
Bab11. Sebuah Pengakuan.
***
"Nona," panggil mbak Ana ketika ia melihat Nita yang masih berdiri di depan jendela kamarnya. Nita masih setia menatap kedepan. Dia masih merasa sakit ketika melihat kemanjaan Kasih dan disambut dengan manis oleh suaminya--Krisna.
Nita membalikkan tubuhnya kearah mbak Ana dengan air mata yang terus berjatuhan. Begitu pilu melihat kesedihan majikannya. Lalu mbak Ana bisa apa untuk menghibur majikannya.
"Menangis saja Nona, agar beban anda bisa berkurang." Nita langsung memeluk mbak Ana dengan kencang. Wanita itu menangis tersedu-sedu di bahu mbak Ana. Mbak Ana yang ikut merasakan kesedihan Nita hanya bisa mengelus punggung Nita dengan lembut.
"Aku ingin meninggalkan dia Mbak, tetapi aku terlalu menyayanginya. Aku tidak bisa menolak keinginannya untuk menikahi wanita lain. Apalagi dia tidak mencintaiku Mbak," lirih Nita dengan terisak.
"Iya, Nona. Mbak, mengerti akan sulit rasanya jika ingin meninggalkan tetapi rasa yang hadir lebih besar dibanding rasa kecewa itu." Mbak Ana terus menenangkan hati Nita.
15 menit lamanya Nita menangis di bahu Mbak Ana. Setelah itu Nita melepaskan pelukan itu secara perlahan. Dia juga meminta maaf mengingat mbak Ana jadi terbengkalai pekerjaannya. Tetapi mbak Ana tidak merasa direpotkan. Ia justru merasa bahagia karena Nita mau membagi rasa sakitnya.
Mbak Ana pun pamit undur diri kebelakang. Dia juga memberitahukan pada Nita jika butuh sesuatu panggil saja namanya. Ponselnya berdering tanda pesan masuk. Nita membukanya lalu ia menangis kembali.
Krisna dengan tidak punya hati mengirimi dia potret kemesraan mereka yang tengah berada di kantor.
"Kenapa kamu harus melakukan ini padaku, Kris," lirih Nita. Ia menekuk lututnya dengan derai air mata yang kembali membasahi pipinya.
***
Sekitar pukul sembilan malam Krisna dan Kasih baru pulang. Tidak ingin membuat Kasih marah kembali dia mengabaikan Nita. Sebelum istri mudanya itu telelap. Tetapi baru saja mereka berganti pakaian Kasih langsung tertidur.
Krisna langsung menuju kebelakang dan menanyakan perihal Nita pada mbak Ana.
__ADS_1
"Cari apa Tuan?" Tanya Ana ketika dia melihat Krisna tengah celingak-celinguk mencari sesuatu.
"Kebetulan sekali Mbak ada di sini. Saya ingin menanyakan keadaan Nita, tadi sebelum berangkat bekerja dia sakit. Apa dia sudah meminum obat?" tanya Krisna. Mbak Ana tampak terkejut mengingat dia tidak tahu apa-apa tentang keadaan Nita. Yang dia ketahui hanya Nita bersedih melihat kemesraan mereka.
"Saya tidak tahu Tuan, tadi saya hanya membawakan makan siang, dan malam. Tetapi Nona tidak mengatakan apa-apa tentang sakitnya," ungkap Ana. Ksrisna langsung kekamar Nita tanpa mengucapakan kata terima kasih.
Suasana di kamar itu tampak gelap karena Nita enggan untuk menyalakan lampunya. Tanpa mengetuk pintu Krisna langsung membuka pintu kamar Nita dengan perlahan. Dia takut membangunkan Nita yang sudah terlelap. Baru saja kakinya melangkah satu langkah Nita langsung menyuruh Krisna berhenti. Dia beralasan jika dia tengah memakai pakaian. Padahal dia tengah menghapus jejak air mata yang sempat terjatuh.
"Sudah selesai, Kris," ucap Nita. Krisna langsung meyalakan lampu. Agar dia bisa melihat Nita.
"Kamu baru mandi? Dan ini matamu kenapa sembab? Apakah pusing?" cerca Krisna dengan pertanyaan. Dia juga menempelkan punggung tangannya untuk mengecek apakah Nita panas atau tidak. Tetapi suhu wanita itu normal.
Nita melepaskan tangan Krisna dari keningnya. Ia juga sedikit memberi jarak dengan Krisna.
"Aku hanya butuh istirahat," sahut Nita dengan suara yang nyaris tidak terdengar. Namun suaranya amat parau seperti telah menangis.
"Siapa yang telah menyakiti kamu Nita?" tanya Krisna dengan wajah yang cemas ia mendekati Nita dan duduk di samping Nita.
Krisna menangkup wajah Nita dengan penuh selidik. Ia juga mengamati setiap inci dari wajah wanita itu.
'Kamu menangis lagi Tata, maafkan aku yang tidak tidak berperasaan memilih tinggal bersamamu. Semua ini karena Kasih ingin tinggal di sini. Aku tidak bisa menolaknya,' batin Krisna.
Nita menarik paksa tangan Krisna yang tengah menangkup wajahnya. Dia merasa risih ketika embusan napas suaminya menyapu wajahnya.
"Tidak usah berlebihan. Biasanya juga kamu tak acuh padaku Kris." Nita mengalihkan tatapannya kearah lain.
'Sebenarnya aku pun tidak ingin melakukan ini, Ta. Hanya saja kamu dapat melihat dan mendengar bagaimana perhatian yang aku berikan pada Kasih. Jika aku tidak memperlakukanmu seperti ini kamu akan merasa jika kamu tidak diharapkan dalam hidupku,' batin Krisna.
__ADS_1
"Makananmu tidak kamu makan? Kenapa? Tidak enak 'kah? Yasudah ayok kita beli makanan. Apa yang kamu mau?" Ajak Krisna pada Nita. Lelaki itu menarik tangan Nita. Namun, Nita lagi-lagi melepaskan tangan Krisna yang tengah memegang tangannya. Wajahnya terlihat tak nyaman. Bahkan wajah yang selalu tersenyum itu. Kini memperlihatkan tidak sukanya akan perilaku Krisna.
"Sudahlah Kris, jika kamu memperlakukanku begini karena kasihan. Aku rasa tidak perlu Kris. Kamu mencintainya dan aku mengerti itu. Jika padaku ... kita sebatas teman dalam pernikahan ini. Aku tidak akan merasa cemburu, iri dengki. Aku tidak akan melakukan itu," tandas Nita membungkam mulut Krisna yang akan menjelaskan semuanya. Ternyata sikapnya itu sudah terbaca oleh Nita.
"Aku ... Hanya tidak ingin kamu merasa tidak aku harapkan Ta. Selebihnya kamu pun berharga dalam hidupku," timpal Krisna.
"Aku mencintai kamu Kris, apa pun yang kamu lakukan aku akan menerimanya. Aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Hanya kamu tempat satu-satunya yang bisa aku singgahi ketika pulang. Jangan ceraikan aku karena kamu telah menikahi wanita lain, Kris," ucap Nita panjang lebar. Membuat hati Krisna tersentuh.
Baru saja ia akan pergi meninggalkan Nita, tetapi wanita itu mengakui segala perasaannya yang ia simpan seorang diri selama ini.
"Aku tidak menuntutmu untuk menjadi apa yang aku mau. Aku hanya mau kamu tetap berperilaku baik padaku. Itu semua sudah cukup bagiku, Kris," terang Nita. Lelaki itu masih setia mendengarkan tanpa berniat menjawab atau menyela ucapan Nita.
Krisna berbalik menatap Nita dengan tatapan sayu.
"Siapa yang akan meninggalkanmu, Ta. Jika aku ingin kamu pergi, aku tidak akan menikahimu walaupun aku tidak mencintaimu. Kamu akan selamanya tetap di sampingku. Kamu akan tetap selamanya berada dalam hidupku," timpal Krisna dengan senyuman tipis ia berikan pada Kasih.
Nita terharu wanita itu menjatuhkan air matanya di depan Krisna tanpa sengaja. Dia bisa bernapas lega. Jika Krisna telah melontarkan kata-kata itu.
Krisna mendekat dan menghapus air mata Nita dengan cepat. Dia tidak ingin melihat wanita itu menangis karena dirinya.
"Jangan bersedih lagi. Aku akan tetap bersamamu. Tapi ... Maafkan aku, aku tidak bisa mencintai kamu," tandas Krisna, ia masih bersalah. Setelah pengakuan Nita barusan.
"Ini sudah lebih dari cukup." Nita memegangi tangan Krisna dengan mata yang ia pejamkan.
***
Begitulah Jika perempuan mencintai, dia rela melakukan apapun. Tapi kalau mendua apa kalian akan tetap bertahan teman-teman? Jangan kayak Nita ya,$_$
__ADS_1
***
Bersambung...