
S2. RI, Bab80. Pertemuan.
***
Nita hanya tidur beberapa jam, semalaman dia terjaga memikirkan perdebatan dirinya dan Krisna. Semakin dia berusaha menolak, Krisna semakin gencar mengejarnya. Apalagi setelah kepergian Bian, yang cukup lama meninggalkan Nita.
Dia membasuh wajahnya lalu berjalan untuk sarapan, setelah sampai di meja makan Ana melayangkan pertanyaan pada Nita.
"Nona, mmm, anu, semalam saya mendengar suara tuan Krisna, apakah dia tengah malam berkunjung untuk bertemu dengan anda?" tanya Ana pada Nita, wanita itu menatap Ana dengan wajah yang datar lalu memicingkan matanya.
"Menurutmu Mbak, siapa lagi yang akan melakukan hal konyol, dan nekad seperti itu,"
"Lalu apakah hati anda akan goyah? mengingat Tuan Bian, sekarang tidak ada di dekat anda," tebak Ana, Nita yang semula tengah mengunyah dengan santai langsung tersedak. Nita buru-buru meminum air, lalu meninggalkan Ana dan tidak memberikan jawaban.
Ketika dia sudah berada di kamarnya, "apakah aku akan goyah? pertanyaan macam apa itu, membuat sakit kepalaku." Nita memegangi kepalanya lalu membaringkan tubuhnya di ranjang. Baru saja dia akan memejamkan mata, dia teringat sesuatu.
"Kepalaku pusing, tetapi aku harus menetapi janjiku," ucap Nita sembari memaksakan tubuhnya untuk berdiri. Dia memegangi kepalanya yang semakin berdenyut. Namun, Nita malah tertidur hingga dia tidak mengangkat panggilan telepon dari Indra.
Dua puluh menit tertidur, dia pun perlahan mulai membuka matanya dan langsung berdiri, di saat dia akan berjalan kekamar mandi dia melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah 10.
"Ya Tuhan, aku pasti kesiangan, padahal dia sudah memintaku untuk menemaninya." Nita buru-buru untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai dia langsung berdandan dan menghubungi Indra.
"Ya ampun tidak dijawab, apa dia marah padaku," tebak Nita, di saat dia tengah memikirkannya ponselnya berdering. Indra, lelaki itu menelepon balik pada dirinya. Nita langsung mengangkatnya.
["Maaf, saya barusan sedang sibuk. Datang saja kekantorku pukul dua siang, saya akan rapat dulu."]
["Eh, ta---"] ucapan Nita terpotong karena panggilannya sudah di matikan, Nita mengembuskan napas kasar.
***
__ADS_1
"Mbak Ana," panggil Nita ketika dia keluar dari kamarnya dan mencari Ana. Namun, Ana tidak dia temukan di manapun, tetapi ada satu tempat lagi yang belum dia tuju. Taman belakang, wanita itu pasti di sana.
"Benar kan dia di sana," gumam Nita sembari tersenyum melihat Ana yang tengah merawat tanamannya.
"Eh, Non Nita, ada apa gerangan sudah berdandan. Apakah hati anda goyah dan mulai berkencan dengan Tuan Krisna?" Nita mendelik ketika tebakan Ana begitu salah besar.
"Mbak ingin aku hanya berdiam saja di rumah. Aku sudah lama tidak mengunjungi toko, aku akan kesana. Selama setahun lebih aku hanya berdiam di rumah sangat membosankan, semua karena aku tidak ingin bertemu dengan Krisna. Tidak ada alasan lagi untuk kami rujuk Mbak, dia mengejarku hanya ingin menjadikan aku baby sitter. Sudahlah Mbak, kamu membuat saya jadi tukang gosip." Nita meninggalkan Ana, dan memanggil taksi online untuk menuju tokonya.
***
Nita memandangi toko yang sudah 2 tahun dia kelola untuk menyibukkan ritunitasnya. Bermula dari rasa sakit yang teramat dalam hingga membuatnya enggan untuk melakukan apapun.
Tetapi selama satu tahun setengah dia tidak mengunjungi toko yang susah payah dia kelola. Dia hanya akan mengamati dari CCTV dan juga laporan harian dari Karina yang dia percayai untuk menjadi tangan kanannya.
Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman, bahkan dia tidak menyadari jika pegawai toko sudah menyambut kedatangan bos mereka yang sudah lama tidak berkunjung.
"Sepertinya Mbak Nita tengah melamun," ucap Rindi.
"Selamat datang Mbak Nita," sapa dari keempat orang itu.
Nita tersenyum dan mulai berjalan-jalan untuk melihat tokonya. Dia tidak menyangka jika tokonya kecilnya akan bertahan sampai saat ini hingga banyak barang yang sampai tidak tersimpan di tempatnya.
Kini dia mulai menuju mes tempat karyawannya beristirahat. Begitu terkejutnya dia ketika tempat untuk tidur karyawannya sudah dijadikan gudang untuk penyimpanan stock barang.
Buru-buru dia mencari Karina, "Karina aku ingin bicara." Karina melihati kedua rekannya merasa takut jika dia sudah melakukan kesalahan.
"Eh, apa menurut kalian aku melakukan kesalahan? nada suaranya begitu tegas, aura pemilik toko galak begitu terlihat jelas," kata Karina yang merasa takut.
"Cepat masuk, baca doa saja." Ketiganya hanya meledek Karina yang gugup. Biasanya gadis itu akan terlihat santai saat konsumen yang komplen ketika barangnya sedikit cacat.
__ADS_1
Karina mulai mengetuk pintu dan masuk kedalam. Namun, belum juga Nita memberikan pertanyaan Rindi datang memberitahukan Nita jika ada tamu untuknya.
Nita-pun akhirnya menyuruh Karina untuk bekerja lagi. Dia langsung menuju kedepan. Nita memicingkan matanya karena dia tidak mengenali lelaki itu.
Lelaki itu mengulurkan tangannya, "mohon bantuannya Nona, saya Indra Wiguna," sapa Indra, Nita menatap tangan lelaki itu seolah enggan untuk membalasnya. Indra pun mengerti, dia menarik tangannya lagi.
"Mari masuk, kita mulai melihat-lihat kamar hotel," ucap Indra, wanita itu semakin dibuat bingung. Bukankah akan membuat acara lamaran?
Ketika Nita sudah berada dalam mobil, sudut matanya tidak berhenti melihat lelaki muda di sampingnya. Indra pun memberikan tablet yang tengah dipegangnya pada Nita untuk memilih dekorasi yang bagus dan unik.
"Kamu akan melamar atau akan malam per-ta-ma?" tanya Nita keheranan. Lelaki itu memicingkan matanya tidak mengerti.
"Kenapa? mantan pacarku dulu memberikan kejutan seperti ini untuk membuat saya terkesan," jawabnya dengan bangga.
"Beginikah pacaran anak muda zaman sekarang." Nita menggelengkan kepalanya.
"Bukankah anda berpengalaman, saya tahu anda ... mungkin saya tidak perlu mengatakannya," kata Indra membuat Nita menatap tajam padanya. Lelaki itu langung memalingkan pandangannya ketika mendapat tatapan tidak bersahabat dari Nita.
"Jagal, janda galak!"
"Aku mendengarnya Tuan Indra, anda menghina status saya!"
"Eh, kenapa? saya tidak pernah berpikiran seperti itu, meski memang di mata masyarakat janda memang di cap buruk. Tetapi saya yakin jika setiap orang mengakhiri pernikahan karena mungkin, memang hubungan mereka sudah tidak sehat dan tidak mungkin untuk hidup bersama," terang Indra panjang lebar.
"Lalu apa kamu yakin dengan pilihanmu ini? aku rasa kamu masih suka bermain. Bisa-bisanya ingin melamar seorang gadis," ledek Nita membuat Indra mengusap rambutnya untuk menghilangkan rasa canggung.
"Baru kali ini bertemu dengan wanita bermulut pedas. Seperti dia saja," batin Indra.
"Hanya formalitas saja, memangnya kalau melamar identik dengan pernikahan?"
__ADS_1
"Dasar me*um, turunkan saya saja. Aku tidak mau membantu orang seperti anda!"
***