Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Bab36. Mengingat Masa Lalu.


__ADS_3

Bab36. Mengingat Masa Lalu.


***


"Sudah-sudah jangan menangis lagi," pinta Riska. Dia mengusap dengan lembut jejak air mata Nita.


"Sudah makan belum?" tanya Riska. Nita hanya mengeleng lemah.


"Makan dulu, ya?" tanya Riska. Tidak ingin menunggu jawaban Riska memilih keluar kamar Nita akan membawakan nasi untuk menantunya itu.


Namun, ternyata Kasih masih di tempatnya saat Riska meninggalkannya. Wanita baya itu mengernyit. Tampak heran melihat tingkah Kasih.


"Ma," panggil Kasih dengan tatapan sendunya. Riska hanya berdehem untuk menjawabnya.


"Mama tahu aku tengah mengandung?" tanya Kasih memegangi perutnya. Mencoba mengambil hatinya dengan memberitahu jika dirinya tengah berbadan dua.


"Setidaknya jika Mama merasa aku menjadi duri dalam rumah tangga mereka. Mama masih mentolerir sikapku dan masih bisa bersikap baik padaku. Meski Mama tidak menganggapku," ucap Kasih meminta pengampunan.


Riska melewati Kasih tanpa mengatakan sepatah katapun. Mengapa perlakuan Riska berbeda padanya. Bukankah dia juga seorang istri dari anaknya. Lantas mengapa wanita itu memperlakukannya berbeda.


Kasih semakin membenci Nita. Dia sudah berusaha agar Krisna dan dia menjauh, tetapi malah membuat lelaki itu seperti mencintainya. Dan sekarang Nita mendapatkan perhatian lebih dari mama Krisna. Apa yang salah pada dirinya. Hingga membuat semua orang tampak membencinya.


'Saya pastikan secepatnya kamu akan meminta pada saya agar secepatnya bisa pergi meninggalkan rumah ini,' batin Kasih.


***


Malam ini mereka makan malam di luar. Menuruti keinginan Kasih, Ari pun di undang Kasih. Dia berdalih karena keinginan cabang bayinya. Dia juga meminta Krisna dan Nita untuk satu mobil. Sedangkan dia bersama Ari dan mertuanya. Kasih ingin mendekatkan diri pada wanita baya itu.


Meski terlihat jelas jika Riska tidak menyukainya. Tetapi dia ingin bisa dekat dengan Riska, meminta penjelasan tentang sedikit masa kehamilan. Ini anak pertamanya, dia juga tidak begitu paham tentang masa-masa ini.


"Ma," panggil Kasih, di saat Riska tengah memainkan ponselnya. Seperti biasa Riska hanya menjawabnya dengan deheman.

__ADS_1


"Saat Mama hamil anak pertama bagaimana rasanya? Apakah Mama mengalami apa yang aku alami? Aku sesekali mual, dan kata dokter itu sudah hal yang biasa bagi seorang wanita di masa hamil muda,"


"Apa Mama merasakan sakitnya bagaimana menjadi yatim piatu? Masa kehamilan yang membutuhkan sosok ibu nyatanya aku tidak memilikinya. Dan apakah Mama tahu, alasanku rela menjadi istri keduanya?" Oceh Kasih.


"Bicaralah Ma. Berbagi pengalaman padaku, aku tidak meminta apapun padamu," pinta Kasih. Riska mengembuskan napas berat lalu memandang Kasih dengan datar.


Dia sama sekali tidak ingin menjawab. Tetapi dia juga merasa tidak tega dengan apa yang di katakan Kasih. Bagaimana pun keduanya tidak memiliki orangtua. Mereka yatim piatu.


"Mama dulu, tidak mengalami mual atau morning sickness, dan semua itu hanya dialami Papa Krisna," terang Riska. Membuat Kasih melengkungkan senyuman. Wanita itu memang ramah, meski sedikit tidak menyukai dirinya.


"Lucu ya, Ma. Kalau ngidamnya berpindah pada suami. Aku gak bisa bayangin jika mas Krisna yang begitu." Kasih terkekeh membayangkannya.


"Untung saja tidak. Dan pasti akan Mama yang repot. Karena dia pasti bertanya banyak hal tentang dirinya dulu, saat merepotkan Papa-nya," jawab Riska. Keduanya tertawa cekikikan di jok belakang mobil.


Ari memandang keduanya sesekali lewat spion. Dia juga tersenyum simpul, mengingat orangtua bosnya itu ramah. Meski dia tidak menyukainya.


***


Krisna setiap detiknya tidak melepaskan tatapannya pada Nita. Wanita itu kini bisa membuatnya penasaran. Krisna kadang berpikir mengapa perasaan canggung dan salah tingkah yang mulai dia rasakan.


"Ta," panggil Krisna. Matanya masih focus kedepan.


"Iya," jawab Nita.


"Ingatkah kamu, saat kita sering keluar berdua. Kamu selalu mengatakan mimpimu yang ingin mempunyai panti asuhan," ucap Krisna mengingatkan masa indah itu. Nita menatap kearah Krisna yang masih focus menyetir.


"Kenapa memang?" tanya Nita. Krisna menggeleng. Setelah itu Krisna tidak menjawabnya.


Mereka telah sampai lebih dulu. Mereka lebih memilih menunggu yang lainnya datang. Mbak Ana yang berada dibelakang hanya mendengarkan. Ana melihat Krisna--majikannya yang mulai memberikan perhatian lebih setelah Nita berkencan dengan lelaki muda itu. Ana merasa percikan cemburu mulai datang pada diri Krisna.


"Aku tidak mau mengingat masa lalu lagi Kris, aku ingin menatap masa depan yang indah. Aku harap kamu bisa mempertimbangkan keringananku. Mari berpisah," ucap Nita. Membuat Krisna terdiam. Meremas setir mobil dengan kuat.

__ADS_1


"Mbak Ana, bisa keluar lebih dulu!" Titah Krisna. Ana menurut dia keluar mobil lebih dulu.


Nita yang merasa situasi sudah tidak baik pun berusaha melepaskan seatbelt. Namun, tangannya kalah cepat, Krisna berada di hadapannya menahan lengan Nita yang akan melepaskan seatbelt itu.


Mereka bersitatap dengan dekat, bahkan embusan napas keduanya bisa saling mereka rasakan.


"Kris, lepas aku ingin ke kamar kecil," rengek Nita. Namun, tidak membuat Krisna berpindah. Dia tetap pada tempatnya semula. Nita berusaha mendorong Krisna. Tetapi usahanya sia-sia.


Krisna malah mendekatkan wajahnya dengan wajah Nita. Membuat wanita itu memejamkan mata dengan gugup. Ketika dia mulai membuka mata perlahan dan Krisna sedang menatapnya dengan serius dia langsung memalingkan tatapannya.


"Kris, minggir," resah Nita. Tetapi Krisna bergeming. Tidak mendengarkan ucapan Nita.


"Apa aku harus menciummu. Agar kamu berhenti meminta berpisah, Ta." Krisna semakin mendekatkan lagi wajahnya dengan Nita. Wanita itu menjerit dengan memegangi Krisna agar tidak semakin dekat dengan dirinya.


"Kamu pasti lelah, Kris. Karena Kasih tengah hamil muda. Dia sering muntah-muntah bukan," ucap Nita mengalihkan pembicaraan.


"Aku tidak lelah masalah Kasih. Yang aku lelahkan karena bibirmu itu yang selalu mengucapkan perpisahan. Bukankah aku dulu pernah bilang jika aku tidak akan meninggalkan kamu walau sejengkal pun dari sisiku," ungkap Krisna mengingatkan Nita. Wanita itu berkaca-kaca. Mengingat ucapan Krisna. Ada rasa kecewa yang dia rasakan saat ini.


Mengingat masa lalu begitu indah, dan sekarang justru Krisna-lah yang menjadi dalang penyebab sakit hatinya. Hancur harapannya karena kehadiran Kasih.


Krisna mengusap pipi Nita dengan lembut. Mengecup puncak kepala Nita dengan penuh perasaan. Tetapi semua telah terlambat. Nita sudah tidak merasakan bahagia lagi ketika Krisna melakukannya.


"Bukankah kamu akan senang jika aku melakukan itu, apa kamu merasa lebih baik sekarang," cerca Krisna membuat Nita menengadah.


"Hatiku ... Sudah mati. Aku tidak bisa merasakan lagi perasaan itu, Kris." Nita memegangi dadanya. Krisna mendesah frustasi dengan jawaban Nita. Bagaimana pun saat ini dia tidak ingin kehilangan Nita dari sampingnya.


"Bagaimana jika aku akan meninggalkan dia dan hidup berdua bersamamu?"


***


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2