Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab137. Salahpaham Berakhir


__ADS_3

"Lepaskan Karina, aku tidak akan melukaimu. Kamu tidak perlu ketakutan seperti itu!" Tegas Nita, seketika Karina langsung melepaskan tautan tangannya. Sedangkan Rindi dia perlahan berjalan mengekori Ana yang akan membawanya kekamar tamu.


Indra pun keluar dari ruangan dengan wajah lelahnya. Dia berjalan menuju kamar. Namun, tidak ada Nita berada, dia pun berjalan kembali menuju ruang tamu. Di sana sudah ada Bian, dan Karina yang hanya saling terdiam.


"Sayang ...,"


Panggil Indra pada Nita, wanita itu menoleh dan melihati Indra yang menuju kearahnya. Sedangkan Karina dia perlahan mendongak untuk melihat suara bariton itu yang memanggilnya sayang pada Mbak Nita.


Dahi Karina mengkerut dalam, seolah dia heran dengan apa yang dilihat dan didengarnya saat ini. Bukankah Nita menikah dengan Bian, lalu mengapa menjadi Indra yang bermesraan dengan Nita?


Gadis itu terus mengucek matanya seolah tidak percaya dengan apa yang tengah dilihatnya.


"Kamu tidak salah lihat Nona Karina!" seru Indra dengan tegas.


Indra mendudukkan bokongnya disamping Nita. Dia juga memeluk pinggang Nita dengan lembut, seolah tidak ingin berjarak.


"Mereka baru saja pulang, harusnya kamu memberi mereka dulu istirahat, nanti kita bicarakan setelah makan malam," bisik Indra tepat di telinga Nita. Namun, Nita mendengkus seolah dia tidak menerima saran dari Indra.


"Tidak, aku ingin memberitahu dia, Tuan!" Tegas Nita dengan mengerucut. Namun, Indra malah menelusupkan wajahnya di ceruk leher Nita membuat dua sejoli itu saling membuang pandangannya untuk tidak menoleh kearah pengantin baru.


"Kalian boleh istirahat dulu," titah Indra pada keduanya. Lantas keduanya langsung berdiri dan menutup mata.


Nita memberontak meminta dilepaksan, akan tetapi Indra malah menutup mulut Nita dengan tangannya.


"Mari kita pun tidur sekarang," ucap Indra dengan nada serak. Nita pun melihat Indra yang sudah memejamkan mata di ceruk lehernya.


"Tuan, hey, kenapa malah tertidur di sini. Bangunlah lebih dulu, aku tidak bisa mengangkatmu." Nita terus menggoyangkan tubuh Indra yang tidak bergerak.


Nita pun akhirnya mau tidak mau harus meninggalkan dahulu Indra, untuk meminta bantuan pada Bian. Namun, Indra dengan cepat mencekal pergelangan tangan Nita.


"Mau kemana, hmmm," tanya Indra yang masih memejamkan mata.

__ADS_1


"Mau mencari Bian, untuk membantuku agar memindahkan kamu kekamar."


"Tidak! Tidak perlu." Indra langsung menarik tangan Nita untuk menuju kamarnya.


***


Malamnya mereka berkumpul untuk makan malam. Sorot mata Nita selalu menggambarkan jika dia ingin buru-buru menjelaskan. Akan tetapi di bawah meja sana, Indra memegangi tangan Nita. Wanita itu pun menoleh kearah Indra dan dia mengerti dengan tatapan itu.


Sesuai yang suaminya instruksikan sebelum keluar kamar, jika Nita harus memberikan penjelasan setelah makan malam berakhir.


Makan malam pun telah usai, Rindi lebih dulu berpamitan agar dia bisa istirahat kembali. Karina memandangi Rindi dan seolah meminta Rindi berbalik lagi untuk mengajaknya.


"Mari kita bicara di belakang Karin," titah Nita dengan senyuman. Sedangkan Karina sudah berdebar tidak menentu.


Nita mengapit Karina untuk mengikutinya ke taman belakang. Sedangkan Bian, dan Indra hanya mengekor dibelakang.


"Bagaimana bisa lelaki sepertimu ini begitu payah, memalukan!" cibir Indra dengan dingin. Tangan lelaki itu dimasukkan kedalam saku celananya. Indra memang lebih cool dibanding Bian yang penuh rasa segan.


Keduanya pun terdiam saat dua wanita yang tengah Bian dan Indra ikuti duduk di kursi.


"Kenapa pas akad kamu pergi?" tanya Nita saat dirinya dan Karina sudah mendudukan bokongnya di kursi yang sudah tersedia di taman belakang.


Karina menunduk dengan dalam memainkan jemari tangannya. Haruskah dia menjawab jika dia tidak mampu melihat Nita dan Bian menikah? Dia tentu saja sakit hati.


"Kenapa diam?" Nita masih berusaha mencari jawaban.


"Kamu kira aku menikah dengan Bian? Kenapa kamu berprasangka seperti itu? Aku menikah dengan Indra, dan mereka masih saudara," terang Nita, Karina mendongak mencari kebohongan di matanya akan tetapi dia tidak mendapatkan.


"Mereka saudara? Dan kamu tahu kenapa dia bersikap seperti itu padamu? Dia hanya ingin kamu dekat dengannya mengingat Bian yang telah memberikan dia amanat bahwa Tuan Indra harus menjaga kamu. Harusnya di sini yang cemburu aku dong." Nita menunjuk dirinya sendiri.


"Dan masalah dia menculikmu, aku yang memintanya agar bisa melihat wajahmu dari dekat," timpal Bian. Karina mendongak dan menatap Bian dengan tidak percaya.

__ADS_1


"Haruskah seperti ini, Yan?" Tanya Karina dengan bersungut-sungut. Dia bahkan berdiri untuk mendekati Bian dengan tatapan tajam.


"Karena aku merindukan kamu, hanya itu saja." Bian menatap lekat kedua bola mata wanita yang dicintainya.


"Tapi ... Kenapa kamu jahat, selalu memberikan komentar pedas padaku." Karina memukul dada bidang Bian dengan brutal. Melampiaskan semua amarah yang bercokol dalam dada-nya selama ini.


Selama beberapa tahun kepergian lelaki itu, sungguh membuatnya terluka, begitu sangat dalam. Apalagi sikap Bian yang selalu datar padanya.


"Saat kita bertemu pun kamu bersikap dingin, dan seolah tidak memedulikan aku!" Bian mencekal kedua lengan Karina saat dia tidak berhenti memukul dada bidangnya.


Bian mencekal tengkuk leher Karina dan merapatkan keningnya dengan kening Karina.


"Maafkan aku, aku hanya bisa berkata seperti itu. Tolong maafkan aku, yang terpenting sekarang aku sudah kembali," ucap Bian dengan lembut.


Nita yang melihat adegan itu pun melotot dengan murka. Apa-apaan Bian, berani sekali dia memperlakukan seorang gadis seperti itu untuk menenangkannya. Namun, Indra mencekal tangan Nita dan menutup mulutnya agar dia tidak merusak suasana. Indra memilih meninggalkan dua sejoli yang sedang saling merindu itu.


Ketika mereka sudah tiba di dapur, Nita memberontak ingin kembali lagi ke taman belakang. Nita bahkan menghempaskan tangan Indra yang masih setia menutup mulutnya.


"Tuan Indra! Apa-apaan sih, kenapa menghalangiku, bagaimana jika Bian mencium Karina," sungut Nita. Indra mengusap pundak istrinya.


"Percayalah, tidak akan seperti ini." Indra mendekatkan wajahnya kearah wajah Nita. Hingga bibir mereka tidak berjarak.


Kedua mata Nita membola sempurna akan apa yang dilakukan Indra. Bagaimana bisa lelaki itu merapatkan tubuhnya dan Nita begitu intim seperti ini? Nita mendorong tubuh Indra agar lelaki itu pada posisi semula.


Nita celingak-celinguk takut jika Ana atau Rindi memergokinya. Dia menarik Indra agar pergi menuju kamarnya. Setelah tiba di dalam kamar, Nita langsung melipat tangan di dada.


"Jangan lakukan hal seperti itu lagi, memalukan sekali Tuan Indra!"


Indra berjalan kearah Nita, hingga Nita mundur beberapa langkah, sampai akhirnya tubuhnya terkunci di dinding. Kedua tangan Indra dia tempelkan di dinding untuk menghalangi Nita agar wanita itu tidak bisa lari.


"Sepertinya kamu harus mandi lebih dulu, sayang," bisik Indra dengan nada yang sensual membuat Nita kegelian.

__ADS_1


***


__ADS_2