
Kedatangan Krisna membuat jarak itu kembali. Entah mengapa jika Krisna datang, Karina seolah menjauhinya. Apakah ada hubungan diantara keduanya sampai Bian merasa terabaikan.
Jam yang bertengger di lengannya seolah tidak berputar, waktu terasa lambat dan berhenti. Mengapa dunianya terasa runtuh sekarang. Harusnya Karina membiarkan Bian untuk menjelaskan semuanya. Namun, tawa dan canda yang ia dengar sepanjang perjalanan membuatnya teramat sakit di bagian uli hatinya.
Bian berhenti sejenak melihati keduanya dari jarak beberapa meter. Serasi, hanya kata itu yang dia ucapkan dalam hatinya. Keduanya bagai suami istri, dan mempunyai buah hati. Sungguh situasi itu begitu ideal untuk setiap kedua insan.
Krisna menoleh, dan melihat Bian yang tertinggal jauh saat mereka akan menaiki mobil.
"Aku pulang dulu, Karin. Dan sepertinya kamu harus menjemput lelakimu itu," ucap Krisna sembari matanya menatap lurus kearah Bian. Lelaki itu tak bergeming masih berada di tempatnya dengan embusan napas yang berulang kali dia keluarkan dengan berat.
"Dia belum juga peka, Tuan Krisna!" seru Karina dengan mendengus. Entah mengapa dia merasa kesal sendiri.
"Sabar, saja," jawab Krisna. Lelaki itu memegangi pundak Karina mencoba untuk menenangkannya. Bian pun seketika tersadar saat tangan kekar menyentuh pundak pujaan hatinya.
"Si*l! Saat aku cemburu saja tidak mampu berbuat apa-apa," gerutu Bian dalam hatinya. Dia ingin sekali menyerret Karina dan menjauhkan nya dari lelaki itu.
Tangannya mengepal kuat di sisi kiri, kanan pahanya. Akhirnya Bian pun berjalan untuk mendekati mereka berdua.
"Lihatlah dia sudah tersulut emosi, ok! Aku pulang Karina." Mata Krisna mengedip sebelah dan berpamitan. Sepertinya dia sudah berhasil membuat Bian cemburu buta. Apalagi bisik-bisik yang baru saja dilakukannya ingin sekali Bian sesegera mungkin membawa gadis itu ke penghulu untuk di nikahi.
Saat Bian sudah berada di dekat Karina, mobil Krisna sudah berjalan tidak jauh darinya. Rasanya seperti dia tengah dihindari oleh lelaki itu. Bian melihat belakang mobil Krisna dengan tatapan kesal dan bercampur cemburu.
Tidak ingin menunggu lama lagi, dia menautkan tangannya dan tangan Karina dan membawanya pulang kerumah. Meski dia tengah emosi, tetapi dia berusaha memperlakukan Karina dengan hati-hati. Dia tidak mau sampai salah lagi yang akan membuat mereka berjarak.
"Sepertinya kamu senang bertemu dengan, Tuan Krisna?" tanya Bian agar suasana canggung tidak terasa.
Karina berdehem sebelum dia menjawab. Dia menutup mulutnya dengan tangannya sebelah. Rasanya dia ingin sesegera mungkin mengakuinya akan tetapi belum saatnya.
__ADS_1
"Senang lah!" jawab Karina singkat padat dan juga terdapat rona bahagia yang terpancar di sana saat sekilas Bian menoleh dengan ekor matanya.
"Jika bersamaku?" tanya Bian, lelaki itu menghentikan langkahnya dan menatap Karina dengan serius. Sedangkan Karina membuang tatapan saat tidak sengaja mereka saling beradu pandang.
"Pertanyaan apa itu, Yan! Sangat tidak masuk akal!"
"Tidak masuk akal bagaimana maksudmu Karin! Di sini aku sedang cemburu melihat kamu dan dia! Tidakkah kamu mengerti perasaanku. Aku ini mencintai kamu!" seru Bian, mengungkapkan. Lelaki itu sudah tidak tahan lagi memendamnya.
"Kamu mencintainya?" tanya Bian memastikan perasaan Karina.
Karina memutar pandangan untuk menoleh kearah Bian. Lalu dia mengangkat tangan Bian yang tersemat arloji. Ya, dia tidak menjawab pertanyaan itu, sebagai pengalihan dia berkata.
"Sudah malam, Yan. Aku masuk dulu," pamit Karina. Dia melepaskan tautan tangan mereka. Namun, Bian mencekal kembali tangan gadis itu.
"Berikan kesempatan untukku agar aku bisa memperjuangkan cintaku padamu," izin Bian. Karina mecelos seolah tidak percaya dengan penuturan Bian.
"Iya," jawab Karina singkat. Bian pun melepaskan tautan tangan mereka dan membiarkan Karina untuk masuk kedalam. Karena jawaban Karina yang hanya berbisik membuat Bian tidak mendengarnya.
***
Bian menatap nanar pintu yang tertutup rapat. Saat Karina sudah menghilang dari pandangannya. Wajahnya terlihat lesu dan merasa cemburu akan kedekatan mereka saat tadi tidak sengaja bertemu di jalan.
Lelaki itu buru-buru memasuki mobilnya dan mulai menghidupkan mesin mobil. Beberapa menit berlalu akhrinya dia sampai di apartemennya. Dengan gontai dia melewati koridor dengan wajah yang di tekuk. Ingin ke kelab untuk menghilangkan semua beban dan rasa sakitnya, tetapi dia berpikir ulang. Mengingat semua tidak akan terselesaikan dengan hanya minum-minuman beralkohol.
Sebersit dalam ingatan dia akan menghubungi Nita yang akan senantiasa mendengarkan keluh kesahnya. Namun, nomornya tidak bisa dihubungi. Setelah memasuki apartemen dia langsung membanting tubuhnya di atas ranjang. Kini dia teringat Indra, sebelum menekan tombol hijau untuk menghubunginya dia lebih dulu melihat jam yang berada di dinding.
"Apakah aku tidak akan mengganggunya jika aku menelepon di jam segini," ucap Bian saat dia melihat waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 malam.
__ADS_1
Namun, karena hatinya yang gelisah dia tidak memikirkan apapun lagi. Tidak memedulikan jika dia akan mengganggu pengantin baru itu. Belum juga Indra mengangkatnya, Bian sudah memutuskan sambungan telepon.
"Ini tidak bisa! Aku akan kena omelannya kalau aku mengganggunya," kata Bian mendesah berat.
Baru saja dia beranjak dan menyimpan ponselnya di atas ranjang. Ponselnya berdering. Wajah yang semula di Teluk kini berubah semringah seketika.
"Ada apa malam-malam, anak kecil!" terdengar geram suara itu, namun begitu menyejukkan bagi Bian. Indra bisa mendengar ******* berat itu.
"Kamu belum bisa meluluhkannya?" tanya Indra, Bian lagi-lagi mendesah berat dengan pertanyaan itu.
"Ya, begitulah. Apalagi kau tahu tadi." Helaan napas berat kembali terdengar. "Tuan Krisna datang di waktu yang tidak tepat!" gerutunya dengan kesal.
"Memang kamu pikir saat aku mendekati istriku tidak ada penghalang? Aku lebih parah darimu!" sahut Indra dengan dingin, terdengar dia sedang menengguk minuman.
"Apa yang dilakukan Tuan Krisna terhadapmu?" tanya Bian penasaran.
"Sebenarnya aku sudah tidak ingin mengungkitnya. Hanya saja waktu itu istriku sampai membenciku dan tidak ingin menemuiku. Saat aku datang Tuan Krisna selalu datang bahkan menjadi penghalang saat aku mencoba menjelaskan. Lalu kamu akan menyerah dengan semudah itu, hmmm,"
"Jika aku tidak berjuang, aku akan menjadi orang yang paling menyesal. Aku akan menyesal karena tidak mengejarnya dan penyesalanku tidak akan hilang ketika aku tidak bisa memilikinya, ya, meski aku tidak tahu dia akan menerimaku kembali atau tidak,"
"Ya, sudah! Perjuangkan saja. Dia setia menurutku, di saat aku selalu bersamanya dia sama sekali tidak merasa terpesona denganku. Padahal aku lebih segalanya dibanding kamu!" sindir Indra dengan pedas. Bian mendengus mendengar ocehan Indra.
"Kau!" seru Bian. "Baiklah aku akan tetap mengejarnya apa pun yang terjadi," sahut Bian. Indra langsung mematikan sambungan teleponnya.
Nita menghampiri Indra dengan memicingkan alisnya. "Kenapa?" tanya Nita saat dia menghampiri suaminya yang tengah berada di balkon.
***
__ADS_1
selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalakannya😇