Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Bab21. Perdebatan.


__ADS_3

Bab21. Perdebatan.


***


Nita diseret masuk untuk kedalam rumah oleh Krisna. Bahkan Nita tidak mendapat celah untuk membela diri. Entah mengapa perubahan itu begitu cepat. Bukankah Krisna tidak mencintainya lalu mengapa dia seolah tidak suka.


Ari memandangi tuannya yang menyeret istri pertamanya. Ingin memberi saran, tetapi emosi lelaki itu sedang tidak stabil. Mungkin jika dia ikut campur rumah tangga mereka, di kira dia menaruh hati pada Nita.


Hatinya merasa jika tuannya sudah mulai mempunyai rasa. Tetapi dia tidak mau mengakui itu. Tapi yasudah lah, jika itu terjadi semua akan lebih baik bukan. Nona Nita akan mendapatkan balasan cintanya.


"Saya harap tuan Krisna tidak berani main tangan!" Seru Ari. Dia memasukkan tubuhnya kedalam mobil lalu melesat pergi dari kediaman tuannya.


Nita di hempaskan tubuhnya keranjang dengan kasar. Krisna menatap tajam kearahnya. Merasa tidak terima jika istrinya begitu dekat dengan lelaki lain.


"Sudah aku bilang, kamu jangan terlalu berlebihan jika ingin dekat dengan lelaki. Kamu sengaja ingin membuat reputasiku hancur di mata orang karena tidak bec*s menjaga istri?" Kelakar Krisna.


Nita memegangi pergelangan tangannya yang merasa sakit karena dicekal begitu kuat oleh Krisna. Dia ingin menangis karena baru kali ini Krisna memperlakukannya dengan kasar. Jika dulu dia bertahan karena perilaku Krisna yang lembut. Lalu, apakah sekarang dia harus tetap bertahan di saat Krisna sudah mulai berperilaku kasar padanya.


"Tapi aku sudah bilang padamu, Kris? Kamu sudah menyakitiku. Belum puaskah kamu melukai hati ini. Dan sekarang ragaku ingin kamu lukai? Tanyakan pada hatimu, mengapa aku bisa sedekat itu dengan orang lain. Sedangkan kamu sendiri tidak pernah meluangkan waktu untukku walau sekadar untuk makan di luar. Kamu terlalu sibuk dengan duniamu sendiri! Melupakanku, melupakan semua janji yang telah kamu katakan pada ayahku. Saat kamu bermesraan dengan istri keduamu dan kamu mengiriminya padaku, aku tidak memprotes Kris, aku sadar kamu tidak mencintaiku!" Seru Nita panjang lebar.


Krisna mengernyit tidak mengerti. Mengiriminya, kemesraan? Kapan? Dia merasa tidak pernah melakukan itu. Bahkan dia tidak pernah memotret dirinya dan Kasih saat bermesraan.


"Apa yang kamu katakan? Aku tidak pernah mengirimi kamu apapun? Selain kita terakhir kali bertukar kabar saat aku di Bali," jawab Krisna tidak merasa.


Nita mengembuskan napas kasar, lalu dia memejamkan mata. Dia menata hati untuk tidak terlalu terpancing emosi. Hatinya sudah cukup terluka.


"Apa salahku," lirih Nita, wanita itu jatuh merosot kelantai. Dengan perasaan takut dia memeluk lututnya.


Situasi ini dia rasakan kembali, di saat kedua orangtuanya pergi. Rasa takut, sakit, begitu menyiksa relung batinnya. Krisna merasa bersalah karena telah membuat Nita tertekan. Dia berjongkok untuk mensejajarkannya dengan Nita. Penuh penyesalan dia mengusap wajahnya prustrasi.

__ADS_1


"Maafkan aku Tata," kata Krisna dengan wajah bersalahnya.


Nita menengadah, menatapnya dengan tatapan penuh kebencian pada Krisna.


"Keluar, Kris! Jika kita masih berdebat. Kata-kata yang seharusnya tidak terlontar akan keluar menyakiti orang lain!" Titah Nita. Krisna masih tetap setia menjaga Nita yang masih terisak di lantai. Ingin membangunkan, tetapi takut jika dia akan lebih marah.


Krisna harusnya tidak boleh termakan oleh hasutan Kasih. Bagaimana pun Nita sudah jauh lebih dekat dengan dirinya sedari kecil. Namun, rasa itu tidak akan merubah keadaan. Meskipun dia tahu betul bagaimana perasaan wanita itu.


Rasa yang selalu bersemayam tidak lebih hanya sebagai teman. Dan juga bukti sebuah janjinya terhadap mendiang orangtua Nita.


"Sudah aku bilang keluar, Kris, aku terluka kamu memperlakukanku seperti ini," tandas Nita dengan bahu yang semakin bergetar.


Wajah cemas yang menghiasi Krisna saat ini. Bagaimana tidak, dia sudah berlebihan bersikap pada istri pertamanya itu. Lalu jika telah begini Krisna bisa apa. Dia Bahkan tidak pandai menggombal dan membujuk seorang wanita.


Kasih saja yang selalu merengek ketika marah selalu Krisna bungkam dengan kecupan. Wanita itu sudah berhenti mengoceh. Lalu apakah dia pun harus melakukannya pada Nita? Tetapi Krisna tidak bisa melakukan itu, hatinya belum bisa mencintai dia. Mana mungkin dia bisa mengecupnya.


"Aku akan menemani kamu malam ini," kata Krisna membuat Nita langsung mengusap air matanya dengan kasar lalu berdiri. Tubuh Krisna ia tarik untuk keluar kamarnya.


Dengan cara lemah lembut saja tidak didengar. Mungkin Nita harus mengusirnya secara paksa.


"Aku tidak mau melihatmu!" Kelakar Nita dengan tatapan jengah.


Krisna yang merasa sudah mulai terpancing pun akhirnya memutuskan untuk mengecupnya agar wanita itu bisa berhenti merajuk.


Cup ...


Mata Nita terbelalak tidak percaya jika Krisna melakukannya dengan mencuri ciuman pertamanya. Dengan dada yang semakin terbakar dia langsung mendorong tubuh Krisna. Dia menampar Krisna dengan keras. Hingga terdengar oleh Kasih. Ya, wanita itu tengah menguping ketika dia terbangun mendengar sesuatu yang tidak biasa di kamar Nita.


Bibirnya menyeringai seolah dia telah menang. Ini bahkan hanya tahap permulaan untuk membuat mental istri pertama suaminya lelah bertahan. Tentunya dengan sikap Krisna yang mulai berubah.

__ADS_1


Wanita muda itu tidak tahu, jika yang di tampar bukanlah Nita. Melainkan Nita yang menampar Krisna.


"Aku juga suami kamu! Aku berhak atas dirimu!" Sungut Krisna, menatap nyalang pada istri pertamanya. Dengan gerakan cepat Nita mundur beberapa langkah untuk menjauhi suaminya.


"Kamu suami hanya di atas kertas. Bukan di dunia nyata," timpal Nita tidak mau kalah ketika lelaki itu menekankan kata suami pada dirinya.


"Setelah mengenal dia, kamu jadi berani membangkang Nita. Mulai hari ini kamu tidak boleh bertemu dengannya. Ingat itu, aku tidak akan mengizinkannya." Tunjuk Krisna kearah wajah Nita.


"Kamu jangan seperti ini, Kris, aku kesepian jika tidak bersua dengannya. Kamu sudah tidak mengingatku. Kamu tidak mencintaiku, Kris, untuk apa kamu tetap mempertahankan pernikahan kita ini?" Timpal Nita, intonasinya sedikit meremehkan ketika Krisna tidak memberikannya izin lagi untuk bertemu Bian.


"Ok! Sekarang kamu tenang. Kita bicarakan baik-baik. Maafkan aku, aku ... Tidak berniat menyakiti kamu seperti ini, Ta," sesal Krisna ketika ucapan Nita menjurus dengan kata perpisahan.


Dia sudah berjanji dan bertekad. Apapun keadaannya, istri pertamanya tidak akan pernah dia lepas. Meskipun tiada rasa untuk Nita.


Krisna perlahan mendekati Nita dengan lembut. Perlahan dia membawa kepala Nita untuk menempelkan di dada bidangnya. Dia juga akhirnya memeluk Nita dan menenangkannya.


"Aku mohon, jangan larang aku bertemu dengannya. Aku tidak punya teman selain dia. Kamu terlalu sibuk dengan istrimu. Aku sendirian di dunia ini. Tidak ada yang menginginkan aku," rintih Nita membuat Krisna merasa bersalah.


"Dan aku minta kamu jangan memamerkan keromantisan kalian lagi di depanku, itu semua melukaiku." Nita memukul kasar dada Krisna.


"Kok malah baikan sih," gerutu Kasih. "Kayaknya kurang ekstrim ya, hasutanku tadi," decak Kasih yang masih setia mencuri dengar perdebatan Krisna dan Nita.


***


Terima kasih sebanyak-banyaknya karena tetap mengikuti cerita ini. Temanya Berbagi cinta ya, kalian pasti mengerti. Karena novel ini ikut lomba. Jadinya ada tokoh yang tersakiti, dan bahkan terlalu lebay karena tetap bertahan


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2