
Detik demi detik, menit, jam dan hari telah berlalu begitu cepat. Kini tiba waktunya acara pernikahan di gelar. Tidak banya tamu yang di undang. Bahkan yang datang hanya beberapa orang saja.
Nita mengedarkan pandangan saat melihat acara pernikahan tidak seramai biasanya. Bahkan terkesan tertutup. Nita tidak menyangka jika Kia akan meminta resepsi yang sederhana seperti ini.
Di dalam rumah hanya ada kursi untuk mempelai, penghulu dan saksi. Nita mengernyit heran. Benar-benar sepi, yang berlalu lalang hanya pelayan yang memang bekerja di rumah Krisna.
Merasa penasaran yang amat tinggi Nita pun mulai menaiki anak tangga untuk mencari Kia. Tiba di pintu kamar Kia, dia mengetuknya. Pemilik kamar mempersilakannya untuk masuk. Nita pun memutar knop pintu dan mulai masuk kedalam kamar.
Lagi-lagi matanya mengedar keseluruh penjuru kamar. Kamar pengantin tidak di hias sama sekali. Pernikahan macam apa ini? bukankah persiapannya cukup lama. Namun, kenapa terkesan tertutup dan sederhana seperti ini?
"Jangan terlalu dipikirkan, Mbak. Kamu akan pusing sendiri. Kita lihat saja nanti," ucap Kia dengan senyuman merekah. Betapa bahagianya gadis itu meski hanya pernikahan sederhana.
"Ah, mungkin ini hanya untuk ijak qobul, resepsinya aku yakin pasti akan meriah," batin Nita. Dia pun memaksakan tersenyum kala iri hati mulai merajai dirinya.
"Mbak, kamu cantik hari ini," puji Karina, Nita mengalihkan tatapan kearah Karina dengan senyuman hangat.
"Jadi cantiknya hari ini saja?" Nita mengerucutkan bibirnya, berpura-pura merajuk. Karina merasa bersalah karena telah salah berucap. Gadis itu berjalan mendekati Nita dan memeluknya dengan sayang.
Di ambang pintu Krisna tengah melihati Nita yang tertawa bahagia. Hatinya ikut bahagia, itu berarti bukan kesalahan jika dia meminta Indra dan Kia menikah.
Karina tanpa sengaja melihat Krisna, dia dengan cepat melepaskan pelukannya dari Nita, lalu menunduk dengan penuh ketakutan. Alis Nita menaut kebingungan dengan tingkah gadis itu.
Mengapa reaksinya begitu cepat berubah? apa yang dia lihat? Nita pun memutar tubuhnya untuk menoleh kearah pintu, di sana ada Krisna dan dia pun akhirnya tahu sebab perubahan sikap Karina.
"Apa yang sebenarnya telah terjadi. Mengapa karina begitu ketakutan melihat Krisna," batin Nita. Tidak ingin merusak hari bahagia itu, Nita berjalan mendekati Krisna dan menyeretnya untuk menjauh dari sana.
Sepanjang menapaki anak tangga Nita tidak hentinya memegangi tangan Krisna. Lelaki itu tersenyum senang karena Nita menyentuh anggota tubuhnya, meski mungkin wanita itu tidak menyadari.
Ketika telah sampai di lantai bawah Nita melepaskan genggaman tangannya.
__ADS_1
"Aku ingin tahu kenapa Karina begitu ketakutan saat bertemu denganmu, Kris?" tanya Nita, lelaki itu memandang Nita dengan heran. Menyeretnya turun kebawah hanya untuk mengatakan hal yang tidak penting. Sungguh membuatnya muak ketika Karina yang menjadi topik pembahasan nya.
"Apakah aku harus mengatakannya?"
"Tentu saja,"
"Aku tidak pernah melakukan apapun padanya. Mungkin dia merasa bersalah karena saudaranya telah membuat rumah tangga kita hancur," papar Krisna. Nita terkejut akan perkatan Krisna.
Ini tidak ada hubungannya dengan Karina, lantas mengapa Karina harus bersalah padanya. Nita memandangi Krisna dengan tatapan tidak percaya.
"Apa kamu menggertaknya, Kris? kamu menyalahkan dia karena kita berpisah. Tidakkah kamu merasa dirimu bersalah karena kita akhirnya berpisah? kamu sendiri yang menyebabkan pernikahan kita hancur, Kris. Introspeksi dirilah, sadarlah akan semua kesalahan yang telah kamu lakukan padaku," terang Nita panjang lebar.
"Hentikan, Nita!" teriak Krisna. Nita perlahan mundur karena tidak percaya jika Krisna akan sekasar itu padanya. Hampir saja Nita terjatuh, jika tidak ada sepasang tangan yang tengah menopangnya.
Indra menatap tajam kearah Krisna. Dia juga mengirimi pesan singkat pada lelaki itu. Bola mata Krisna membulat sempurna saat melihat pesan itu. Dia juga tidak punya pilihan lain selain mengalah.
***
"Semoga berbahagia, turut senang aku melihat wajah sumringah Kia," batin Nita.
Indra segera mendudukkan bokongnya di kursi depan penghulu. Namun, setelah Kia mendudukkan bokongnya di sebelah Indra, lelaki itu berdiri dan di gantikan dengan Ari.
Nita, dan Karina, tampak terkejut dengan apa yang mereka lihat di depan matanya. Bukankah sudah jelas jika Indra sebagai mempelai lelaki, lantas mengapa mereka bisa menjadi bertukar posisi.
Krisna pun dengan tegas dan menerima pernikahn itu. Rasa tidak percaya terus menghantui pikiran Nita, mengapa ini semua bisa terjadi? selama ini Krisna tampak selalu mencoba memberi jarak antara dia dan Indra dengan alasan pernikahnn Kia dan Indra, lalu mengapa semua ini bisa terjadi?
Nita berulang kali mngerjapkan matanya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia merasa itu hanya sebuah ilusi. Namun, dia juga berulang kali mencubit lengan sendiri dan itu masih terasa sakit.
"Berarti memang ini semua kenyatann!" batin Nita.
__ADS_1
***
Setelah ijab qobul selesai, Kia tersenyum hangat pada Nita dan juga meninggalkannya dengan sejuta pertanyaan yang bercokol pada diri wanita itu. Nita berusaha mengejar Kia, akan tetapi Indra menahan Kia.
"Berhentilah mengganggunya, biarkan mereka malam pertama dulu, bukankah itu malam yang sudah di nanti-nanti oleh sepasang suami istri,"
"Tapi dia berhutang penjelasan padaku. Pantas saja dia tidak pernah cemburu melihatku dengan kamu. Tetapi kenapa ini semua terjadi? aku tidak memahaminya," terang Nita, seolah tengah memancing Indra untuk mengatakannya. Akan tetapi Indra bergeming, dia sama sekali tidak mengatakan apapun.
Belum juga mendapat jawaban pelayan rumah Krisna meminta Indra untuk menemuinya di ruangan kerja Krisna. Indra mengangguk, dan mentap Nita.
"Mari Nona saya antarkan kamu terlebih dahulu," ucap Indra. Nita tampak berpikir dan mengembuskan napas kasar, seolah yang tengah dia pilih adalah pilihan yang sangat berat.
"Tidak usah, aku akan naik taksi saja. Kamu boleh pergi menemuinya tidak perlu mengkhawatirkan aku. Lagipula ada Karina yang menemaniku,"
Nita dan Karina pun kedepan saat taksi telah datang. Namun, ketika Karina masuk kedlam mobil, Nita tidak mengikuti Karina memasukinya.
"Kamu pulanglah lebih dulu, Karin. Ada sesuatu yang tertinggal di dalam," titah Nita, Karina hanya mengangguk tanpa menyela ucapan Nita. Karina pun berpamitan pada Nita.
Nita berjalan dengan pelan agar dua orang yang berada di dalam tidak mengetahi kedatangnnya kembali. Dia sungguh ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka. Bukankah mereka bedua selalu bersilih paham lantas mengapa mereka bisa sedekat itu saling mengobrol berdua.
"Hai, Nona Nita, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan Krisna, Nita menggeleng pelan dan menjawabnya dengan berbisik.
"Saya hanya akan menunggu dua orang yang tengah berbincang di dalam ruangan Tuan Krisna, saya tidak mau terjadi sesuatu. Karena mereka tidak akur. Saya harap kamu tidak memanggil saya ketika saya menguping pembicaraan mereka,"
Sang pelayan hanya mentaap heran, bukankah anak kecil saja tahu jika menguping pembicaraan orang perbuatan tercela.
"Ini demi kebaikan mereka. Tolong beritahu yang lainnya."
***
__ADS_1