Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Bab62. Pulang.


__ADS_3

Bab62. Pulang


***


Krisna memutuskan untuk mendengarkan saran Riska. Jika dia yang mengatakannya selalu menjadi kesalahan. Apapun yang Krisna ucapkan tidak pernah benar. Sebelum dia pulang dia melihati rumah Nita dengan nanar. Begitu terlukanya hati dia di saat dia mengetahui jika Nita kehilangan bayinya. Itu tandanya jika Nita keguguran.


Suami macam apa dia yang tidak mengetahui hal penting seperti ini. Dia merutuki kebodohannya sendiri karena tidak pernah memperhatikan Nita. Pantas saja Nita tidak ingin bertemu dengannya. Alasannya cukup membuat hati Krisna tersayat.


"Ya Tuhan, inikah karma untukku, aku kehilangan istri serta anakku. Inikah balasan atas apa yang sudah kuperbuat hingga membuat Nita begitu membenciku," lirih Krisna. Untuk kali ini Krisna tidak bisa menahan airmatanya untuk tidak terjatuh.


Jika saat kehilangan Kasih dia masih bisa menahannya. Dia tidak menangisi kepergian wanita itu. Sedangkan saat mengetahui Nita keguguran dia sungguh lemah tidak berdaya. Sesakit ini dia mendengarnya. Lalu bagaimana dengan Nita, yang sudah tidak di hargai oleh Krisna.


"Kamu mendengarnya Ari?" tanya Krisna. Lelaki itu menjawabnya. Tetapi Ari tidak mengetahui perihal masalah ini. Mereka merahasiakan semuanya dari Ari.


"Saya tidak percaya jika saya mempunyai kabar duka dan suka dalam waktu bersamaan," ungkap Krisna. Lelaki itu tampak menyandarkan punggungnya di kursi belakang mobil dengan tangan ia lipat di dada. Helaan napasnya terdengar berat oleh Ari.


"Kesalahan saya begitu besar. Hingga membuat Nita tidak bisa lagi memberikan maafnya." Krisna memilih memejamkan mata, merasai semua sakit yang dia terima.


Sedangkan Ari dia hanya bisa mendengar tanpa mampu memberikan saran. Biarlah waktu dan takdir yang akan menentukan. Apakah mereka akan bersama lagi atau berpisah sesuai keinginan Nita.


***


Krisna dan Ari sudah sampai tadi sore. Riska dan Tazkia tidak terlalu banyak bertanya tentang apa yang telah terjadi di saat mereka di desa. Membiarkan mereka untuk beristirahat lebih dulu, setelahnya Riska akan banyak bertanya pada Ari dan juga Krisna.


Dia dapat merasakan jika anaknya tengah bersedih. Bahkan saat pulang dari desa wajah lelaki itu tampak ditekuk, hanya menyapa selebihnya dia lebih memilih masuk kedalam kamarnya.


Jam makan malam telah berlangsung, wajah Krisna tidak banyak berubah. Masih di tekuk, seolah tidak bersemangat untuk hidup. Dia hanya makan beberapa suap, lalu berpamitan untuk masuk kedalam kamarnya.

__ADS_1


Namun, baru saja berdiri Riska menyuruhnya untuk duduk kembali. Lelaki itu hanya menurut tidak membantah perintah mamanya.


"Sebenarnya apa yang terjadi Krisna?" tanya Riska. Lelaki itu mendesah kasar lalu memandang Ari yang berada di sebelahnya.


"Mas Krisna pasti sedang merasakan manisnya buah yang dari Arab, itu loh Ma. Karma!" Celetuknya, yang berhasil membuat Riska memelototi anak gadisnya. Sedangkan gadis itu hanya berpura-pura tidak melihat mamanya.


"Tiada salah dirimu kasih, salah pada nasibku sendiri. Karena tak punya kesetiaan, berakhir luka." Tazkia bernyanyi lagu emas hantaran dan diganti liriknya. Ari menggelengkan kepalanya seperti biasa dengan tingkah Tazkia.


Gadis itu bukannya menghibur Krisna malah menyindirnya habis-habisan. Seolah dia mengejek kakaknya yang tengah mengalami luka hati. Krisna tidak memperdulikan sindiran Tazkia.


"Ari beritahukan pada Mama!" Titahnya, setelah itu Krisna berjalan untuk pergi kekamarnya.


"Kia! Kamu tidak punya hati nurani kah? Kamu ini adiknya, mangapa malah membuat suasana hatinya semakin terpuruk!" Cerca Riska. Tazkia malah melanjutkan nyanyiannya. Dan kembali berteriak.


"Mas Kris, bilang sama Kia kalau Karma-nya masih terasa!"


"Kia!!" Gadis itu langsung pergi ketika Riska mulai murka.


"Sabar Nyonya. Saya kira Tuan Krisna pun mengerti dengan sikap Nona Kia," ucap Ari, Riska mengangguk.


"Sebenarnya apa yang terjadi Ari? Kalian di sana lebih dari seminggu. Apakah kalian tetap tidak bisa bertemu dengannya?" tanya Riska, Ari bingung harus memulainya darimana. Sedangkan diantara keduanya bahkan tidak mendapat kemajuan, jauh sekali dari kata akan berdamai.


"Jelaskan secara rinci saja. Atau rangkum yang pentingnya,"


"Waduh, Mas Ari sedang di tes merangkum sama Mama," celetuk Kia membuat Ari dan Riska memandangnya dengan tatapan dingin. Kia tersenyum kikuk dan mulai mendudukan kembali bokongnya di sana. Dia juga sedikit kepo dengan perkembangan hubungan mereka.


Sudah hampir 10 menit tapi Ari belum juga mengatakan sepatah kata pun. Riska malah memandangi wajah anaknya seolah dia mengusir Kia.

__ADS_1


"Kenapa masih diam sih, Mas Ari?" tanya Kia, dia mulai cemberut dan kesal.


"Kamu pergi Kia, kamu tidak dibutuhkan. Yang ada malah masalah makin besar!" Kelakar Riska.


"Aku janji bakal diam saja mencermati!"


Kia mengangkat tangannya berbentuk V. Bahan Riska dan Ari memberikan dia sumpah jika dia berbohong dia akan dikurung di dalam kamarnya selama satu hari satu malam. Gadis itu yang merasa akan suntuk jika terus di kamar pun mengangguk patuh, meski dia tidak yakin jika dia akan diam.


"Kami di sana hanya memandangi Nona Nita dari kejauhan nyonya. Kami menyewa rumah warga setempat. Karena Nona Nita kukuh tidak mau bertemu dengan Tuan Krisna."


"Untuk yang kedua saya harap Nyonya dan juga Nona Kia bisa sabar." Kia mengernyit dan mulai mendekati Ari, dia bergelayut manja di lengan Ari. Riska pun tidak kalah penasaran, dia mulai mendekati Ari.


"Nona Nita ke-keguguran!" Keduanya mengerjap tidak percaya dengan apa yang di katakan Ari. Kia langsung pergi kekamarnya.


Gadis itu langsung menghubungi Karina. Namun, karena tidak kunjung mendapat balasan. Dia pun mengirimi pesan singkat pada Karina.


Lama Kia menunggu balasan. Hingga akhirnya Karina membenarkan apa yang di katakan Ari. Tazkia langsung merosot kelantai, seolah tubuhnya tidak dapat menopang bobot tubuhnya. Hatinya sakit mengetahui kenyataan ini. Dia menarik napas dalam-dalam akan menghampiri kakaknya.


Namun, Ari yang berada di depan pintu kamar Kia menahannya.


"Pergi, Mas! Aku harus memberinya pelajaran karena telah membuat keponakanku tidak bertahan hidup, eh, pelajaran kayak mau sekolah!" Celetuknya, sambil mengusap kasar airmata yang jatuh di pipinya.


"Jangan Nona. Biarkan Tuan Krisna menyendiri, dia juga sama terpukul seperti anda. Mengertilah, untuk saat ini kalian tidak bisa saling menyalahkan, karena itu semua percuma. Yang telah lalu tidak akan bisa terulang lagi," jawab Ari, Kia langsung bergeming. Menatap kosong kearah depan.


Ari memegangi bahu Tazkia dengan mengusapnya pelan. Lamanya mereka hanya berdiri di depan pintu kamar Tazkia membuat Ari mencoba untuk memapah Kia masuk kedalam kamarnya. Dia dudukkan Kia di sofa, setelahnya Ari memeilih pergi.


Namun, Tazkia yang melihat Ari pergi, langsung memeluknya dari belakang. Dia menangis di punggung Ari, menguwel-uwel wajahnya di sana.

__ADS_1


***


Bersambung ...


__ADS_2