Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Bab22. Diam Di Rumah!


__ADS_3

Bab22. Diam Di Rumah!


***


Setelah perdebatan yang terjadi antara Nita dan Krisna semalam membuat wanita itu enggan untuk bertemu dengan Krisna saat ini. Nita memilih mengurung diri di kamar. Sampai mereka berdua pergi.


Saat ini dia masih merasa sakit dengan perlakuan Krisna yang menurutnya berlebihan. Entah apa yang ada di dalam pikirannya hingga melakukan hal semacam itu. Dia sudah berusaha sabar untuk tidak mengusik kebahagiaan mereka. Tetapi Krisna merusak kebahagiaan Nita di saat dia mendapatkan orang yang mungkin tulus ingin menemani hari-harinya.


Krisna yang tidak juga melihat batang hidung Nita begitu khawatir. Wanita itu sungguh marah padanya. Biasanya dia akan tetap makan jika perdebatan kecil terjadi. Tetapi kali ini? Apakah dia semalam berlebihan. Tetapi dia tidak suka jika Nita begitu dekat dan terlihat intim di mata Krisna.


Kasih sedari tadi berbunga-bunga, ketika Nita tidak kunjung keluar dan ikut bergabung untuk sarapan. Senyuman licik tersungging ketika Krisna sesekali menatap kosong. Dan menunggu Nita untuk keluar dari kamarnya.


Sekretaris Ari datang untuk menjemput Krisna. Kasih pun ikut berdiri dan mengantarkan Krisna untuk kedepan.


"Hati-hati ya, sayang," ucap Kasih, dia membenarkan dasi serta jas suaminya. Lalu tidak lupa mengecup pipi dan kanan suaminya. Krisna mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Bahkan dia tidak mengecup kening Kasih.


Alih-alih marah. Kasih hanya tersenyum saja. Mengingat perubahan sikap suaminya karena rasa bersalah pada istrinya.


Sekretaris Ari membungkukkan badan dan pergi dari sana.


Nita yang sedari tadi hanya berdiri di depan jendela dan melihati mereka pun hanya memandanginya dengan datar. Tidak ada tangisan lagi untuk saat ini. Bahkan setetes pun tidak ia jatuhkan.


Ponsel Nita berdering, ya, siapa lagi jika bukan Bian yang menghubunginya. Mungkin saat ini dia akan tetap berdiam diri di kamar.


["Ya,"] sahut Nita.


["Sepertinya kamu sedang galau, ya? Makanya aku meneleponmu untuk mengurangi rasa sedihmu itu,"] ujar Bian.

__ADS_1


["Duh, ngarang. Sok tahu sekali kamu,"] seloroh Nita dengan kekehen kecil.


["Salah duga berarti, ya? Kukira kamu sedang galau. Soalnya aku juga sedang galau, Mbak,"]


["Wah, panggilanmu ada kemajuan juga menjadi Mbak. Nggak kamu-kamu lagi, rindu-rindu lagi, ahhhh, bosan aku,"]


["Malah nyanyi, Mbak. Aku serius sedang dirundung kegalauan,"]


["Bisa ketemu tidak, Mbak?"] Pertanyaan itu sanggup membungkam mulut Nita.


Harus bagaimana dia sekarang. Semalam Krisna melarangnya untuk dekat lagi dengan Bian. Tetapi dia juga butuh teman untuk meredakan sakit hatinya.


["Di tempat biasa, ya. Bye,"] telepon pun dimatikan.


Mbak Ana yang akan masuk kedalam kamar pun dibuat terkejut ketika Kasih tengah menguping pembicaraan Nita. Ingin melarang tetapi enggan. Akhirnya dia hanya bisa menunggui wanita itu pergi.


Kasih yang akan berbalik dan melihat Mbak Ana di sana pun terkejut, ia bahkan mengelus dada. Untung saja dia tidak menjerit, jika iya dia akan ketahuan oleh Nita.


"Awas ya, anda, kalau memberitahu Nita aku mengupingnya. Aku pasti akan membuat kamu di pecat dari sini," ancam Kasih dengan tatapan tajam kearah Mbak Ana.


Mbak Ana mengangguk patuh. Dia bisa apa, jika menyangkut pekerjaan dia tidak bisa berbuat banyak untuk majikannya itu, selain menurut.


"Saya kira dia berbeda dengan kebanyakan madu lainnya. Ya, tapi namanya istri kedua selalu ingin menjadi yang paling unggul. Akhirnya dia melakukan segala cara agar pernikahan istri pertama suaminya hancur. Semoga cinta Nona Nita, dan Tuan Krisna bisa kokoh. Dan bahkan bisa menendang madu yang tidak tahu diri itu," batin Ana.


Mbak Ana langsung mengetuk pintu dan langsung masuk ketika Nita menyuruhnya masuk. Dia gugup bukan main ketika memasuki kamar Nita. Sampai Nita dibuat bingung olehnya.


"Ada yang ingin di bicarakan Mbak Ana?" tanya Nita. Namun, Ana menggeleng dia memilih pergi dari pada dia harus mengatakannya. Dan berakhir dengan pekerjaannya yang hilang. Dia lebih memilih pamit undur diri.

__ADS_1


***


Nita kini sudah dalam perjalanan pergi ketempat tujuan. Kali ini dia tidak meminta izin pada Krisna. Dia akan tahu bagaimana akhirnya jika dia meminta izin. Kasih pun mengikutinya dari belakang. Sedangkan Nita sama sekali tidak merasa curiga.


Meskipun perasaannya merasa diikuti. Tetapi siapa yang kepo akan kehidupannya. Krisna tidak akan melakukan itu. Nita turun dari taksi dan masuk dengan cepat kedalam mall. Dia berulang kali menoleh kearah belakang ketika rasa diikuti semakin tajam ia rasakan.


Hingga tidak sengaja dia menubruk seseorang. Sampai orang itu memeluk pinggang Nita menahannya agar tidak terjatuh. Tatapan mereka bertemu saling terkejut.


Kasih yang merasa rencananya berjalan mulus langsung memotretnya untuk dia kirimkan pada Krisna. Dia tidak perlu repot-repot untuk menyuruh pelayan membuat mereka melakukan adegan romantis bukan.


Beberapa photo dia ambil, tidak lupa ia kirimkan pada Krisna. Dengan kata-kata dia tanpa sengaja bertemu dengan Nita hari ini dan melihat mereka tengah bermesraan di tempat umum. Kasih sangat senang mengadu dombakan mereka. Dan terjadi salahpaham.


"Kita tunggu sampai dimana perbicangan mereka terjadi. Sebelum Krisna datang." Senyuman licik ia perlihatkan di saat dia melihat Krisna datang lebih cepat.


"Maafkan saya ya, Mbak Nita. Saya kira saya bisa menerima kenyataan jika saya ini seorang madu. Tetapi, saat ini saya ingin menjadi istri satu-satunya. Dulu saya memang bisa menerima, seiring berjalannya waktu saya cemburu melihat perhatian dan perilakunya yang baik dan lembut pada anda," gumam Kasih dia menunggu saat Krisna datang dan membuat kehebohan di dalam mall itu.


Sebelum Ari sampai ke mall dia sudah memesan tempat khusus untuk tuannya. Agar mereka bisa leluasa untuk berbincang apapun, dia juga takut jika hal yang tidak diinginkan terjadi.


Krisna sudah tiba di sana. Ari datang ketempat Nita dan Bian yang sedang bercanda ria, Nita tengah menjadikan guyonan tentang kebimbangan Bian. Bibir Nita langsung terkatup kala Ari datang dan meminta mereka untuk berpindah tempat.


Mereka sudah tiba di ruangan yang Nita dan Bian yakini jika ini ruangan khusus. Krisna menatap tajam kearah keduanya bergantian. Dia yang semula duduk dengan kaki yang sebelah ia silangkan, berjalan kearah Bian.


Krisna berdiri dan mengamati penampilan lelaki yang telah berani membawa istrinya keluar. Lelaki itu meregangkan otot-ototnya yang merasa pegal. Nita yang was-was pun langsung menutupi tubuh Bian agar tidak di buat babak belur oleh Krisna.


"Apa yang kamu mau, Kris." Nita merentangkan tangannya agar ada jarak diantara Bian dan Krisna.


"Sudah aku bilang, kamu jangan keluar rumah. Dan tetap berdiam diri di rumah Nita!" Teriak Krisna sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2