
Ketika Karina sudah mulai memasuki rumahnya dia memegangi dadanya yang kian berdebar tidak karuan. Bian--lelaki itu masih tetap unggul di hatinya. Meski dia merasa jika lelaki itu sungguh-sungguh untuk membuka lembaran baru bersama lagi. Tetapi dia enggan memberikan lampu hijau saat ini.
Krisna, lelaki itu pun sudah mulai menerima dirinya sebagai saudara dari istrinya. Meski pancaran kesedihan masih tercetak jelas saat mengingat saudara kembarnya yang telah menjadi orang ketiga diantara mereka hingga membuat rumah tangga Nita dan Krisna bercerai.
Gadis itu bingung harus mengutarakan rasa ini pada siapa. Dia butuh teman untuk mengungkapkan kegundahan hatinya. Jika pada Kia, dia tidak terlalu dekat. Jika pada bos-nya dia merasa tidak enak hati mengingat mereka tengah honeymoon.
Tetapi Karina tidak mempunyai pilihan lain dia menghubungi Nita untuk mengatakan perkembangan hubungan mereka. Dia tidak nyaman jika harus orang lain yang memata-matai.
"Kenapa Karin? Ada masalah di toko?" tanya Nita saat telepon terhubung.
"Mmm, enggak kok Mbak. Semua aman terkendali, seller semakin banyak dan orderan membludak semenjak Mbak menikah," jawab Karina berbasa-basi agar tidak merasa canggung.
"Benarkah? Coba kamu kirimkan data barang masuk dan keluar, lalu apakah ada barang rijek?"
"Mbak tidak usah memikirkan pekerjaan kalau sedang honeymoon. Biar aku handle semuanya, aku harap Mbak bisa mempercayakan nya,"
"Tentu saja!"
Beberapa menit Karina terdiam, dia bingung harus mengatakan apalagi, di seberang sana Nita tengah tersenyum senang. Di saat Indra tengah berbincang dengan Bian yang juga sedang menguraikan hatinya.
Dan sekarang Karina tengah meneleponnya, akankah dia akan mengatakan perkembangan hubungan mereka? Nita sangat menantikan kata-kata itu.
"Mbak," panggil Karina saat Nita tidak mengatakan apapun saat dirinya terdiam.
"Iya," jawab Nita.
"B-benarkah Mbak menyuruh orang untuk memata-matai kami. Emmm, maksudku aku dan Bian," tanya Karina hati-hati.
Nita mengerucutkan bibirnya, meski tidak terlihat oleh Karina tetapi wanita itu cukup ingin membuat Bian menjadi adonan, menguleknya hingga halus. Mengapa hal rahasia itu pun dia ungkapkan pada Karina. Niat hati hanya ingin, agar dia bisa berbuat impulsif.
Karina masih harap-harap cemas menunggu Nita untuk membenarkan pertanyaannya. Sebenarnya dia tidak mempermasalkan, hanya saja mungkin gerak-gerik mereka bisa ketahui oleh Nita dan juga Indra.
__ADS_1
"Hhmm, ya, kamu tahu lelaki mu sungguh lambat seperti sifut. Menyebalkan saja!" decak Nita dengan menggerutu. Karina dapat merasakan bahwa orang yang tengah berbicara dengannya begitu memerhatikannya.
Karina tersenyum samar bercampur haru, sejak dia dekat Nita. Sedikitpun dia tidak merasa canggung, mengingat wanita itu selalu memperlakukannya dengan baik.
"Mbak," panggil Karina setengah berbisik. Jika tidak jeli Nita bisa mendengarnya. Nita hanya berdehem karena bukan jawaban malah memnaggil namanya sebagai pengalihan.
"Aku tutup teleponnya, Terima kasih," ucap Karina.
***
Hari ini hari terakhir dirinya dan suami untuk bemalam tanpa gangguan. Honeymoon yang membahagiakan bagi Nita karena memiliki suami yang lebih dari segalanya dari suami pertamanya yang telah berkhianat dan melukai hati dan batinnya.
Setelah sore menjelang mereka pulang dengan banyak belanjaan untuk diberikan pada orang terdekat Nita. Suaminya dengan sabar tanpa memprotes tetap mengikuti kemana arah istrinya melangkah untuk memutari setiap toko yang dilaluinya. Baginya tidak ada yang membosankan selagi dia bersama istrinya sebab jika sudah pulang dia tidak mempunyai banyak waktu untuk berjalan-jalan seperti ini.
Kini keduanya tengah membereskan barang-barang bawaan mereka sebelum check-out dari hotel. Nita berulang kali berdehem saat suaminya sedang sibuk membereskan barang-barang. Indra pun menoleh berjalan menghampiri istrinya.
"Kamu kenapa?" tanya Indra menempelkan punggung tangannya menyentuh dahi sang istri.
Indra yang melihat istrinya hanya memandang dirinya dengan lamunan pun memegang baju sang istri agar tersadar dari lamunan.
"Sakit apa? Atau masih ada yang ingin dibeli?" Indra bertanya kembali saat Nita masih saja mematung memandangi dirinya.
Nita menggeleng pelan dengan memainkan jemari tangannya. "M-mas," ucap Nita terbata.
Indra memandangnga dengan penuh kelembutan, hanya karena panggilan saja istrinya bisa segugup itu.
"Cuma nama panggilan yang berubah, gugupnya berlebihan begitu," goda Indra dengan menjawil dagu istrinya. Dia merangkul sang istri untuk dipeluknya.
"Mas," panggil Nita sekali lagi.
"Hmmm,"
__ADS_1
"Tidak perlu menunda ya, meski aku sempat trauma karena pernah keguguran, aku juga ingin secepatnya mempunyai momongan," ucap Nita dengan wajah semringah. Namun, tidak Nita ketahui wajah Indra berangsur nemudar dari senyuman kala Nita mengatakan jika dia ingin secepatnya mempunyai anak.
Pelukan hangat itu perlahan mengurai, sorot mata Indra berubah menjadi datar ketika Nita tanpa sengaja memandangnya. Indra buru-buru berbalik badan menuju kamar mandi. Wanita itu hanya memikirkan perkataannya ulang, apa ada kata yang salah hingga membuatnya tersinggung hingga perilkau suaminya berubah.
"Perasaan tidak ada kata yang salah kok, atau salah karena aku ingin segera mempunyai anak? Tapi salahnya di mana?" gumam Nita dengan resah. Wanita itu lantas berdiri di depan pintu kamar mandi dengan daun telinga menempel di pintu. Kali saja dia bisa mendengar suaminya tengah berbicara dengan orang.
Hening, tidak ada suara apapun di dalam sana. Nita kembali melangkah menuju sisi ranjang dengan mengecek koper kembali, agar dia berkemas tidak meninggalkan apapun di hotel.
Indra keluar dari kamar mandi dengan wajah yang memerah dan rambut basah. Nita menoleh dengan kernyitan dalam dan perasaan penasaran bergelayut dalam hatinya.
"Mas," panggil Nita, dia berjalan menghampiri suaminya dan menyimpan beberapa barang yang akan dia masukkan kedalam koper.
"Aku ada sa--"
"Tidak ada yang salah, kamu selesaikan pekerjaan kamu. Kita akan segera meninggalkan hotel, ok! Jangan berpikir Macam-macam, aku hanya sudah tidak kuat menahan buang air besar," kilah Indra sembari tangannya terangkat memegangi bahu sang istri.
Nita menatap lekat-lekat bola mata suaminya, di sana dia melihat kegelisahan. Ada apa sebenarnya, mengapa perubahan suaminya terjadi kala mengatakan seorang anak?
"Kamu bohong Mas? Kamu belum siap mempunyai anak? Kita bisa menundanya. Aku tidak apa-apa." Indra menggeleng dan meraup wajah sang istri.
"Aku tidak apa-apa sayang, sudah selesai 'kan, kita keluar sekarang," titah Indra. Nita mengangguk meski dia masih tidak percaya akan ucapan suaminya.
Mereka berdua keluar kamar, dan menempuh perjalanan menuju bandara. Sebelum memasuki pesawat Nita memandang kebelakang dengan suka duka, ada gelenjar rasa tidak rela saat kakinya menaiki anak tangga menuju kedalam pesawat.
Setelah selesai menikmati keindahan, pandangannya teralihkan ketika ada dua anak yang menubruk Indra, tetapi Indra bergeming saat dua bocah itu meminta maaf padanya.
"Apa dia tidak suka anak-anak?"
***
Tidak terasa ya teman-teman lebaran tinggal 24hari lagi.๐ semoga lancar puasnya ya๐ ada yang udah beli baju lebaran? kalem aja author juga belum beli๐
__ADS_1