Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Bab37. Bertemu Kembali.


__ADS_3

Bab37. Bertemu kembali.


***


Setelah makan malam kemarin Nita di buat terbakar. Pasalnya dia melihat perhatian Krisna dan Riska. Entah berpura-pura atau benar adanya. Kasih membuat drama seolah dia lemas. Namun, matanya mengerling kearah Nita.


Nita mengernyit, mengapa bisa ngidam seperti itu. Tatapannya meremahkan kearah Nita. Dia akhirnya tahu itu adalah tanda-tanda kebohongan, tetapi dia tidak bisa berkata-kata. Jika dia mengatakan bahwa Kasih berpura-pura dia mungkin akan mendapatkan kecemana dari Krisna dan Riska. Pasalnya dia belum pernah mengalami ngidam, seperti apa yang di rasakan Kasih.


["Mbak Nita, lihatlah. Mertua yang selalu mendukungmu sudah tidak lagi mencintaimu. Hatinya telah bercabang padaku, seperti mas Krisna!"]


Pesan singkat yang di kirimkan Kasih. Entah mengapa dia dapat mengirimkannya. Padahal jelas-jelas dia berakting lemas tidak bisa apa-apa hingga membuat Krisna menggendongnya. Bahkan semua mata pengunjung mengarah pada mereka.


Sedikit sesak, perlakuan itu tidak pernah Nita rasakan. Namun, dia menyadari jika Krisna tidak mencintainya. Merasa sesak dia berpamitan dulu untuk ke kamar kecil. Setelah perjalanan menuju tempat parkiran Nita bertemu lagi dengan seseorang yang dia rindukan.


Bian ... Lelaki itu datang kembali. Nita sempat tidak percaya. Mengingat lamanya dia tidak bertemu dengan lelaki itu.


Mereka bertukar nomor ponsel. Bian juga mengatakan jika Nita harus menghubungi Bian, jika dia membutuhkan Bian.


"Telepon saja aku, Mbak. Aku akan selalu ada untuk kamu," ucapan Bian membuat wanita itu senyum-senyum sendiri.


"Tata," panggil Riska. Ketika dia memasuki kamar Nita. Wajah yang selalu murung itu kini memancarkan cahaya.


"Kenapa senyum-senyum sendiri sayang?" tanya Riska membuat Nita malu sendiri. Namun, dia juga tidak bisa mengatakan penyebab bahagianya saat ini. Statusnya telah bersuami, dan juga dia tidak pantas merindukan lelaki lain.


"Mmm, ahh, itu tidak pa-pa, Ma. Aku hanya melihat YouTube saja yang membuat geli." Riska mengernyit dan sedikit bingung. Nonton YouTube. Sedangkan jelas-jelas Nita tengah berdiri di depan jendela. Tidak memegang ponsel atau menyalakan TV.


"Kamu sakitkah, Nak." Riska memegangi dahi Nita. "Tidak juga, kamu normal, Nak. Lalu mengapa bisa seperti itu. Kamu tidak memegang ponsel. Kamu juga tidak menyalakan TV, jangan buat Mama takut," oceh Riska bergidik. Dia takut Nita mengalami halusinasi. Mengingat saat ini keadaanya yang tidak stabil.


"Aku sehat, Ma." Nita melepaskan tangan Riska dari dahinya.


"Maksudku ... Tadi, aku ... Nontonnya, dan masih ingat acaranya begitu," elak Nita. Menggaruk belakang lehernya.


"Oh, syukurlah. Mama takut kamu defresi kare---"

__ADS_1


"Ma, aku tidak akan seperti itu, hanya karena masalah cinta." Nita tidak terima dengan ucapan mertuanya. Riska tersenyum dan memeluk menantu tersayangnya.


"Jalan-jalan yuk, supaya kamu bisa lebih fress. Daripada di rumah," bisik Riska. "Kamu pesta kejang-kejang lihat keromantisan mereka,"


"Mama!" Nita menghentakkan kakinya kelantai dengan ucapan sang mertua. Namun, dia juga sedikit terhibur dengan celotehan Riska.


Mereka berdua keluar kamar Nita dengan tertawa riang. Kasih melihat keduanya akan keluar bersama. Langsung berpura-pura pusing. Membuat Riska mau tidak mau harus memapahnya kekamar.


"Tunggu Mama dulu, ya sayang," pamit Riska pada Nita. Baru saja dia memapah Kasih kekamarnya dan membaringkan Kasih di ranjang. Wanita itu merengek meminta Riska untuk menelepon Krisna.


"Jangan seperti itu Kas, kamu itu ngidam. Bukan sakit keras. Berbaringlah, supaya lebih baik. Mama akan keluar sebentar bersama Nita, kamu kan juga ada mbak Ana yang menunggumu,"


"Jika ibu tetap ingin pergi, pergi saja. Tapi tolong panggilkan Mas Krisna," rengek Kasih. Riska yang tidak ingin mengganggu Krisna pun akhirnya memilih tidak jadi pergi. Dia pun berjalan gontai keluar kamar. Memberitahu Nita bahwa dia tidak bisa menemaninya.


"Nak, Mama." Riska tidak bisa melanjutkan ucapannya. Nita mengerti dengan gelagat mama mertuanya itu.


Wanita itu akan terus menjadi bayang-bayang dirinya ketika dia mempunyai orang yang simpati. Keinginan Kasih hanya membuat Nita terpuruk dan berjalan mundur perlahan. Dia sudah tahu dengan apa yang di rencanakan Nita.


Dia mengangguk, dan meminta Riska untuk masuk saja kedalam. Membiarkan dia berjalan-jalan sendiri. Tidak akan membuatnya merasa tidak diperhatikan dengan mama mertuanya itu.


Wanita itu sungguh dewasa, dan pengertian. Itulah mengapa dia begitu mencintai Nita.


"Maaafkan Mama, ya sayang." Riska merasa bersalah. Nita pun balas memegangi jemari mertuanya. Dengan gerakan lembut dia mengisyaratkan bahwa dia tidak masalah jika tidak ditemani Riska.


***


Nita dan Bian kini tengah berada di sebuah restoran tempat pertama mereka singgahi untuk berkenalan. Entah kenapa mereka menyukai tempat itu, meski sering kesana keduanya tidak merasa bosan.


"Aku masih ingat momentum saat kita pertama kali bertemu," goda Bian. Nita tergelak. Dan menengguk jus yang telah dia pesan.


"Konyol!" Oceh Nita dengan mencebik. Namun, tak ayal wanita itu pun merasakan hal yang sama dengan Bian. Namun, dia terlalu gengsi untuk mengakuinya.


"Bagaimana kabar kamu dengan madumu itu?" tanya Bian. Membuat Nita terpaku.

__ADS_1


"Bisakah aku tidak menjawabnya. Aku ingin menghilangkan rasa suntuk. Bukan membuka aib di dalam rumah tanggaku," tandas Nita membuat Bian merasa tidak enak hati.


Lelaki itu menjadi canggung, dan tidak bisa bertanya lagi. Dia takut jika pertanyaannya akan membuat orang yang tengah ditemuinya tidak nyaman. Cukup lama mereka terdiam dalam pemikiran masing-masing.


"Kenapa diam?" tanya Nita memecah keheningan diantara keduanya.


"Aku ...."


"Aku tidak pa-pa. Kamu bebas kok bertanya apapun jika aku mau menjawabnya. Jika tidak ya ganti topik saja," ungkap Nita. Bian menatap Nita yang tengah memandagnya.


"Bisakah kamu akhiri saja pernikahan itu? Kamu juga pantas bahagia, aku yakin akan ada orang yang jauh lebih memperlakukan kamu dengan baik. Contohnya aku," goda Bian membuat Nita tersedak.


"Hey, kau selalu menggodaku, aku masih bersuami. Bukan janda Bian!" Nita menepuk kasar bahu Bian.


"Aku suka menggodamu, Mbak. Kurasa kamu terlalu lelah menghadapi kenyataan hidup, yang membuatmu merasa tidak nyaman. Cobalah ...." Bian menggantung ucapannya membuat Nita merasa penasaran. Wanita itu mengernyit ketika Bian tidak juga melanjutkan ucapannya. Lelaki itu malah asyik meminum jusnya dengan tatapan yang menjengkelkan.


"Bian!"


"Apa yang sedang batinmu rencanakan, untuk membuat aku kesal. Menunggu ucapanmu itu," cicit Nita dengan tatapan herannya.


"Ya, cobalah untuk lari dari kenyataan. Dan membuat hari-harimu lebih berharga." Ada helaan napas berat yang Nita keluarkan. Bian dapat melihat beratnya beban hidup Nita.


"Jika kamu bersedia, aku akan menunggu kamu," goda Nita membuat Bian mengernyit. Namun, membuatnya cukup senang.


"Jika aku mencintaimu bagaimana?" Tanya Bian.


"Aku akan pertimbangkan jika aku masih gadis," jawab Nita.


"Kau memang gadis, bukankah kamu telah jujur padaku waktu itu,"


"Bian!" Teriak Nita jengkel. Namun, Bian hanya tergelak menanggapinya.


***

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2