
Bab40. Tamparan.
***
Nita pulang larut, dia dan Mbak Ana celingak-celinguk ketika memasuki rumah. Nita takut jika Krisna akan memarahinya karena pulang tidak ingat waktu. Tetapi malam ini tampak hening, dia yakin dia tidak akan diketahui Krisna. Karena seinci pun Kasih tidak membiarkan Krisna pergi.
Dengan perlahan Nita menutup pintu, lalu menyalakan saklar lampu kamarnya. Ketika dia berbalik sudah ada Krisna yang tengah melipat tangan di dada memandangnya dengan tatapan tajam. Terlihat jelas jika Krisna tengah menahan amarahnya.
Namun, Nita betusaha untuk tetap tenang. Jika lelaki itu tidak terima, dia akan mudah untuk membalikkan semuanya. Toh, dia juga sudah tidak memiliki waktu dengannya lagi.
"Kamu menantang saya Nita!" Krisna mulai beranjak dari duduknya, mendekati Nita. Perlahan Nita mundur hingga tubuhnya menubruk dinding.
"Aku ... Aku kan sama Mbak Ana, bukan sendirian," elak Nita. Dia tetap tidak merasa bersalah. Krisna lebih merapatkan tubuhnya dengan Nita. Ada helaan napas berat yang Nita dengar. Terdengar seolah dia merasa frustrasi.
"Pergilah, nanti istrimu mencari. kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku." Nita berusaha mendorong tubuh Krisna dari hadapannya.
"Kalung dari siapa?" tanya Krisna ketika melihat kearah leher Nita. Wanita itu memegangi kalungnya, lalu memasukkannya kedalam pakaian.
"Aku membelinya," ketus Nita. Dia merasa tidak suka dengan sikap Krisna.
"Itu pasti pemberian dari lelaki yang sering kamu temui kan? Jawab Nita! jangan membuat saya berteriak dan membangunkan penghuni rumah. Kamu akan mengecewakan mama mertuamu, bukankah dia selalu percaya padamu. Bagaimana jika tahu kelakuan kamu yang seperti ini," cerca Krisna lelaki itu mencela kalung dari pemberian Bian.
"Terserah apa katamu, Kris, mungkin itu lebih baik. Mama juga sudah tahu jika aku ingin berpisah dengan kamu. Tinggal kamu sepakati, kita sudah tidak akan mempermasalahkan hal remeh seperti ini," jawab Nita. Namun, jawaban Nita membuat lelaki itu kesal. Dia berusaha membawa kalung itu, untuk membuangnya.
"Hentikan Kris, hentikan kataku!" Krisna langsung berhenti ketika dia mendengar suara Nita meninggi. Dia tidak percaya jika wanita itu sudah mulai berani padanya. Berbicara dengan lantang padanya, hanya karena kalung murahan baginya.
"Hanya karena kalung itu, kamu membentakku, Ta." Krisna mengeleng kepalanya tidak percaya. Dia mencebik dengan alis yang berkerut.
"Sudah berapa kali kamu melakukannya, Ta!" Krisna memegangi bahu Nita lalu menggoyangkannya dengan kasar. Lelaki itu bahkan mendorong Nita hingga wanita itu terjatuh mencium lantai.
__ADS_1
Nita merasa tubuhnya remuk, perlakuan Krisna kini sudah di batas tidak wajar. Apakah dia akan melakukan KDRT?
"Kamu sudah menyakiti hatiku, lalu sekarang fisikku. Sebegitu tidak berarti kah diri ini, Kris," keluh Nita. Dia mulai berdiri dan mendudukkan bokongnya di tepi ranjang.
"Aku hanya tidak suka kamu diberi hadiah oleh lelaki lain! Apa aku salah?" Tegas Krisna membalikkan tubuhnya memunggungi Nita.
"Tidak salah, hanya yang salah egoismu yang tinggi. Sudah aku bilang ceraikan aku!" Krisna berbalik menghadap Nita dengan tatapan nyalang. Tangannya mengepal seolah mulai terpancing.
"Apa! Kamu mau memukulku, ayok!" Tantang Nita, dia mengelus pipinya untuk Krisna tampar.
"Kamu sekarang mulai tidak menghargai aku, Ta!"
"Bukan aku, tapi kamu. Jangan salahkan aku lagi, sudah cukup sampai di sini saja, aku sudah tidak lagi mencintaimu. Rasa cintaku sudah lenyap," kelakar Nita, membuat tangan Krisna terangkat dan menampar Nita begitu keras.
Sudut bibir Nita berdarah, karena kerasnya tamparan Krisna. Nita mulai berembun, dia mnegerjap masih mengumpulkan kesadaran yang dia belum percayai. Krisna--lelaki itu menamparnya dengan keras begitu penuh tenaga. Bahkan Nita merasa panas di area pipinya.
"Ta, aku ... Aku,"
Keduanya tampak khawatir, Riska terus memanggil anaknya agar cepat keluar. Krisna keluar dengan wajah emosinya. Riska membuntutinya dan menyuruh Ana untuk masuk kedalam menenangkan Nita.
Ketika Ana masuk, betapa terkejutnya dia melihat sudut bibir Nita yang berdarah.
"Nona," pekik Ana. Dia langsung mendekat dan melihat area pipi Nita dan sudut bibirnya.
"Tuan yang melakukan ini?" Nita hanya meneteskan air mata dengan pertanyaan yang dilontarkan Ana. Dia mengerti dengan isyarat yang dilakukan oleh Nita. Ana keluar kamar, membawa air dingin untuk mengompres pipi Nita.
"Biarkan aku sendiri yang melakukannya Mbak. Tidak usah mengkhawatirkan aku, aku baik-baik saja. Sebaiknya Mbak istirahat saja. Tadi pasti kelelahan menemani saya jalan-jalan," titah Nita. Namun, Ana seolah enggan meninggalkan Nita yang terluka.
"Tapi, Non," tolak Ana. Nita memegangi tangan Ana.
__ADS_1
"Aku mau istirahat juga Mbak," pintanya. Ana akhirnya mengalah meski berat.
Ketika Ana sudah keluar, kini Riska datang menemui Nita. Dia tidak percaya jika Krisna akan melakukan hal ini pada menantunya.
"Ma, aku mau istirahat. Mama tidak usah mengkhawatirkan aku, aku sudah besar," usir Nita secara halus. Namun, bukannya pergi Riska mendekati Nita. Dia mendudukan bokongnya di samping Nita. Dengan gerakan pelan dia mulai membawa kain kompresan.
"Mama tahu seberapa sakitnya kamu, maafkan anak Mama sayang. Mama sudah tidak lagi bisa berkata apa-apa untuk menebus sebuah kesakitan yang telah kamu alami saat ini. Mama sudah berusaha membujuk Krisna agar mau melepaskan kamu. Tetapi dia tetap ingin kamu berada di sisinya," terang Riska. Dia menangis di samping Nita. Merasa bersalah pada menantunya.
Nita memegangi pundak Riska, "bukan salah Mama, jangan menyalakan dirimu, Ma. Suatu saat nanti Krisna pasti akan melepaskanku," timpal Nita. Sejujurnya dia sudah lelah bertahan. Tetapi mengingat wanita baya dihadapannya, dia merasa tidak tega jika harus pergi Wanita itu pasti akan terluka jika dirinya pergi tanpa berpamitan.
"Maafkan Krisna ya, Nak. Demi Mama," pinta Riska, Nita hanya menganggukkan kepalanya.
"Berbaringlah, kamu harus istirahat," titah Riska. Nita pun merebahkan tubuhnya untuk tidur. Dia memejamkan mata ketika tangan Riska mulai mengusap kepalanya lembut.
Beberapa menit berlalu akhirnya Nita tertidur, dengan gerakan lambat Riska mengendap untuk keluar. Agar tidak membangunkan Nita. Ketika dia sudah keluar dia mendapati Krisna yang tengah berdiri mengacak rambutnya frustrasi.
"Pergi Krisna! Jangan sentuh menantuku lagi, jika kamu hanya ingin menyakitinya. Lelaki tidak punya perasaan," cerca Riska.
"Maafkan aku, Ma. Aku tidak sengaja. Sungguh bukan inginku untuk menyakiti Nita,"
"Ikut, Mama." Riska menarik tangan Krisna untuk menjauh dari kamar Nita.
"Ingat Krisna jika sampai Nita pergi dan mama tidak bisa menemukan dia, Mama tidak akan memaafkan kamu! Mama sudah bilang berulang kali padamu, untuk meninggalkan dia!"
"Sampai kapan pun Akau tidak akan meninggalkan dia. Sekuat apapun Mama memisahkan aku dan dia. Aku tidak akan membiarkan dia pergi seinci pun dari sisiku,"
"Lelaki tidak tahu malu!"
***
__ADS_1
Bersambung...