
Nita memilih pulang sendiri daripada harus diantarkan oleh lelaki itu. Dia sudah cukup muak dengan perilakunya yang tidak setia seperti itu. Memangnya dia wanita murahan yang bisa dibohongi. Dia pun sudah jelas tahu jika dia akan menikah.
Tidak ada alasan lagi untuk dirinya berharap. Semakim jauh melangkah bersamanya, akan semakin menyesakkan untuknya.
Berulang kali Nita mengembuskan napas kasar. Mencoba membuang rasa yang sempat tumbuh di dalam hatinya. Taksi sudah mengantarkan Nita ketempat tujuan.
Dia mulai turun dari taksi saat telah membayar ongkosnya. Sebelum langkahnya mendekat kearah gerbang, lampu mobil menyorot kearahnya menyilaukan penglihatannya.
"Tidak kapok dia!" Gerutu Nita. Padahal dia tidak tahu siapa yang datang. Dia sudah siap siaga untuk menyemburnya dengan makian.
Mobil itu pun berhenti di depan pintu gerbang, Nita mendengkus kesal akan pengemudi itu. Tas yang dia tengah jinjing pun sudah dia persiapkan untuk memukul orang.
Nita perlahan menuju pintu kemudi, ketika pintu dibuka dia langsung memukulnya dengan penuh amarah. Meluapkan semua kebencian pada orang itu.
"Ta, berhenti! Ini aku, Kris--"
Mata Nita perlahan ia buka, dan terkejut karena telah salah sasaran untuk memukul orang. Dia tersenyum kecut kearah Krisna dengan tatapan bersalah.
"Maafkan aku, ya, Kris," ucap Nita, dia masih merasa tidak enak hati melakukan hal itu karena tanpa melihat orangnya.
"Kenapa? Apakah ada orang yang telah mengikutinya, hingga kamu seperti ini?" cerca Krisna merasa khawatir.
"Tidak, aku hanya merasa sedang begitu lelah saja," kilah Nita. Berusaha menghentikan perbincangan, dia tidak ingin bertemu Krisna saat ini.
Apalagi mengingat kejadian semalam. Dia sedikit geram atas apa yang telah dilakukan Krisna padanya.
"Maaf untuk kejadian semalam, kita teman tetapi aku tidak tahu malu mencari kesempatan dalam kesempitan," ungkap Krisna dengan wajah bersalahnya.
__ADS_1
Nita mendesah kasar, "tidak apa, sudah terjadi bukan. Jangan diulang lagi saja. Yasudah aku akan masuk, kamu pulanglah," titah Nita mengusir Krisna secara halus.
Tetapi Krisna ingin mengajak Nita untuk makan malam. Dia ingin bernostalgia saat perayaan satu tahun pernikahan mereka dulu. Meski dia menjadi lelaki yang tidak tahu diri karena malah meminta izin pada Nita untuk menikahi wanita lain.
"Kamu ingatkan tanggal sekarang, Ta?"
Nita memijit pelipisnya, saat lelah yang mendera tubuhnya tetapi Krisna tidak mengerti akan keadaannya. Saat ini Nita hanya membutuhkan istirahat, bukan kata-kata yang membuatnya merasa tidak nyaman.
"Ya," jawab Nita singkat.
"Bisakah kita mengulang hari itu?"
Nita mendongak kearah Krisna dengan tatapan yang bingung. "Apa maksudmu?" Alis Nita menaut.
"Kita rayakan kembali, aku ingin masa itu kita lewati lagi, Ta. Kia akan menikah dan pasti aku akan sendiri, tidakkah kamu merasa kasian padaku." Krisna meminta Nita untuk berbelah kasih padanya. Padahal seujung kuku pun dia tidak berniat untuk mengulang kisah mereka.
"Ini semua gara-gara Indra 'kan? Kamu menyukai dia, Ta? Buka matamu lebar-lebar dia akan menikah pantaskah kamu mengharapakan lelaki itu padahal dia calon suami Kia, gadis yang telah kamu anggap adik, bukan?"
Nita menelan ludah dengan susah payah. Ya, dia akui dia memang sempat menyukai Indra. Tetapi kenapa Krisna mengetahuinya? Apakah sikapnya terlalu menampilkan rasa suka itu?
"Apa yang kamu katakan, Kris!" Nita tidak terima dengan ucapan Krisna. Dia menganggap kata-kata Krisna seolah menyuruhnya untuk sadar diri.
"Kamu melukai harga diriku, Kris. Sedikitpun aku tidak memiliki pikiran buruk untuk mengacaukan acara mereka. Aku senang, aku ikut bahagia dengan Pernikahan Indra dan Kia. Mulai saat ini pertemanan kita hanya sebatas saling mengenal saja, aku tidak ingin kamu terlalu sering menemui ku. Dan jaga jaraklah denganku jika kamu merasa aku memang wanita picik yang rela melakukan segala cara untuk memiliki sesuatu. Meski aku akui, aku sempat mengagumi lelaki itu hanya sebatas mengagumi bukan ingin memiliki. Aku tidak akan pernah melukai hati orang demi kebahagiaan ku sendiri!" Nita pun langsung memanggil Satpam untuk membuka pintu.
Dia juga meminta Satpam agar Krisna tidak diperbolehkan bertamu untuk beberapa hari kedepan.
Krisna menyugar rambutnya frustrasi. Merasa telah melukai hati Nita. Dia hanya ingin menyadarkan Nita, jika Indra telah memilih Kia untuk menjadi istrinya.
__ADS_1
"Bodoh! Kamu, Kris!" Teriak lelaki itu melayangkan pukulan keudara.
***
Indra menggerang dengan frustrasi saat Nita menjauhinya. Hal yang tidak bisa dia bayangkan akan terjadi seperti ini. Menaruh hati pada seorang janda, dia tahu dia pun menyukainya. Membalas rasa yang kini mulai tumbuh dalam hatinya, rasa itu telah menguncup akan tetapi, terlalu lama tidak di siram membuatnya tidak mekar.
Dering ponselnya membuatnya ingin memaki seseorang yang tengah menghubunginya.
["Kenapa? Ide macam apa yang kamu berikan padaku? Dia malah semakin marah padaku, Ari!"] geram Indra, ingin rasanya dia memberikan hadiah pukulan pada Ari.
["Sabarlah, jika Nona Nita benar mencintai Tuan dia tidak akan berubah pikiran."] Indra semakin tidak tenang, dia takut jika hati Nita akan berpindah hati, saat pernikahan itu yang membuatnya terjerat.
Dia mematikan ponselnya dengan cepat. Tidak cukup jika hanya memaki Ari yang sama sekali tidak akan mengubah keadaan. Menendang udara berkali-kali pun tetap saja tidak membuat hatinya tenang. Apakah dia harus memakan manusia agar emosinya mereda?
Dia berjalan untuk menaiki kendaraannya. Sepanjang perjalanan dia hanya melamun memikirkan Nita yang sudah benar-benar terlihat muak padanya. Harus bagaimana Indra menjelaskan.
Di tengah malam suasana jalan yang sedikit sepi, membuatnya sesuka hati untuk melajukan kuda besinya. Tetapi dari arah berlawanan mobil datang menghadang membuat Indra membanting setir mobilnya kearah kiri agar tidak menabrak mobil itu.
Kecelakaan tunggal tidak bisa dihindarinya. Indra perlahan membuka pintu dan mengusap pelipisnya yang berdarah. Dia pun melihat mobilnya yang rusak karena menabrak trotoar.
Lalu dia menatap kearah seberang saat mobil itu mengahadangnya dari arah berlawanan. Sang pemilik kendaraan turun dari mobil dengan angkuhnya.
Senyum jahat tercetak jelas di wajahnya. Seolah dia merasa senang akan apa yang telah dia lakukan. Lelaki itu datang mendekati Indra, lalu tanpa aba-aba dia memukul Indra dengan kuat.
Indra tersungkur di atas aspal dengan sudut bibir yang berdarah. Lelaki itu mengusapnya kasar dengan tatapan dingin. "Apa salah saya Tuan Krisna!"
***
__ADS_1