Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Bab44. Berada Di Titik Terendah.


__ADS_3

Bab44. Berada Di Titik Terendah.


***


Sudah seharian Krisna mencoba membujuk Nita untuk sekadar makan saja. Tetapi wanita itu tidak kunjung mendengarkan Krisna. Dia lebih memilih kelaparan di dalam kamar daripada harus bertemu dengan Krisna.


Krisna akhirnya menyerah dan meminta Mbak Ana untuk datang. Seperti biasa Riska selalu mengekang semua yang dilakukan Krisna. Entah mengapa semenjak anaknya menduakan Nita apapun yang dilakukan Krisna selalu salah di matanya.


Namun, setelah mendengar Nita tidak makan seharian akhirnya membuat dia mengiyakan keinginan Krisna. Itu lebih baik, jika Ana berada disamping Nita. Dia bisa memantau keadaan Nita melalui Ana.


"Ta, kamu makan sekarang. Mbak Ana sudah di sini. Dia yang akan menemani kamu, jika kamu tidak mau aku berada di sini. Tapi jangan harap kamu bisa pergi meninggalkanku. Aku mencintaimu Ta!" Teriak Krisna di depan pintu kamar Nita. Malam ini dengan berat hati Krisna pulang ke rumah.


Sebenarnya Krisna enggan untuk pergi, mengingat dia sudah mulai tidak bisa jauh dari Nita. Rasanya dia ingin terus bersama seperti Kasih belum ada di tengah-tengah mereka.


"Tuan, bolehkah saya memberi saran?" Ungkap Ana, Lelaki itu mengangguk, tetapi Ana ragu-ragu untuk mengatakannya.


"Katakan, Mbak!" Tegas Krisna.


"Saya sudah mengenal Nona cukup lama. Mmm, sebaiknya Tuan segera pergi, agar Nona mau makan. Saya takut beliau kelaparan di dalam jika belum memakan apapun sedari pagi," ucap Ana dengan takut. Krisna mengehela napas kasar.


"Mengusir saya?"


"Bu-bukan begi--"


"Tapi ada benarnya juga, saya tidak mau dia sakit. Tolong jaga dia untuk saya Mbak. Saya pulang dulu," pamit Krisna, akhirnya dia mengalah dan memilih meninggalkan mereka.

__ADS_1


Ana mengetuk pintu dan berkata bahwa Krisna telah pergi. Namun, Nita masih enggan untuk keluar. Setelah dia di tengah malam di seret untuk kehotel. Tapi tidak ada yang membantunya. Ana malah membantu melancarkan aksi Krisna. Tetapi wanita itu kembali merenung. Ana pasti tidak akan bisa menolaknya jika Krisna tidak mengancamnya. Akhirnya Nita pun keluar kamar.


"Nona, maafkan saya," ucap Ana. Nita mengangguk dan membawa makanan yang tengah dibawa Ana. Dia melahapnya begitu cepat.


"Mbak tidak usah menjelaskan. Saya mengerti, awalnya saya juga berfikir kalau Mbak tidak sayang sama saya," lirih Nita. Ana tampak tertampar hatinya ketika mendengar lontaran Nita.


"Saya tidak punya kekuatan Non. Mengertilah status saya, hanya ART. Tidak bisa menyeruakkan yang saya tidak sukai. Jika saya berhak, saya akan minta Tuan, untuk menceraikan Nona. Enak saja menyakiti majikan saya yang cantik," ungkap Ana membuat Nita terkekeh. Hatinya sedikit membaik sekarang setelah kehadiran Ana.


"Mbak Ana tahu kan alasan Krisna mengirim saya kemari? Ini pasti karena Kasih yang memintanya bukan?" tanya Nita, Ana menunduk. Harus mengatakan apa jika apa yang ada dalam pikiran Nita benar adanya.


"Iya Nona, bahkan Tuan membawa Nyonya Riska, dan Nona Kasih pergi liburan. Dia bahkan berpura-pura akan menyusul dengan Nona. Selama dua hari ini juga Nyonya Riska marah-marah karena Tuan Krisna membawa Nona tanpa persetujuannya. Mmm, Non," ucapan Ana menggantung membuat Nita penasaran. Wanita sampai menautkan alisnya penasaran.


"Sebenarnya semua kekacauan ini ulah Nona Kasih, saya ingin memberitahu Non Nita, tapi apalah daya saya tidak berdaya karena dia mengancam saya. Saya bisa berbicara seperti ini karena di sini tidak ada Nona Kasih. Saya harap Nona tidak membenci saya," ungkap Ana. Nita mengerti dengan situasi yang tengah dialami Ana. Dia menepuk bahu Ana lalu berpamitan untuk ke kamarnya lagi.


Setelah sampai di kamar Nita merasa terpuruk. Bahkan dia merasa sudah tidak di harapkan lagi. Meski dia mendengar ucapan Krisna bahwa dia mencintainya. Semuanya seolah Hanya kepalsuan baginya. Dia sudah tidak mempercayai siapapun.


Nita berusaha menenggelamkan tubuhnya di bathtub. Ia ingin mengakhiri hidupnya yang penuh kesedihan ini. Apalagi Bian, lelaki yang selalu membuat hatinya damai kini tanpa kabar, bak di telan bumi. Dia yakin bahwa Bian tidak akan menghubunginya lagi, karena kekasihnya yang cantik itu.


Baru saja 10 menit tetapi Nita bangun dan memilih mengakhiri rencananya. Ternyata tidaklah mudah untuk mengakhiri semuanya. Nita berganti pakaian, lalu berjalan kearah balkon. Dia akan melompat tetapi di saat terjatuh saja dia selalu mengeluh kesakitan. Apalagi melompat dari lantai dua.


"Haruskah aku melakukannya. Tapi Akau takut," gumam Nita. Mbak Ana pun datang memberitahu Nita jika Krisna tidak akan mengunjunginya selama beberapa hari.


"Aku tidak perduli lagi dengannya. Mbak saya minta jika masalah yang menyangkut dia tolong jangan memberitahu saya lagi. Saya muak," ungkap Nita. Mbak Ana merasa bersalah dan meminta maaf pada Nita.


Nita pun kembali keranjangnya membaringkan tubuhnya. Menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.

__ADS_1


"Aku bingung harus berbuat apalagi sedangkan aku sudah tidak sanggup lagi menjalani ini. Hatiku hancur, apalagi dengan hatiku ini,"


***


Pagi ini suasana seolah sunyi, Mbak Ana merasa tidak enak hati ketika dia tengah memasak. Padahal tinggal menunggu matang tetapi nalurinya berkata bahwa dia harus kekamar Nita secepatnya.


Akhirnya Ana mematikan kompornya lalu mengetuk pintu. Dia menempelkan daun telinga mencoba mencuri dengar. Namun, hanya terdengar suara rintihan. Dia langsung membuka pintu kamar, betapa terkejutnya dia ketika Nita berusaha menyayat pergelangan tangannya.


Ana langsung membuang pisau itu dan merobek pakaiannya untuk menghentikan darah yang keluar.


"Nona jika merasa kesepian harusnya berbicara pada saya. Jangan melakukan hal konyol seperti ini. Dengan jalan seperti ini semua masalah tidak akan selesai Non. Kamu masih punya Sang Pencipta. Dekatkan diri anda padanya agar iman anda lebih kuat," cerca Ana. Dia khawatir begitu melihat Nita nekat melakukan hal yang tidak terpuji. Nita menangis di bahu Ana tidak kuasa meratapi nasibnya.


Ana pun berpamitan pada Nita setelah dia merasa baikan. Ana tidak ingin mengambil resiko jika hal konyol itu Nita lakukan. Dia memberitahu Krisna untuk datang, dan mengatakan yang sebenarnya.


Art itu dengan telaten mengobati pergelangan tangan Nita.


"Saya tidak mau Non, melakukan ini lagi. Jika tidak sanggup lagi untuk bersamanya. Bicarakan baik-baik Non, jangan membuat diri anda tersiksa seperti ini,"


"Apalagi yang harus saya lakukan Mbak. Dia tetap tidak mau meninggalkan saya," ungkap Nita. Baru saja Ana akan mengatakan protesannya Krisna datang dia mengambil alih untuk mengobati Nita.


"Bair saya saja Mbak yang melanjutkannya," pinta Krisna. Ana pun pamit undur diri.


"Mengapa kamu melakukan hal ini Ta! Konyol, memangnya jika kamu pergi semua akan baik-baik saja?"


"Setidaknya saya bisa lepas dari kamu!"

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2