Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab131. Mewakili


__ADS_3

Lima bulan berlalu ...


Kejadian di kantor Indra membuat mereka mempunyai kesempatan untuk saling dekat. Saling memahami dan menerima satu lain. Rasa itu memang benar-benar bukan hanya sebuah rasa yang datang lalu hilang. Namun, Nita mencintai lelaki itu, benar-benar mencintainya. Rasa nyaman yang belum pernah dia miliki, saat bersama Krisna. Meski Karina selalu mengingatkan jika Indra bukan lelaki baik, mengingat lelaki itu selalu menggoda Karina.


Ari dan Kia pun memberikan masukan jika Nita jangan menutup diri, dan selalu menentang perasaannya. Jalani saja, dengan seiring berjalannya waktu, dia akan bisa menerima Indra jika memang benar Nita mencintainya. Namun, jika tidak memiliki rasa, dia akan dengan mudah meluapkan dan Nita akan merasakan rasa tidak nyaman dan risih saat bersama Indra.


Nita mengembuskan napasnya kasar, dia mengungkapkan rasa tidak berdayanya pada Kia. Tentang wasiat orang tua Nita yang menginginkan Krisna dan Nita bersama. Namun, Kia mengernyit bingung dengan lontaran Nita.


"Apa yang Mbak katakan, mereka tidak pernah memberikan wasiat macam begitu. Mama Riska bilang jika itu hanya untuk membuat Mbak menikah dengan Mas Krisna. Semula pun Mas Krisna menolak tetapi akhirnya dia mau untuk menikahi Mbak, mengingat Mbak begitu mencintainya waktu itu, ya, bukan sekarang, Tuan Indra."


Perkataan itu masih terngiang-ngiang di telinga Nita. Jika mengingat masa itu Nita merasa menjadi wanita yang bodoh. Tapi semua telah terjadi, Nita memang tidak bisa memungkiri jika dirinya yang dulu memang mencintai Krisna dengan dalam.


"Mbak," panggil Karina saat Nita masih memandangi dirinya di pantulan cermin. Lamunannya terbuuar dan digantikan dengan kerutan bingung di dahi.


Nita menatap Karina dari pantulan cermin. "Apakah kamu mencintainya, Mbak?" tanya Karina.


Wanita itu memutar badan untuk menoleh kearah Karina. "Apakah kamu juga mencintainya?"


Karina terkekeh, bergelayut manja di lengan Nita, "itu tidak akan terjadi. Tetapi bolehkan aku menanyakan itu, Mbak. Pada Tuan Indra, supaya aku tenang jika kamu akan menjalani hubungan dengannya,"


Karina mulai melepaskan tangannya lalu menatap Nita dengan tatapan memohonnya. "Tidak masalah," ucap Nita mantap. Karina tersenyum senang lalu memeluk Nita dengan sayang.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang tamu. Di sana sudah ada Indra yang datang, dan kejutan yang sangat besar untuk kedua pasangan yang telah lama terpisahkan dan dia kini kembali. Karina merasakan gugup yang luar biasa. Saat lelaki yang selalu ada dalam hatinya datang dengan penampilan yang begitu luar biasa banyak perubahannya.

__ADS_1


Lelaki yang kini begitu tampan, mempunyai tinggi badan yang tinggi, atletis pasti menjadi incaran kaum wanita. Karina seolah tercekat, dia merasakan kepayahan saat menelan ludahnya sendiri. Bertahun-tahun dan lelaki yang di rindunya tepat di hadapannya. Bian, lelaki itu hanya menatapnya datar seolah tidak pernah mengenali Karina.


"Mbak, aku lebih dulu ke toko ya, sepertinya mereka membutuhkan aku," pamit Karina, berbisik di telinga Nita. Namun Nita mencegahnya.


"Bukankah kamu merindukannya, lantas mengapa pergi. Di sinilah, dan mulai berbicara dengannya agar kamu tidak salah paham terus menerus." Karina menggeleng kuat dan tetap pada keinginannya. Pergi untuk Ketoko. Nita tidak bisa menahannya dan membiarkan Karina pergi.


"Mbak Nita," sapa Bian dengan sopan. Lelaki itu berdiri dan menyalami tangan Nita. Nita tersenyum simpul dan menyuruhnya duduk kembali.


"Cepat kejar dia, mengapa masih diam di sini!" tegas Nita mengingatkan. Dia tahu betul bagaimana perasaan Bian padanya.


Namun, Bian hanya mengangguk, "urusanku bisa diurus nanti, Mbak. Yang terpenting sekarang tentang hubungan kalian," tandas Bian. Nita pun ikut mendudukan bokongnya di kursi di seberang kedua lelaki itu.


"Mbak tahu kenapa aku pulang?" tanya Bian, membuat Nita menatap bingung kearah keduanya bersamaan.


"Bang Indra ingin melamar Mbak, setelah beberapa bulan kedekatan kalian, dan Bang Indra merasa jika Mbak pun mencintainya. Dia tidak ingin lagi menunggu karena dia telah mendapat lampu hijau dari mantan suami Mbak. Dia bisa menerima kenyataan itu, jika Mbak mencintai Bang Indra. Dia ikhlas merelakan Mbak bersanding dengan orang lain."


"Aku hanya ingin mendengarkan Abangmu yang berbicara padaku, karena perasaan tidak bisa di wakili," jawab Nita, "kamu pergilah Bian, kejar wanitamu sebelum dia malah jatuh cinta dengan orang lain karena keusilannya,"


Bian menatap lekat Nita dengan bingung, "apa maksudnya?" tanya Bian karena penasaran mulai menghantui.


"Jika Karina gadis yang labil dan juga baperan dia akan lebih jatuh cinta pada abangmu," ungkap Nita, Bian menatap tajam Indra.


"Sia*lan kamu Dra!" seru Bian, dia lantas berpamitan untuk mengejar Karina. Dia tidak ingin sampai kesalahpahaman itu akan membuat mereka semakin menjauh kembali.

__ADS_1


***


"Hmmm," entah berapa kali Indra berdehem unutk mengusir rasa gugupnya. Entah dimulai dari kapan dia menjadi orang pemalu seperti ini. Padahal dia sudah sering menggoda Nita, akan tetapi kali ini berbeda.


Nita masih bergeming di tempatnya, hanya bola matanya saja yang terus memandangi Indra, yang masih belum juga mengatakan apapun padahal mereka telah duduk dalam keheningan selama setengah jam.


Rasa pegal mulai menggerayangi kaki Nita, wanita itu akhirnya mulai berdiri. Namun, dengan reflek pula Indra mengikuti Nita berdiri. Dia mulai menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan.


"Jangan pergi!" seru Indra saat Nita mulai melangkahkan kakinya menuju pintu utama.


"Untuk apa aku di sini sedangkan kamu tidak mengatakan apapun, aku banyak pekerjaan. Dan kamu hanya bisa duduk diam saja di sana apakah kamu sudah tidak lagi jadi pemimpin perusaahaan, heran sekali bisa libur sesuka hati sepeti itu," sindir Nita.


"Aku sudah tidak sabar ingin membuatmu menjadi wanitaku," tandas Indra. "Lalu kenapa hanya duduk dan dia, buang-buang waktu saja, di mana nalura lelaki penggodamu itu. Bukankah kamu selalu menggoda Karina, hmm,"


"Kenapa kamu bisa tahu." Dengan polos Indra bertanya membuat Nita merasa kesal. Bukannya meminta maaf, lelaki itu malah mengomporinya.


"Aku hanya ingin memberikan dia rasa nyaman agar kelak saat Bian pulang dia tidak terlalu kaku denganku," terang Indra.


"Bagaimna jika dia salah mengartikan perilakumu? dia bisa jatuh cinta padamu Tuan Indra," timpal Nita, dia berbalik dengan wajah kesal dan memberengut.


Indra tersenyum, dia perlahan mendekati Nita, memegangi kedua tangan Nita lalu mengangkatnya untuk ia kecup punggung tangannya.


"Kamu tetap menjadi yang pertama, meski banyak wanita muda di sekitarku." Nita langsung menghempaskan tangannya dan mendorong dada bidang lelaki itu dengan kasar.

__ADS_1


"Jahat sekali mulutmu itu mengatakan hal yang membuat orang tidak suka," gerurtu Nita.


***


__ADS_2