Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab109. Tertipu.


__ADS_3

Nita membuka pesan itu, alisnya menaut membaca pesan yang telah Karina kirimkan. Gadis itu, selalu mengingatkannya. Meski Nita sama sekitar tidak akan goyah dengan pendiriannya. Senyuman di bibirnya terangkat.


"Bagaimana bisa aku membuka hati untuk orang yang telah menyakitiku, sedangkan aku, kini menyukai orang yang salah," gumam Nita menertawakan dirinya yang menyedihkan.


Indra, kenapa lelaki tampan itu selalu memperlakukannya dengan baik. Bahkan perlakuan yang tidak pernah Krisna berikan membuatnya semakin banyak berharap.


"Haruskah aku mengejarnya! Tetapi aku tidak mau sakit lagi seperti dulu. Di saat rasaku yang teramat dalam hanya akan membuat orang yang kucintai semakin semena-mena padaku."


***


"Ta," panggil Krisna ketika Nita sudah kembali dari dapur. Nita lantas balas tersenyum menanggapi.


Lelaki itu berdiri dan menghela napas berat. Tampak raut khawatir terlihat jelas oleh Nita.


"Kenapa?"


"Aku hanya takut kamu akan risih karena aku sering bertamu. Jujur aku hanya ingin silaturahmi yang sudah terjalin sejak kita masih kecil masih berjalan dengan baik, Ta." Krisna mulai mendekati Nita yang masih berdiri.


Lelaki itu mencoba menggapai tangan Nita untuk dipegangnya. Nita bergeming, dia tidak menolak saat tangannya dipegang oleh Krisna.


Bayangan masalalu kini mulai menghantui pikirannya lagi. Bagaimana Krisna memperlakukannya berbeda dengan Kasih. Meski dia berusaha menerima perlakuan itu, bahkan saat lelaki itu meminta izin agar madunya tinggal satu atap. Dadanya bergemuruh, jantungnya berdegup kencang.


"Kris, aku ingin istirahat." Saat Nita sadar jemari tangannya telah bertaut dengan lelaki itu. Bahkan kini mereka berdiri dengan jarak yang hanya beberapa langkah.


"Kamu membenciku, Ta?" Pertanyaan yang seharusnya sudah Krisna tahu jawabannya. Bagaimana dia selalu menolak dengan lembut keinginan lelaki itu untuk kembali bersama.


"Jangan terlalu banyak berpikir. Aku tahu kamu lelah karena pekerjaan. Mari aku antar untuk kedepan." Tangan mereka Nita uraikan perlahan. Lalu mempersilakan Krisna untuk keluar dari rumah Nita.


***


"Ta, aku ...."

__ADS_1


"Selamat malam Kris, tampaknya cuaca malam ini dingin ya, aku akan masuk lebih dulu," tandas Nita, seolah tidak ingin mendengarkan ucapan Krisna.


Lelaki itu menendang udara dengan emosi. ****, dia hanya mengumpat dalam hati, sembari mengepalkan tangannya kuat-kuat. Semua itu pasti karena Indra. Lelaki itu yang sudah mencuci otak Nita.


Dia tahu jika Nita masih mencintainya. Dan kini di antara mereka berjarak. Haruskah dia memperingati lelaki itu agar berhenti untuk menemuinya. Sepertinya cara itu akan memperburuk image-nya. Dia harus mencoba mendekatkan Kia adiknya untuk selalu berdampingan dengan lelaki itu.


Krisna yakin jika Kia masih mencintai lelaki itu, dan memang mereka pun cocok. Apalagi permintaan Indra yang ingin mendekati adiknya, Krisna yakin jika lelaki itu mencintai Kia bukan Nita.


Krisna pun masuk kedalam mobilnya dan melajukan kendaraannya untuk pulang. Di tengah perjalanan yang tidak jauh dari rumah Nita, dia melihat mobil Indra melaju menuju rumah Nita.


Tidak ingin lelaki itu kesana, Krisna menelepon Indra dan mengatakan jika Kia tengah mengurung diri di kamar. Krisna mengatakan jika Kia terus memanggilnya di dalam kamar dengan menangis. Tanpa mau membuka pintunya.


Indra yang mendapat kabar seperti itu pun, seketika cemas. Dia langsung memutar mobilnya untuk menuju kerumah Krisna. Lelaki itu tidak memedulikan lagi ucapan Karina yang menyuruhnya untuk datang. Setelah Krisna bertamu sikap Nita berubah seratus persen. Entah apa yang di katakan lelaki itu pada Nita.


***


Indra tiba di rumah Krisna, buru-buru dia masuk kedalam rumah tanpa mempedulikan penghuni rumah. Meski ada Art yang bertanya Indra menghiraukannya dan tergopoh-gopoh untuk menuju lantai dua. Di mana kamar Karina berada.


"Kia buka pintunya," pinta Indra yang semakin kencang menggedor pintu. Kia yang masih berada di dalam kamar memakai pakaiannya pun hanya mengernyit. Siapa orang yang berani membuat kebisingan di malam hari begini di dalam rumahnya?


Cari mati!


Ya, orang itu membuat istirahat Kia terganggu. Kia membuka pintu kamar dengan kasar. Matanya sudah memancarkan kilatan emosi yang siap menyembur untuk memaki orang yang telah mengetuk pintu kamarnya dengan kasar.


Namun, setelah dia tahu siapa yang datang, alisnya menaut. Seolah bingung apa yang sedang dilakukan Indra di rumahnya malam-malam begini. Bahkan lelaki itu bertamu di jam sembilan malam.


"Ngapain kamu kesini? Mau nonton wayang?" Celetuk Kia dengan bibir mencebik. Alis Indra menaut seolah sama halnya dengan Kia kebingungan.


Lelaki itu lantas mengamati wajah gadis di hadapannya dengan seksama. Dia bahkan sampai membungkuk untuk mensejajarkan tinggi gadis itu.


"Kamu sepertinya tidak kenapa-kenapa," ucap Indra sembari terus mengamati bola mata Tazkia.

__ADS_1


Risih. Gadis itu mulai risih dengan tingkah Indra. Bahkan wajah Indra begitu dekat dengannya. Merasa terancam dia langsung mengepalkan tangannya untuk memukul kepala lelaki itu.


Indra memekik, memegangi kepalanya yang dipukul. "Hey, apa salahku?" tanya lelaki itu polos seolah tidak merasa bersalah.


"Kamu kesambet apaan, malam-malam datang kerumah orang tidak sopan, gedor-gedor pintu dengan kencang!" Seru Kia sembari mengangkat tangannya untuk memukul kepala lelaki itu lagi.


Tubuh Indra yang sudah tidak membungkuk, sungguh sulit di jangkau. Mengingat tinggi Kia hanya sebatas dada lelaki itu.


"Katanya kamu mengunci diri di kamar. Nangis-nangis memanggil namaku," ucap Indra sembari mengerling menggoda gadis itu. Jika benar, gadis itu membuatnya semakin bingung harus memilih siapa.


"Kamu ini bukannya CEO di perusahaanmu, lantas mengapa bodoh sekali. Mana ada aku menangisi kamu! Ya, mungkin jika dulu sih, iya." Kia menjawab dengan malu-malu.


"Tapi dulu, ya, saat aku masih bodoh!"


"Memangnya sekarang kamu pintar?"


"Tuan Indra! Ada mau saya usir,"


Indra tergelak mendengar penuturan Gadis itu. Lantas dia langsung menatap lekat-lakat kearah Kia.


"Berarti ini hanya rencana Tuan Krisna saja, aku lupa jika dia pun datang kerumah Nona Nita. Sepertinya dia tidak ingin aku bertamu malam-malam kesana," batin Indra, dia langsung mengetahui rencana licik lelaki itu.


Namun, dia hanya akan memendamnya seorang diri. Dia tidak akan memberitahukan semuanya pada Tazkia. Dia tidak ingin di antara saudara itu bertengkar hanya karena dirinya. Karena Tazkia orang yang memberikan support untuk kedekatan antara dirinya dan Nita.


"Nona Kia, saya juga manusia. Memangnya yang kamu tahu CEO itu tidak pernah tertipu?"


"Apa maksudmu tertipu? Jadi kamu di panggil seseorang untuk datang kemari?" Otak Kita langsung terkoneksi. Ah, Indra mendesah berat. Mengalami pemikiran Kia bisa satu jalan dengannya.


Tetapi Indra tidak menanggapinya, dia hanya menatap manik mata hitam itu dengan seksama. Gadis di hadapannya tetap gadis kecil yang imut yang telah membuat hari-harinya dulu berwarna.


***

__ADS_1


__ADS_2