Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Bab13. Pertanyaan Macam Apa Itu?


__ADS_3

Bab13. Pertanyaan Macam Apa Itu?


***


Mereka akhirnya pergi bersama. Mereka memilih memakai taksi, daripada harus menunggu Ari yang akan mengantarkannya. Kasih mengajak Nita untuk berjalan-jalan. Dia tahu jika wanita itu tidak pernah kemana-mana. Tidak seperti dirinya ketika suntuk dia akan berjalan-jalan untuk sekadar menghilangkan rasa jenuhnya.


Sudah cukup lama mereka terdiam. Akhirnya Kasih berinisiatif memulai percakapan. Tentunya akan membuat hati Nita terbakar. Dia tersenyum sinis di saat dia melihat Nita tengah menikmati perjalananya.


'Sepertinya ini waktu yang tepat,' batin Kasih.


"Mbak Nita," panggil Kasih. Ia mencodongkan tubuhnya untuk melihat Nita yang masih setia memandangi jalanan yang berlalu lalang kendaraan.


Nita berbalik untuk melihat madunya itu. Senyuman manis masih mengembang meski hatinya sedikit teriris dengan keberadaan wanita muda itu. Wanita yang rela menjadi istri kedua. Kadang Nita berpikir, mengapa Kasih mau menjalin rumah tangga bersama suaminya yang jelas sudah berstatus suami orang.


Mengapa Kasih tidak mencari lelaki yang masih lajang. Bahkan dia masih bisa mendapatkan lelaki yang jauh lebih muda dari suaminya itu.


Kasih yang merasa Nita tengah memperhatikannya pun dibuat salah tingkah. Kasih berpikiran jika Nita tengah mengumpati dirinya di dalam hati. Dia pun sadar jika dandanannya begitu terlihat dewasa dengan make-up yang menyapu wajahnya.


"Kenapa?" tanya Nita pada Kasih.


"Aku mau membeli linger*e Mbak, kira-kira yang model seperti apa yang bagus. Dan pastinya akan membuat Mas Krisna lebih berga*rah," pinta Kasih pada Nita untuk membantunya memilih.


Nita hanya terdiam dan melihat beberapa photo yang tengah Kasih perlihatkan. Pakaian yang menerawang dan juga sek*i. Dia hanya menatap sendu photo-photo itu. Andai hubungan Nita dan Krisna seindah hubungan pernikahan Kasih, mungkin tidak akan ada Kasih di tengah-tengah mereka.


"Aku tidak tahu, lebih baik nanti kamu tanyakan saja pada pelayanannya di sana," jawab Nita. Bibir Kasih melengkung sedikit keatas dan mata yang penuh kebencian. Nita yang tidak sengaja melihatnya merasa bahwa Kasih tidak menyukainya.


Nita hanya bergumam di dalam hatinya. Salah apa dirinya pada wanita muda itu. Dia tidak pernah menyinggungnya. Nita mengingat-ingat ketika dia dan Kasih berbincang di taman belakang. Apakah ada kata yang salah? Jika pun iya, semua salahnya karena menginginkan Krisna seorang diri. Padahal sudah jelas dia sudah rela berbagi suami dan membiarkannya untuk tinggal bersama.


Harusnya yang membenci di sini adalah Nita karena Kasih selalu sengaja memperlihatkan keromantisannya di hadapan Nita.

__ADS_1


"Oh, ok, Mbak. Gak masalah kalau Mbak tidak bisa memilihnya," jawab Kasih memberikan senyuman yang mengembang. Terlihat seperti dipaksakan di mata Nita. Tetapi dia masih berpikir positif mungkin perasaannya saja.


"Mbak, bagaimana perlakuan Mas Krisna sama Mbak? Apa dia sama memperlakukanmu seperti padaku?"


"Mbak tahu gak kalau Mas Krisna setiap malam selalu memijit kakiku. Padahal kan dia yang bekerja bukan aku. Aneh sekali dia." Kasih terkekeh mengucapkan semuanya pada Nita.


"Masa sih? Romantis dan juga perhatian ya dia," jawab Nita masih santai meskipun hatinya menjerit.


"Iya, Mbak. Apalagi saat di Bali waktu honeymoon. Dia memperlakukan aku bak ratu. Mau jalan kedepan untuk makan saja aku digendong," ucap Kasih memanas-manasi Nita. Yang sesungguhnya dia hanya melebihkan saja. Agar wanita itu tidak kuat menjalani poligami ini. Apalagi Nita tidak di cintai Krisna.


'Aku harap kamu akan secepatnya menyerah, Mbak. Biarkan aku saja yang menjadi istri satu-satunya. Dia tidak mencintaimu. Untuk apa kamu tetap bertahan,' gerutu Kasih dalam hatinya.


Namun, Nita hanya tersenyum menanggapi. Terlihat tulus di mata Kasih. Di mata yang bulat itu Kasih tidak melihat kebencian. Padahal bukan ini yang dia mau. Dia ingin Nita memperlakukannya dengan tidak baik. Seperti saat ini dia tengah mengundang amarah Nita. Agar wanita itu menamparnya, atau mendorongnya.


'Kenapa dia masih tampak ramah. Bahkan tidak sedikitpun aku melihat sorot matanya yang membenciku. Kenapa hatinya sesabar itu sih,' gerutu Kasih sudah tidak sabar ingin Nita main tangan.


"Tapi kan itu sudah keputusanmu. Berarti kamu sudah tahu konsekuensinya menjadi istri kedua," tandas Nita. Membuat Kasih menoleh kearah Nita. Dia memasang wajah yang begitu sedih seolah meminta di kasihani.


"Apa Mbak tidak mau berkorban untukku? Dengan Mbak memilih berpisah dengan mas Krisna itu sudah membuat aku bahagia, Mbak," pinta Kasih, membuat Nita mengembuskan napas kasar. Lalu dia memilih mengalihkan tatapannya.


"Padahal kamu sudah tahu jika dia beristri. Bukan aku yang harusnya mengalah, tetapi kamu! karena kamu hadir diantara kami. Dan aku tidak bisa pergi, aku mencintainya. Harusnya kamu sadar itu. Kita mencintai lelaki yang sama. ," terang Nita langsung menolak keinginan Kasih.


Kasih mengepalkan tangannya dengan penuh kebencian. Sulit sekali rasanya untuk membuat Nita melakukan hal yang dia inginkan. Padahal dia sudah memanas-manasi wanita itu.


"Oh, Mbak gimana saat Mbak malam pertama dengan mas Krisna?" bisik Kasih dengan mendekat kearah Nita. Untuk mengalihkan pembicaraan.


Nita mengerjap ketika pertanyaan itu terlontar dari mulut Kasih. Malam pertama? Dia harus menjawab apa. Bahkan saat digendong kemarin itulah pertama kalinya mereka begitu dekat.


Selama menikah satu tahun yang lalu Krisna tidak pernah memasuki kamarnya. Namun, setelah dia menikah dengan Kasih, Krisna pertama kalinya masuk kedalam kamar Nita. Biasanya lelaki itu hanya akan mengetuk pintu selebihnya dia akan menunggu di luar.

__ADS_1


"Ah, itu ... Mmm, privasi. Kamu tidak boleh tahu," jawab Nita dengan ragu-ragu.


"Kayaknya sharing gak pa-pa, Mbak. Biar ada gaya baru," kelakar Kasih dengan tertawa.


"Mas Krisna itu lelaki yang sungguh lembut, entah harus bagaimana aku untuk mengungkapkan dengan kata-kata. Apalagi saat aku bisa menjadi istrinya. Ya, meksipun aku hanya menjadi yang kedua," ungkap Kasih.


Nita memejamkan mata sembari menyandarkan punggung di punggung kursi mobil itu. Pernyataan macam apa itu? Jika dia bahagia. Ya, memang Kasih akan menjadi wanita paling bahagia. Di saat Nita tersakiti akan pernikahan kedua suaminya, Kasih dengan terang-terangan mengungkapkan perasaannya.


Tapi Nita akan tetap bertahan bagaimana pun keadaannya.


"Mbak." Kasih menggoyangkan tubuh Nita yang tanpa terasa ia terlelap setelah enggan mendengar lontaran Kasih.


"Keluar Mbak, sudah sampai mall," titah Kasih mereka pun keluar dari taksi. Tidak lupa mereka membayar dulu jasa taksi itu


"Mbak tidak mendengarkan curhatan ku ya, berarti tadi aku omong sendiri!" Seru Kasih dengan senyuman sinis ia lengkungkan ketika Nita tidak memperhatikannya.


'Akhirnya aku berhasil membuat kamu sakit,' batin Kasih.


"Ayok, masuk Mbak. Sembari kita cuci mata,"


***


Hallo teman-teman, Nita hadir kembali, aku yakin pasti kalian rindu dia. Iya kan? rindu ngehuj@t dia^_°


Siapa yang mau dukung Nita tetap bertahan?


***


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2