil, Nita menghiraukannya mungkin dia anak dari resellernya yang datang. Di saat dia akan membawa ponselnya untuk mengecek barang pesanannya, pintu ruangannya di ketuk. Dia mempersilahkannya untuk masuk.
Tidak diduga anak yang dibilang lucu, tampan adalah anak Krisna yang dibawa Karina ketokonya. Karina menggendongnya, dia menunduk karena dia tahu Nita akan keberatan jika anak itu dia bawa.
"Mbak," panggil Karina pada Nita. Namun, wanita itu hanya diam terpaku memandangi anak itu.
"Ada apa Karina?" tanya Nita, begitu berat suara itu membuat Karina bingung harus berkata apa pada Nita.
__ADS_1
Anak lelaki yang sudah berusia 2 tahun itu mengingatkan Nita pada anaknya, dia memegangi perutnya. Anak yang dia kandung tidak bisa bertahan lama, lalu anak wanita itu telah tumbuh dengan sehat.
"Bolehkah saya membawa keponakan saya saat bekerja?" Karina bertanya pada Nita, gadis itu tampak tercekat seolah susah menelan ludah kekerongkongannya.
"Silakan, jika kamu tidak bisa memberikannya pada orangtuanya," jawab Nita memaksakan senyumnya. Namun, Karina tidak memiliki pilihan lain, selain membawa keponakannya.
Ketika dia keluar dari ruangan Nita, dia menutup pintu dengan perlahan. Seolah belum rela jika dia keluar ruangan meninggalkan Nita. Sebelum kedepan dia mencium begitu tulus pada keponakannya. Hatinya pun sakit jika teringat saat kejadian Nita keguguran tapi suaminya malah mengurus Kasih saudaranya.
"Kelak kamu dewasa harus menjadi suami yang bertanggungjawab sayang, kamu harus menghargai perempuan," ucap Karina, dia pun melanjutkan langkahnya untuk kedepan.
Sedangkan Nita berdiam dibalik pintu, mendengarkan ucapan Karina yang tengah menasihati keponakannya. Meski anak itu tidak mengerti.
"Aku tidak pernah membencinya, bagaimana pun dia tidak mempunyai salah. Yang salah padaku adalah orangtuanya yang tidak bisa menghargai perasaanku," gumam Nita.
***
"Lucu banget sih, Rin, keponakanmu. Biasanya kamu tidak pernah diizinkan membawa dia 'kan, apa kamu dan papa-nya sudah begini." Risma menautkan jari telunjuknya, Karina menggelengkan kepalanya memberikan isyarat bahwa dia tidak boleh mengungkitnya. Namun, Risma yang kepo tidak menggubrisnya.
"Ada masalah apa sih, kalau kamu tidak bersamanya. Sebenarnya alasan apa Rin sampai anak kecil itu jatuh dalam asuhan kamu. Kamu bisa 'kan bicara supaya kita bisa membantu," oceh Risma lagi, Karina memandangi satu persatu wajah rekan kerjanya.
"Tidak pa-pa," jawab Karina. Namun, sorot mata gadis itu menggambarkan kesedihan. Matanya berkaca-kaca, seolah tidak sanggup lagi menyembunyikan kesedihannya. Rindi yang simpati pun memeluk Karina, Imam membawa anak itu untuk bermain agar Karina bisa sedikit tenang.
"Tanggungjawab kamu Risma, bisa tidak nggak usah kepoan jadi orang!" tegur Rindi pada Risma, tetapi gadis itu hanya memutar bola matanya kekiri dan kekanan seolah tidak pernah melakukan kesalahan.
Rindi terus menepuk punggung Karina. Memberikan kekuatan bahwa gadis itu tidak sendirian, masih ada dirinya yang siap untuk menjadi sandarannya.
__ADS_1
"Kamu urus saja dulu keponakan kamu sampai tidur, setelah dia tidur kamu kerjakan lagi tugas kamu. Akan sulit rasanya jika kamu kerja. Namun, dia belum terpejam," saran Rindi, Karina menatap haru kearah Rindi. Hanya gadis itu yang bisa memahami perasaannya.
Risma pun baik, tetapi tidak sepengertian dan sepeka Rindi padanya.
"Terima kasih, Di." Karina memeluk Rindi dengan haru. Isak tangis Kembali terdengar membuat suasana semakin melow. Risma dalang dibalik sedihnya Karina hanya memandangi mereka tanpa dosa.
"Kalian ini, kamu lebay Karin. Harusnya bilang, jangan cuma merasa kamu sakit tapi tidak mau berbagi. Makanya aku tuh gak mau terlalu dekat sama kamu. Kamu itu terlalu tertutup orangnya!" Ketus Risma, dia memang sedikit ceplas-ceplos. Dia tidak memedulikan suasana orang yang sedang dikritiknya. Risma pun pergi dari sana karena suasana sudah tidak kondusif.
"Jangan didengarkan ya, kita juga tahu kalau dia memang sedikit pedas mulutnya. Kita sudah cukup lama sama-sama mengenal, aku harap kamu tidak merasa tersinggung dengan ucapannya." Rindi memberikan pendapatnya. Karina mengangguk dan memilih berpamitan pada Rindi untuk mencari keponakannya.
Karina mencari kemana Imam membawa keponakannya, setelah dia menemukannya dia membawa anak itu masuk, menimang untuk menidurkan anak itu supaya tidur siang. Beberapa menit anak itu pun tertidur, Nita mengawasi gerak-gerik Karina dari CCTV.
Sudah satu jam dia mengamati tetapi tidak ada yang mencurigakan. Namun, saat Nita akan menekan kembali dan tidak mengamati Karina dia melihat gadis itu tampak bersedih ketika mengangkat telepon.
Rasa penasaran yang membuatnya mencoba mencuri dengar. Tetapi dia tidak bisa mendengarkan Karina berbincang dengan siapa.
Disamping toko gadis itu menerima panggilannya. Nita pun keluar melalui pintu belakang dan mendengarkan Karina berbincang dengan siapa dibalik tembok.
["Bagaimana keadaan Nona Kia, dan juga Tuan Krisna Mbak? tenang saja Tuan kecil baik-baik saja. Dia sedang tidur siang."] Itulah ucapan Karina yang Nita dengar.
["Saya harap mereka bisa mengikhlaskannya. Semua adalah kecelakaan, mereka tidak perlu menyalahkan diri masing-masing."] Setelah itu Karina menutup teleponnya dan pergi masuk kembali kedalam toko.
Nita keluar dari persembunyiannya, dia memikirkan tentang ucapan Karina jika Tazkia, dan Krisna harus mengikhlaskan?
"Apa yang terjadi, haruskah aku mengikuti Karina saat dia pulang?"
__ADS_1
***