Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab97. Bangkrut.


__ADS_3

Sinar matahari mulai memaksa masuk melalui celah pentilasi kamar. Nita mengerjapkan matanya untuk terbangun dari pembaringan. Seseorang yang telah menemaninya pun sudah tidak berada disampingnya.


Karina lebih memilih datang lebih pagi hari ini. Mengingat Nita tidak akan datang Ketoko. Nita memandang jam di dinding kamarnya. Padahal baru pukul setengah tujuh, tetapi gadis itu sudah pergi.


Mbak Ana tampak gelisah saat sedang menyiapkan sarapan pagi. Nita menautkan kedua alisnya, apakah terjadi sesuatu pada wanita baya itu. Nita pun berjalan lebih cepat dan mendudukkan bokongnya di kursi. Lalu dia mengamati setiap gerak-gerik asisten rumah tangganya.


"Mbak Ana," panggil Nita yang sudah tidak kuat menahan keingin tahuannya.


Wajah wanita itu tampak getir, air matanya luruh sebelum mengatakan apapun pada Nita. Nita seketika langsung berdiri dan mulai mendekat kearah Ana. Dia juga memberikan tepukan lembut di bahu wanita itu.


"Duduk Mbak." Nita menyeret kursi dan mempersilakan wanita itu untuk duduk.


Ana hanya menatap nanar dengan sorot mata menghiba. Membuat seketika jantung Nita tidak berdaya.


"Ada sesuatu Mbak? Katakan saja," ucap Nita dengan penuh rasa tulus. Ana memeluk Nita dengan kuat. Menumpahkan kesedihan yang mendera.


"Saya mau izin cuti dulu, Nona," pinta Ana dengan terisak. Nita mengulas senyum. Wanita itu kembali menepuk bahu wanita baya itu.


"Kenapa minta cuti saja musti menangis seperti itu Mbak." Nita tertawa kecil ketika mendengar pernyataan Ana.


"Suami saya, Mbak," kata Ana gugup tanpa mampu melanjutkan ucapannya.


Alis Nita mengerut menunggu jawaban dari wanita baya itu. Dia takut jika terjadi masalah di kampung halaman Ana. Dia sudah menganggap wanita itu sebagai keluarganya.


"Dia merindukan saya. Dan saya berat untuk pulang karena Nona tidak ada yang menemani," sahutnya dengan isakan tangis yang muncul di bibirnya. Nita seketika mematung mencerna ucapan dari Ana.


Dia terkekeh ketika tersadar, "Yaampun, Mbak. Pulang saja tidak pa-pa. Nanti aku minta Karina dan karyawan lainnya untuk menginap di sini supaya banyak temen akunya," timpal Nita seraya menepuk bahu Ana lagi.


"Segera bersiap Mbak, aku antarkan sampai terminal," titah Nita, wanita baya itu mengangguk.

__ADS_1


***


Setelah mengantarkan Ana menuju terminal Nita lantas menuju pulang kembali kerumahnya. Sepertinya dia tidak ingin mengunjungi toko kali ini. Jika dia lakukan akan membuatnya tidak bisa meninggalkan toko walau selangkah.


Perasaan tidak enak hati kembali hadir. Kepalanya menoleh kearah belakang mobil, menatap mobil yang tengah berlalu lalang di jalanan sama seperti dirinya. Dia mendengkus mengapa dia menjadi parno setelah melihat reaksi Karina yang terlihat ketakutan itu.


Kini mobil taksi online itu telah menepi di depan gerbang pintu rumahnya. Dia lantas membayar dan mulai masuk kedalam rumahnya.


Setelah sampai rumah Nita mulai mengedarkan pandangan keseluruhan penjuru rumahnya. Entah mengapa selama beberapa hari ini rumahnya tampak tidak aman dan selama itu pula dia tidak mendapatkan gangguan dari Indra dan juga Krisna.


Kemana mereka? Itulah yang terbesit dalam pikiran Nita.


Dering ponsel membuatnya mengalihkan perhatian, Karina memanggil, dia pun mengangkatnya.


["Mbak sudah lihat berita?"] Tanya Karina di seberang sana.


["Ada apa Karin?"] Pertanyaan balik yang Nita layangkan.


Ketika membaca judul dia membulatkan matanya tidak percaya. Lelaki yang telah lama ia kenal terjerat kasus penganiayaan.


"Presdir NG group dinyatakan bersalah. Atas penganiayaannya!" Bibir itu memekik tidak percaya. Apakah betul berita itu. Lalu siapa yang telah Krisna aniaya. Membuatnya dalam masalah.


Tanpa pikir panjang Nita langsung memesan taksi online dan menuju rumah Tazkia. Gadis itu pasti akan syok mendengar berita itu. Apalagi baru satu bulan kepergian mama-nya. Sekarang telah ditambah dengan kasus yang akan membuat perekonomiannya terpuruk.


Nita tampak berpikir sejenak mengingat masa lalu yang telah terlewati. Bukankah ini adil dan sepadan. Di saat dulu mengikhlaskan saham kedua orangtuanya di satukan dengan Krisna. Hingga membuatnya menjadi naik jabatan menjadi Presdir. Namun, setelah dia sukses dia mengeluh jika dia menikahi dirinya hanya sebatas rasa kasihan sebagai seorang sahabat.


Mungkin ini Karma untuk lelaki itu yang telah membuatnya terluka begitu dalam.


Kini kaki jenjangnya dia injakan di halaman rumah Krisna lagi. Dia lalu berlarian kecil agar secepatnya sampai di rumah itu.

__ADS_1


Ketika pintu rumah dibuka dia melihat Tazkia yang sedang menangis di sofa ruang tamu. Gadis itu menengadah dan berlari menuju Nita yang datang berkunjung.


"Kamu baik-baik saja, bukan?" tanya Nita dengan wajah khawatir. Gadis itu terdiam dengan wajah menyedihkan. Tidak sama sekali dirinya merasa baik-baik saja setelah berita itu begitu menjadi trending topik.


Nita tampak menghela napas panjang, lalu membalas pelukan gadis itu.


"Ari di mana?" Tanya Nita lagi mengedar pandangan.


"Dia pasti sibuk tengah mengatasi masalah ini, Mbak. Setelah berita ini muncul Mas Krisna sudah pergi." Gadis itu menangis meraung menggema di seluruh ruangan.


"Ok, tenang, ya, kan ada Mbak. Kamu tidak sendirian." Nita mulai menguraikan pelukannya dan menangkup pipi gadis itu.


"Mungkin ini balasan atas perbuatan yang telah Mas Krisna lakukan pada Mbak, dia memang pantas mendapatkannya, tetapi aku dan anaknya juga kena imbasnya Mbak. Kenapa dia juga malah pergi, di saat keadaan terpuruk seperti ini. Apa dia tidak memikirkan nasib kami," ucap Karina panjang lebar. Nita kembali menenangkan gadis itu dengan menepuk punggungnya lembut.


Baby sitter itu datang membawa anak lelaki Krisna. Dengan perlahan mata Nita berubah sayu. Dia akan lemah jika melihat anak itu. Antara membenci atau rasa iba karena ibundanya telah berpulang setelah melahirkannya.


Tazkia memutar tubuhnya dan menoleh kearah tatapan Nita. Meski dia tengah terpuruk, tetapi dia juga tidak bisa mengabaikan orang satu-satunya yang telah simpati pada dirinya. Tazkia dengan tegas mengibaskan tangannya keudara seolah memberi isyarat pada baby sitter untuk pergi dari sana.


"Mbak, maafkan aku karena di--"


"Tidak pa-pa," pootng Nita dengan cepat.


"Kamu beristirahatlah, masalah keponakan kamu, akan aku urus." Tazkia tampak terperanjat dengan ucapan Nita.


"Jangan Mbak, kamu akan terluka jika dia berada disampingmu," cegah Tazkia. Namun, Not menggeleng di saat seperti ini mungkin rasa kemanusiaan yang hadir. Bukan rasa dendam.


Nita pun tidak mendengarkan ucapan Tazkia, dia kukuh untuk membantu mengasuh anak itu. Meski masih terlihat jelas jika dia sangat terluka ketika melihatnya. Karina memanggil Nita saat wanita itu akan menggendongnya. Tazkia tidak ingin melihat wanita itu memaksakan diri untuk membantu merawatnya.


"Mbak, hatimu? Biar aku saja yang merawatnya," pinta Karina. Dia datang tepat waktu sebelum Nita menggendong anak itu.

__ADS_1


***


__ADS_2