
Jam makan siang telah datang, Indra datang kali ini untuk berkunjung menemui Nita, membawa makanan untuk karyawan Nita. Ketika dia telah menyimpan bingkisan itu, Karina menarik tangan lelaki itu untuk berbicara di luar. Indra tersenyum nakal kearah gadis itu.
"Padahal semalam baru saja kita bertemu, kenapa anda begitu merindukan saya," goda Indra, matanya mengerling membuat Karina bergidik. Mengusap kedua tangannya seolah sedang merasa kedinginan.
"Amit-amit, rindu dengan lelaki mes*m seperti kamu. Ternyata anda tidak mendengarkan saya untuk menjauhi Mbak Nita." Karina menunjuk kearah wajah lelaki itu dengan kesal. Indra memegangi tangan gadis sembari berjalan perlahan, Karina pun berjalan mundur, jika dirinya tidak melakukan itu, jarak diantara mereka akan berhimpitan.
"Hati-hati terlalu benci, bisa jadi cinta." Bibirnya menyeringai, Karina semakin murka dengan ucapan lelaki itu, dia langsung menghempaskan tangan Indra dengan kasar.
"Tidak akan pernah!" Karina mengelap tangannya yang seolah jijik telah dipegang oleh Indra.
Bukannya masuk dan menemui Nita, Indra malah semakin menjadi-jadi menggoda gadis itu. Dia kembali menyeringai dan mengamati penampilan Karina dari ujung rambut hingga ujung kaki. Gadis itu sedang mode level waspada. Dia menyilangkan dadanya, dengan mata memelototi Indra.
"Apa yang kamu pikirkan? tutup matamu Tuan Indra!" seru Karina mulai risih. Indra memutar badan untuk melangkah, Karina menghela napas lega. Namun, ketika Indra akan masuk dia malah berjalan mundur, Karina frustrasi dia langsung mendorong tubuh lelaki itu hingga tersungkur kelantai.
"Ahhhhh!" teriak Karina, membuat 3 karyawan dan Nita langsung berlari keluar.
"Kenapa Karin?" tanya ketiganya serempak. Imam yang melihat Indra tengah tengkurap di lantai langsung membantu Indra untuk bangun. Rindi dan risma saling memandang dan menatap Karina dengan tatapan meminta penjelasan.
"Apa yang dia telah lakukan pada Tuan Indra, dia 'kan yang membawa Tuan Indra keluar. Jangan-jangan dia yang mendorong Tuan Indra hingga tengkurap di lantai begitu," bisik Risma, Nita yang jelas mendengarnya pun langsung memecah Rindi dan Risma yang tengah bsisik-bisik.
Rindi dan Risma melotot tidak percaya jika bos-nya langsung keluar dan melihat keadaan, "bawa masuk dia kedalam ruangan saya Imam," perintah Nita tegas, Imam menurut dia langsung membawa lelaki itu masuk kedalam toko.
Nita mengembuskan napas kasar, dan melihat Karina dengan wajah tidak percaya, memijit keningnya yang terasa berdenyut. Nita pun menoleh kearah Rindi, dan Risma. Keduanya salah tingkah saling menyikut, mereka pun berlari untuk kedalam melanjutkan makan siangnya.
"Kamu tahu tindakkan kamu itu sungguh tidak sopan, Karin. Saya harap kejadian ini tidak terulang lagi," Nita pun melangkah masuk, dia tidak mendengarkan Karina untuk menjelaskannya.
"Mbak ... jika kamu tahu, pasti kamu tidak akan berkata seperti itu,' gumamnya dengan pelan, meski Nita sudah tidak berada di hadapannya.
Dengan langkah gontai, Karina akan masuk. Namun, langkahnya terhenti ketika Krisna datang. Karina langsung memutar otak untuk menghentikkan Krisna agar lelaki itu tidak masuk kedalam. Meski dia takut, tetapi dia tidak ingin tokonya menjadi tempat perkelahian.
__ADS_1
"Hallo Tuan Krisna," sapa Karina, saat Krisna akan masuk.
"Mbak Nita, tidak ada di dalam, sabaiknya ka-anda datang lagi nanti. Atau mengabarinya saat mau berkunjung," titah Karina, Krisna yang semula hanya menatap kearah depan, menoleh kearah Karina dengan tatapan dingin.
"Berikan ini padanya." Krisna memberikan bingkisan itu. Karina mengelus dada.
***
Nita tengah mengompres dada Indra yang sedikit memar. Semula berjalan dengan biasa. Namun, ketika tatapan mereka bertemu, debaran jantung Nita berpacu dengan cepat. Rasa yang tidak biasa dia rasakan.
Nita buru-buru memalingkan tatapannya kearah lain. Serta meminta Indra untuk memegang kompresannya.
Nita berjalan menuju kursinya. Dia memutar balikan kursi dan mengipaskan tangannya keleher. Setelah merasa tenang dia memutar kembali kursinya dan menghadap Indra.
"Jadi apa rencana anda untuk selanjutnya. Masih tidak akan menyerah untuk mendapatkan cinta lama yang belum kelar itu," tanya Nita, Indra menatap Nita dengan dalam. Membuat wanita itu salah tingkah.
"Bagaimana kalau Nona Nita mengundang dia untuk makan di luar?" Saran Indra, Nita tampak berpikir.
"Pakailah caramu sendiri, jangan membawa-bawa saya. Saya hanya jadi penasihat saja," tolak Nita secara halus.
"Jika saya membawa cincin untuk melamarnya bagaimana?" Indra mengutarakan keinginannya.
"Kamu itu mau mengambil hatinya, bukan. Jangan terlalu buru-buru. Nanti dia malah semakin menjauh karena kamu terlalu gercep." Nita tampak tidak setuju dengan keinginan Indra.
"Saya tidak suka kalau lama-lama menunggu, Nona," resah Indra, merasa Nita terlalu membuang waktunya.
"Kalau mau dicoba silakan. Tapi, jangan datang pada saya kalau Kia tidak mau menemui anda lagi." Nita mulai bekerja kembali. Indra memandangi Nita yang tengah serius bekerja.
"Bian pernah berkata kalau dia mencintai wanita ini. Dan kurasa memang dia menarik," batin Indra.
__ADS_1
Nita mendongak dan mendapati Indra yang tengah memandangnya. "Pulang sana. Jam istirahat sudah habis." Nita mengusir lelaki itu. Indra pun menyimpan kompresannya dan mengancingkan lagi kemejanya. Dia juga menyampirkan jasnya di bahu. Membuat otak kotor Risma seketika hadir ketika mereka tanpa sengaja berpapasan.
Ketika Indra sudah pergi dari toko, Risma langsung menyampaikan berita yang sempat dia lihat.
"Imam, menurut kamu kalau lelaki keluar dengan mengancingkan kemeja dan menyampirkan jasnya di bahu, apa yang telah terjadi?" Imam mengernyit dengan pertanyaan Risma. Namun, dia teringat Indra yang keluar dengan keadaan seperti itu.
Imam menyentil dahi gadis itu karena berpikiran me*um.
"Tuan Indra yang kamu maksud? Dia baru saja di kompres oleh Mbak Nita, karena jatuh membuat dadanya memar. Buang jauh-jauh pikiran mes*mmu itu." Imam pun meninggalkan Risma, dia malas jika harus mendengarkan gadis itu bergosip.
Karina menghadang Imam, "kenapa Karin?" Imam lagi-lagi dibuat bingung oleh gadis-gados pekerja toko bosnya.
"Emmm, parah banget nggak sih, Mam, itu memar Tuan Indra?" Tanya Nita tampak khawatir.
"Au, ah. Kamu kasar jadi cewek, Karin." Imam pun pergi tanpa memberitahukan pada Karina.
***
Pukul empat sore Krisna datang lagi. Namun, kali ini dia mengirimi pesan lebih dulu. Dia tidak ingin kedatangannya dengan tangan kosong lagi seperti tadi siang.
Nita membalasnya dan mengatakan jika dirinya ada toko. Krisna langsung datang untuk menemui mantan istrinya.
Toko hari ini telah tutup dan Nita pun meminta Krisna untuk menunggunya di depan. Nita berdiri menenteng tasnya dan mengatur napasnya. Dia harus menyudahi kesalahpahaman antara dirinya dan mantan suaminya itu.
Nita mengunci toko, mereka langsung berjalan untuk masuk kedalam mobil Krisna. Krisna berulang kali menoleh kearah Nita dengan senyuman yang bahagia.
"Semoga saja kamu akan membuka hatimu lagi untukku, Ta. Aku sungguh akan berubah, dan mencoba tetap setia untukmu."
***
__ADS_1