Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. Rumah Impian, Bab78. Lamaran?


__ADS_3

S2. Rumah Impian, Bab78. Lamaran?


***


Sepanjang perjalan pulang Karina terus memikirkan pembicaraan Nita dengan orang yang meneleponnya. Dia bisa melihat suasana hati Nita berubah hangat ketika mengangkatnya. Dia yakin jika orang itu adalah Bian.


Hati Karina merasa iri, mengingat dia tidak bisa sedekat itu dengan Bian. Janji mereka dulu nyatanya hanya sebuah khayalan. Apalagi setelah kepergian Kasih saudara kandungnya. Penderitaan begitu datang bertubi-tubi terhadapnya.


Namun, Karina meyakinkan diirnya bahwa orang yang menghubungi Nita bukanlah Bian.


"Bukan, ya, bukan Bian. Aku yakin," gumam Karina hatinya kembali dilema. Meski mungkin kenyataan memang mereka akan bersama. Namun, dia tetap mempercayai khayalannya. Dan meyakini jika Bian akan menepati janjinya.


"Tetapi mendengar dia mengatakan lamaran, apakah ini yang membuatnya tetap menutup diri untuk Tuan Krisna? Jika bukan Bian yang melamar siapa lagi, selama ini Mbak Nita, hanya dekat dengan Bian," ucap Karina yang masih memikirkan kata-kata itu. Di saat dirinya akan berpamitan pulang.


"Aku terlalu berharap, Yan, jika itu semua salah. Ya, pasti aku salah dengar,"


Saat tengah kalut memikirkannya, suara ponselnya berdering membuyarkan lamunannya. Tazkia, itulah nama yang tertera di layar ponsel.


["Ada kabar baik tidak, Kak Krin?"] tanya Tazkia, bukannya jawaban yang dia mau tetapi hembusan napas berat yang dia dengar.


["Dia tidak memberikan jawaban apapun Nona Kia, tidak ada penolakan atau pun di iyakan. Sepertinya tingkat keberhasilannya sangat tipis," jawab Karina dia menyesal karena tidak bisa memberikan bantuan pada keluarga Krisna.


["Aku kesana saja, Kak Krin,"]


***


Tazkia dan Ari tengah diperjalanan menuju rumah Karina. Sepertinya Kia ingin memberikan solusi yang dulu sempat dia katakan pada Karina.


"Kamu yakin dia akan menerima?" tanya Ari membuka percakapan. Kia mendelik, lalu mengerucutkan bibirnya. Membuat Ari menautkan alisnya tidak mengerti.


"Kadang suka heran, di saat di tanya malah bertingkah aneh," gumam Ari, dia mengangkat sudut bibirnya membentuk senyuman. Tanpa di sadari Kia sudah melipat tangan di dada dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Aku mendengarnya, aku tuh mau buat dia terus mendekati Mbak Tata, kalau dia tidak bisa membujuk Mbak Tata, dia sendiri yang harus menjadi ibu sambung untuk keponakanku," ungkap Kia dengan menyeringai.


"Dia pasti akan memilih membujuk Nona Nita, dia tidak akan menerima Tuan Krisna. Dia mencintai Bian," ucap Ari. Kia tampak berpikir keras.


"Kata siapa?" tanya Kia. Ari tetap memfocuskan matanya kearah depan meski melihat raut penasaran yang bersarang pada wajah Kia.


Lama tidak mendapat jawaban Kia memutar musik dengan keras, "budeg sekalian kamu, jadi hantu di rel manggarai saja. Apaan so cool begitu, mentang-mentang ganteng!" celetuk Kia dengan wajah kesalnya. Namun, Ari tidak menanggapi celetukkan Kia.


Ketika sampai di kontrakkan Karina, Kia langsung turun dari mobil tanpa menunggu Ari membukkan pintu untuknya. Dia berlarian kecil agar cepat sampai di kontrakan Karina.


"Seperti anak kecil yang tengah ngambek." Lagi-lagi Ari tersenyum melihat tingkah Kia.


***


Mereka bertiga tengah duduk melamun di depan kontrakkan Karina, Kia memikirkan cara untuk memberikan tekanan terhadap Karina agar gadis itu bisa bekerja sama dengannya. Sedangkan Karina dia memikirkan Bian, dan begitu khawatir jika Bian benar-benar akan melamar Nita. Lalu bagaimana dengan perasaannya.


Kia yang sudah mantap akan mengatakannya pun berteriak, "ayok, kita berusaha membujuk Mbak Nita agar dia memberikan kesempatan kedua!"


Ari menautkan alisnya ketika mendengar suara Karina. Sepertinya Ari bisa menebak jika gadis itu sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya dilema. Kia menggeser tubuhnya lebih dekat kearah Ari, dia bahkan memeluk tangan Ari tanpa sadar.


Karina sadar apa yang dia katakan, dia langsung menoleh kearah samping melihat adegan romantis disampingnya.


"Nona Kia, a-aku tadi mendengar ... Mbak Nita mengatakan lamaran, sepertinya Bian melamar Mbak Nita," ucap Karina mengungkapkan keresahan hatinya sedari tadi.


Kia tampak gusar, dia mencubit begitu kasar pada lengan Ari, untuk melampiaskannya. Dia tidak mengingat jika seseorang di sampingnya menahan rasa ngilu atas cubitan itu.


Karina akan membantu Ari, untuk menyadarkan Takzia. Tetapi Ari, memilih melambaikan tangannya agar Karina tidak mengatakan apapun pada Tazkia. Bagi Ari, selagi itu bisa mengobati rasa kesal Tazkia dia tidak mempermasalahkannya.


"Kita harus menggagalkan rencana itu Kak, kalau kita masih tetap diam bagaimana dengan Mas Krisna. Dia pasti akan lebih terpuruk mendengar kabar ini," resah Kia, tangannya terus mencubiti lengan Ari.

__ADS_1


"Mas Ar---" ucapan Kia terpotong ketika dia melihat tangan dirinya yang masih memelentir bongkahan daging di lengan lelaki itu. Ari tersenyum licik dan menunjuk lengannya yang tengah di cubiti Kia.


Tazkia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa kikuk. Tangannya yang nakal perlahan menjauh dari tangan Ari. Gadis itu juga perlahan-lahan mendekati Karina, diapun berbisik.


"Kak kenapa kamu tidak menyadarkan aku, sih. Sepertinya lama sampai merasa nyaman mencubitinya. Ya Tuhan, kenapa aku merasa tengah mencubiti boneka monyetku di kamar." Namun, Ari bisa mendengar ucapan Kia, lelaki itu memicingkan matanya karena disamakan dengan boneka monyet.


"Nona Kia, anda benar-benar! Lihatlah tangan saya yang telah jemari anda lukiskan." Ari membuka lengan tangannya hingga kesikut. Kia tampak terkejut dan menutup mulutnya yang menganga.


"Ya Tuhan, kenapa tanganku ini begitu nakal, selain mulutku seperti bakso merecon ternyata tanganku juga beracun," batin Kia. Kia pun berpamitan dan memilih pulang.


***


Sesampainya di rumah, Kia langsung berlari kerumah dia membawa salep untuk dia oleskan pada lengan Ari.


"Kenapa tidak memprotes sih, kenapa diam saja?" tanya Kia saat dia sudah datang membawa salep itu.


"Aku hanya ingin kamu tidak merasa tertekan karena emosi kamu tidak bisa tersalurkan. Bukankah kamu akan marah-marah sepanjang jalan jika kamu--"


"Jangan dilanjutkan Mas Ari," potong Kia. Dia menghela napas kasar dan meniupi lengan ari yang sempat menjadi pelampiasan kekesalannya.


Tanpa mereka sadari adegan romantis mereka disaksikan oleh Krisna, lelaki itu memperhatikan kedekatan mereka. Tatapan Ari pada Kia menggambarkan bahwa lelaki itu begitu mengagumi Kia.


Merasa cukup untuk menonton, Krisna berjalan mendekati mereka dengan senyuman tipis. Namun, di saat kakinya sudah mendekati mereka dia tampak terkejut ketika Tazkia mengatakan.


"Aku tidak tahu sampai kapan rahasia ini bisa kita simpan. Bagaimana jika Bian benar akan melamar Mbak Tata. Hati Mas Krisna pasti akan luka dan hancur berkeping-keping seperti potongan bakso yang sedang aku kunyah," ucap Kia meratapi nasib Krisna.


"Bakso? tidak bisakah kamu memikirkan yang lebih baik ketimbang dari bakso makanan yang begitu gencar di gemari wanita." Ari akan menjentikkan tangannya di dahi Kia. Namun, dia menyadari adanya Krisna di sana. Dia langsung berdiri dan menatap Krisna dengan harapan, Krisna tidak mendengarkan ucapan Kia.


"Dia akan dilamar lelaki itu, Ari? s*al, aku kalah dengan bocah ingusan itu." gerutu Krisna, dia menatap tajam kearah Ari dan Kia.


"Informasi sepenting ini kamu menutupinya Kia!"

__ADS_1


***


Maaf jika masih terdapat typo, padahal sebelum publish aku baca ulang 1/2, tolong dimaklumi🙏


__ADS_2