Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. Rumah Impian, Bab79. Berkunjung Tengah Malam.


__ADS_3

S2. Rumah Impian, Bab79. Berkunjung Tengah Malam.


***


Tanpa pikir panjang Krisna memilih langsung melaju ke rumah Nita dengan cepat. Dia tidak memedulikan jika malam telah larut, yang ada diingatannya hanya menggagalkan acara lamaran mereka. Dia tidak peduli jikapun harus bertarung dengan bocah ingusan seperti Bian.


Kini dia sudah sampai di depan rumah Nita dengan perasaan yang begitu emosi. Bisa-bisanya Nita memperlakukan dirinya seperti ini. Kurang apalagi dirinya selama ini, dia sudah berusaha mencoba memberikan yang terbaik tetapi apa balasan Nita padanya. Kali ini dia tidak ragu untuk menekan bel berulang lagi.


"Cepatlah buka, Nita. Aku sungguh ingin mendengar jika itu salah. Kamu tidak akan di lamar siapapun kecuali diriku," kata Krisna. Dia sungguh tidak ingin itu semua terjadi. Dia ingin hubungan mereka seperti dulu.


Nita baru saja mematikan lampu di kamarnya, niat hati akan beranjak tertidur karena dia akan mengadakan lamaran untuk seseorang.


"Siapa sih, malam-malam begini!" seru Nita, dia menuruni ranjang dan melihat kearah dinding mengingat sudah malam hari, tetapi masih ada tamu yang berani mengganggunya.


"Ya Tuhan ini begitu larut, setengah sepuluh malam. Apa dia orang gila?" gerutu Nita, sebelum menuju pintu utama Nita lebih dulu kekamar Ana. Dia mengetuk pintu berharap Ana masih terjaga, agar dia tidak merasa ketakutan.


Bel berbunyi semakin nyaring terdengar seperti di dalam flm horor, Nita membawa sapu di tangannya karena Ana tidak jua keluar kamar. Ingin membangunkan tetapi dia merasa tidak tega, dia tahu Ana kelelahan membersihkan rumahnya.


Degupan jantung yang berdetak begitu cepat seperti tengah berlari maraton. Perlahan dia mengintip lebih dulu dari jendela. Namun, dia tidak bisa melihatnya. Akhirnya perlahan Nita membuka pintu. Ketika membuka pintu dia langsung memukuli orang yang tidak punya sopan-santun itu.


Nita memejamkan matanya, dan sekuat-kuatnya dia memukul berharap orang itu bisa pergi dari rumahnya.


Krisna mengaduh mengingat serangan itu mendadak, dia tidak bisa menghindar.


"Hentikan, Ta. Ini aku Krisna!" teriak Krisna, mata Nita yang semula terpejam ia buka. Dia langsung menurunkan sapu yang sempat mengenai tubuh Krisna.

__ADS_1


"Begini caramu bertamu kerumah orang, Kris? kamu gila!" seru Nita, dia mengalihkan pandangannya untuk tidak menatap Krisna. Nita tidak habis pikir tentang perilaku Krisna saat ini.


"Ya, aku gila ketika mendengar kamu akan bertunangan! tidak bisakah kamu menghargai perasaanku, aku sudah berusaha menjadi yang lebih baik untukmu. Aku berkunjung kerumahku meski kamu tidak pernah menemuiku, apa lagi yang harus kulakukan untuk menebus semuanya," ucap Krisna panjang lebar. Namun, Nita malah semakin membenci Krisna.


"Kembalikkan anakku, baru aku akan memaafkanmu!" tegas Nita, Krisna hanya bisa terpaku. Bagaimana dia bisa mengembalikkannya, nyawa tidak bisa ia kembalikkan.


"Aku bukan Tuhan, Nita. Aku manusia biasa," jawab Krisna dengan wajah bersalahnya. Nita memutar tubuhnya dan menatap tajam kearah Krisna.


"Ya, aku pun manusia biasa! apa kamu memikirkan perasaanku saat itu! aku sudah berusaha memaafkanmu. Aku akan memulai hidup baru bersama kamu sebagai teman seperti dulu lagi. Tetapi apa yang di katakan Kia, dan sekretarismu tentang ibu sambung untuk anakmu, membuatku memilih untuk tidak pernah menemui kamu lagi. Kamu mengemis, merendahkan harga dirimu hanya ingin menjadikan aku sebagai baby sitter anakkmu!"


"A-apa maksudmu, Ta?" tanya Krisna tercengang lagi.


"Aku tahu adikmu selalu menyarankan kencan buta untukmu. Kamu mengejarku agar terbebas dari kencan buta itu? tega kamu seperti ini padaku, Kris. Sampai kapan kamu akan berhenti menyiksaku sepeti ini, sampai kapan!" Nita meninggikkan intonasi suaranya, mengeluarkan semua beban yang bersarang dalam hatinya.


"Aku tidak pernah berpikiran seperti itu, Ta. aku mengejarmu karena aku memang mencintaimu, jika kita bersama lagi aku tidak akan menjadikan kamu pengasuh anakku, Ta! Tata!" teriak Krisna, ketika Nita lebih memilih masuk tanpa ingin mendengarkan ucapan Kisna.


Nita buru-buru berlari kekamarnya, tanpa ingin mendengarkan lontaran Krisna lagi. Luka yang sempat akan sembuh kini kembali tergores. Dia tidak tahu sampai kapan Krisna akan berhenti mengganggunya.


"Mengapa kamu tidak membiarkan aku bahagia, Kris," gumam Nita sembari memegang dadanya yang terasa kian sesak. Air mata yang dia tahan nyatanya terjatuh juga.


Dia menangis sejadi-jadinya memeluk lututnya, "hatiku hancur, kehilangan anakku ini semua karena kamu Kris, karena kamu aku membencimu!"


Di saat dia meracau karena kesedihan, dan kesakitan yang selama ini ia simpan, Bian menghubungi Nita. Panggilan pertama Nita tidak menghiraukannya. Dia takut jika suaranya yang parau dapat membuat Bian khawatir.


Namun, Bian tetap tidak berhenti menelepon Nita. Akhirnya Nita menuruni ranjangnya dan berjalan kekamar mandi untuk membasuh wajahnya. Dia mengembuskan napas kasar berulang kali, agar dia bisa mengangkat telepon Bian.

__ADS_1


["Kenapa baru mengangkatnya, Mbak?"] tanya Bian yang terdengar khawatir. Nita sungguh tidak bisa menutupi semuanya dari Bian, mata Nita kembali memanas ingin menangis.


["A-aku tidak pa-pa, Yan,"] jawab Nita, dia menghapus air mata yang kembali terjatuh.


["Mbak kamu memikirkan dia lagi?"] Bian tampak gusar di sana. Ingin rasanya dia pulang untuk menemani Nita. Dia tidak bisa terus-menerus seperti ini.


["Mbak hanya mengantuk saja, Yan. Mbak tutup teleponnya."] Nita pun mengakhiri panggilan telepon bersama Bian. Nita perlahan menyimpan ponselnya di nakas. Dia duduk ditepian ranjang dengan pikiran kalutnya.


Lalu dia membaringkan tubuhnya, ponselnya berdering lagi membuatnya merasa terganggu. Namun, Nita membawa ponselnya yang berada di nakas. Dia juga mengangkatnya dan langsung memarahinya.


["Tidak bisakah kamu mengerti aku baik-baik saja!"] teriak Nita, baru saja dia akan mematikan teleponnya dia melihat nomor itu bukan nomor Bian.


["Mmmm, anu, maafkan saya,'] ucap Nita merasa bersalah.


["Hmmm, ok! tidak pa-pa, apakah saya juga mengganggumu mengingat kamu begitu marah pada bocah itu,"] kata Indra Wiguna, lelaki yang kemarin meminta bantuan Nita untuk melamar seorang wanita. Indra dapat menebak mengapa Nita bersikap seperti itu, sebab Bian lah yang telah memberitahunya. Dan meminta Indra untuk menelepon Nita agar wanita itu bisa mengalihkan rasa sedihnya.


["Maafkan saya karena telah membuat kamu tidak bisa memarahinya sesuka hati, dia harus mempunyai pendidikan tinggi agar berdiri di sampingku. Yasudah malam telah larut, tidurlah semoga mimpi indah,"]


Panggilan singkat itu pun berakhir, meski Nita belum sempat menyanggahnya. Namun, dia bersyukur karena Bian bertemu dengan lelaki itu. Yang rela menghabiskan uang untuk membuat Bian mempunyai masa depan yang cerah.


"Indra Wiguna, nama yang cukup indah. Apakah namanya seindah peerilakunya," kata Nita dengan tersenyum simpul. Dalam sekejap dia bisa melupakan kesedihan.


"Bian, Indra, terima kasih karena kalian menghubungiku di waktu yang tepat. Ini sedikit mengurangi rasa sedihku."


***

__ADS_1


__ADS_2