
Seminggu telah berlalu dari ancaman Krisna. Kia kini mulai berubah, dia menjadi gadis yang berusaha untuk mendekati Indra. Gadis itu menyingkirkan rasa malunya demi keinginan Krisna yang tidak jelas apa maksudnya.
"Kamu menikah dengan Indra atau dia akan aku jual!" Sebuah ancaman yang dilontarkan Krisna membuat Tazkia tidak bisa berkutik. Haruskah dia mengatakannya pada Nita. Dia yakin jika Nita akan membantunya dan pergi dari rumah seperti neraka.
Tetapi keponakannya, dia masih mempunyai hati dan tidak mungkin meninggalkan keponakannya dalam genggaman Krisna.
"Haruskah aku melakukan hal ini Mas Krisna." Kia bertanya pada diri sendiri saat dirinya tengah bercermin. Tangannya yang tengah berada di meja ia kepalkan kuat-kuat.
Memejamkan mata dalam beberapa menit, mencoba menyiapkan hati ketika dia harus bersikap manis pada Indra. Hati kecilnya mengatakan jika dia harus mengatakan pada Ari, agar dia bisa membantunya.
Tetapi rasa takutnya terhadap Krisna membuat Kia tidak berani mengatakannya. Haruskah dia melakukan hal ini semua? bagaimana dengan tanggapan Ari terhadapnya.
Seperti biasa Indra datang lagi pagi ini. Lelaki itu keluar mobil ketika Kia sudah datang. Dia juga membukakan pintu depan. Kia tersenyum manis meski tampak dipaksakan.
"Tuan Indra mengemudi, ya, aku ingin duduk disampingmu," pinta Kia, alis Indra menaut melihat tingkah Kia. Indra hanya bisa bertanya-tanya ada apa dengan gadis kecil itu.
Dia bahkan sampai mengangkat tangannya untuk di tempel ke dahi Kia. Dia takut jika Kia tengah demam hingga membuat gadis berusia dua puluh tiga tahun itu menjadi genit padanya.
Sikapnya seperti dalam tekanan. Bahkan perilakunya sungguh tidak natural dan dibuat-buat. Embusan napas kasar telah dia lakukan berulang kali. Apa yang sebenarnya terjadi? Indra terus bertanya-tanya dalam hatinya.
Kia bergelayut manja di lengan Indra, sebenarnya dia tidak mempermasalahkannya. Tetapi ada Nita di dalam mobil. Dia tidak ingin membuat wanita itu terluka karenanya. Dia sudah mencoba mendekatkan diri dan mencoba sedikit demi sedikit untuk mengungkapkan secara terang-terangan bahwa dirinya mencintai Nita.
"Eh, ada Mbak Nita. Selamat pagi." Matanya langsung tertuju kearah depan di setir kemudi. Embusan napas lagi-lagi terdengar berat. Sebelum masuk dia mendapatkan pesan dan tingkah gadis itu kembali menjadi pertanyaan di antara ketiganya.
"Mbak tempatnya boleh tuker, aku mau dibelakang," pinta Kia, Nita mengangguk mantap tanpa menolak. Mereka pun beralih tempat.
Sepanjang perjalanan Kia terus mengungkit masa lalu mereka. Bahkan kata tidak biasa itu membuat Ari bingung. Lelaki itu heran dengan tingkah Kia. Saat seminggu yang lalu dia datang kerumah Nita, tetapi satpam mengatakan jika gadis itu diseret paksa oleh lelaki untuk pulang.
Semenjak itu perubahan sikap Kia begitu bertolak belakang dengan apa yang dia ucapkan sebelumnya.
__ADS_1
Ari yakin jika Krisna telah mengancamnya.
"Kamu masih ingat saat kamu memintaku untuk datang di saat usiaku delapan belas tahun?" Tanya Kia. Kening Indra mengerut, lantas dia menyimpan iPad-nya dipangkuan.
"Bukankah sudah pernah kita bahas, hmm," jawab Indra, lelaki itu menatap kearah Nita dengan tatapan tidak biasa. Kia lagi-lagi menghela napas panjang lalu mengeluarkannya secara perlahan.
"Aku ingin kamu menebus rasa sakit itu sekarang!" Indra yang semula menatap kedepan, kini beralih menoleh kearah Kia.
"Apa maksudmu gadis kecil, kamu selamanya akan menjadi gadis kecilku." Indra mengusap puncak kepala Tazkia.
"Nikahi aku, sesuai janjimu." Tanpa keraguan Kia mengatakannya. Indra mengerjap tidak percaya dengan keinginan Kia.
"Pikirkan baik-baik." Tatapan memohon begitu terlihat jelas di pelupuk mata gadis itu. Indra pun menjawab.
"Ya, baiklah. Akan aku pikirkan,"
***
"Nona Nita, percayalah saya hanya mencintai kamu,"
Nita mengembuskan napas kasar. Dia tetap berjalan dengan cepat tanpa ingin mendengarkan ucapan lelaki itu. Semalam saat mereka mencari Karina. Lelaki itu mengungkapkan isi hatinya.
Awalnya Nita tidak menyangka jika cintanya terbalas. Dia sempat merasa bahagia, tetapi setelah mendengar ucapan Kia membuatnya merasa jika takdir memang tidak memihak padanya.
Nita berhenti sejenak lalu memandang Indra dengan tatapan dingin.
"Berhenti mempermainkan perasaan orang. Aku sudah berpengalaman, dan kamu bagiku hanya anak ingusan. Jadi tolong jangan ganggu hidupku lagi," cerca Nita lantas Nita langsung berlari menuju tokonya.
Indra tidak bisa memasukinya. Di sana sudah ada Karina yang sudah menghadang Indra dengan cepat.
__ADS_1
"Pergi Tuan Indra jangan membuat masalah,"
Indra tetap kukuh, dia ingin tetap masuk kedalam sana untuk menjelaskan semuanya. Padahal Indra belum memutuskan mengapa Nita sudah marah padanya.?
Indra menyugar rambutnya frustrasi, ini semua karena Kia. Tetapi apakah dia harus memarahi gadis kecil itu Indra pun dengan lesu berbalik arah untuk menuju mobilnya kembali.
"Kia maksud kamu apa?" Tanya Indra dengan wajah kusutnya. Tetapi Kia tidak menjawab, gadis itu bergeming di tempatnya tanpa menghiraukan perkataan Indra.
Dari arah yang tidak jauh, seseorang tengah melihat pemandangan itu. Hatinya bersorak, saat dia melihat adegan itu di hadapannya.
"Bagus Kia!" Lelaki itu tertawa sinis, lalu mulai memarkirkan mobilnya di pelataran toko Nita.
Indra yang belum beranjak pergi dari sana melihat Krisna yang tengah memarkir mobilnya. Lantas lelaki itu mengamati gerak-gerik Krisna yang mulai turun dari mobilnya. Indra pun ikut turun saat lelaki itu sudah melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam toko.
Indra langsung memegang bahu Krisna kasar, hingga senyum jahat itu muncul saat Indra mencengkram kuat bahunya, inilah yang dia mau. Dan dia berharap Indra memukulnya sehingga membuat Nita membenci lelaki itu karena telah melakukan kekerasan.
Tangan Indra mengepal kuat disamping pahanya. Tangannya mengayun untuk melayangakn sebuah pukulan. Tetapi Indra ingat jika ini masih berada di pelataran toko Nita.
"Apa mau anda Tuan Krisna!" kelakar Indra dengan tatapan tajam.
"Saya ingin anda menikahi adik saya, sesuai apa yang telah anda utarakan saat itu," pinta Krisna, tangan yang semula ia masukkan kedalam saku, kini ia lipat di bawah dada. Krisna mengangkat bibirnya sebelah, sedangkan Ari dari dalam hanya mengamati tanpa ikut campur dalam urusan mereka.
Kesalah pahaman di antara dua lelaki yang berbeda itu memang seharusnya segera di selesaikan dengan berbincang. Meski memang akhirnya tidak akan berakhir dengan baik.
"Mas Ari, kamu harusnya membantu tuan Indra. Jangan sampai Mas Krisna menyakiti dia," pekik Kia, gadis itu khawatir jika Indra akan terluka oleh saudarnya.
Tangan Indra lagi-lagi mengayun kearah wajah Krisna. Tetapi Indra tidak memukulnya.
"Ah, Mas Ari!" teriak Kia dengan menelengkupkan tangannya di wajah. Tanpa ia sadari mobil itu telah mulai menyala dan pergi meninggalkan pelataran toko Nita.
__ADS_1
***