Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab142. Kesal Di Pagi Hari


__ADS_3

Pagi ini Nita kembali dibuat termangu melihat tingkah suaminya itu. Bagaimana tidak lebih curiga saat ponsel Indra berdering dengan cepat Indra membawanya tidak membiarkan Nita menyentuh ponselnya. Hati Nita sudah tidak tenang dengan sikap suaminya yang seperti ini.


Apakah dia terlalu cepat mengambil kepetusan dan salah memberikan kepercayaan terhadap suaminya.


"Aku angkat telepon dulu sayang," pamit Indra, dia dengan cepat menuju kamar mandi, dia pun menutupnya. Jika tidak apa-apa bukanlah hal itu tidak akan suaminya lakukan?


Nita mulai merangkak dan turun dari ranjangnya menuju pintu kamar mandi. Daun telinganya dia tempelkam di pintu berharap dia bisa mendengar pembicaraan suaminya. Namun, sampai beberapa detik berlalu dia tidak mendapat suara apapun yang ada hanya air shower yang bergemericik seolah dia tahu jika Nita akan menguping nya.


Kesal dengan tingkah suaminya Nita berjalan keluar kamar dengan hati yang dongkol. Baru saja menikah sudah membuatnya merasa menyesal karena menikah dengannya.


"Kenapa Non?" tanya Ana saat melihat raut wajah Nita yang kesal. Nita berjalan menuju meja makan, dia menyeret kursi untuk dia duduki.

__ADS_1


"Gak tahu ya, Mbak. Suamiku dari semalam aneh," gerutu Nita.


"Kenapa dengan Tuan Indra, bukankah dia baik dan perhatian saat dia tahu Nona ketiduran dia juga menggendong Nona masuk kedalam kamar," sahut Ana menjelaskan. Tampak tidak jauh dari sana ada Indra yang tengah mendengarkan keluh-kesah istrinya. Indra menempelkan jari telunjuknya pada arah Ana agar wanita itu tidak memberitahukan keberadaannya pada Nita.


"Aneh bagaimana, Nona?" tanya Ana memancing majikannya.


"Ya, aneh aja Mbak. Masa ada yang nelepon aja harus kekamar mandi, buat orang curiga saja," cerca Nita dengan menggebrak meja.


"Tapi, kan Tuan Indra sudah memilih Nona. Mau secantik apapun yang mengejarnya kalau yang di rumah secantik Mbak, tidak akan berpaling hati," ucap Ana menenangkan. Namun, bukannya tenang Nita malah semakin cemas. Lagi-lagi dia menggebrak meja, dia tengah memikirkan jika dia tengah memukul wajah suaminya yang nampak tampan dari berbagai arah.


"Mbak, aku harus bagaimana dong,"

__ADS_1


"Aku harus perawatan ya, Mbak, biar dia gak melihat wanita di luar sana." Nita menyeret kursi hendak berdiri. Dia pun memutar badan untuk melangkahkan kakinya kedalam kamar. Namun, belum juga melangkah dia sudah termangu di sana tanpa bisa menggerakkan badanya.


Rasanya Nita ingin sekali melompat kedalam lubang kecil agar suaminya tidak menemukan dirinya. Sungguh memalukan sekali jika Indra mendengar semua keresahannya.


Namun, Nita berusaha bersikap normal. Dia meyakinkan dirinya jika sendiri jika Indra tidak mendengar semua percakapannya dengan Ana. Nita melangkahkan kakinya untuk menuju kamar. Namun, saat melewati Indra, suaminya langsung menangkap pinggang ramping istrinya dengan cepat.


Kini Nita berada dalam dekapan Indra. "Sudah ngomel nya?" tanya Indra dengan wajah bahagianya.


Wajah Nita pucat pasi saat Indra menanyakan hal itu. Ah, ternyata ekspektasi tidak seindah harapannya. Lelaki itu lebih merapatkan tubuhnya dengan tubuh sang istri.


"Menggemaskan kalau sedang pukul-pukul meja. Meski aku tidak melihat jelas ekspresimu, aku yakin kamu sangat imut," ucap Indra membuat Nita langsung mendorong tubuh suaminya. Namun, karena tenaganya yang kuat tubuh Indra sama sekali tidak berpindah tempat.

__ADS_1


***


__ADS_2