Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab151. Lambat


__ADS_3

Keesokan harinya Karina melihat Bian yang tengah beradaa di kontrakannya. Senyuman licik terbit lagi di bibirnya yang yang berbalut gincu. Ah, dia benar-benar merasa sudah berhasil membuat lelaki itu bertekuk lutut padanya. Namun, dia tidak akan semudah itu untuk memulai kisahnya seperti dulu.


Ketika Bian melihat Karina keluar dari kontrakannya, Bian langsung kelaur dari mobil dan menunggu gadis itu datang.


"Selamat pagi, Karin. Aku kemari karena ingin menjemputmu untuk mengantarkan Mbak Nita pergi. Mereka hari ini akan melakukan perjalanan untuk honeymoon," terang Bian menjelaskan. Karina menganggukan kepalanya.


"Ayok, masuk!" seru Bian sembari tangnnya membuka pintu mobil. Karina melihat arah tangan Bian dan menggelenggengkan kepalanya.


"Aku naik taksi saja!"


"Masuk saja, aku sengaja datang agar kita cepat sampai!"


"Aku bilang tidak mau, Yan."


"Bukankah kamu janji akan bersikap seperti kekasih di hadapan Mbak Nita, bagaimana jika dia merasa curiga pada kita. Kamu mau Tuan Indra menyalahkan kita karena istrinya masih sibuk memikirkan kita?" terang Bian mencoba membujuk Karina dengan menjual Nita di hadapan wanita yang dicintainya.


Karina sejenak menghela napas kasar. Lalu mau tidak mau dia pun masuk kedalam mobil utnuk menuju bandara.


"Kamu dengannya ...,"


"Cinta itu tidak mudah tumbuh dalam waktu singkat Yan, semua butuh waktu dan proses sama halnya rasa cintaku padamu seseorang. Akan memudar karena terlalu di abaikan," sindir Karina. Dia memalingkan wajah setelah mengatakan itu. Sedangakan Bian menoleh sekilas kearah Karina dan menghela napas berat.


"Akankah kesempatan kedua akan hadir? Aku takut jika semua akan sia-sia seperti Tuan Krisna, terhadap Mbak Nita. Tetapi jika aku menyerah untuk saat ini aku akan lebih penasaran dan merasa menjadi pecundang karena tidak memperjuangkan cintaku," batin Bian.


"Memang tidak akan ada kesempatan kedua untuk orang itu?" tanya Bian hati-hati. Padahal dia tahu siapa yang di maksud Karina.


"Tergantung!" Ketus Karina.


"Jika dia melamarmu bagaimana?"

__ADS_1


"Dia kira hati yang luka akan mudah terobati dengan sebuah lamaran? Dia salah besar!"


"Tapi apakah kamu tahu kenapa dia pergi tanpa kabar padamu?!" tanya Bian. Dia ingin sekali menjelaskan semua kenapa dia pergi meninggalkan Karina tanpa berpamitan padanya. Bahkan Bian berusaha keras agar wanita itu membencinya.


"Aku tidak ingin mendengarnya! kita lihat saja, sejauh mana dia memperjuangkan cintanya!"


Bian tersenyum mendengar pernyataan itu. Sepertinya masih ada harapan untuk dirinya mendapatkan Karina. Semoga saja gadis di sampingnya bisa memberikan kesempatan kedua dan menjalin hubungan seperti dulu lagi.


Tidak lama pun mereka sampai di bandara. Bian menghubungi Indra agar dia tahu di mana mereka berada. Nita melambaikan tangannya agar Bian dan Karina mendekat.


Di sana sudah ada Ari, Kia dan juga Krisna bersama anaknya. Karina tampak semangat dan langsung berlarin kecil untuk mendekati Keponakannya.


Ada rasa sesak yang mulai terasa ketika dia melihat Krisna ikut serta untuk mengantarkan Indra. Mengapa bisa dia datang, jika Bian tahu Krisna datang dia tidak akan membawa Karina datang kesana. Hanya akan membuat mereka semakin dekat.


Mereka sempat berbincang sebentar lalu pesawat pun akan segera take off. Indra dan Nita berpamitan sebelum pergi Nita memberikan amanat pada Karina.


"Aku percayakan tokoku padamu Karin, tapi kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi aku,"


"Aku tidak akan mengganggu. Tenang saja Tuan Indra!"


"Ganggu saja Bian! Jangan sungkan untuk mengahajarnya!" titah Indra dengan santai. Lalu menggandeng Nita untuk segera naik pesawat.


Karina tersenyum lebar, "aku sudah menyiksa hatinya. Kukira itu lebih sakit dari sebuah pukulan," batin Karina.


Setelah Indra dan Nita tidak terlihat lagi oleh pandangan mereka. Mereka pun memutar badan untuk pulang ketempat masing-masing.


Baru saja Bian akan mengajak Karina untuk pulang suara Krisna membuyarkan semua harapan yang telah dia susun.


"Pulang bersamaku, Karin. Anakku ingin mengantarkan kamu bekerja," ucap Krisna. Karina tampak berpikir dan menoleh kearah bocah kecil itu yang tengah memegangi tangan Karina.

__ADS_1


"Baiklah, mari Tuan. Tuan Ari, Nona Kia dan kamu Yan, aku permisi," pamit Karina. Bian hanya menatap nanar saat Karina mulai hilang dari pandangannya. Begitu menyesakkan.


"Menyesal memang selalu datang diakhir Tuan Bian, kejar jika memang masih berarti. Seperti dia yang selalu mengerjarmu dan menutup diri untuk membuka hati pada orang lain!" Kelakar Kia.


"Harusnya kamu yang menolak Tuan Krisna! Bukan malah diam saja!" seru Ari, namun dibalas pelototan tajam dari istrinya.


Kia mejewer telinga Ari agar dia cepat pergi bahkan kedua pasangan suami istri itu melupakan Bian untuk berpamitan.


"Jeweran istri hal yang indah, aku dapat melihat kebahagiaan diantara mereka. Cinta memang harusnya diperjuangkan, aku akan berjuang untuk mendapatkan kamu kembali Karina!"


***


"Huh." Nita mwndesah berat saat dia mendudukan bokongnya di kursi. Bukan dia tidak bahagia akan tetapi gemas melihat tingkah adik iparnya yang kurang gercep untuk mengejar Karina.


"Kenapa?" pertanyaan Indra sanggup mengalihkan dunia Nita. Wanita itu mengerucut dan memeluk tubuh suaminya dari samping.


"Kenapa saudaramu tidak segigih kamu, Tuan Indra," keluh Nita dengan wajah sebalnya.


"Dia memang orang yang sangat tidak berguna! Saat honeymoon saja otakmu masih memikirkan dia!" Indra menekuk wajahnya dengan suram akan pertanyaan istrinya. Nita tersenyum menampilkan gigi-giginya.


Tidak habis pikir dengan jalan pikiran Indra yang cemburu pada Bian.


"Kenapa harus cemburu? Harusnya kamu memberikan dia nasihat agar dia tidak lambat. Kayak siput dia, kenapa tidak secepat Singa yang akan memangsa!" gerutu Nita mendesak Indra. Lelaki itu perlahan menguraikan pelukannya dan menatap istrinya dengan mengernyit dalam.


"Kami bukan saudara kandung, sayang. Bahkan jika saudara kandung pun tidak akan sama. Yang kembar identik saja jarang ada kesamaan, pasti ada perbedaan juga," jawab Indra memprotes. Indra duduk tegap dengan pupil mata yang menutup dan tangannya ia lipat di dada agar Nita tidak bersandar di dadanya.


Indra cukup malas jika pembahasan honeymoon tentang orang lain. Dia hanya ingin membicarakan mereka berdua tentang? asa depan dan ingin secepatnya mendapat momongan. Nita yang tahu jika suaminya tengah merajuk langsung mengecup bibir Indra sekilas.


"Jangan marah, maafkan aku Tuan Indra. Janji aku tidak akan membicarakan siapapun ketika kita tengah berduaan, ok. Jangan begini dong!"

__ADS_1


Perlahan Indra membuka kedua matanya dan menatap istrinya dengan datar. Lalu dia membuka jasnya dan menutup kepala mereka untuk mencumbu istrinya.


***


__ADS_2