
Seperti malam sebelumnya Nita akan berdiam diri di taman belakang dengan secangkir teh hangat yang menemani malam-malamnya. Dia menatap langit yang hitam penuh bintang dengan takjub. Bibirnya tiada henti melengkungkan senyuman, sungguh tenang hatinya saat Krisna tidak lagi memintanya untuk memberikan kesempatan kedua.
Tetapi tetap saja, dia merasa tidak nyaman mengingat dia menginap di rumah Krisna. Ingin berusaha menolak tawaran mereka. Tetapi apalah daya, dia tidak bisa menolaknya. Apalagi ini permintaan Tazkia.
Dibelakang Nita dua orang lelaki tengah memandang dirinya dengan datar. Krisna menatap dengn damba, seolah dia tidak bisa meninggalakan wanita itu. Hatinya terlalu mencintai Nita. Namun, rasa sakit yang pernah dia beri tidak bisa membuat wanita itu memaafkannya.
Sedangkan Indra dengan gaya cool-nya menatap penuh dengan kekaguman. Hatinya merasa menghangat ketika mengingat kedekatan-kedekatan mereka. Dia juga merasa merindu wanitanya, tetapi lelaki itu menggeleng teringat jika Nita bukanlah milik dirinya.
Ketika dia ingat jika Nita janda dari Krisna, dia pun mengalihkan tatapannya kearah Krisna yang tengah memandangnya tanpa Nita ketahui. Dahinya mengkerut tidak tahu apa maksud lelaki itu membuatnya datang.
"Ada apa Tuan Kris--"
Tangan Krisna terangkat memberi isyarat pada Indra, agar dia tidak mengatakan apapun. Indra menurut dan ikut memandangi Nita kembali. Tetapi Krisna berbalik memberi isyarat untuk mengikuti dirinya. Indra dibawa menuju ruang kerjanya.
Tangan yang melingkar arloji Indra angkat untuk melihat jarum jam menunjuk angka berapa. Masih belum terlalu malam, masih pukul setengah sembilan malam.
Lantas Krisna membuka pintu, menyuruhnya untuk masuk, setelah keduanya masuk Krisna pun memandangnya datar lalu mengulurkan tangannya.
"Terima kasih karena telah menyelamatkan perusahaan, meski saya harus berhutang budi pada anda," ucap Krisna. Indra menatap nanar tangan yang terulur, benarkah? tangan lelaki yang terkenal angkuh itu menurunkan harga drinya?
Indra pun balas mengulurkan tangannya dan mengangguk. Krisna pun mempersilakan Indra untuk duduk.
__ADS_1
"Anda sebenarnya menginginkan siapa? saya memukul anda karena saya berpikir anda serakah, menginginkan dua wanita. Dan salah satunya wanita yang saya cintai," ucap Krisna mulai memajukan tubuhnya dan menumpu kedua tangannya di meja.
Lelaki itu tertawa kecil menanggapi ucapan lelaki dihadapannya, "saya mencintai Tazkia, Tuan Krisna, itulah alasan mengapa saya membersihkan namamu. Saya tidak ingin membuat wanita yang saya cintai menjadi banyak beban pikiran, karena kakanya membuat onar," jawab Indra mengungkapkan isi hatinya. Namun, Indra pun sebenarnya belum mengetahi apakah dia tetap mencintai atau penasaran dengan seseorang di masa lalunya.
Meski hatinya belum mantap dalam menentukan pilihan, Indra hanya bisa mengatakan bahwa dia mencintai Tazkia, Krisna tersenyum lantas berdiri. Lalu mengantarkan Indra menuju depan, di ruang tamu mereka berpapasan dengan Nita.
Krisna memlih menjauh untuk saat ini dari Nita, dia tidak ingin membuat wanita itu tidak nyaman untuk tinggal di sini. Tetapi takdir memang tidak menginginkannya untuk menginap di rumah itu. Nita mempunyai alasan saat ini untuk pulang. Alih-alih meminta izin pada Krisna untuk pulang, wanita itu memilih menuju lantai atas untuk membangunkan Tazkia.
***
Indra, Tazkia dan juga Nita berjalan beriringan untuk kedepan. Tazkia tampak tenang tidak seperti Indra dan juga Nita begitu canggung entah perasaan apa yang mereka rasakan. Namun, Indra memegang tangan Kia dengan lembut. wanita itu tampak biasa mendapat perlakuan itu, meski lelaki itu telah berjasa dalam hidupnya.
Membuat perusahaan itu kembali dalam genggaman kelurganya. Indra melirik sekilas wajah Nita yang tidak ikut campur akan pembicaraan mereka. Nita menatap kesembarang arah, tanpa mempedulikan dua insan yang mungkin sedang di Landa asmara. Tanpa ia sadari tangannya terangkat memegangi dadanya.
"Apa kamu tidak ingin merangkai kata untukku," tanya Indra dengan helaan napas kasar. Kia tidak mau menatap lelaki itu, dia memutar-mutar bola matanya kesana-kemari.
"Merangkai? Bunga kali di rangkai. Maaf aku bukan tukang bunga hias," jawab Kia ketus, bibirnya mencibir seolah tidak nyaman dengan perlakuan lelaki itu. Namun Indra tidak patah semangat, dia terus memikirkan cara agar Kia dapat menerimanya kembali.
"Kalau begitu, mengucapakan setelah aku membantumu," ucap Indra seraya menatap harap-harap cemas.
"Aku tidak memaksamu untuk melakukannya. Pulanglah, kasihan Mbak Nita menunggu lama!" Titah Kia dengan perlahan melepaskan cekalan tangannya Indra.
__ADS_1
Kia lantas berjalan beberapa langkah, lalu merangkul pundak Nita dengan lembut, "hati-hati ya Mbak. Jangan sampai terluka kamu membawanya. Luka luar bisa diobati, sedangkan luka dalam sulit untuk diobati!" Seru gadis itu dengan sedikit menyindir Indra. Nita hanya berpura-pura tidak mendengarnya.
"Sampai jumpa Mbak, terima kasih telah menemani aku." Cup, Kia memberikan kecupan di pipi Nita dengan sekilas. Dia terlalu menyayangi wanita itu. Meski dia hanya mantan kakak iparnya. Kia langsung melesat pergi mengabaikan Indra yang hanya menonton perpisahan antara Nita dan Kia.
***
Gelap, ya seperti hati Indra yang kian tidak memberikan sinyal bahwa dia menginginkan gadis yang dulu lugu berubah menjadi bermulut pedas. Mereka berdua larut dalam lamunan masing-masing. Merasai dan mendalami tentang rasa yang mulai menjalari.
Nita diam terpaku saat tangannya tanpa sengaja disentuh Indra saat lelaki itu akan membawa tisu, dengan bersamaan pula lelaki itu akan mengambilnya. Jantung Indra berdegup kencang dari biasanya. Bahkan saat bersama Kia pun tidak kencang seperti ini.
Halus... Tangan putih itu, begitu halus meski sering dipakai untuk bekerja. Indra menatap canggung kearah Nita lalu melepas tangannya yang sempat bersentuhan.
"Maaf." Satu kata meluncur refleks begitu saja dari bibirnya. Nita mengangguk lalu mengusap dahinya, meski tidak berkeringat. Sedangkan Indra dia sama sekali tidak jadi mengambilnya.
"Kamu harus lebih sabar lagi, memang begitu orang yang telah terlampau kecewa. Sulit memaafkan." Nita mulai mengucapkan kata-kata sebagai penasihat cinta untuk lelaki itu. Lelaki itu mengangguk.
"Bagaimana jika dia tidak memberiku kesempatan seperti kamu, apakah aku tidak mempunyai kesempatan." Indra memberikan pertanyaan tentang tanggapan Kia yang semakin hari kian dingin padanya. Bahkan terkesan seperti pada musuhnya.
Nita tercekat seolah susah untuk menengguk ludahnya. Dia tidak bisa memprediksi bagaimana hubungan mereka kedepannya.
"Mmm, coba saja tetap bersabar. Jikalau dia belum juga memberikan lampu hijau, sepertinya kamu harus mempunyai pilihan. Antara harus melepaskan atau tetap bertahan untuk meyakinkan,"
__ADS_1
"Ya, aku akan berusaha. Sampai aku tidak mau lagi berjuang." Indra memberikan semangat untuk dirinya sendiri.
***