Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Bab15. Bukan Kencan Tapi Silaturahmi.


__ADS_3

Bab15. Bukan Kencan Tapi Silaturahmi.


***


Malam ini Kasih dan Krisna memilih makan di luar. Mereka berdua pun tidak lupa mengajak Nita. Kasih sudah antusias ketika Krisna mengatakannya. Tentu saja dia akan membuat Nita terbakar lagi. Siapa tahu kali ini Nita bisa menamparnya di depan Krisna. Jadi lelaki itu bisa meninggalkan Nita karena telah menyakitinya.


Namun, susunan rencana yang telah ia rancang sirna. Nita sama sekali tidak berminat untuk ikut. Bahkan wanita itu menolak dengan tegas. Nita pun meminta izin pada Krisna akan keluar bersama temannya.


Kasih diminta kedepan lebih dulu. Meskipun wanita muda itu sangat penasaran kemana dan mau pergi dengan siapa Nita. Tetapi dia juga tidak bisa membantah ucapan Krisna.


"Sayang, kamu kedepan lebih dulu. Aku akan bicara dengan Nita," titah krisna. Kasih tampak enggan ia juga menggelengkan kepalanya sebagai penolakan.


Tapi, tatapan Krisna yang membuatnya takut. Dia pun pergi dengan gontai. Meskipun keingintahuannya tinggi, tetapi apalah daya dia tidak bisa mendengarkan perbincangan mereka.


"Dengan siapa kamu pergi?" tanya Krisna dengan lembut. Nita memandangnya dengan tatapan menghiba.


"Aku akan mengizinkanmu. Tapi kamu harus mengatakan siapa yang akan membawamu pergi. Aku ini suamimu dan aku bertanggungjawab penuh atas keselamatan kamu," ungkap Krisna. Nita pun memberikan photo Bian. Ya, dia sama sekali tidak membohongi Krinsa bahwa dia akan bertemu dengan lelaki.


"Lelaki? Dimana kamu mengenalmya? Agar kamu aman sepertinya saya mempunyai rencana," ucap Krisna. Tanpa mendengar pertanyaan Nita dia langsung menelepon sekertaris Ari untuk mengantar Nita.


"Tapi Kris, aku rasa tidak perlu," tolak Nita. Namun, Krisna memandang Nita dengan wajah seriusnya. Tatapan yang seolah tidak mau mendengar penolakan.


"Ok, tidak diantar. Tapi kamu tidak keluar." Krisna pun membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan Nita. Dia yang ingin pergi pun akhirnya mengiyakan saran Krisna.


"Dia pacarmu?" tanya Krisna.


"Enggak lah, aku kan sudah menikah," ucap Nita. Krisna mengelus puncak kepala Nita dengan lembut. Senyuman yang tercetak di bibirnya tulus. Namun, sekali lagi Nita menegaskan akan perilaku Krisna yang perhatian itu.


Bahwa dia hanya dianggap teman. Tidak lebih, sampai saat ini hubungan mereka belum juga mendapatkan kemajuan. Apalagi Nita yang sudah mulai akrab dengan seseorang. Apakah cintanya akan berpaling ketika ada seseorang yang menganggap dirinya berharga?

__ADS_1


Mbak Ana yang melihat interaksi keduanya tersipu malu sendiri. Art itu menganggap jika hubungan antara istri pertama dan tuannya menjalani hubungan yang sedang baik sekarang. Bahkan baru kali ini dia melihat Nita dan Krisna seperti saling mencintai.


Namun, Mbak Ana tidak tahu, jika hubungan mereka sudah berbenteng teman. Bukankah seorang teman hal wajar melakukan itu pada Nita. Bukti dirinya menjaga dan menyayangi Nita setulus hatinya.


"Ah, andai saja hubungan mereka mengalir seperti air tanpa adanya hambatan," gumam Mbak Ana. Yang ikut merasai bahagia.


"Yasudah, aku berangkat ya? Jika ada sesuatu jangan sungkan hubungi aku," pamit Krisna. Nita mengangguk patuh lalu memberikan senyuman manisnya.


Lelaki itu berlalu pergi meninggalkan Nita. Dan memberikannya izin untuk pergi. Selagi Ari mengikuti Nita dia akan cukup lega.


"Mbak Ana, pasti masak ya? makanannya sayang gak dimakan," lirih Nita dia lupa tidak melarang Art itu untuk tidak masak.


"Saya tidak masak Nona. Tuan sudah memberitahu saya," jawab Mbak Ana.


"Oh, syukurlah. Mbak Ana aku permisi keluar dulu ya, nanti aku belikan sesuatu." Sedikit tertawa Nita mengatakannya. Dia tidak ingin membuat Art-nya merasa tidak nyaman karena dia dan yang lainnya makan di luar.


***


"Silahkan Nona, semoga hari anda bahagia," ucap Ari, kata-kata itu ia ulang di saat bertemu dengan Nita.


Nita mencebik, tangan ia lipat di dada. Rasanya enggan untuk masuk jika Krisna tidak mengancamnya jangan pergi di saat dia menolak untuk diantar Ari.


Deru mesin mobil menyala searah dengan melesatnya mobil itu membelah jalan. Menuju tempat yang sudah dijanjikan Nita untuk berjumpa dengan Bian. Lelaki yang telah membuatnya nyaman dan merasa menjadi penawar di kala rasa sakit menerpa. Namun rasa nyaman itu tidak bisa menggantikan Krisna yang masih menjadi nomor satu di hatinya.


Sepanjang perjalanan dia tidak bersuara. Namun, cukup suntuk juga, jika tidak bertegur sapa.


"Memangnya kamu tidak kencan dengan pacarmu?" Tanya Nita pada Ari. Lelaki itu masih focus menatap kedepan. Menghiraukan pertanyaan Nita.


"Lalu anda mengapa tidak kencan dengan suami Anda. Malah pergi dengan orang lain," Jawab sekretaris Ari membuat Nita heran. Bukannya menjawab dia malah balik bertanya.

__ADS_1


"Aku kan sudah meminta izin padanya. Dia pergi bersamanya madunya." Nita sedikit tidak suka dengan ucapan Ari.


"Anda tidak ingin cinta anda berbalas?" tanya Ari lagi membuat Nita kesal.


"Jika dia mencintai saya dengan sukarela. Mungkin poligami ini tidak akan terjadi. Lelaki itu memang sama. Sama-sama serakah!" Ketus Nita dengan menekan kata semua lelaki.


Ari mengerti dengan hati Nita. Tetapi tidak banyak yang bisa dia lakukan untuk membantu wanita kuat itu. Tetapi jika bisa untuk pergi. Lantas mengapa selalu bertahan. Memang sulit untuk mengartikan jika masalah hati. Sesudah jatuh hati orang itu akan melakukan apapun untuk membuat pasangannya tetap bertahan. Sama halnya dengan Nita. Dia rela berbagi suami untuk membahagiakan suaminya.


"Apakah anda kencan Nona? Rupanya sudah ada lelaki yang mampu menggeser Tuanku, hmmm," ucap Ari. Nita menepuk kursi depan dengan kasar, celotehan Ari yang dianggap menjengkelkan baginya kini menjadi naik level menjadi tukang ngarang.


"Hey, anda ini lama-lama jadi pengarang ya? Tebakanmu itu sama sekali tidak benar. Ini bukan kencan tapi Silaturahmi." Ari mengangkat sudut bibirnya sebelah.


"Kalau begitu tidak masalah jika saya ikut masuk, dan ikut bergabung," ucap Ari. Ternyata begitu mudah memancing nona-nya agar dia bisa ikut bergabung. Seperti apa yang telah diintruksikan Krisna. Bagaimana pun lelaki itu harus bisa masuk dan ikut bergabung dengan mereka.


"Yasudah, ikut saja!" Seru Nita mantap. Dia tidak berpikir jika itu semua adalah suruhan suaminya. Walaupun Krisna tidak mencintainya tetapi dia selalu melakukan yang terbaik untuk Nita. Dia tidak mau Nita salah memilih teman. Apalagi ini lelaki, sangat khawatir sekali Krisna.


Ingin dia yang mengantarnya. Tetapi karena adanya Kasih akan sulit dirinya untuk mengantarkan istri pertamanya itu.


Nita dan Ari berjalan masuk kedalam beriringan. Setelah Nita melihat Bian di sana dia langsung mendekati Bian.


"Hey, ini suami kamu?" tanya Bian ketika Nita dan Ari sudah sampai.


"Mmm, perkenalkan saya, Bodyguard Nona," ucap Ari memperkenalkan dirinya.


"Terlalu cinta suami anda, hingga anda di kawal seperti ini." Raut wajah Nita berubah menjadi sendu. Namun, dia masih berusaha menarik sudut bibirnya untuk tersenyum. Ari yang melihat perubahan ekspresi Nona-nya hanya bisa menatap datar kearah istri majikannya.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2