
Karina keluar rumah ketika Indra sudah melajukan kendaraannya hingga tidak terlihat oleh matanya. Dia berjalan dengan lesu menyusuri trotoar di sepanjang jalan. Sesekali kakinya menendang udara melampiaskan rasa lelah yang menerpa tubuhnya.
Firasatnya mengatakan jika ada seseorang yang membuntutinya. Mobil itu, dia sejenak berpikir, merasa tidak asing. Tetapi dia menepisnya mengingat bukan hanya dia saja yang mempunyai mobil itu. Kakinya pun melangkah lagi, menghiraukan prasangka yang tidak masuk akal.
Namun, saat Karina berbalik lagi, seseorang membekap mulutnya. Bibir itu tidak bisa mengeluarkan suara ketika dirinya merasa terancam. Tubuhnya pun seolah lemah dan terkulai pingsan.
Lelaki itu menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan permintaan Bian, memaksa Indra untuk membawa gadis itu seperti ini. Indra merasa dirinya seperti seorang penculik.
["Tatap dia sepuasnya sebelum dia sadar!"] kelakar Indra dengan wajah malasnya. Bian tidak menanggapi ucapan Indra. Dia hanya memandangi wajah Karina, gadis yang selalu dihindarinya.
["Jangan sampai kau berbuat yang lebih selain ini, di saat dia tidak sadarkan diri,"] ancam Bian, Indra yang semula mengarahkan ponselnya kearah wajah Karina pun langsung mengarahkan pada dirinya. Alisnya mengkerut, bibirnya mencebik.
["Jangan gila! meskipun saya sudah dicap lelaki yang tidak berperasaan. Tetapi saya tidak pernah merusak wanita di saat dia tidak sadarkan diri,"] ucap Indra mulai emosi.
["Aku masih ingin memandanginya,"] pinta Bian, meski kesal Indra pun mengarahkannya.
Sudah hampir satu jam panggilan video itu berlangsung. Ketika Karina mulai sadar Indra langsung mematikan panggilan itu, Karina mengerjapkan matanya, dia beringsut melihat sekeliling. Mencari Bian di saat dia setengah sadar mendengar teriakan Bian.
Namun, saat dia sadar disampingnya bukan Bian, dia langsung melihat pakaiannya. Dia menghela napas lega ketika tubuhnya masih terbalut pakaian semula.
"Maaf Nona saya melakukan hal seperti ini, saya hanya ingin bertanya pada anda," tanya Indra, Karina mulai pasang badan untuk melindungi dirinya.
"Turunkan saya! atau saya akan berteriak!" ancam Karina, Indra panik dan mulai frustrasi. Seharusnya dia tidak mendengarkan ucapan Bian.
"Ok, saya akan turunkan anda. Bisa anda berikan di mana alamat tempat tinggal anda. Saya berjanji tidak akan berbuat yang tidak-tidak. Saya hanya ingin anda pulang dengan selamat. Tidak baik jika seorang gadis pergi sendirian saat sudah larut malam." Indra mulai mencoba menenangkan Karina, gadis itu melihat pergelangan tangannya yang tersemat arloji.
Karina membelalakkan matanya tidak percaya jika dia sudah pingsan satu jam. Dia pun memberitahukan pada Indra di mana alamatnya berada. Setelah sampai di kontrakannya Karina langsung keluar mobil, tanpa berpamitan dan mengucapkan terima kasih. Baginya dengan dia membekapnya sampai tidak sadarkan diri perbuatan yang tercela.
__ADS_1
Sedangkan Indra yang berada dalam mobil terus memikirkan Tazkia yang selalu menghindarinya. Dia sungguh tidak bisa mengajak gadis itu untuk berbincang dengannya.
***
Nita yang tidak bisa memejamkan mata pun, membawa ponsel yang berada di nakas. Kakinya melangkah untuk menggapai knop pintu kamarnya, berniat untuk keluar rumah. Di saat dia melewati kamar Tazkia dia mendengar suara teriakan Tazkia.
"Aku benci padamu!" terdengar suara benda yang terjatuh. Nita yang khawatir buru-buru mengetuk pintu dan memanggil Tazkia. Gadis itu menyuruh Nita untuk masuk.
Nita melihat kalung di depan pintu, dia memungutnya dan menatap Tazkia.
"Kenapa dibuang? bukankah kamu menginginkan ini, kamu bahkan sampai merengek memintanya dari Mbak," tanya Nita meminta penjelasan dari gadis itu.
Namun, Kia berbalik memunggungi Nita, "ambil kembali, Mbak," jawab Kia. Nita yang merasa suasana hati Kia sedang tidak stabil memilih keluar dari kamar Kia.
Namun, saat Nita telah sampai di taman belakang, Kia berada tepat dibelakangnya. Nita terperanjat memegangi dadanya. Kia langsung memeluk Nita dengan erat. Menumpahkan rasa sedihnya yang dia alami.
"Ada apa?" tanya Nita, Kia menatap Nita dengan wajah sendunya.
"Mbak mengenal dia di mana?" tanya Kia balik bertanya, Nita mengernyit. Dia bingung dia siapa yang di maksud Kia, apakah Indra?
"Ya, lelaki yang mengantarkan Mbak, kemari." Kia memberitahukannya. Nita menguraikan pelukannya dan menatap dalam kearah Kia.
"Kamu mengenalnya?" Kia mengangguk, memeluk tubuh Nita kembali.
Nita yang tidak ingin menambah rasa sedih pada Kia hanya membiarkan gadis itu menangis dalam pelukannya. Dari ambang pintu seseorang tengah melihat kedekatan mereka.
Tubuhnya yang merasa lelah pun terobati dengan adanya kedatangan Nita di rumahnya. Sudah sangat lama dia merindu wajah damai mantan istrinya.
__ADS_1
Krisna melipat tangan di dada, bibirnya terangkat membentuk senyuman. Ari pun turut melihati pemandangan itu. Hatinya ikut tercabik melihat kondisi Tazkia yang seperti kehilangan semangat hidup.
"Kamu tidak akan pulang?" pertanyaan Krisna membuyarkan lamunan Ari, lelaki itu berdehem dan membungkukkan badannya untuk berpamitan pulang.
Krisna mengantarkan sekretarisnya untuk kedepan, setelah Ari pergi dari rumahnya Krisna pun berjalan lagi untuk ketaman belakang. Namun, di sana dia sudah tidak mendapati Tazkia dan juga Nita. Ketika dia berbalik Nita sudah berada di hadapannya.
Nita mengambil kalung yang sempat dia simpan di saku celananya. Dia juga mengulurkan tangannya memberikan kalung itu pada Krisna.
Krisna menautkan alisnya tidak mengerti, "bukankah itu kalung milik Kia? Mengapa kamu berikan padaku?" tanya Krisna, Nita mulai menarik tangannya kembali ketika Krisna tidak mengakui kalung itu.
"Bukankah ini milikmu?" Nita menarik tangan Krisna dan memberikannya. Namun, Krisna hanya memandang bingung kalung itu.
"Ini milik Kia, Ta. Sudah lama dia memakainya. Kamu menyuruhku memberikan ini padanya. Tidak masalah aku akan memberikannya," ucap Krisna dengan bibir mengulas senyum.
Nita memandang datar kearah Krisna. Wajah tidak bersahabat begitu kontras. Lelaki itu pun berangsur memudarkan senyumannya.
"Ya sudah, kemari biar aku berikan." Krisna menarik tangan Nita, mencoba membawa kalung itu. Namun, Nita mengeratkannya, seolah enggan memberikan kalung itu. Krisna tidak bisa memaksa, dia pun melepaskan genggaman tangannya dari tangan Nita.
"Jadi ini kalung bukan milik kamu?" Krisna menggelengkan kepalanya. Nita menghela napas kasar, merasa telah dibohongi.
Namun, untuk saat ini dia tidak bisa memarahi lelaki itu. Mengingat Krisna baru pulang kerja, serta duka mendalam atas kepergian mama-nya. Meski tidak terlihat bersedih Nita yakin jika dia pun terluka.
"Aku pulang." Nita berbalik untuk meninggalkan Krisna. Tetapi dengan sigap Krisna mencekal pergelangan tangan Nita.
"Tinggallah di sini sampai keadaan Kia membaik. Aku pastikan tidak akan mengusik ketentraman kamu saat merawat dia." Mohon Krisna, Nita menatap dingin, dan memikirkan tentang tawarannya. Jika Nita pergi dia masih mengkhawatirkan keadaan gadis itu. Namun, jika dia tetap tinggal di sana, dia akan bertemu dengan Krisna sungguh membuatnya tidak nyaman.
***
__ADS_1